Sabtu, 29 Desember 2012


PELARIAN SANG IDOLA
                Dia penyanyi di cafe tempatku bekerja, kalau dia tidak ada show ke luar kota, keluar pulau, keluar negara indonesia tercinta. Wajahnya pucat, bersih tak berjerawat, karena selain dia jual suara, dia juga jual tampangnya yang ganteng bak patung lilin. Seperti selalu tahu jadwal sang idola, remaja putri seperti arisan memesan tempat romantis di ujung ruangan, tempat private, ada fasilitas bar kecil, panggung mini, dan meja panjang, untuk acara keluarga, meeting, dan pesta ultah sederhana.
                Kadang aku melihatnya tergeletak dipaksa minum dan melayani sang penggemar, dengan minuman perangsang, tergeletak setengah sadar dan setengah bugil. Seolah seluruh tubuhnya adalah aset uang, dan pemburu uang memanfaatkan seluruh tubuh dan wajahnya agar laris dipasaran. Dia seperti Arjuna yang kehilangan panah saktinya, tergeletak lelah, setelah maksimal sang penggemar dan pelaku bisnis melucuti keindahan sosok tubuhnya. Walau dalam kesadaran penuh di ruang ujung cafe dia memetik gitar sambil membuat syair dan melodi sebuah lagu, dia seolah tak mampu menangis, tapi lagunya menunjukkan perasaannya, melepas cinta dan mengusir cinta yang malah membuatnya kesepian dan kehampaan tinggi karena akhirnya akan mengecewakan hati. Dia kesepian diantara gemerlap dan keramaian.
                Aku kira saat itu, dia sudah pulang pergi dari ruang di ujung itu, tapi kulihat dia dalam keadaan parah pakaiannya compang-camping, di robek-robek penggemarnya yang kesepian, yang mabuk dan mengganas, kemudian ditinggalkan begitu saja seperti sampah. Dia pemuas bagi wanita-wanita sibuk yang kesepian menemaninya bernyanyi, minum-minum, berkencan dan bercinta, kemudian ditinggalkan dalam ketidak berdayaan, aku berfikir hanya perempuan yang bisa diperkosa, ternyata laki-laki bisa juga diperkosa. Aku bersihkan ruangan, kemudian diam-diam kubawa dia pergi di waktu dini hari itu, dalam keadaan tak berpakaian, kunaikan mobil miniku, karena aku takut wartawan mencium gelagatku, kubawa dia di rumah mungilku yang hanya berukuran 6x6 m/persegi. Kutinggal dia sendiri dalam rumah, kutinggal bekerja, malam baru aku pulang, melihat dia menangis, apa sebenarnya terjadi, dia mengatakan bahwa dia terjebak pada malam itu dan foto-foto bugilnya terbit diseluruh dunia maya. Aku menyuruhnya pulang ke rumahnya sendiri, atau kembali ke rumah orang tuanya, tapi dia tidak mau, dia ingin berlari sementara waktu dari segala permasalahan itu, aku dimintanya menyembunyika dia dan berlari dari masalah ini, untuk beberapa waktu.
                Aku tidak mudah percaya, malam itu, kusuruh dia tidur diruang tamu, dan aku minta waktu sebentar untuk berfikir. Pagi itu, aku siapkan makan pagi, roti tawar dengan telur dadar keju. Dia memberikan kartu debitnya kepadaku, aku hanya memandangnya tidak mengerti, kemudian dia memberiku nomor pinnya, aku tersenyum, dan mengatakan padanya untuk berfikir jernih, dan jangan berharap ada minuman keras di rumahku. Dia harus sholat subuh setiap pagi sebelum sarapan dan mandi, setidaknya itu yang harus dia lakukan dihadapanku sebelum aku bekerja.
                Aku mendengar bisik-bisik dan tertawa cekikian wanita-wanita di cafe melihat foto bugilnya di dunia maya. Mereka seolah mencari-cari sosok sang idola di cafe tempat dia bernyanyi bila tak ada show, teman-teman bandnya pun menunggu di panggung, seolah tak tahu-menahu aku sibuk bekerja, dalam hatiku, dia tersimpan rapi, dan sembunyi di rumahku.
                Aku menyuruhnya cepat mengambil keputusan dan pergi dari rumahku, tapi dia meminjam telponku dan menelpon managernya, tengah malam tepat managernya mengetuk pintu rumahku, sambil membawa jadwal kontrak yang harus dia jalani, kemudia pergi sendirian, sang idola itu tetap berada di rumahku. Seuasai sholat subuh, managernya menjemputnya, dia ternyata menepati peraturanku, sholat subuh terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas apapun, dan dia memintaku menukar mobil, seperti terhipnotis aku bertukar mobil denganya, tanpa kumelihat lagi mobil apa yang dia berikan, yang kutahu mereknya Toyota, okelah sama-sama Toyota.
                Pagi itu setelah membersihkan rumah barulah aku pergi kerja, aku sangat terkejut ternyata mobil yang dia tukar dengan mobilku adalah mobil mewah dan besar “land cruiser”. Sampi ditempat kerja para penggemar mengawasi mobilku dari kejauhan, mereka berfikir sang idola datang untuk jumpa pers, ternyata aku keluar dengan tenang, dan kujawab pula dengan tenang bahwa aku membeli mobil sang idola melalui internet, dan transaksi berjalan cepat dan lancar, sedangkan aku tidak mengenal secara pribadi sang idola mereka, masalah selesai. Selanjutnya aku tidak pernah memakai lagi mobil sang idola itu, aku naik angkutan umum. Aku pikir dia telah pergi dari rumahku, ternyata tengah malam dia mengetuk rumahku, langsung mandi, sholat isya’, memakan sisa potongan roti pagi yang ada di meja, kemudian tidur di ruang tamu, diatas sofa. Dia biasa hidup seperti angin dan menganggap orang lain seperti angin, seperti inilah cara dia menghindar dan bersih diri dari para penggemarnya yang nakal dan agresif.
