Senin, 15 November 2010

INISIAL 'D' SERI 3 : "BULAN MADU DIATAS BUS CARAVAN"

INISIAL ‘D’
Dalam seri 3 : “BULAN MADU DIATAS BUS CARAVAN”
          Margareta pergi ke kapal menggunakan motor maticnya yang berwarna biru sambil menyapa ramah Dion yang menuju belakang rumah tempat parkirnya truk-truk dan bus-bus.
                “Aku akan berlayar selama 3 bulan, nanti temanku yang istirahat selama 3 bulan menginap dirumah, Kartika namanya, yang dulu pernah kukenalkan padamu, nahkoda kapal Dewi.”
                “Silakan saja, aku biasa tidur di bus caravanku, tidurkan saja dikamarku.”Dion menjawab perkataan Margareta sepintas lalu karena Margareta yang juga diatas motor maticnya segera menghilang dari pandangan.
                Sarapan pagi adalah acara rutin setiap hari sebelum anggota keluarga di rumah biru itu melakukan aktifitasnya masing-masing.
                Kali ini, Margareta dan Dirga absen dimeja makan mereka berlayar dengan kapal Dewa nya untuk mengangkut barang-barang kiriman ke seluruh Indonesia, selama 3 bulan penuh.
                Sebagai gantinya, Kartika, teman dekat Dion, seorang nahkoda kapal Dewi, kapal penumpang.
                “Kapan kalian berniat bertunangan.”Duka bertanya kepada Kartika dan Dion.
                “Itu pertanyaan untukku?”Kartika menjawab dengan lucu pertanyaan Duka.
                Kartika mempunyai wajah yang unik, asli Indonesia, perawakkannya tinggi kurus, berambut pendek dibawah telinga.
“Kami masih perlu waktu.”Dion menjawab pertanyaan Duka.
“Waktu tidak bisa kembali bila sudah berlalu, apalagi kekasihmu sudah didepan mata.”Dosi menggoda Dion.
“Kamu sendiri Dosi, kapan memperkenalkan kekasihmu disini.”Duka berbalik bertanya kepada Dosi.
“Iya, sebelum ayah kita menjodohkan kita dengan gadis pilihannya, mendingan kita mencari sendiri pasangan yang kita sukai.”Dean yang menjawab pertanyaan Duka.
“Kamu sendiri, Dean, kapan mendatangkan kekasihmu disini.”Duka pertanya juga kepada Dean.
“Kamu sendiri, Duka kapan kamu mengajak makan bersama kekasihmu disini.”Dean balik menyerang Duka.
“Kalian setiap hari melihat kekasihku di apotik Dunia Obat.”Duka menjawab dengan tenang.
Malam itu, Rina menggoda Kartika, untuk pergi ke gudang dimana sebenarnya Dion sering menghabiskan malam.
Perlahan Kartika membuka pintu bus caravan Dion,”Hai, kamu tidur di dalam bus rumahmu, lengkap sekali isinya, kulkas, televisi led, antena parabola, laptop, kompor listrik, oh...ada juga tempat tidur dan sofa panjang,oh...yang ini kamar mandi.”
“Hai...kamu menggeledah isi bus caravanku, siapa yang memberitahukanmu aku tidur disini.”
“Aku mencarimu diseluruh ruangan, tidak kutemukan, jadi aku tertarik dengan gudang dibelakang parkir truk-truk itu.”
“Kamu tidak boleh kesini, orang-orang menyangka yang tidak-tidak tentang kita.”
“Perduli apa kata orang, Duka sudah menanyakan kapan kita bertunangan?”
“Hai, jangan tekan-tekan tombol laptopku yang itu, itu isinya data-data kantor, keluarlah disini banyak hantu dan gelap sekitarnya.”
“Kan ada kamu nemeni aku, dikamar aku juga sendirian, di lantai 3 rumah kaca itu aku sendirian.”
Kartika membuka kacamata Dion yang tebal.
“Hai aku tidak kelihatan, itu kacamata minus 10, aku seperti buta kalau melepaskannya.”
“Kamu tampan, tapi dingin, siapa yang tahu kita didalam gudang, didalam bus ini.”
“Berhentilah menggodaku.”
Kartika mencium bibir Dion, kemudian baru memakaikan kembali kacamatanya, dan keluar dari bus, tanpa menutup pintu bus.
Didepan bus Kartika berteriak,”Kapan kamu melamarku.”
“Iya bulan depan.”Dion menjawab sekenanya sambil membetulkan data yang diacak-acak Kartika.
