PELARIAN SANG IDOLA
Dia penyanyi di
cafe tempatku bekerja, kalau dia tidak ada show ke luar kota, keluar pulau,
keluar negara indonesia tercinta. Wajahnya pucat, bersih tak berjerawat, karena
selain dia jual suara, dia juga jual tampangnya yang ganteng bak patung lilin.
Seperti selalu tahu jadwal sang idola, remaja putri seperti arisan memesan
tempat romantis di ujung ruangan, tempat private, ada fasilitas bar kecil,
panggung mini, dan meja panjang, untuk acara keluarga, meeting, dan pesta ultah
sederhana.
Kadang aku
melihatnya tergeletak dipaksa minum dan melayani sang penggemar, dengan minuman
perangsang, tergeletak setengah sadar dan setengah bugil. Seolah seluruh
tubuhnya adalah aset uang, dan pemburu uang memanfaatkan seluruh tubuh dan
wajahnya agar laris dipasaran. Dia seperti Arjuna yang kehilangan panah
saktinya, tergeletak lelah, setelah maksimal sang penggemar dan pelaku bisnis
melucuti keindahan sosok tubuhnya. Walau dalam kesadaran penuh di ruang ujung
cafe dia memetik gitar sambil membuat syair dan melodi sebuah lagu, dia seolah
tak mampu menangis, tapi lagunya menunjukkan perasaannya, melepas cinta dan
mengusir cinta yang malah membuatnya kesepian dan kehampaan tinggi karena
akhirnya akan mengecewakan hati. Dia kesepian diantara gemerlap dan keramaian.
Aku kira saat itu,
dia sudah pulang pergi dari ruang di ujung itu, tapi kulihat dia dalam keadaan
parah pakaiannya compang-camping, di robek-robek penggemarnya yang kesepian,
yang mabuk dan mengganas, kemudian ditinggalkan begitu saja seperti sampah. Dia
pemuas bagi wanita-wanita sibuk yang kesepian menemaninya bernyanyi,
minum-minum, berkencan dan bercinta, kemudian ditinggalkan dalam ketidak
berdayaan, aku berfikir hanya perempuan yang bisa diperkosa, ternyata laki-laki
bisa juga diperkosa. Aku bersihkan ruangan, kemudian diam-diam kubawa dia pergi
di waktu dini hari itu, dalam keadaan tak berpakaian, kunaikan mobil miniku,
karena aku takut wartawan mencium gelagatku, kubawa dia di rumah mungilku yang
hanya berukuran 6x6 m/persegi. Kutinggal dia sendiri dalam rumah, kutinggal
bekerja, malam baru aku pulang, melihat dia menangis, apa sebenarnya terjadi,
dia mengatakan bahwa dia terjebak pada malam itu dan foto-foto bugilnya terbit
diseluruh dunia maya. Aku menyuruhnya pulang ke rumahnya sendiri, atau kembali
ke rumah orang tuanya, tapi dia tidak mau, dia ingin berlari sementara waktu
dari segala permasalahan itu, aku dimintanya menyembunyika dia dan berlari dari
masalah ini, untuk beberapa waktu.
Aku tidak mudah
percaya, malam itu, kusuruh dia tidur diruang tamu, dan aku minta waktu
sebentar untuk berfikir. Pagi itu, aku siapkan makan pagi, roti tawar dengan
telur dadar keju. Dia memberikan kartu debitnya kepadaku, aku hanya
memandangnya tidak mengerti, kemudian dia memberiku nomor pinnya, aku
tersenyum, dan mengatakan padanya untuk berfikir jernih, dan jangan berharap
ada minuman keras di rumahku. Dia harus sholat subuh setiap pagi sebelum
sarapan dan mandi, setidaknya itu yang harus dia lakukan dihadapanku sebelum
aku bekerja.
Aku mendengar
bisik-bisik dan tertawa cekikian wanita-wanita di cafe melihat foto bugilnya di
dunia maya. Mereka seolah mencari-cari sosok sang idola di cafe tempat dia
bernyanyi bila tak ada show, teman-teman bandnya pun menunggu di panggung,
seolah tak tahu-menahu aku sibuk bekerja, dalam hatiku, dia tersimpan rapi, dan
sembunyi di rumahku.
Aku menyuruhnya
cepat mengambil keputusan dan pergi dari rumahku, tapi dia meminjam telponku
dan menelpon managernya, tengah malam tepat managernya mengetuk pintu rumahku,
sambil membawa jadwal kontrak yang harus dia jalani, kemudia pergi sendirian,
sang idola itu tetap berada di rumahku. Seuasai sholat subuh, managernya
menjemputnya, dia ternyata menepati peraturanku, sholat subuh terlebih dahulu
sebelum memulai aktifitas apapun, dan dia memintaku menukar mobil, seperti
terhipnotis aku bertukar mobil denganya, tanpa kumelihat lagi mobil apa yang
dia berikan, yang kutahu mereknya Toyota, okelah sama-sama Toyota.
Pagi itu setelah
membersihkan rumah barulah aku pergi kerja, aku sangat terkejut ternyata mobil
yang dia tukar dengan mobilku adalah mobil mewah dan besar “land cruiser”.