                Setiap minggu teman-temanku datang kerumah, aku menyuruhnya sembunyi di mobilnya, dan aku pergi mencari tempat rapat trategis dengan teman-temanku membahas bisnis, bisnis kecil-kecilan, bergerak dibidang photografi, percetakan, penyewaan ala-alat pengantin, dan catering, kami berempat bekerja sama dengan gedung yang disewakan untuk meeting, acara pernikahan, acara ulang tahun, dan sejenisnya. Aku sebagai penyedia peralatan pelaksana seperti : alat-alat percetakan, alat-alat photography, alat alat catering, baju seragam dan baju pengantin, dan alat berat lainnya, temanku sebagai marketing, dan dua temanku lagi sebagai penyedia bahan pelengkap, seperti kertas, bahan makanan, dan hal-hal kecil yang detail, kami berempat.
                Teman-temanku awalnya agak curiga, mengapa ada mobil mewah di rumahku? Tapi dengan lihai aku meyakinkan mereka, kalau orang tuaku menitipkan mobil pribadinya di rumahku, temanku mengambil beberapa alat-alat pernikahan di rumahku, di lantai dua rumahku, yang memang seperti galeri, penuh alat-alat catering, piring, mangkok, peralatan masak, dalam jumlah besar, camera digital dan manual, ruang cetak foto, alat-alat percetakan sovenir, alat percetakan undangan, dan seragam pengantin dan baju penganti di perbagai daerah, aku memang menyicil semua alat-alat itu dari hasil kerjaku sendiri, tanpa minta ke orang tuaku. Aku masukkan teman-temanku dari tangga yang ada di garasi bukan tangga yang ada di dapur dalam rumah, sebab aku tahu sang idola ada di lantai satu rumahku. Acara ringkas-meringkas barang usai, temanku pun pulang. Aku turun ke lantai satu dan melihat sang idola meringkuk di ruang tamu sambil menonton tv. Sampai kapan dia berada di dalam rumahku dan bersembunyi disini, aku malas bertanya karena aku lelah memikirkan kerjaan, dan bisnisku.
                Pagi hari seperti biasa selesai sholat aku ke dapur untuk memasak, ternyata 4 lemari esku penuh semuanya, aku memang mempunyai 4 lemari es berukuran besar, karena aku malas ke pasar, jadi aku cukup belanja untuk sebulan atau dua bulan sekali, satu lemari es ku berisi sayuran dan buah-buahan, satu lemari es ku kuisi kue-kue dan cake dan bahan matang, satu lemari es ku kuisi daging dan ikan mentah, dan lemari es yang ke empat kuisi minuman soft drink, susu, dan juzz buah. Rumahku dilantai satu memang hanya memiliki satu kamar tidur dan kamar mandi didalam kamar, satu kamar mandi didapur, ruang tamunya tanpa sekat bercampur dengan dapur, satu sofa besar, satu lemari kaca yang ada televisi led, kamarku hanya berisi tempat tidur berukura 2x2 m, lemari kayu lebar penuh satu dinding berukuran 5x1x3 m, cukup luas, satu meja kerja, aku memang sederhana, jadi rumahku tidak terisi banyak barang, tapi di lantai dua berisi lemari-lemari besar untuk menampung semua alat bisnisku. Aku rapi bersih, sehingga semua tertata rapi dan diletakkan pada tempatnya.
                Sebenarnya aku lupa belanja di awal bulan ini karena segala persoalan yang rumit, menyembunyikan seorang laki-laki didalam rumahku membuatku hidup tidak tenang. Dia belanja, mengisi penuh ke 4 lemari es ku, diletakkan sesuai tempatnya, sayuran dan buah dilemari es berwarna hijau, kue-kue kering, roti, dan bolu, diletakkan di lemari es berwarna merah, daging, telur, keju, dan ikan segar diletakkan di lemari berwarna biru, dan lemari es berwarna kuning penuh minuman soft drink, susu, es cream, coklat, dan juzz buah.
                Pagi sekali, tanpa bicara sang idola itu langsung pergi mendahuluiku, aku bersih-bersih dahulu sebelum pergi kerja, aku membersihkan juga di lantai dua rumahku, ternyata dia meletakkan peralatan band dan sound sistem di tengah ruangan, gitar, keyboard, drum. Aku membersihkan lemari-lemari kayu berkaca yang berisi alat-alat pesta, catering, photography, percetakan.
                Dengan mengucapkan doa aku keluar rumah, kuintip sebentar garasi, dia meninggalkan mobil mewahnya di garasi, tapi aku tidak menyentuhnya, aku pergi menggunakan angkutan umum.
                Teman-temanku selalu bertanya mengapa aku naik angkutan umum padahal mereka melihat ada dua mobil didalam garasi waktu itu, dan aku selalu mengelak bila ada temanku yang ingin menginap di rumahku, padahal aku sering meminta salah satu teman-temanku untuk menemaniku tidur malam hari, dan sering mereka yang menolak dan kupaksa, tapi kini aku yang menolak mereka berada didalam rumahku dilantai satu, dan kularang menginap. Mereka menganggapku memelihara anjing galak, padahal itu tidak mungkin karena aku muslim yang taat.
                Sementara itu, dia berhenti bekerja di cafe tempatku bekerja, dia lebih banyak rekaman di televisi-televisi swasta, pergi show luar kota dan luar pulau, dan menghindari kota Jakarta. Tapi setiap tengah malam dia menyempatkan diri untuk pulang ke rumahku, walau dini hari dia langsung pergi lagi, dia selalu melihat rumahku, sekedar memakan sisa roti tadi pagi yang kubuat sarapan, tidur sejenak di sofa, dan belum sempat pagi hari, dini hari sekali dia sudah pergi, kulihat dia menghabiskan roti lapis telur keju, dan daging asap di meja.
                Setiap pagi, aku sengaja membuat sarapan pagi lebih banyak dari biasanya, agar dini hari bila dia datang bisa memakan roti lapis yang kubuat lebih banyak. Kulihat dikamar mandi dia mencuci sendiri pakaian dan mencuci juga bajuku, kamar mandiku yang di dapur sengaja kubuat kamar mandi kering dan ada mesin cuci dan pengering pakaian yang sangat besar, karena aku malas mencuci setiap hari dan malas menjemur pakaian. Dia melipat pakaianku dan pakaiannya yang telah kering didalam sebuah keranjang pakaian yang sengaja aku letakkan disana. Dia memakai pewangi dan pelembut pakaian terlalu banyak hingga wanginya memenuhi kamar mandi dan dapur, maklumlah dia laki-laki, tidak mengerti ukuran untuk sabun dan pewangi pakaian.