Pagi itu, Kartika sibuk memindahkan barang-barang di kostnya ke dalam rumah biru. Sebuah kulkas berwarna oranye, kolam renang plastik merah muda bening untuk spa air hangat, rumah plastik untuk mandi uap, dan alat pemanas kolam dan alat pembuat uap yang disalurkan ke kolam plastik dan rumah plastik merah muda,diletakkan di tepi kolam bersamaan dengan alat kebugaran Margareta.
“Jadi kapan kalian bertunangan?”Duka memperhatikan Kartika yang sibuk meletakkan perabotannya.
“Dion merencanakannya bulan depan.”
Dion yang menyaksikan kesibukkan Kartika, tidak sanggup berkata apapun, lebih melotot lagi ketika Kartika mencium pipi Dion sambil berlari kedapur. Duka hanya tersenyum-senyum menyaksikan itu semua.
Kolam renang kini bertaburan plastik-plastik bening berbentuk tempat tidur, kursi, kartika suka duduk diatas kolam renang atau juga tiduran diatas kolam renang dengan plastik transparan yang berisi udara itu.
Kamar Dion dihiasi lilin-lilin dalam gelas kaca panjang berbentuk tulip, tangkai dan daunnya sebagai tempat untuk memegang lilin.
“Masya Allah, kamarku berbau kemenyan.”
“Ini aroma bunga-bunga kering yang dibakar sebagai wewangian ruangan atau sebagai aroma mandi uap.”Kartika menjelaskan kepada Dion ketika Dion mengecek isi kamarnya.
Tiba-tiba Kartika mencabut kacamata Dion dan menjatuhkannya,”Oh...pecah.”Kartika tahu betul kelemahan Dion.
“Kartika kamu sengaja.” Dion meraba-raba lantai mencari kacamatanya.
Kartika mendorongnya kelantai dan mencium bibirnya.
“Kartika kamu nakal, bawa aku ke Duga untuk membuat kacamata baru, aku tidak bisa bekerja tanpa kacamata. Aku tidak suka melakukan ini sebelum menikahimu.”
Akhirnya Kartika menuntun Dion ke tempat praktek Duga untuk membuat kacamata baru.
Berdua, Dion dan Kartika menunggu kacamata Dion selesai, dengan kesal setelah selesai Dion meninggalkan Kartika.
Mengisi waktu senggang Kartika mandi uap didalam rumah plastikya, kemudian berenang dikolam plastiknya berisi air susu hangat dan berbagai bunga-bungaan dan minyak buah-buahan.
Setelah itu Kartika pergi kedapur, membuat beberapa kue kering kesukaannya, dan mengisinya dalam toples bunga-bunga, dan menyimpanya rapi dalam kulkas oranye miliknya.
Pagi yang selalu cerah disuasana kebersamaan keluarga.
“Kapan kamu menelpon ayah untuk acara lamaran?”Duka bertanya kepada adiknya Dion.
“Sudah kulakukan dan sudah diatur ayah,kami berdua tinggal mengikuti saja.”Dion menjawab dengan tenang, dan Kartika tersenyum menang.
“Adat apa yang ingin kalian pakai dan bagaimana settingnya.”Dean bertanya tema pernikahan Dion.
“Nantilah kuberitahukan dikantormu sebagai kejutan.”Dion menanggapi usul Dean.
“Oke kutunggu dikantorku.”
Kartika mengikuti Dion dari belakang, yang akan menuju kantornya dan akan mampir kekantor Dean untuk membicarakan tema pernikahannya.
“Jangan mengikutiku, mandi spa aja kamu, atau mandi uap.”
Dengan bersungut-sungut Kartika masuk kekamar Dion dilantai 3.
Beberapa hari kemudian, Kartika memamerkan cincin pertunangannya yang diberikan Danu kepada setiap menantunya. Cincin berlian seberat 10 gram. Dan Kartika melihat Dion membeli sepasang kuda, kuda putih betina dan kuda hitam jantan. Dion sibuk membuat parit dan penampungan air untuk membuang kotoran kuda, disamping kandang kuda, didalam gudang, bersebelahan terparkirnya bus caravannya.
“Kenapa kamu sibuk memelihara kuda?Apa kamu tidak mempersiapkan pernikahan yang sudah ditetapkan bulan depan.”Kartika menegur Dion yang membersihkan kuda dan kandang kuda, tapi Dion diam saja.
Akhirnya Kartika tidur diatas kolam renang, diatas tempat tidur plastiknya yang diberisi udara. Malam harinya, Kartika mendatangi bus caravan Dion.
“Aku kesepian didalam rumah birumu itu, semua sibuk bekerja sampai tengah malam, hanya aku yang benar-benar libur sampai 3 bulan.”