Sampi ditempat kerja para penggemar mengawasi mobilku dari kejauhan, mereka
berfikir sang idola datang untuk jumpa pers, ternyata aku keluar dengan tenang,
dan kujawab pula dengan tenang bahwa aku membeli mobil sang idola melalui
internet, dan transaksi berjalan cepat dan lancar, sedangkan aku tidak mengenal
secara pribadi sang idola mereka, masalah selesai. Selanjutnya aku tidak pernah
memakai lagi mobil sang idola itu, aku naik angkutan umum. Aku pikir dia telah
pergi dari rumahku, ternyata tengah malam dia mengetuk rumahku, langsung mandi,
sholat isya’, memakan sisa potongan roti pagi yang ada di meja, kemudian tidur
di ruang tamu, diatas sofa. Dia biasa hidup seperti angin dan menganggap orang
lain seperti angin, seperti inilah cara dia menghindar dan bersih diri dari
para penggemarnya yang nakal dan agresif.
Setiap minggu
teman-temanku datang kerumah, aku menyuruhnya sembunyi di mobilnya, dan aku
pergi mencari tempat rapat trategis dengan teman-temanku membahas bisnis,
bisnis kecil-kecilan, bergerak dibidang photografi, percetakan, penyewaan
ala-alat pengantin, dan catering, kami berempat bekerja sama dengan gedung yang
disewakan untuk meeting, acara pernikahan, acara ulang tahun, dan sejenisnya.
Aku sebagai penyedia peralatan pelaksana seperti : alat-alat percetakan,
alat-alat photography, alat alat catering, baju seragam dan baju pengantin, dan
alat berat lainnya, temanku sebagai marketing, dan dua temanku lagi sebagai
penyedia bahan pelengkap, seperti kertas, bahan makanan, dan hal-hal kecil yang
detail, kami berempat.
Teman-temanku
awalnya agak curiga, mengapa ada mobil mewah di rumahku? Tapi dengan lihai aku
meyakinkan mereka, kalau orang tuaku menitipkan mobil pribadinya di rumahku,
temanku mengambil beberapa alat-alat pernikahan di rumahku, di lantai dua
rumahku, yang memang seperti galeri, penuh alat-alat catering, piring, mangkok,
peralatan masak, dalam jumlah besar, camera digital dan manual, ruang cetak
foto, alat-alat percetakan sovenir, alat percetakan undangan, dan seragam
pengantin dan baju penganti di perbagai daerah, aku memang menyicil semua
alat-alat itu dari hasil kerjaku sendiri, tanpa minta ke orang tuaku. Aku
masukkan teman-temanku dari tangga yang ada di garasi bukan tangga yang ada di
dapur dalam rumah, sebab aku tahu sang idola ada di lantai satu rumahku. Acara
ringkas-meringkas barang usai, temanku pun pulang. Aku turun ke lantai satu dan
melihat sang idola meringkuk di ruang tamu sambil menonton tv. Sampai kapan dia
berada di dalam rumahku dan bersembunyi disini, aku malas bertanya karena aku
lelah memikirkan kerjaan, dan bisnisku.
Pagi hari seperti
biasa selesai sholat aku ke dapur untuk memasak, ternyata 4 lemari esku penuh
semuanya, aku memang mempunyai 4 lemari es berukuran besar, karena aku malas ke
pasar, jadi aku cukup belanja untuk sebulan atau dua bulan sekali, satu lemari
es ku berisi sayuran dan buah-buahan, satu lemari es ku kuisi kue-kue dan cake
dan bahan matang, satu lemari es ku kuisi daging dan ikan mentah, dan lemari es
yang ke empat kuisi minuman soft drink, susu, dan juzz buah. Rumahku dilantai
satu memang hanya memiliki satu kamar tidur dan kamar mandi didalam kamar, satu
kamar mandi didapur, ruang tamunya tanpa sekat bercampur dengan dapur, satu
sofa besar, satu lemari kaca yang ada televisi led, kamarku hanya berisi tempat
tidur berukura 2x2 m, lemari kayu lebar penuh satu dinding berukuran 5x1x3 m,
cukup luas, satu meja kerja, aku memang sederhana, jadi rumahku tidak terisi
banyak barang, tapi di lantai dua berisi lemari-lemari besar untuk menampung
semua alat bisnisku. Aku rapi bersih, sehingga semua tertata rapi dan
diletakkan pada tempatnya.
Sebenarnya aku
lupa belanja di awal bulan ini karena segala persoalan yang rumit,
menyembunyikan seorang laki-laki didalam rumahku membuatku hidup tidak tenang.
Dia belanja, mengisi penuh ke 4 lemari es ku, diletakkan sesuai tempatnya,
sayuran dan buah dilemari es berwarna hijau, kue-kue kering, roti, dan bolu,
diletakkan di lemari es berwarna merah, daging, telur, keju, dan ikan segar
diletakkan di lemari berwarna biru, dan lemari es berwarna kuning penuh minuman
soft drink, susu, es cream, coklat, dan juzz buah.
Pagi sekali, tanpa
bicara sang idola itu langsung pergi mendahuluiku, aku bersih-bersih dahulu
sebelum pergi kerja, aku membersihkan juga di lantai dua rumahku, ternyata dia
meletakkan peralatan band dan sound sistem di tengah ruangan, gitar, keyboard,
drum. Aku membersihkan lemari-lemari kayu berkaca yang berisi alat-alat pesta,
catering, photography, percetakan.
