INISIAL ‘D’
Dalam seri 3 : “BULAN
MADU DIATAS BUS CARAVAN”
Margareta pergi ke kapal menggunakan motor maticnya
yang berwarna biru sambil menyapa ramah Dion yang menuju belakang rumah tempat
parkirnya truk-truk dan bus-bus.
“Aku akan berlayar
selama 3 bulan, nanti temanku yang istirahat selama 3 bulan menginap dirumah,
Kartika namanya, yang dulu pernah kukenalkan padamu, nahkoda kapal Dewi.”
“Silakan saja, aku
biasa tidur di bus caravanku, tidurkan saja dikamarku.”Dion menjawab perkataan
Margareta sepintas lalu karena Margareta yang juga diatas motor maticnya segera
menghilang dari pandangan.
Sarapan pagi
adalah acara rutin setiap hari sebelum anggota keluarga di rumah biru itu
melakukan aktifitasnya masing-masing.
Kali ini,
Margareta dan Dirga absen dimeja makan mereka berlayar dengan kapal Dewa nya
untuk mengangkut barang-barang kiriman ke seluruh Indonesia, selama 3 bulan
penuh.
Sebagai gantinya,
Kartika, teman dekat Dion, seorang nahkoda kapal Dewi, kapal penumpang.
“Kapan kalian
berniat bertunangan.”Duka bertanya kepada Kartika dan Dion.
“Itu pertanyaan
untukku?”Kartika menjawab dengan lucu pertanyaan Duka.
Kartika mempunyai
wajah yang unik, asli Indonesia, perawakkannya tinggi kurus, berambut pendek
dibawah telinga.
“Kami masih perlu waktu.”Dion menjawab
pertanyaan Duka.
“Waktu tidak bisa kembali bila sudah
berlalu, apalagi kekasihmu sudah didepan mata.”Dosi menggoda Dion.
“Kamu sendiri Dosi, kapan memperkenalkan
kekasihmu disini.”Duka berbalik bertanya kepada Dosi.
“Iya, sebelum ayah kita menjodohkan kita
dengan gadis pilihannya, mendingan kita mencari sendiri pasangan yang kita
sukai.”Dean yang menjawab pertanyaan Duka.
“Kamu sendiri, Dean, kapan mendatangkan
kekasihmu disini.”Duka pertanya juga kepada Dean.
“Kamu sendiri, Duka kapan kamu mengajak
makan bersama kekasihmu disini.”Dean balik menyerang Duka.
“Kalian setiap hari melihat kekasihku di
apotik Dunia Obat.”Duka menjawab dengan tenang.
Malam itu, Rina menggoda Kartika, untuk
pergi ke gudang dimana sebenarnya Dion sering menghabiskan malam.
Perlahan Kartika membuka pintu bus caravan
Dion,”Hai, kamu tidur di dalam bus rumahmu, lengkap sekali isinya, kulkas,
televisi led, antena parabola, laptop, kompor listrik, oh...ada juga tempat
tidur dan sofa panjang,oh...yang ini kamar mandi.”
“Hai...kamu menggeledah isi bus caravanku,
siapa yang memberitahukanmu aku tidur disini.”
“Aku mencarimu diseluruh ruangan, tidak
kutemukan, jadi aku tertarik dengan gudang dibelakang parkir truk-truk itu.”
“Kamu tidak boleh kesini, orang-orang
menyangka yang tidak-tidak tentang kita.”
“Perduli apa kata orang, Duka sudah
menanyakan kapan kita bertunangan?”
“Hai, jangan tekan-tekan tombol laptopku
yang itu, itu isinya data-data kantor, keluarlah disini banyak hantu dan gelap
sekitarnya.”
“Kan ada kamu nemeni aku, dikamar aku juga
sendirian, di lantai 3 rumah kaca itu aku sendirian.”
Kartika membuka kacamata Dion yang tebal.
“Hai aku tidak kelihatan, itu kacamata
minus 10, aku seperti buta kalau melepaskannya.”
“Kamu tampan, tapi dingin, siapa yang tahu
kita didalam gudang, didalam bus ini.”
“Berhentilah menggodaku.”
Kartika mencium bibir Dion, kemudian baru
memakaikan kembali kacamatanya, dan keluar dari bus, tanpa menutup pintu bus.
Didepan bus Kartika berteriak,”Kapan kamu
melamarku.”
“Iya bulan depan.”Dion menjawab sekenanya
sambil membetulkan data yang diacak-acak Kartika.
Pagi itu, Kartika sibuk memindahkan
barang-barang di kostnya ke dalam rumah biru. Sebuah kulkas berwarna oranye,
kolam renang plastik merah muda bening untuk spa air hangat, rumah plastik
untuk mandi uap, dan alat pemanas kolam dan alat pembuat uap yang disalurkan ke
kolam plastik dan rumah plastik merah muda,diletakkan di tepi kolam bersamaan
dengan alat kebugaran Margareta.