                Ditempat kerja teman-temanku mulai protes karena harumnya pewangi pakaianku menyengat, padahal aku anti memakai wewangian, dikira aku menyembunyikan sesuatu dan berubah, aku memang menyembunyikan sesuatu tapi sebenarnya aku tidak pernah berubah. Cafe tempatku bekerja sedikit sepi tanpa hadirnya sang idola, sekarang dia hanya bisa di temui di dalam televisi untuk iklan sampo, sabun muka, iklan makanan dan minuman, juga di tangga lagu-lagu terpopuler. Di cafe tempatku bekerja jarang terlihat wanita-wanita karier yang kesepian dan remaja putri yang nakal-nakal lagi, semua berjalan baik-baik saja.
                Tengah malam itu, sengaja aku menunggunya di ruang tamu, duduk di sofa, dia datang membuka pintu, memang dia ku beri kunci juga agar bisa membuka pintu bila aku bekerja, melewatiku begitu saja, langsung menuju kekamar mandi, menyalakan mesin cuci, mengambil wudhu untuk sholat isya’ di dapur, makan roti yang ada dimeja makan, minum segelas susu, usai makan menuju kamar mandi lagi untuk mandi dan mengeringkan pakaian selesai dicuci, kemudian menuju sofa, karena aku duduk di sofa dia tidak menyuruhku pergi, dia mengambil bantal yang ada di belakang punggungku, kemudian tidur dilantai didepan televisi. Aku kemudian meninggalkannya diruang tamu menuju kamarku sendiri dan tidur pula, kadang aku kasihan dengannya, hidupnya benar-benar seperti angin.
                Dua minggu sang idola menghilang di rumahku, mobilku ada di garasi, mobil dia juga ada di garasi, atm dia juga tidak dia ambil yang kutinggalkan di meja makan, aku tidak mengerti, pakaiannya pun masih menumpuk di kamar mandi, terakhir sebelum dia lama tidak kembali, dia memenuhi isi lemari es, bahkan dia membeli tempat beras sekaligus dia mengisinya dan rice cooker, ada oven dan pemanggang roti di meja makan, aku memang tidak makan nasi, hanya sepotong roti lapis, telur, keju, dan daging asap setiap pagi dan siang yang aku bawa dari rumah, praktis. Ada lagi yang bertambah diruang tamu dispenser, dan AC. Dia ingin membuat nyaman tidurnya diruang tamu.
                Akh. Aku benar-benar tekejut, subuh itu aku melihatnya tertidur di sofa, setengah iseng kusenggol tangannya yang menggantung, wajahnya pucat, tangannya hangat, sampai aku membersihkan rumah, sampai aku mau berangkat kerja, dia tidak bergerak, aku berusaha tenang dan tetap pergi kerja. Tapi, aneh, sampai tempat kerja, kata temanku aku kelihatan gelisah, memang aku tidak mampu menyembunyikan perasaanku, aku gelisah, apa yang terjadi dengannya, aku pulang awal di siang hari, tidak sampai malam seperti biasanya. Bergegas aku masuk rumah dan menyentuhnya perlahan di atas sofa, suhu tubuhnya semakin panas. Aku mendudukkannya di sofa membuat minuman susu coklat hangat dan obat penurun panas cair kucampurkan di dalamnya, karena kulihat dia susah menelan pil, bibirnya memerah karena penuh sariawan. Aku memberi sedotan kecil, perlahan dia mampu menyedot minuman, dan aku lega. Aku saran dia untuk ke dokter, tapi dia menggeleng, kusuruh dia menelpon managernya, dia mengangguk berarti sudah dia lakukan, tapi sang manager menolak datang. Aku membuatkan air kacang hijau di campur air nasi kucampur susu coklat bubuk, perlahan dia mampu menyedotnya, sementara hanya itu yang mampu kuperbuat.
                Aku menelpon managernya, tapi kata managernya, dia memang diberikan libur sebulan, dan jadwalnya yang sebulan itu telah dipadatkan selama dua minggu, yang selama ini dia menghilang dan tidak pulang kerumahku.
Baru kali ini ada kesempatan jalan-jalan ke mall, sambil mencuci mata melihat pakaian-pakaian cantik di etalase, aku melihat foto dia di galeri jas bermerek internasional, dan jam tangan mahal, dia sebagai foto modelnya digaleri bermerek itu, sebenarnya aku jalan-jalan di mall dengan tujuan mencari apotik besar, aku ingin membeli pempers dewasa, cateter, supaya dia bisa kencing dan buang air besar tidak menyusahkanku, karena kulihat dia kesulitan bergerak. Aku menelpon juga dokter pribadi keluargaku untuk memeriksanya, dokter itu mengajariku memasang cateter. Kata dokter, dia hanya mengalami kelelahan dan daya tahan tubuhnya drop, gejala tipes biasa dari pemeriksaan darahnya, tidak parah, tapi bisa parah kalau dibiarkan, okelah aku bersedia merawatnya, karena aku takut sang idola meninggal didalam rumahku.
Setiap pagi, kuseka badannya dengan air hangat yang kucampur detol, mengganti pempernya, mengganti cateternya, kusuruh sholat subuh, lalu kuberi makanan cair dari air nasi, air kacang hijau, dan susu coklat bubuk. Seminggu kurawat akhirnya dia bisa tersenyum dan mampu makan nasi, karena sariawannya telah sembuh, tapi panas badannya masih ada. Seminggu ini dia sudah sedikit baikan, sudah tidak pakai cateter dan pampers, dia juga sudah mampu berjalan.
Managernya datang kerumah setelah dia sudah sembuh, membawakan makanan kecil dan buah-buahan yang banyak di lemari es ku, ternyata dia mempunyai manager yang hanya mau melihat enaknya saja.
Aku mulai belajar memasak nasi dan soup daging sayuran, biasanya hanya kubuat salat sayuran dan buah-buahan, kusiram dengan yougert. Baru kali ini kami berdua makan satu meja, karena dia masih libur selama sebulan, berarti selama sebulan penuh aku melihat terus sosoknya yang biasanya aku hanya melihat sekelebat hadirnya yang seperti angin.