Dengan mengucapkan
doa aku keluar rumah, kuintip sebentar garasi, dia meninggalkan mobil mewahnya
di garasi, tapi aku tidak menyentuhnya, aku pergi menggunakan angkutan umum.
Teman-temanku
selalu bertanya mengapa aku naik angkutan umum padahal mereka melihat ada dua
mobil didalam garasi waktu itu, dan aku selalu mengelak bila ada temanku yang
ingin menginap di rumahku, padahal aku sering meminta salah satu teman-temanku
untuk menemaniku tidur malam hari, dan sering mereka yang menolak dan kupaksa,
tapi kini aku yang menolak mereka berada didalam rumahku dilantai satu, dan
kularang menginap. Mereka menganggapku memelihara anjing galak, padahal itu
tidak mungkin karena aku muslim yang taat.
Sementara itu, dia
berhenti bekerja di cafe tempatku bekerja, dia lebih banyak rekaman di
televisi-televisi swasta, pergi show luar kota dan luar pulau, dan menghindari
kota Jakarta. Tapi setiap tengah malam dia menyempatkan diri untuk pulang ke
rumahku, walau dini hari dia langsung pergi lagi, dia selalu melihat rumahku,
sekedar memakan sisa roti tadi pagi yang kubuat sarapan, tidur sejenak di sofa,
dan belum sempat pagi hari, dini hari sekali dia sudah pergi, kulihat dia menghabiskan
roti lapis telur keju, dan daging asap di meja.
Setiap pagi, aku sengaja
membuat sarapan pagi lebih banyak dari biasanya, agar dini hari bila dia datang
bisa memakan roti lapis yang kubuat lebih banyak. Kulihat dikamar mandi dia
mencuci sendiri pakaian dan mencuci juga bajuku, kamar mandiku yang di dapur
sengaja kubuat kamar mandi kering dan ada mesin cuci dan pengering pakaian yang
sangat besar, karena aku malas mencuci setiap hari dan malas menjemur pakaian.
Dia melipat pakaianku dan pakaiannya yang telah kering didalam sebuah keranjang
pakaian yang sengaja aku letakkan disana. Dia memakai pewangi dan pelembut
pakaian terlalu banyak hingga wanginya memenuhi kamar mandi dan dapur,
maklumlah dia laki-laki, tidak mengerti ukuran untuk sabun dan pewangi pakaian.
Ditempat kerja
teman-temanku mulai protes karena harumnya pewangi pakaianku menyengat, padahal
aku anti memakai wewangian, dikira aku menyembunyikan sesuatu dan berubah, aku
memang menyembunyikan sesuatu tapi sebenarnya aku tidak pernah berubah. Cafe
tempatku bekerja sedikit sepi tanpa hadirnya sang idola, sekarang dia hanya
bisa di temui di dalam televisi untuk iklan sampo, sabun muka, iklan makanan
dan minuman, juga di tangga lagu-lagu terpopuler. Di cafe tempatku bekerja
jarang terlihat wanita-wanita karier yang kesepian dan remaja putri yang
nakal-nakal lagi, semua berjalan baik-baik saja.
Tengah malam itu,
sengaja aku menunggunya di ruang tamu, duduk di sofa, dia datang membuka pintu,
memang dia ku beri kunci juga agar bisa membuka pintu bila aku bekerja,
melewatiku begitu saja, langsung menuju kekamar mandi, menyalakan mesin cuci,
mengambil wudhu untuk sholat isya’ di dapur, makan roti yang ada dimeja makan,
minum segelas susu, usai makan menuju kamar mandi lagi untuk mandi dan mengeringkan
pakaian selesai dicuci, kemudian menuju sofa, karena aku duduk di sofa dia
tidak menyuruhku pergi, dia mengambil bantal yang ada di belakang punggungku,
kemudian tidur dilantai didepan televisi. Aku kemudian meninggalkannya diruang
tamu menuju kamarku sendiri dan tidur pula, kadang aku kasihan dengannya,
hidupnya benar-benar seperti angin.
Dua minggu sang
idola menghilang di rumahku, mobilku ada di garasi, mobil dia juga ada di
garasi, atm dia juga tidak dia ambil yang kutinggalkan di meja makan, aku tidak
mengerti, pakaiannya pun masih menumpuk di kamar mandi, terakhir sebelum dia
lama tidak kembali, dia memenuhi isi lemari es, bahkan dia membeli tempat beras
sekaligus dia mengisinya dan rice cooker, ada oven dan pemanggang roti di meja
makan, aku memang tidak makan nasi, hanya sepotong roti lapis, telur, keju, dan
daging asap setiap pagi dan siang yang aku bawa dari rumah, praktis. Ada lagi
yang bertambah diruang tamu dispenser, dan AC. Dia ingin membuat nyaman
tidurnya diruang tamu.