“Jadi kapan kalian bertunangan?”Duka
memperhatikan Kartika yang sibuk meletakkan perabotannya.
“Dion merencanakannya bulan depan.”
Dion yang menyaksikan kesibukkan Kartika,
tidak sanggup berkata apapun, lebih melotot lagi ketika Kartika mencium pipi
Dion sambil berlari kedapur. Duka hanya tersenyum-senyum menyaksikan itu semua.
Kolam renang kini bertaburan
plastik-plastik bening berbentuk tempat tidur, kursi, kartika suka duduk diatas
kolam renang atau juga tiduran diatas kolam renang dengan plastik transparan
yang berisi udara itu.
Kamar Dion dihiasi lilin-lilin dalam gelas
kaca panjang berbentuk tulip, tangkai dan daunnya sebagai tempat untuk memegang
lilin.
“Masya Allah, kamarku berbau kemenyan.”
“Ini aroma bunga-bunga kering yang dibakar
sebagai wewangian ruangan atau sebagai aroma mandi uap.”Kartika menjelaskan
kepada Dion ketika Dion mengecek isi kamarnya.
Tiba-tiba Kartika mencabut kacamata Dion
dan menjatuhkannya,”Oh...pecah.”Kartika tahu betul kelemahan Dion.
“Kartika kamu sengaja.” Dion meraba-raba
lantai mencari kacamatanya.
Kartika mendorongnya kelantai dan mencium
bibirnya.
“Kartika kamu nakal, bawa aku ke Duga untuk
membuat kacamata baru, aku tidak bisa bekerja tanpa kacamata. Aku tidak suka
melakukan ini sebelum menikahimu.”
Akhirnya Kartika menuntun Dion ke tempat
praktek Duga untuk membuat kacamata baru.
Berdua, Dion dan Kartika menunggu kacamata
Dion selesai, dengan kesal setelah selesai Dion meninggalkan Kartika.
Mengisi waktu senggang Kartika mandi uap
didalam rumah plastikya, kemudian berenang dikolam plastiknya berisi air susu
hangat dan berbagai bunga-bungaan dan minyak buah-buahan.
Setelah itu Kartika pergi kedapur, membuat
beberapa kue kering kesukaannya, dan mengisinya dalam toples bunga-bunga, dan
menyimpanya rapi dalam kulkas oranye miliknya.
Pagi yang selalu cerah disuasana
kebersamaan keluarga.
“Kapan kamu menelpon ayah untuk acara
lamaran?”Duka bertanya kepada adiknya Dion.
“Sudah kulakukan dan sudah diatur ayah,kami
berdua tinggal mengikuti saja.”Dion menjawab dengan tenang, dan Kartika
tersenyum menang.
“Adat apa yang ingin kalian pakai dan bagaimana
settingnya.”Dean bertanya tema pernikahan Dion.
“Nantilah kuberitahukan dikantormu sebagai
kejutan.”Dion menanggapi usul Dean.
“Oke kutunggu dikantorku.”
Kartika mengikuti Dion dari belakang, yang
akan menuju kantornya dan akan mampir kekantor Dean untuk membicarakan tema
pernikahannya.
“Jangan mengikutiku, mandi spa aja kamu,
atau mandi uap.”
Dengan bersungut-sungut Kartika masuk
kekamar Dion dilantai 3.
Beberapa hari kemudian, Kartika memamerkan
cincin pertunangannya yang diberikan Danu kepada setiap menantunya. Cincin
berlian seberat 10 gram. Dan Kartika melihat Dion membeli sepasang kuda, kuda
putih betina dan kuda hitam jantan. Dion sibuk membuat parit dan penampungan
air untuk membuang kotoran kuda, disamping kandang kuda, didalam gudang, bersebelahan
terparkirnya bus caravannya.
“Kenapa kamu sibuk memelihara kuda?Apa kamu
tidak mempersiapkan pernikahan yang sudah ditetapkan bulan depan.”Kartika
menegur Dion yang membersihkan kuda dan kandang kuda, tapi Dion diam saja.
Akhirnya Kartika tidur diatas kolam renang,
diatas tempat tidur plastiknya yang diberisi udara. Malam harinya, Kartika
mendatangi bus caravan Dion.
“Aku kesepian didalam rumah birumu itu,
semua sibuk bekerja sampai tengah malam, hanya aku yang benar-benar libur
sampai 3 bulan.”
“Kita akan berbulan madu keliling Jawa
dengan Bus caravan ini selama sebulan kamu libur.”Dion tidak mendengarkan
keluhan Kartika, hanya mengatakan rencana yang ada didalam pikirannya, kemudian
membiarkan Kartika berkeliling-keliling dalam busnya, kemudian bosan, Kartika
kembali kekamar Dion dilantai 3.