Rasanya masakanku tidak enak, kulihat ekspresi wajah sang idola itu jadi merah biru hijau, untunglah dia tidak protes dan terus memakannya, habis yang ada dipiringnya, atau karena sudah dua minggu ini dia hanya makan bubur cair dan nasi lunak.
Pulang kerja malam itu, aku diberi dia kejutan, dia memasak nasi goreng special, ada udang, cumi-cumi, ikan tuna, daging asap, bakso ikan, dan sosis ayam. Nasi goreng itu dibungkus telur dadar, dia juga membuat jus buah segar bukan kalengan, yang disusun berwarna-warni, lapisan paling bawah jus anggur berwarna ungu, diatas jus anggur ada jus melon berwarna hijau, ditas jus melon ada jus stoberry bercampur jambu merah berwarna merah, paling atas jus sirsak berwarna putih, seperti jus pelangi, berbagai warna dan rasa. Aku rasa dia memamerkan keahliannya memasak. Dapurku bertambah banyak alat memasak, juicer, mixer, pembuat kopi, dan panci-panci pembuat cake.
Ternyata didalam lemari es ku yang berwarna merah telah berisi kue tar buatannya sendiri, poding pelangi, dan brownis coklat. Dia berkata, janganlah suka makanan jadi dan kalengan. Sebenarnya dia menyuruhku untuk menyempatkan diri memasak di dapur, tentulah nanti kalau aku sudah menikah, sedang sekarang kerjaanku banyak.
Pulang malam ini aku harus mendesain pakaian pengantin, dekor ruangan, dekor rangkaian bunga, dan setting undangan pernikahan, juga meng edit foto prawedding. Urusan catering kuserahkan teman-temanku, aku hanya menyediakan peralatannya, dan tim pelaksana tinggal melaksanakan hasil dekorasiku. Aku bekerja di lantai dua rumahku, mencetak contoh undangan pernikahan, mencetak foto prawedding, meng edit video prawedding, mencari bahan-bahan yang cocok untuk baju pernikahannya, besok semuanya tinggal di berikan kepada tim pelaksana.
Usai semuanya, aku langsung masuk kamar tidur, mandi di kamar mandi pribadiku dengan air hangat dan aroma terapi, aku tidak tahu lagi apa yang dia perbuat di ruang tamu.
Pagi setelah sholat subuh, aku melihat di meja makan dia telah memasak pancake keju disiram madu lemon, setelah sarapan pagi dia mencuci piring sedangkan aku membersihkan seluruh rumah, mandi, dan pergi kerja, itulah pagi-pagi yang kulalui dengannya tanpa banyak kata dan kerjasama berjalan baik. Sampai liburan dia berakhir, dia tetap memasak setiap pagi, mencuci, mengeringkan, dan melipat pakaian adalah pekerjaannya sehari-hari tanpa suatu pembagian kerja tertulis semua berjalan lancar, tiap bulan dia belanja bulanan, yang kutahu lemari es ku selalu penuh, karena dia mengerti atm dia tidak kusentuh sama sekali aku letakkan diatas meja makan, dia pun tidak mengambil atm itu, atm itu selalu ada di meja makan.
Aku pernah bertanya, apakah uang di atm itu dari wanita-wanita simpanannya, dia menggeleng, lalu menjelaskan, itu atm yang di gunakannya memenuhi kebutuhannya sehari-hari, terpisah dari atm yang didapat dari wanita-wanita kesepian itu, uang itu dia gunakan untuk yayasan yatim piatu dan rumah jompo, yayasan yang diam-diam dia bentuk. Aku mencibirnya, mengapa uang haram kamu gunakan untuk makan dan keperluan anak-anak yatim piatu dan rumah jompo, dia hanya diam, sedangkan atm ketiganya di buatnya untuk bisnis propertinya dan bisnis showroom mobilnya.
Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, seperti keberadaan boneka beruangku yang lucu diatas tempat tidurku.
Enam bulan telah berlalu, enam bulan dia dalam pelarian, dan aku berfikir, aku pandai menyembunyikannya, tapi tengah malam itu, dini hari, ada yang mengetuk pintu rumahku, beberapa wartawan menyerbu masuk dengan diiringi polisi, kami berdua seperti penjahat besar digiring ke kantor polisi. Ada beberapa wanita karier itu sangat dendam pada sang idolanya, yang tiba-tiba menghilang, dan membuatnya kesepian diantara kelelahan kesibukkan pekerjaan yang menuntutnya sempurna, sang idolanya sebagai pelariannya. Dia dikenakan tuduhan berlapis, pelecehan seksual, menyebarkan situs-situs porno, dan menggunakan minuman keras bersama remaja putri dibawah umur. Orang tua ku membayar pers untuk mencuci bersih namaku, dan menebusku dengan mahal agar keluar dari penjara, sejak saat itu aku tidak tahu kabar darinya, itu perjumpaan terakhir dengannya.
Orang tuaku menjodohkanku dengan pengusaha kaya raya yang bisnisnya di Singapura, sebelum pernikahan terjadi, calon suamiku memeriksakanku ke dokter apakah aku masih perawan, itu sangat membuatku marah dan meledak, tentulah aku masih perawan, tentulah aku tidak mungkin melakukan seks diluar pernikahan, dan pernikahanku terjadi tercatat di Singapura tanpa tercatat di Indonesia.
Di Singapura aku terasa jauh dengan suamiku sendiri walau dekat, di Indonesia yang jauh aku tetap merasakan jauh dengan suamiku, hatiku ini menjadi tertutup, aku menjadi tidak mengenali diriku sendiri. Aku hilang komunikasi dengan teman-teman kerjaku, aku hilang komunikasi dengan teman-teman bisnisku. Duniaku terhenti.
Hari-hariku terasa sepi dan hilang, kadang di internet aku mengintip aksi panggung sang idola, dia kelihatan lebih tampan aslinya daripada yang ada di foto maupun di layar kaca. Perbuatan gilaku yang menyembunyikannya, perbuatanku tanpa kusadari tinggal serumah dengannya, aku tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, bagai mimpi, yang terkadang aku tidak percaya. Baru kurasakan, sang idola itu membuatku jatuh cinta.