Akh. Aku benar-benar
tekejut, subuh itu aku melihatnya tertidur di sofa, setengah iseng kusenggol
tangannya yang menggantung, wajahnya pucat, tangannya hangat, sampai aku
membersihkan rumah, sampai aku mau berangkat kerja, dia tidak bergerak, aku
berusaha tenang dan tetap pergi kerja. Tapi, aneh, sampai tempat kerja, kata
temanku aku kelihatan gelisah, memang aku tidak mampu menyembunyikan
perasaanku, aku gelisah, apa yang terjadi dengannya, aku pulang awal di siang
hari, tidak sampai malam seperti biasanya. Bergegas aku masuk rumah dan
menyentuhnya perlahan di atas sofa, suhu tubuhnya semakin panas. Aku
mendudukkannya di sofa membuat minuman susu coklat hangat dan obat penurun
panas cair kucampurkan di dalamnya, karena kulihat dia susah menelan pil,
bibirnya memerah karena penuh sariawan. Aku memberi sedotan kecil, perlahan dia
mampu menyedot minuman, dan aku lega. Aku saran dia untuk ke dokter, tapi dia
menggeleng, kusuruh dia menelpon managernya, dia mengangguk berarti sudah dia
lakukan, tapi sang manager menolak datang. Aku membuatkan air kacang hijau di
campur air nasi kucampur susu coklat bubuk, perlahan dia mampu menyedotnya,
sementara hanya itu yang mampu kuperbuat.
Aku menelpon
managernya, tapi kata managernya, dia memang diberikan libur sebulan, dan
jadwalnya yang sebulan itu telah dipadatkan selama dua minggu, yang selama ini
dia menghilang dan tidak pulang kerumahku.
Baru kali ini ada kesempatan jalan-jalan ke
mall, sambil mencuci mata melihat pakaian-pakaian cantik di etalase, aku
melihat foto dia di galeri jas bermerek internasional, dan jam tangan mahal,
dia sebagai foto modelnya digaleri bermerek itu, sebenarnya aku jalan-jalan di
mall dengan tujuan mencari apotik besar, aku ingin membeli pempers dewasa,
cateter, supaya dia bisa kencing dan buang air besar tidak menyusahkanku,
karena kulihat dia kesulitan bergerak. Aku menelpon juga dokter pribadi
keluargaku untuk memeriksanya, dokter itu mengajariku memasang cateter. Kata
dokter, dia hanya mengalami kelelahan dan daya tahan tubuhnya drop, gejala
tipes biasa dari pemeriksaan darahnya, tidak parah, tapi bisa parah kalau
dibiarkan, okelah aku bersedia merawatnya, karena aku takut sang idola
meninggal didalam rumahku.
Setiap pagi, kuseka badannya dengan air
hangat yang kucampur detol, mengganti pempernya, mengganti cateternya, kusuruh
sholat subuh, lalu kuberi makanan cair dari air nasi, air kacang hijau, dan
susu coklat bubuk. Seminggu kurawat akhirnya dia bisa tersenyum dan mampu makan
nasi, karena sariawannya telah sembuh, tapi panas badannya masih ada. Seminggu
ini dia sudah sedikit baikan, sudah tidak pakai cateter dan pampers, dia juga
sudah mampu berjalan.
Managernya datang kerumah setelah dia sudah
sembuh, membawakan makanan kecil dan buah-buahan yang banyak di lemari es ku,
ternyata dia mempunyai manager yang hanya mau melihat enaknya saja.
Aku mulai belajar memasak nasi dan soup
daging sayuran, biasanya hanya kubuat salat sayuran dan buah-buahan, kusiram
dengan yougert. Baru kali ini kami berdua makan satu meja, karena dia masih
libur selama sebulan, berarti selama sebulan penuh aku melihat terus sosoknya
yang biasanya aku hanya melihat sekelebat hadirnya yang seperti angin.
Rasanya masakanku tidak enak, kulihat
ekspresi wajah sang idola itu jadi merah biru hijau, untunglah dia tidak protes
dan terus memakannya, habis yang ada dipiringnya, atau karena sudah dua minggu
ini dia hanya makan bubur cair dan nasi lunak.
Pulang kerja malam itu, aku diberi dia
kejutan, dia memasak nasi goreng special, ada udang, cumi-cumi, ikan tuna,
daging asap, bakso ikan, dan sosis ayam. Nasi goreng itu dibungkus telur dadar,
dia juga membuat jus buah segar bukan kalengan, yang disusun berwarna-warni,
lapisan paling bawah jus anggur berwarna ungu, diatas jus anggur ada jus melon
berwarna hijau, ditas jus melon ada jus stoberry bercampur jambu merah berwarna
merah, paling atas jus sirsak berwarna putih, seperti jus pelangi, berbagai
warna dan rasa. Aku rasa dia memamerkan keahliannya memasak. Dapurku bertambah
banyak alat memasak, juicer, mixer, pembuat kopi, dan panci-panci pembuat cake.
Ternyata didalam lemari es ku yang berwarna
merah telah berisi kue tar buatannya sendiri, poding pelangi, dan brownis
coklat. Dia berkata, janganlah suka makanan jadi dan kalengan. Sebenarnya dia
menyuruhku untuk menyempatkan diri memasak di dapur, tentulah nanti kalau aku
sudah menikah, sedang sekarang kerjaanku banyak.
Pulang malam ini aku harus mendesain pakaian
pengantin, dekor ruangan, dekor rangkaian bunga, dan setting undangan pernikahan,
juga meng edit foto prawedding. Urusan catering kuserahkan teman-temanku, aku
hanya menyediakan peralatannya, dan tim pelaksana tinggal melaksanakan hasil
dekorasiku. Aku bekerja di lantai dua rumahku, mencetak contoh undangan pernikahan,
mencetak foto prawedding, meng edit video prawedding, mencari bahan-bahan yang
cocok untuk baju pernikahannya, besok semuanya tinggal di berikan kepada tim
pelaksana.