“Kita akan berbulan madu keliling Jawa dengan Bus caravan ini selama sebulan kamu libur.”Dion tidak mendengarkan keluhan Kartika, hanya mengatakan rencana yang ada didalam pikirannya, kemudian membiarkan Kartika berkeliling-keliling dalam busnya, kemudian bosan, Kartika kembali kekamar Dion dilantai 3.
Pagi itu seperti biasa sarapan pagi bersama, kemudian Kartika ijin untuk pergi berbelanja sendirian dengan motor matic merah mudanya.
Sepulang belanja, Kartika menuju bus caravan Dion, Kartika mendirikan tenda diatas bus caravan itu, dan membuat peralatan barberque diatas bus caravan. Dan memberi makan kuda-kuda Dion dengan jerami kering dan mengisi tempat minumnya, disikatnya badan kuda itu.
“Hai, kamu apakan bus caravanku, nanti terbakar kalau mengadakan barberque disana.”Dion memperhatikan perbuatan Kartika yang lucu.
“Aku ingin berkemah diatas busmu ini, kalau kita bulan madu menggunakan busmu ini.”
“Terserahlah.”
Dion menutup tempat pembuangan kotoran Kuda setelah membersihkan dan memandikan kuda.
Setiap sore hari Dion melatih Kartika menunggang kuda putihnya, berkeliling halaman rumahnya, mengitari sekeliling rumah.
“Apa kuda ini mas kawin untukku.”Kartika bertanya pada Dion, sambil menunggang pelan kudanya.
“Iya, kedua kuda ini mas kawin untukmu.”
“Apa kamu tidak bertanya aku ingin mas kawin apa?”
“Mas kawin apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin mempunyai bus caravan seperti milikmu, berwarna oranye terang, didalamnya juga berwarna oranye, semua perabotnya juga berwarna oranye yang terang, diatap bus dipagari karet dan dilapisi karet agar tidak jatuh bila membawa barang diatasnya, dan yang penting bisa berkemah dan berbarberque diatas bus.”
“Aku berusaha memesannya, Insya Allah menjelang pernikahan bus itu sudah ada untukmu.”
Tinggal menghitung hari pernikahan itu tiba, dan bus pesanan Kartika telah tiba juga. Bagai terpekik senang, Kartika menyukai desain bus caravannya, melihat perabot didalamnya, televisi, kulkas, tempat tidur, sofa, dinding bis diluar dan didalam, dinding dapur dan dinding kamar mandi berwarna oranye terang, seperti mentari pagi.
Kartika juga menaiki atap bus caravan itu, ada kemah berwarna oranye, kursi plastik berisi udara berwarna oranye, dan peralatan barberque.
Kartika memakai baju pengantin berwarna oranye muda, pendek setengah pahanya, tapi pita dibelakanya menjuntai sampai kebawah menyentuh tanah ketika berada diatas kuda putihnya, pita berwarna oranye tua. Sengaja baju pengantin itu tidak panjang, karena Kartika menunggang kuda, pergi dan pulang dari masjid tempat berlangsungnya akad nikah.
Usai akad nikah Dion dan Kartika disambut dengan bus caravan, mereka pergi berbulan madu dengan bus caravan.
Bus caravan itu melaju menuju bukit tempat villa pribadi Danu, tapi mereka tidak masuk kedalam villa, tapi tetap tinggal di bus caravan yang terparkir di halaman villa.
“Villa ke tiga itu milik ibuku, karena ibuku istri ketiga ayahku.”
“Tapi kita tidak diam saja kan didalam bus sambil memandangi villa itu.”
“Tentu tidak, ada bak mandi yang luas dikamar mandi dan airnya hangat, kita bercumbu sambil mandi berendam air hangat, bukankah kamu suka spa air susu hangat?”
“Lebih baik kita lakukan dari pada kita fikirkan.”
Bibir Dion menutup bibir Kartika yang sedikit ribut, air mandi susunya tidak lama kemudian tidak berwarna putih lagi tapi sedikit berwarna merah muda. Dion menggendong Kartika dan melanjutkanya ditempat tidur.
“Indah sekali malam ini, diatas atap bus caravan membuat stik daging domba muda, dan berkemah. Kamu memang petualang sejati.”
Dion tersenyum bahagia menatap wajah Kartika yang lucu, sambil memeluknya didalam kemah, diatas atap bus caravan oranye.
Setelah pulang kerumah, Kartika membuka hadiah pernikahan yang paling besar, sebuah lukisan dari Dosi.
"Lihatlah Dion, Dosi itu seorang penguntit, dia melukisku sedang berada di atas atap bus caravan oranye sambil memandang empat villa, didepan halaman villa. Darimana dia tahu kita bulan madu kesana????"









Tidak ada komentar:

Posting Komentar