Aku memutuskan kembali ke Indonesia dan mengganti kewarganegaraan anakku menjadi warga negara Indonesia dan mencatatkan kelahirannya, karena pernikahanku tidak tercatat di KUA Indonesia, urusan administrasi yang rumit. Tapi, mencatatkan kelahiran harus memiliki surat nikah, melihatku sedih, akhirnya orang tua berbaik hati, menambahkan anakku kedalam kartu keluarga mereka dan menganggap anakku anak mereka berdua, jadi status anakku dalam kartu keluarga adalah sebagai adik terakhirku, kemudian mencatatkan kelahiran anakku ke catatan sipil sebagai anak orang tuaku.
Karena suamiku tak kunjung mencatatkan pernikahan kami di KUA Indonesia, maka aku memutuskan bercerai dengannya, tapi perceraianku tidak bisa dilakukan karena mereka menganggapku tidak pernah menikah, akhirnya kutempuh jalan tidak mencatakan pernikahan dan tidak menuntut cerai, hingga jelas statusku, masih lajang. Aku tidak bisa menahan hatiku yang merasa selalu dipermainkan, dan suamiku mengganggap segala tentangku sangat sepele. Berhari-hari aku mengurung diri di kamarku, di rumah orang tuaku, tak sengaja aku membuka laci meja riasku, terdapat kunci rumah pribadiku, dua kunci mobilku, dan dua atm, satu atm bisnisku dan satunya atm sang idola. Ketika aku dibebaskan dari penjara, sang idola itu menyisipkan atm itu dikantong celana jeansku, dan terbawa pergi ke Singapura, ternyata orang tuaku menyimpankan barang-barang lamaku dilaci ini.
Aku merasa bebas tak terikat, aku ingin mengunjungi cafe tempat aku bekerja dahulu, mereka masih disana, teman kerjaku dan teman bisnisku. Mereka memberiku kabar kalau bisnis kami masih berjalan dan mereka rutin mentransfer uang bagi hasil, karena mereka masih meminjam peralatan, dan desain dekorasi ruang, juga desain kartu undangan, dariku. Mereka juga mengatakan bahwa rumah dan galeriku masih terawat dan serasa ada yang tiap hari membersihkannya, bahkan ada tulisan di galeri,”BARANG YANG DIPINJAM HARUS DIKEMBALIKAN DAN DIBAYAR SEWANYA”. Dan mereka pun menjawab tulisan itu,”OKE,BOSS”. Ternyata, dibalas kembali oleh seseorang,”TERIMAKASIH KERJASAMANYA”. Teman-temanku berfikir aku yang berbuat iseng seperti itu. Teman-temanku bisnis memang semua mempunyai kunci rumah itu, termasuk sang idola.
Cafe tempatku bekerja dulu pun berubah kepemilikan, sang idola itu mengambil alih cafe ini dan menjadi manager sekaligus penyanyi tetap di cafe.Cafe ini tidak lagi menjual minuman beralkohol dan tidak buka lagi diatas jam sembilan malam, ternyata diberlakukan juga jam malam, karena pegawainya banyak yang perempuan. Aku duduk menghindar di luar cafe, agar tak kelihatan olehnya. Sebenarnya, aku kangen banget melihat wajahnya.
Iseng-iseng aku mencek isi kedua atmku, kedua-duanya masih aktif, kedua-duanya berisi uang yang fantastik, termasuk atm yang diberikan sang idola, lebih dari 500juta rupiah, fantastik.
Malam ini aku ingin tidur di rumah pribadiku, yang kecil mungil tapi penuh kenangan. Dini hari, aku mendengar seseorang masuk rumah, terdengar bunyi mesin cuci pakaian, dan bunyi penyedot debu, cepat-cepat aku sembunyi dalam lemari pakaianku yang luas dan besar, dia membersihkan kamarku, untunglah dia tidak membuka lemari pakaian, adzan subuh terdengar, dia terdengar diam, mungkin sedang sholat subuh, lama, terdengar lagi suara terbuka pintu ruang tamu dan dia menguncinya dari luar, dia sudah keluar, aku keluar dari lemari. Kuintip dia dari balik tirai jendela kamarku, seseorang yang kukenal masuk kedalam mobil mercy, menoleh sebentar ke jendela kamar tempatku berdiri, kemudian masuk mobilnya, dan berlalu.
Aku buka lemari es berwarna hijau, mengambil beberapa buah dan kubuat salat kusiram dengan yougart, ku buka lemari es berwarna merah kubuat ice cream coklat kutaburi biskut coklat, dan selai coklat. Ku buka lemari es berwarna kuning, kupilih jus jambu merah sebagai minuman penutup, aku makan karena aku memang belum makan sejak semalam.
Aku menuju lantai kedua rumahku, alat-alat musiknya semakin lengkap dan bertambah, alat-alat sound systemnya juga bertambah lengkap untuk panggung pertunjukkan dengan ukuran besar, begitu juga lampu-lampu sorot pertunjukkan dan panggung. Di sisi tangga ada tertulis besar, seperti yang teman-temanku ceritakan,”BARANG YANG DIPINJAM HARUS DIKEMBALIKAN DAN DIBAYAR SEWANYA”, tertulis dengan spidol permanent hitam, dan dibalas oleh temanku dengan lipstik merah muda,”OKE,BOSS”. Dibalas lagi dengan spidol hitam permanent,” TERIMAKASIH KERJASAMANYA”. Perbuatan dua orang yang iseng.
Aku ingin menemui dia, sang idola, yang juga sang penyusup dirumahku. Aku ingin menginap kembali malam nanti.
Aku mengambil kunci mobilnya dirumah orang tuaku, aku jalan-jalan membeli bahan-bahan spa, dan memperbarui cameraku, menambah lensa cameranya yang terbaru, membeli beberapa cd dan micro sd, laptop terbaru dengan layar lebar dan layar sentuh. Aku juga mampir ke toko buku, membeli buku desain pakaian pengantin modern dan pengantin muslimah, dan membeli buku arsitektur taman dan arsitektur kolam, aku ingin mendesain pernikahan dengan konsep pesta kebun, di luar gedung. Aku merasa cukup jalan-jalannya, tapi dasarnya aku seorang perempuan, tidak asyik rasanya kalau tidak membeli baju, kubeli baju untuk kedua orang tua, baju tidur kembar aku dan anakku, dan aku melirik sepatu bot kulit dan tas ransel kulit, aku perlu sedikit berubah agar tampil energik dan tidak tampak tua dan lambat. Aku rasa tidak ada yang kurang, aku menuju rumah untuk memanjakan diri, spa dengan aroma terapi dan air hangat.
Aku kemana-mana menggunakan motor matik berwarna biru muda dan helm juga berwarna merah muda, kaca mata channel, jaket kulit cream model jas sepasang dengan celana panjang kulit warna coklat, sepatu bot kulit, dan tas ransel kulit, penampilan terbaruku.
Berendam air hangat dengan wewangian bunga mawar, gardena, dan melati, sabun buah yang kularutkan di air hangat, aku masker rambutku dengan alpukat dan kubungkus plastik, perlahan-lahan aku masker tubuhku dengan pati bengkoang sebelum masuk ke air hangat. Di meja kaca yang berada di kamar mandi aku bakar wewangian dari kulit buah-buahan kering agar ruangan juga berbau harum. Serasa mandi uap dan berendam dikolam susu hangat. Ditepi kolam mandiku aku seduh minuman teh melati hangat, menyegarkan tenggorokanku. Aku mempersiapkan diri dan perasaanku untuk menatap wajahnya kembali.
Aku memasak semenjak siang, masak nasi goreng special yang pernah dia buatkan untukku, ada udang, cumi-cumi, bakso ikan, dan sosis ayam, terbungkus telur dadar, aku buat jus yang juga pernah dia buatkan untukku, dari bawah ke atas, jus anggur, jus melon, jus stoberry dan jus jambu merah, paling atas jus sirsak, kusimpan dulu dalam lemari es, sebagai makanan penutup kubuat juga puding pelangi dari susu segar dan jus buah dan ku bekukan dalam lemari es. Aku buat cake coklat untuk kumakan sebagian sekarang, sambil menunggu waktu berganti, serasa lama dan perlahan merayap.
Aku mengganti pakaianku dengan baju tidur panjang berbahan sutra berwarna merah muda, dan kututupi baju tidur yang tipis itu dengan kimono satin berwarna putih bermotif bunga sakura merah muda. Hingga ku tertidur di sofa.
Dia hadir sangat aku terlep, dia menyelesaikan mencuci pakaiannya, mengeringkannya, membersihkan dengan vacum cleanner, mandi sambil melipat pakaian, memakan masakanku yang ada di meja dan menghabiskannya. Duduk di sebelahku , sampai aku sadar sendiri dan terbangun dari tidur, itu senyummu yang termanis yang pertama kali kulihat ketika aku bangun tidur.
“Aku mengembalikan atm mu dan kunci mobilmu.”
“Aku menunggumu kembali, dan ingin membawamu berlari dan menikah denganmu, berdua selamanya. Jawablah besok, kalau kamu tidak hadir esok berarti kamu menolakku.”
Tak ada satu pun yang dia ambil dari ku, baik kunci mobilnya atau pun atm nya.
Aku tidak keluar dari rumah, aku menunggunya, aku ingin berlari dengannya, aku ingin mengejar bahagia.
Dia membawaku berlari di pagi buta, berhenti sejenak di masjid tepi jalan tol untuk sholat subuh dan kami melanjutkan perjalan, di kota kecil, kabupaten Jawa Barat, kami di sambut tepat pukul sembilan pagi, acara akad nikah terjadi dengan lancar, manager sang idola telah mempersiapkan pesta rakyat untuk acara akad ini, aku di make up dipinggit di dalam kamar sampai iajab kabul usai di ucapkan, dan penghulu mengatakan, “SAH”.
Setelah akad nikad telah terjadi aku baru di iringi duduk di pelaminan untuk menerima mas kawin, berupa seperangkat emas 100 gram bermatakan berlian 2 karat, cukup indah dijari tanganku, di pergelangan tanganku, di telingaku, dan di leherku.
Kami menghadirkan penghulu setempat, 2 saksi dari pihak pria, dan wali hakim, ternyata dia telah mempersiapkan matang-matang berdua dengan managernya. Dan ini yang tidak pernah ku alami menanda tangani buku nikah yang sah. Aku menangis haru. Ini cintaku dan cintanya.
Yang tersulit untuk saat ini, memberitahukan pernikahan ini kepada kedua orang tuaku, dan sekaligus meminta ijinnya.
Sesuatu yang indah seakan cepat sekali berjalan, perlahan mobil mercy nya menuju sebuah vila, dan mulai jarang terdapat rumah penduduk, di atas sebuah bukit kecil. Rumah asri dengan pagar rendah, dan mobilnya masuk di samping rumah tersebut.
Di belakang rumah terdebut, dihalaman belakangnya, ada jalan setapak di atas sungai kecil dan di ujungnya ada hutan kecil, hutan bambu kuning. Dibalik hutan bambu itu ada rumah panggung kayu yang hangat dengan lampu temaram.
“ Aku tidak mampu menunggumu sampai malam.”Itu bisiknya lembut.
Dia menggendongku masuk kamar. Dia yang membersihkan wajahku dari make up, membuka pelan-pelan seluruh pakaianku, dan tidak ada rahasia lagi diantara kami berdua.
Angin meniup, daun-daun bambu berbunyi lirih mengiringi persatuan kami yang kulalui penuh senyum tertawa tanpa suara, kami menjadi raja dan ratu diatas pembaringan, terik mentari saat itu menambah kehangatan pelukannya. Gemercik air sungai membuat suasana siang yang terik terasa basah, aku menangis didalam dekapannya, jangan berakhir....jangan berakhir.....jerit hati yang paling dalam.
Petik gitarnya mengiringi senja, tanpa dendang suara nyanyian hanya kicau burung-burung kecil diujung pohon bambu. Temaram kekuningan cahaya bulan menyatu dengan lampu taman.
Didapur yang terpisah dari rumah utama yang berada paling depan dengan model rumah eropa modern, rumah kedua berupa rumah panggung kayu klasik berfungsi sebagai kamar tidur, di belakang adalah rumah kaca setengah terbuka, merupakan meja makan setengah terbuka serasa ditengah kebun dan dapur. Aku melihat dia juga mempunyai empat lemari es besar seperti punyaku, dengan empat warna pula, merah, biru, hijau, dan kuning. Aku bingung mau masak apa, aku buat seperti kesukaanku salat buah dan salat sayuran. Tapi, ternyata dia yang ingin masak untukku, daging yang sudah di rendam nanas di bakar di perapian kemudian di siram saus lada hitam dan saus tiram pedas.
“Kamu tidak ingin mengulang yang seperti tadi ?” Pertanyaanku yang nakal.
“Nanti akan aku ulang setelah sholat isya’.”
Tentu aku tidak menolak bercinta dengannya, dia sangat mengerti apa yang diinginkan perempuan dalam bercinta.
“Mana baju tidurmu yang kamu kenakan waktu menyambutku dini hari yang lalu ?”
“Tentu aku membawa yang lebih seksi berwarna cream, sama dengan warna kulit.”
“Kamu ingin bercinta dibawa sinar bulan ?”
“Apakah indah ?”
“ Tidak, akan lebih lama karena di alam bebas, terasa terusik angin, bunyi burung hantu, dan desir dedaunan.”
“Aku ingin mencobanya, ini pertama untukku. Mengapa ada bunyi burung hantu ?”
“Ini juga yang pertama untukku. Dan....karena aku sengaja melepas sepasang burung hantu.”
Aku menggunakan pakaian tidur mini, diatas lutut, dengan lengan terbuka. Dia meraihku di atas rerumputan, semua menjadi lepas kendali, percikan air mancur di pinggir sungai kecil membasahi punggungnya, kicau burung hantu menutupi desahan suaraku....akh...akh.
Dua bulan berlalu dari pernikahanku dengan sang idola, aku menyampaikan apa yang tersembunyi dalam hati, bawa aku ingin pulang ke orang tuaku dan mintalah restu mereka. Dia tidak pernah menundanya, dia segera membawaku pulang ke orang tuaku dan ingin meminta restunya.
Dari pagi kami pergi menuju rumah orang tuaku, tapi tiba-tiba aku yang sedang hamil menginginkan jeruk bali dan kedondong, padahal lagi tidak musim buah tersebut, hampir mendekati sore kami mendapatkannya, di kota bogor pengusaha manisan kulit jeruk bali memberi kami bonus karena kami juga membeli manisannya sebagai oleh-oleh untuk orang tuaku.
Kami mempersiapkan diri apapun yang terjadi, kami akan dengan sabar menerima, apapun resikonya. Kejadian yang paling menakutkan, ternyata mantanku menyambutnya di depan pagar rumahku, hampir masuk kedalam mobilnya, mungkin dia hendak keluar rumah. Ada apa sang mantan itu datang ke rumah orang tuaku, bukankah sudah kukatakan melalui sms dan telpon bahwa kami sudah berakhir, apa dia ingin memeras orang tuaku yang bekerjasama dengan perusahaannya yang hampir bangkrut di Singapura karena imbas harga saham Asia tenggara yang drastis turun. Sang mantan menampar wajah suamiku, padahal suamiku hanya diam saja, darahku menjadi naik dan meninju wajah sang mantan itu mendorongnya masuk ke mobil dan kukatakan dengan kasar jangan dia kembali ke Indonesia, apalagi masuk ke rumah orang tuaku.
Orang tuaku menahan diri di ruang tamu untuk tidak ikut campur permasalahan keluarga anaknya, kupeluk ibuku yang berada di ruang tamu dan aku sungkem dikakinya, begitu juga suamiku, awalnya ayahku menampar wajah suamiku, akhirnya ayahku hanya mampu merestui dan mengatakan pada suamiku untuk membuatku bahagia, kata-kata itu diulanginya tiga kali.
Waktu kami kembali kerja di cafe, mereka, teman-temanku membuat pesta kecil di cafe, di penuhi bunga mawar putih, bunga lili putih, dan rangkaian melati yang memenuhi langit-langit cafe, meja-meja di cafe penuh rangkaian mawar, ruangan cafe harum semerbak.
Ku harap dia berhenti melarikan diri, tepat 12 tahun pernikahan kami, dia pergi melarikan diri, di panggil Sang Pemilik hidup, dan sejak itu dia, sang idola, melarikan diri tak pernah kembali.






               





Sabtu, 15 Desember 2012



KARYA :
MUHAMMAD NUH FATHSYAH
 7F/22
SMP 2SURABAYA

3 Kembar Yang Terpuji

                Di suatu desa terdapat keluarga kecil bahagia yang mempunyai 3 anak kembar, 3 anak itu bernama Doni, Dani, dan Deni. Mereka mempunyai karakter yang berbeda dan sangat unik. Keluarga mereka tinggal ditepi hutan, keluarga kecil yang hidup bahagia, saling menyayangi, saling membantu. Rumah kayu minimalis dikelilingi kolam ikan, kolam angsa, dan kolam untuk berenang, ditata rapi dan alami. Setiap hari mereka membersihkan rumah bergotong-royong , membersihkan kandang angsa dan mengambil telur angsa, memberi makan ikan-ikan dikolam, dan berkebun sayuran di belakang rumah. Dihari libur sekolah mereka sekeluarga sering berkemah di tengah hutan, sambil memancing ikan dan membakar ikan di area bebas hutan savana.
Doni yang tertua sangat penyayang, dia menyanyangi kedua adiknya, melindungi, dan membimbing, Doni pandai membuat rumah kayu yang hangat, pandai membuat kolam ikan dengan pancuran air dari bambu, juga taman bunga yang penuh bunga warna-warni, seperti karakter Doni anak tertua yang hangat dan penyayang.
 Dani anak yang tengah, sangat periang, Dani pandai menghibur, bercanda, apabila kedua saudara kembarnya sedang lelah apalagi bersedih, Dani suka memasak kue dan minuman buah sebagai pelepas lelah seluruh keluarga.
Deni seorang anak yang pemurung, Deni sering menyendiri sambil memetik gitarnya, bernyanyi dengan burung nuri peliharaannya, kadang disaat senggang Deni suka melukis alam hutan yang sejuk .
Sementara itu orang tua mereka orang yang sabar, suka menolong tetangganya yang memerlukan bantuannya . Di suatu hari ketika sekeluarga sedang berlibur di hutan mereka menemukan seorang kakek yang kelaparan di hutan. Lalu mereka membawa kakek itu dan memberi makan kakek di tempat berkemah mereka di hutan, ternyata kakek tersebut tidak mempunyai keluarga lagi, mereka sekeluarga sepakat untuk memelihara kakek tersebut hidup bersama dalam rumah kayu yang hangat. Mereka memperlakukan kakek tersebut seperti keluarga sendiri.

Lalu berberapa hari kemudian kakek itu meminta izin berjalan-jalan ke hutan dan setelah kakek itu pulang kakek itu menemukan sepasang kambing di hutan. Lalu mereka memelihara kambing itu samapi beranak banyak , setiap si kakek berjalan-jalan didalam hutan, si kakek selalu berburu hewan-hewan yang mampu diternak hingga beranak pinak, selain kambing, kakek juga menemukan ayam hutan hingga bertelur dan menjadi semakin banyak.
Apabila kakek memakan buah-buahan bijinya tidak dibuang tapi ditanam dihalaman rumah, selain biji mangga, biji nangka, biji durian, salak, jambu biji, dan jambu air. Jadi kebun sayur yang ada bertambah menjadi kebun buah juga.
Doni yang pandai membuat rumah kayu, membuatkan si kakek rumah-rumah untuk kandang kambing, rumah-rumah pohon untuk burung merpatinya, rumah-rumahan juga untuk kandang ayam. Doni membuatkan pula rumah-rumah diatas kolam untuk angsa-angsanya. Tak lupa Doni membuatkan rumah pohon pula untuk berkemah, sehingga tak perlu berkemah di tengah hutan lagi.
Menolong orang lain tidak lagi menjadi beban keluarga si kembar 3, karena si kakek selalu memberikan berkah yang banyak untuk keluarga kecil yang bahagia itu, kehidupan mereka menjadi lebih dari kecukupan, tapi mereka tetap hidup sederhana dan bersahaja, tapi mereka tetap menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Dani yang pandai memasak pun membuat warung makan yang nyaman di tepi kolam ikan, dibantu adik kembarnya Deni sambil bermain gitar, bernyanyi menghibur pengunjung yang sedang makan di warung makan sederhana nan nyaman. Apabila ada pengemis yang meminta minta Dani tidak mengusirnya tetapi malah Dani memberi makan dan minum kepada pengemis itu, perbuatan terpuji Dani membuat warungnya semakin dikunjungi banyak pelanggan, menolong pengemis tidak membuat warung Dani merugi.
Sepulang membantu kakak kembarnya Deni mengembangkan bakatnya melukis, kadang-kadang lukisan Deni terjual sangat tinggi karena keindahannya, sebagian uang hasil menjual lukisan tersebut disumbangkan pada masjid-masjid kecil di kampung-kampung.
Setelah uang mereka terkumpul mereka membangun rumah besar ,di tengah tengah pembangunan ada yang menitipkan bayi dan anaknya di depan rumah , lalu mereka merawat bayi dan anak itu. Setelah  rumah mereka selesai mereka tinggal di rumah barunya, dari segala kejadian yang menimpa keluarga mereka, mereka sekeluarga merenung bahwa mereka harus terus berbagi kebahagian kepada anak-anak yatim piatu, bahwa hidup harus selalu berarti untuk orang-orang yang membutuhkan, harus selalu berbagi kesejahteraan bagi orang-orang yang kekurangan. Lalu rumah lama mereka di jadikan panti asuhan untuk anak anak yatim dan yang membiayai panti asuhan itu. Inilah hidayah dan berkah terbesar yang diberi Tuhan, jalan yang diberikan Tuhan untuk terus-menerus berbuat kebaikan bagi sesama manusia.
Semakin bertambahnya anak-anak yatim yang mereka pelihara, semakin besar pula rumah mereka, sehingga anak-anak yatim yang semakin banyak itu tetap bisa mereka tampung, luar biasa rejeki yang diberikan Tuhan apabila makhluknya saling menolong.
Tak terasa waktu berlalu, orang tua mereka sudah tua dan sakit-sakitan, tanpa banyak menderita sakit orang tua mereka meninggal, pesan orang tua mereka, “Mereka bertiga harus tetap menolong orang lain, terutama orang-orang fakir-miskin dan anak yatim piatu.”
Walau orang tua mereka bukan pengusaha terkenal , bukan pula pejabat tinggi pemerintahan, bukan pula bintang film ternama, namun yang mendoakan kedua orang tua mereka memenuhi masjid dan halaman masjid dikampungnya, sungguh mulia orang tua mereka, Subhanallah.
Air mata ketiga anak kembar itu, bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru, sehingga mereka ingin juga seperti kedua orang tua mereka yang diakhir hayatnya penuh dengan doa-doa yang tulus ikhlas, melancarkan perjalanannya di akhirat kelak.
Dan kehidupan ketiga bersaudara kembar itu harus berlanjut, melanjutkan jejak-jejak kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan orang tua mereka.
Berberapa tahun kemudian,mereka telah berkeluarga ,Doni menjadi arsitek handal, Dani yang mempunyai restoran besar, sementara Deni menjadi penyanyi yang ternama, walaupun mereka mempunyai kehidupan masing masing mereka tidak lupa mengurus pertenakan peninggalan orang tua mereka, dan mereka juga mengurusi kebutuhan panti asuhan mereka,dan setiap bulan mereka membagikan sembako , makanan,dan kebutuhan pokok sehari hari ke orang orang jalanan,orang miskin yang mengemis di jalan .
Mereka pun sadar, bahwa mereka harus menjadi imam bagi anak-anak mereka, menjadikan anak-anak yang baik, beriman, dan pintar, juga jujur dalam pekerjaan. Mereka adalah contoh nyata dalam perbuatan baik bagi anak-anaknya. Apabila mempunyai banyak harta mereka selalu mengingatkan kepada anak-anaknya agar jangan lupa untuk tetap berbagi kebahagian. Menjaga perkataan, tidak menghardik orang miskin, tidak mencemoohkan anak-anak yatim-piatu, karena tidaklah menjadi miskin bila kita bersedekah dan berbagi.
Dan kesan terakhir dan nasehat yang selalu disampaikan setiap waktu, hiduplah bersyukur dan bersabar, itu yang membuat mereka selalu hidup berbahagia.
Senyum kemenangan dalam hidup, apabila orang lain tersenyum karena mendapat bantuan dan pertolongan dari kita secara ikhlas.