Usai semuanya, aku langsung masuk kamar
tidur, mandi di kamar mandi pribadiku dengan air hangat dan aroma terapi, aku
tidak tahu lagi apa yang dia perbuat di ruang tamu.
Pagi setelah sholat subuh, aku melihat di
meja makan dia telah memasak pancake keju disiram madu lemon, setelah sarapan
pagi dia mencuci piring sedangkan aku membersihkan seluruh rumah, mandi, dan
pergi kerja, itulah pagi-pagi yang kulalui dengannya tanpa banyak kata dan
kerjasama berjalan baik. Sampai liburan dia berakhir, dia tetap memasak setiap
pagi, mencuci, mengeringkan, dan melipat pakaian adalah pekerjaannya sehari-hari
tanpa suatu pembagian kerja tertulis semua berjalan lancar, tiap bulan dia
belanja bulanan, yang kutahu lemari es ku selalu penuh, karena dia mengerti atm
dia tidak kusentuh sama sekali aku letakkan diatas meja makan, dia pun tidak
mengambil atm itu, atm itu selalu ada di meja makan.
Aku pernah bertanya, apakah uang di atm itu
dari wanita-wanita simpanannya, dia menggeleng, lalu menjelaskan, itu atm yang
di gunakannya memenuhi kebutuhannya sehari-hari, terpisah dari atm yang didapat
dari wanita-wanita kesepian itu, uang itu dia gunakan untuk yayasan yatim piatu
dan rumah jompo, yayasan yang diam-diam dia bentuk. Aku mencibirnya, mengapa
uang haram kamu gunakan untuk makan dan keperluan anak-anak yatim piatu dan
rumah jompo, dia hanya diam, sedangkan atm ketiganya di buatnya untuk bisnis
propertinya dan bisnis showroom mobilnya.
Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya,
seperti keberadaan boneka beruangku yang lucu diatas tempat tidurku.
Enam bulan telah berlalu, enam bulan dia
dalam pelarian, dan aku berfikir, aku pandai menyembunyikannya, tapi tengah
malam itu, dini hari, ada yang mengetuk pintu rumahku, beberapa wartawan
menyerbu masuk dengan diiringi polisi, kami berdua seperti penjahat besar
digiring ke kantor polisi. Ada beberapa wanita karier itu sangat dendam pada
sang idolanya, yang tiba-tiba menghilang, dan membuatnya kesepian diantara
kelelahan kesibukkan pekerjaan yang menuntutnya sempurna, sang idolanya sebagai
pelariannya. Dia dikenakan tuduhan berlapis, pelecehan seksual, menyebarkan situs-situs
porno, dan menggunakan minuman keras bersama remaja putri dibawah umur. Orang
tua ku membayar pers untuk mencuci bersih namaku, dan menebusku dengan mahal
agar keluar dari penjara, sejak saat itu aku tidak tahu kabar darinya, itu
perjumpaan terakhir dengannya.
Orang tuaku menjodohkanku dengan pengusaha
kaya raya yang bisnisnya di Singapura, sebelum pernikahan terjadi, calon
suamiku memeriksakanku ke dokter apakah aku masih perawan, itu sangat membuatku
marah dan meledak, tentulah aku masih perawan, tentulah aku tidak mungkin
melakukan seks diluar pernikahan, dan pernikahanku terjadi tercatat di
Singapura tanpa tercatat di Indonesia.
Di Singapura aku terasa jauh dengan suamiku
sendiri walau dekat, di Indonesia yang jauh aku tetap merasakan jauh dengan
suamiku, hatiku ini menjadi tertutup, aku menjadi tidak mengenali diriku
sendiri. Aku hilang komunikasi dengan teman-teman kerjaku, aku hilang
komunikasi dengan teman-teman bisnisku. Duniaku terhenti.
Hari-hariku terasa sepi dan hilang, kadang
di internet aku mengintip aksi panggung sang idola, dia kelihatan lebih tampan
aslinya daripada yang ada di foto maupun di layar kaca. Perbuatan gilaku yang
menyembunyikannya, perbuatanku tanpa kusadari tinggal serumah dengannya, aku
tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, bagai mimpi, yang terkadang aku tidak
percaya. Baru kurasakan, sang idola itu membuatku jatuh cinta.
Aku memutuskan kembali ke Indonesia dan
mengganti kewarganegaraan anakku menjadi warga negara Indonesia dan mencatatkan
kelahirannya, karena pernikahanku tidak tercatat di KUA Indonesia, urusan
administrasi yang rumit. Tapi, mencatatkan kelahiran harus memiliki surat
nikah, melihatku sedih, akhirnya orang tua berbaik hati, menambahkan anakku
kedalam kartu keluarga mereka dan menganggap anakku anak mereka berdua, jadi
status anakku dalam kartu keluarga adalah sebagai adik terakhirku, kemudian
mencatatkan kelahiran anakku ke catatan sipil sebagai anak orang tuaku.
Karena suamiku tak kunjung mencatatkan
pernikahan kami di KUA Indonesia, maka aku memutuskan bercerai dengannya, tapi
perceraianku tidak bisa dilakukan karena mereka menganggapku tidak pernah
menikah, akhirnya kutempuh jalan tidak mencatakan pernikahan dan tidak menuntut
cerai, hingga jelas statusku, masih lajang. Aku tidak bisa menahan hatiku yang
merasa selalu dipermainkan, dan suamiku mengganggap segala tentangku sangat
sepele. Berhari-hari aku mengurung diri di kamarku, di rumah orang tuaku, tak
sengaja aku membuka laci meja riasku, terdapat kunci rumah pribadiku, dua kunci
mobilku, dan dua atm, satu atm bisnisku dan satunya atm sang idola. Ketika aku
dibebaskan dari penjara, sang idola itu menyisipkan atm itu dikantong celana
jeansku, dan terbawa pergi ke Singapura, ternyata orang tuaku menyimpankan
barang-barang lamaku dilaci ini.
Aku merasa bebas tak terikat, aku ingin
mengunjungi cafe tempat aku bekerja dahulu, mereka masih disana, teman kerjaku
dan teman bisnisku. Mereka memberiku kabar kalau bisnis kami masih berjalan dan
mereka rutin mentransfer uang bagi hasil, karena mereka masih meminjam
peralatan, dan desain dekorasi ruang, juga desain kartu undangan, dariku.
Mereka juga mengatakan bahwa rumah dan galeriku masih terawat dan serasa ada
yang tiap hari membersihkannya, bahkan ada tulisan di galeri,”BARANG YANG
DIPINJAM HARUS DIKEMBALIKAN DAN DIBAYAR SEWANYA”. Dan mereka pun menjawab
tulisan itu,”OKE,BOSS”. Ternyata, dibalas kembali oleh seseorang,”TERIMAKASIH
KERJASAMANYA”. Teman-temanku berfikir aku yang berbuat iseng seperti itu.
Teman-temanku bisnis memang semua mempunyai kunci rumah itu, termasuk sang
idola.
Cafe tempatku bekerja dulu pun berubah
kepemilikan, sang idola itu mengambil alih cafe ini dan menjadi manager
sekaligus penyanyi tetap di cafe.Cafe ini tidak lagi menjual minuman beralkohol
dan tidak buka lagi diatas jam sembilan malam, ternyata diberlakukan juga jam
malam, karena pegawainya banyak yang perempuan. Aku duduk menghindar di luar
cafe, agar tak kelihatan olehnya. Sebenarnya, aku kangen banget melihat wajahnya.
Iseng-iseng aku mencek isi kedua atmku,
kedua-duanya masih aktif, kedua-duanya berisi uang yang fantastik, termasuk atm
yang diberikan sang idola, lebih dari 500juta rupiah, fantastik.
Malam ini aku ingin tidur di rumah
pribadiku, yang kecil mungil tapi penuh kenangan. Dini hari, aku mendengar
seseorang masuk rumah, terdengar bunyi mesin cuci pakaian, dan bunyi penyedot
debu, cepat-cepat aku sembunyi dalam lemari pakaianku yang luas dan besar, dia
membersihkan kamarku, untunglah dia tidak membuka lemari pakaian, adzan subuh
terdengar, dia terdengar diam, mungkin sedang sholat subuh, lama, terdengar
lagi suara terbuka pintu ruang tamu dan dia menguncinya dari luar, dia sudah
keluar, aku keluar dari lemari. Kuintip dia dari balik tirai jendela kamarku, seseorang
yang kukenal masuk kedalam mobil mercy, menoleh sebentar ke jendela kamar
tempatku berdiri, kemudian masuk mobilnya, dan berlalu.
Aku buka lemari es berwarna hijau,
mengambil beberapa buah dan kubuat salat kusiram dengan yougart, ku buka lemari
es berwarna merah kubuat ice cream coklat kutaburi biskut coklat, dan selai
coklat. Ku buka lemari es berwarna kuning, kupilih jus jambu merah sebagai
minuman penutup, aku makan karena aku memang belum makan sejak semalam.
Aku menuju lantai kedua rumahku, alat-alat
musiknya semakin lengkap dan bertambah, alat-alat sound systemnya juga
bertambah lengkap untuk panggung pertunjukkan dengan ukuran besar, begitu juga
lampu-lampu sorot pertunjukkan dan panggung. Di sisi tangga ada tertulis besar,
seperti yang teman-temanku ceritakan,”BARANG YANG DIPINJAM HARUS DIKEMBALIKAN
DAN DIBAYAR SEWANYA”, tertulis dengan spidol permanent hitam, dan dibalas oleh
temanku dengan lipstik merah muda,”OKE,BOSS”. Dibalas lagi dengan spidol hitam
permanent,” TERIMAKASIH KERJASAMANYA”. Perbuatan dua orang yang iseng.
Aku ingin menemui dia, sang idola, yang
juga sang penyusup dirumahku. Aku ingin menginap kembali malam nanti.
Aku mengambil kunci mobilnya dirumah orang
tuaku, aku jalan-jalan membeli bahan-bahan spa, dan memperbarui cameraku,
menambah lensa cameranya yang terbaru, membeli beberapa cd dan micro sd, laptop
terbaru dengan layar lebar dan layar sentuh. Aku juga mampir ke toko buku,
membeli buku desain pakaian pengantin modern dan pengantin muslimah, dan
membeli buku arsitektur taman dan arsitektur kolam, aku ingin mendesain
pernikahan dengan konsep pesta kebun, di luar gedung. Aku merasa cukup
jalan-jalannya, tapi dasarnya aku seorang perempuan, tidak asyik rasanya kalau
tidak membeli baju, kubeli baju untuk kedua orang tua, baju tidur kembar aku
dan anakku, dan aku melirik sepatu bot kulit dan tas ransel kulit, aku perlu
sedikit berubah agar tampil energik dan tidak tampak tua dan lambat. Aku rasa
tidak ada yang kurang, aku menuju rumah untuk memanjakan diri, spa dengan aroma
terapi dan air hangat.
Aku kemana-mana menggunakan motor matik
berwarna biru muda dan helm juga berwarna merah muda, kaca mata channel, jaket
kulit cream model jas sepasang dengan celana panjang kulit warna coklat, sepatu
bot kulit, dan tas ransel kulit, penampilan terbaruku.
Berendam air hangat dengan wewangian bunga
mawar, gardena, dan melati, sabun buah yang kularutkan di air hangat, aku
masker rambutku dengan alpukat dan kubungkus plastik, perlahan-lahan aku masker
tubuhku dengan pati bengkoang sebelum masuk ke air hangat. Di meja kaca yang
berada di kamar mandi aku bakar wewangian dari kulit buah-buahan kering agar
ruangan juga berbau harum. Serasa mandi uap dan berendam dikolam susu hangat.
Ditepi kolam mandiku aku seduh minuman teh melati hangat, menyegarkan
tenggorokanku. Aku mempersiapkan diri dan perasaanku untuk menatap wajahnya
kembali.
Aku memasak semenjak siang, masak nasi
goreng special yang pernah dia buatkan untukku, ada udang, cumi-cumi, bakso
ikan, dan sosis ayam, terbungkus telur dadar, aku buat jus yang juga pernah dia
buatkan untukku, dari bawah ke atas, jus anggur, jus melon, jus stoberry dan
jus jambu merah, paling atas jus sirsak, kusimpan dulu dalam lemari es, sebagai
makanan penutup kubuat juga puding pelangi dari susu segar dan jus buah dan ku
bekukan dalam lemari es. Aku buat cake coklat untuk kumakan sebagian sekarang,
sambil menunggu waktu berganti, serasa lama dan perlahan merayap.
Aku mengganti pakaianku dengan baju tidur
panjang berbahan sutra berwarna merah muda, dan kututupi baju tidur yang tipis
itu dengan kimono satin berwarna putih bermotif bunga sakura merah muda. Hingga
ku tertidur di sofa.
Dia hadir sangat aku terlep, dia
menyelesaikan mencuci pakaiannya, mengeringkannya, membersihkan dengan vacum
cleanner, mandi sambil melipat pakaian, memakan masakanku yang ada di meja dan
menghabiskannya. Duduk di sebelahku , sampai aku sadar sendiri dan terbangun
dari tidur, itu senyummu yang termanis yang pertama kali kulihat ketika aku
bangun tidur.
“Aku mengembalikan atm mu dan kunci mobilmu.”
“Aku menunggumu kembali, dan ingin
membawamu berlari dan menikah denganmu, berdua selamanya. Jawablah besok, kalau
kamu tidak hadir esok berarti kamu menolakku.”
Tak ada satu pun yang dia ambil dari ku,
baik kunci mobilnya atau pun atm nya.
Aku tidak keluar dari rumah, aku
menunggunya, aku ingin berlari dengannya, aku ingin mengejar bahagia.
Dia membawaku berlari di pagi buta,
berhenti sejenak di masjid tepi jalan tol untuk sholat subuh dan kami
melanjutkan perjalan, di kota kecil, kabupaten Jawa Barat, kami di sambut tepat pukul sembilan pagi, acara akad nikah terjadi dengan lancar, manager sang idola
telah mempersiapkan pesta rakyat untuk acara akad ini, aku di make up dipinggit
di dalam kamar sampai iajab kabul usai di ucapkan, dan penghulu mengatakan, “SAH”.
Setelah akad nikad telah terjadi aku baru
di iringi duduk di pelaminan untuk menerima mas kawin, berupa seperangkat emas
100 gram bermatakan berlian 2 karat, cukup indah dijari tanganku, di
pergelangan tanganku, di telingaku, dan di leherku.
Kami menghadirkan penghulu setempat, 2
saksi dari pihak pria, dan wali hakim, ternyata dia telah mempersiapkan
matang-matang berdua dengan managernya. Dan ini yang tidak pernah ku alami
menanda tangani buku nikah yang sah. Aku menangis haru. Ini cintaku dan
cintanya.
Yang tersulit untuk saat ini,
memberitahukan pernikahan ini kepada kedua orang tuaku, dan sekaligus meminta
ijinnya.
Sesuatu yang indah seakan cepat sekali
berjalan, perlahan mobil mercy nya menuju sebuah vila, dan mulai jarang
terdapat rumah penduduk, di atas sebuah bukit kecil. Rumah asri dengan pagar
rendah, dan mobilnya masuk di samping rumah tersebut.
Di belakang rumah terdebut, dihalaman
belakangnya, ada jalan setapak di atas sungai kecil dan di ujungnya ada hutan
kecil, hutan bambu kuning. Dibalik hutan bambu itu ada rumah panggung kayu yang
hangat dengan lampu temaram.
“ Aku tidak mampu menunggumu sampai malam.”Itu
bisiknya lembut.
Dia menggendongku masuk kamar. Dia yang
membersihkan wajahku dari make up, membuka pelan-pelan seluruh pakaianku, dan
tidak ada rahasia lagi diantara kami berdua.
Angin meniup, daun-daun bambu berbunyi
lirih mengiringi persatuan kami yang kulalui penuh senyum tertawa tanpa suara,
kami menjadi raja dan ratu diatas pembaringan, terik mentari saat itu menambah
kehangatan pelukannya. Gemercik air sungai membuat suasana siang yang terik
terasa basah, aku menangis didalam dekapannya, jangan berakhir....jangan
berakhir.....jerit hati yang paling dalam.
Petik gitarnya mengiringi senja, tanpa
dendang suara nyanyian hanya kicau burung-burung kecil diujung pohon bambu.
Temaram kekuningan cahaya bulan menyatu dengan lampu taman.
Didapur yang terpisah dari rumah utama yang
berada paling depan dengan model rumah eropa modern, rumah kedua berupa rumah
panggung kayu klasik berfungsi sebagai kamar tidur, di belakang adalah rumah
kaca setengah terbuka, merupakan meja makan setengah terbuka serasa ditengah
kebun dan dapur. Aku melihat dia juga mempunyai empat lemari es besar seperti
punyaku, dengan empat warna pula, merah, biru, hijau, dan kuning. Aku bingung
mau masak apa, aku buat seperti kesukaanku salat buah dan salat sayuran. Tapi,
ternyata dia yang ingin masak untukku, daging yang sudah di rendam nanas di
bakar di perapian kemudian di siram saus lada hitam dan saus tiram pedas.
“Kamu tidak ingin mengulang yang seperti
tadi ?” Pertanyaanku yang nakal.
“Nanti akan aku ulang setelah sholat isya’.”
Tentu aku tidak menolak bercinta dengannya,
dia sangat mengerti apa yang diinginkan perempuan dalam bercinta.
“Mana baju tidurmu yang kamu kenakan waktu
menyambutku dini hari yang lalu ?”
“Tentu aku membawa yang lebih seksi
berwarna cream, sama dengan warna kulit.”
“Kamu ingin bercinta dibawa sinar bulan ?”
“Apakah indah ?”
“ Tidak, akan lebih lama karena di alam
bebas, terasa terusik angin, bunyi burung hantu, dan desir dedaunan.”
“Aku ingin mencobanya, ini pertama untukku.
Mengapa ada bunyi burung hantu ?”
“Ini juga yang pertama untukku. Dan....karena
aku sengaja melepas sepasang burung hantu.”
Aku menggunakan pakaian tidur mini, diatas
lutut, dengan lengan terbuka. Dia meraihku di atas rerumputan, semua menjadi
lepas kendali, percikan air mancur di pinggir sungai kecil membasahi
punggungnya, kicau burung hantu menutupi desahan suaraku....akh...akh.
Dua bulan berlalu dari pernikahanku dengan
sang idola, aku menyampaikan apa yang tersembunyi dalam hati, bawa aku ingin
pulang ke orang tuaku dan mintalah restu mereka. Dia tidak pernah menundanya,
dia segera membawaku pulang ke orang tuaku dan ingin meminta restunya.
Dari pagi kami pergi menuju rumah orang
tuaku, tapi tiba-tiba aku yang sedang hamil menginginkan jeruk bali dan
kedondong, padahal lagi tidak musim buah tersebut, hampir mendekati sore kami
mendapatkannya, di kota bogor pengusaha manisan kulit jeruk bali memberi kami
bonus karena kami juga membeli manisannya sebagai oleh-oleh untuk orang tuaku.
Kami mempersiapkan diri apapun yang
terjadi, kami akan dengan sabar menerima, apapun resikonya. Kejadian yang
paling menakutkan, ternyata mantanku menyambutnya di depan pagar rumahku,
hampir masuk kedalam mobilnya, mungkin dia hendak keluar rumah. Ada apa sang
mantan itu datang ke rumah orang tuaku, bukankah sudah kukatakan melalui sms
dan telpon bahwa kami sudah berakhir, apa dia ingin memeras orang tuaku yang
bekerjasama dengan perusahaannya yang hampir bangkrut di Singapura karena imbas
harga saham Asia tenggara yang drastis turun. Sang mantan menampar wajah
suamiku, padahal suamiku hanya diam saja, darahku menjadi naik dan meninju
wajah sang mantan itu mendorongnya masuk ke mobil dan kukatakan dengan kasar
jangan dia kembali ke Indonesia, apalagi masuk ke rumah orang tuaku.
Orang tuaku menahan diri di ruang tamu
untuk tidak ikut campur permasalahan keluarga anaknya, kupeluk ibuku yang
berada di ruang tamu dan aku sungkem dikakinya, begitu juga suamiku, awalnya
ayahku menampar wajah suamiku, akhirnya ayahku hanya mampu merestui dan
mengatakan pada suamiku untuk membuatku bahagia, kata-kata itu diulanginya tiga
kali.
Waktu kami kembali kerja di cafe, mereka,
teman-temanku membuat pesta kecil di cafe, di penuhi bunga mawar putih, bunga
lili putih, dan rangkaian melati yang memenuhi langit-langit cafe, meja-meja di
cafe penuh rangkaian mawar, ruangan cafe harum semerbak.
Ku harap dia berhenti melarikan diri, tepat
12 tahun pernikahan kami, dia pergi melarikan diri, di panggil Sang Pemilik hidup,
dan sejak itu dia, sang idola, melarikan diri tak pernah kembali.