Pagi itu seperti biasa sarapan pagi
bersama, kemudian Kartika ijin untuk pergi berbelanja sendirian dengan motor
matic merah mudanya.
Sepulang belanja, Kartika menuju bus
caravan Dion, Kartika mendirikan tenda diatas bus caravan itu, dan membuat
peralatan barberque diatas bus caravan. Dan memberi makan kuda-kuda Dion dengan
jerami kering dan mengisi tempat minumnya, disikatnya badan kuda itu.
“Hai, kamu apakan bus caravanku, nanti
terbakar kalau mengadakan barberque disana.”Dion memperhatikan perbuatan
Kartika yang lucu.
“Aku ingin berkemah diatas busmu ini, kalau
kita bulan madu menggunakan busmu ini.”
“Terserahlah.”
Dion menutup tempat pembuangan kotoran Kuda
setelah membersihkan dan memandikan kuda.
Setiap sore hari Dion melatih Kartika
menunggang kuda putihnya, berkeliling halaman rumahnya, mengitari sekeliling
rumah.
“Apa kuda ini mas kawin untukku.”Kartika
bertanya pada Dion, sambil menunggang pelan kudanya.
“Iya, kedua kuda ini mas kawin untukmu.”
“Apa kamu tidak bertanya aku ingin mas
kawin apa?”
“Mas kawin apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin mempunyai bus caravan seperti
milikmu, berwarna oranye terang, didalamnya juga berwarna oranye, semua
perabotnya juga berwarna oranye yang terang, diatap bus dipagari karet dan
dilapisi karet agar tidak jatuh bila membawa barang diatasnya, dan yang penting
bisa berkemah dan berbarberque diatas bus.”
“Aku berusaha memesannya, Insya Allah
menjelang pernikahan bus itu sudah ada untukmu.”
Tinggal menghitung hari pernikahan itu
tiba, dan bus pesanan Kartika telah tiba juga. Bagai terpekik senang, Kartika
menyukai desain bus caravannya, melihat perabot didalamnya, televisi, kulkas,
tempat tidur, sofa, dinding bis diluar dan didalam, dinding dapur dan dinding
kamar mandi berwarna oranye terang, seperti mentari pagi.
Kartika juga menaiki atap bus caravan itu,
ada kemah berwarna oranye, kursi plastik berisi udara berwarna oranye, dan
peralatan barberque.
Kartika memakai baju pengantin berwarna
oranye muda, pendek setengah pahanya, tapi pita dibelakanya menjuntai sampai
kebawah menyentuh tanah ketika berada diatas kuda putihnya, pita berwarna
oranye tua. Sengaja baju pengantin itu tidak panjang, karena Kartika menunggang
kuda, pergi dan pulang dari masjid tempat berlangsungnya akad nikah.
Usai akad nikah Dion dan Kartika disambut
dengan bus caravan, mereka pergi berbulan madu dengan bus caravan.
Bus caravan itu melaju menuju bukit tempat
villa pribadi Danu, tapi mereka tidak masuk kedalam villa, tapi tetap tinggal
di bus caravan yang terparkir di halaman villa.
“Villa ke tiga itu milik ibuku, karena
ibuku istri ketiga ayahku.”
“Tapi kita tidak diam saja kan didalam bus
sambil memandangi villa itu.”
“Tentu tidak, ada bak mandi yang luas
dikamar mandi dan airnya hangat, kita bercumbu sambil mandi berendam air hangat,
bukankah kamu suka spa air susu hangat?”
“Lebih baik kita lakukan dari pada kita
fikirkan.”
Bibir Dion menutup bibir Kartika yang
sedikit ribut, air mandi susunya tidak lama kemudian tidak berwarna putih lagi
tapi sedikit berwarna merah muda. Dion menggendong Kartika dan melanjutkanya
ditempat tidur.
“Indah sekali malam ini, diatas atap bus
caravan membuat stik daging domba muda, dan berkemah. Kamu memang petualang
sejati.”
Dion tersenyum bahagia menatap wajah
Kartika yang lucu, sambil memeluknya didalam kemah, diatas atap bus caravan
oranye.
Setelah pulang kerumah, Kartika membuka hadiah pernikahan yang paling besar, sebuah lukisan dari Dosi.
"Lihatlah Dion, Dosi itu seorang penguntit, dia melukisku sedang berada di atas atap bus caravan oranye sambil memandang empat villa, didepan halaman villa. Darimana dia tahu kita bulan madu kesana????"
Setelah pulang kerumah, Kartika membuka hadiah pernikahan yang paling besar, sebuah lukisan dari Dosi.
"Lihatlah Dion, Dosi itu seorang penguntit, dia melukisku sedang berada di atas atap bus caravan oranye sambil memandang empat villa, didepan halaman villa. Darimana dia tahu kita bulan madu kesana????"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar