INISIAL ‘D’
dalam seri 1 : "GADIS PEMIMPI"
dalam seri 1 : "GADIS PEMIMPI"
Rumah kaca biru
yang kelihatanya sepi, tapi didalamnya banyak terjadi pergerakkan, dan banyak
terjadi berbagai arus kehidupan.
Dirumah kaca
berlantai 4, lantai 1, merupakan tempat praktek dokter mata dan dokter gigi,
juga ada apotik, ada 8 kamar didalamnya sebagai rawat inap yang akan melakukan
bedah mata ringan seperti katarak, dan bedah mulut.
Ada tangga di ruang tunggu dilantai 1 nya
menuju lantai 2, sebuah butik pakaian resmi dan pesta, sepatu dengan rancangan
pribadi, sepasang dengan tasnya yang berbahan dan berwarna senada. Dibelakang
butik ada ruang produksi, seperti cetakan sepatu, cetakkan tas, dan mesin
jahit, lemari-lemari kayu untuk menggantung bahan mentah berupa : kulit sapi,
kulit kambing, kulit buaya, dan kulit ular, dan lemari-lemari kaca untuk
memajang hasil produksinya.
Di samping butik baju, diantara ruang
produksi, ada tangga menuju ruang berkaca dilantai 3, merupakan kantor
ekpedisi, beberapa meja komputer berderet saling berhadapan 6 pasang komputer
dan meja kerjanya saling berhadapan, ada banyak alat fax dan telepon dimeja,
masing-masing meja ada 3 telepon dan mesin fax. Kantor ekpedisi, juga
menyewakan 3 truk pengangkut barang, 3 truk tabung pembawa minyak, dan 3 truk
pengangkut peti kemas, menyewakan kapal barang, walau tidak besar tapi cukup mengangkut
12 truk, dan 7 bus untuk travel Jawa-Bali.
Di samping kantor ekspedisi, tepat ditengah
ruangan ada tangga menuju ruang berkaca dilantai 4, lantai terakhir, yang
merupakan radio, dan studio rekaman, lengkap dengan alat musik, sound system
rekaman, dan ruang berkaca untuk siaran radio.
Dihalaman belakang rumah mewah bertingkat
4, itu terparkir truk-truk, dan bus ber AC
Dilantai 1, paling luas karena dibelakang
kamar-kamar inap dan ruangan bedah, ada
hall untuk pertemuan keluarga besar, dapur, taman berbukit-bukit dan kolam
ikan, di belakang sekali barulah terdapat 2 kamar berukuran 6 x 6 m, kamar
pertamanya merupakan kamar seorang dokter specialis mata, Duga, namanya.
Kamar kedua, ditempati seorang dokter gigi spesialis bedah mulut, Duka,
namanya. Mereka berdua anak dari istri pertama yang dinikahi oleh ayah mereka.
Dilantai 2, diatas kamar 1 dan kamar 2,
adalah kamar ke 3, ditempati seorang desainer pakaian, Dean, namanya.
Kamar 4, ditempati seorang desainer sepatu dan tas, Dear, namanya.
Mereka berdua anak dari istri kedua yang dinikahi oleh ayah mereka.
Dilantai 3, diatas kamar 3 dan kamar 4,
adalah kamar ke 5, ditempati seorang ahli navigasi dan teknik perkapalan, Dirga,
namanya. Kamar 6, ditempati seorang ahli
akuntasi dan ahli IT, Dion, namanya. Mereka berdua anak dari istri
ketiga yang telah dinikahi ayah mereka.
Dilantai 4, diatas kamar 5 dan kamar 6,
adalah kamar ke 7, ditempati seorang pemusik dan penulis, Dore, namanya.
Kamar 8, ditempati oleh seorang publik relation dan seorang marketing
executive, Domi, namanya. Mereka berdua anak dari istri keempat yang
dinikahi ayah mereka.
Walau banyak ruangan dalam rumah berkaca
tersebut, penuh orang-orang bekerja, baik pasien inap, aktifitas siaran radio,
orang-orang yang bekerja menerima telpon dan fax dikantor expedisi, tapi rumah
tersebut mendadak sepi senyap setelah adzan Isya’ berkumandang, semua para
pekerja pulang, tinggal praktek dokter yang lampunya masih menyala dan
apotiknya, di ruang penyiaran pun hanya terdengar rekaman siarannya saja tidak
ada orangnya.
Semuanya berjalan seperti biasanya,
lurus-lurus saja, hidup mereka tanpa ada masalah besar yang berarti. Hidup
mereka tanpa sebuah gejolak.
Usai menyelesaikan tugas pasien-pasiennya,
Duga tidak langsung tidur, walau pun itu sudah mencapai pukul 12 malam. Duga
berlari-lari kecil mengelilingi halaman rumahnya, halaman depan merupakan
tempat parkir motor dan mobil para pasien dan pekerja yang bekerja dikantor
atas, halaman samping kanan, dan samping kiri merupakan parkir mobil pribadi
pemilik rumah, dihalaman belakang merupakan tempat parkir truk-truk dan bus.
Tamannya dan kolamnya berada tertutup didalam rumah dilantai 1. Walau demikian
rumah kaca ini tidak berpagar tinggi dan tidak dijaga satpam, diujung tepi
kanan halaman depan, disisi pagar adalah rumah kecil untuk para supir pribadi,
bukan pos satpam.
Telpon berdering tengah malam itu juga,
Domi menelpon minta dijemput dirumah pribadinya, dia sakit parah, tergeletak
dirumah tipe 36, dalam kamar sempit tak ada barang apapun hanya kasur yang
berada diujung kamar, dengan bantuan sopir, Duga memasukkan Domi di belakang
tempat duduk mobil.
“Beginilah kalau kamu menikah dengan
seorang janda anak tiga, seluruh isi rumah dan uangmu terperas habis, sakit pun
dibiarkan tak terurus.”
“Aku bertanggung jawab atas pernikahan ini
dan sudah kudapatkan ijin dari ayah.”
“Dimana anak-anak tirimu dan istrimu
sekarang?”
“Pulang ke desa, ibunya sakit.”
“Mengapa rumahmu jadi kosong ?”
Domi terdiam saja rupanya tertidur
dibelakang mobil.
Susah payah Duga menuntun Domi kekamarnya
dilantai 4. Ada seorang anak perempuan mengikutinya di belakang, sampai kembali
kelantai 1.
“Hai mandi didalam sana dan ganti pakaianmu
seadanya didalam lemari.” Duga menyadari keberadaan perempuan itu dan
menyuruhnya mandi didalam kamarnya. “Aku lelah tengah malam ini kita lamjutkan
bicara besok pagi saja.”
Pagi, seberti biasanya mereka berkumpul di
ruang makan....
“Kamu tidur di ruang bedah ?” Duka membuka
pembicaraan.
“Siapa yang keluar dari kamarmu ?” Dirga
menyambung pembicaraan Duka.
“Dimana Domi ?” Dosi menyambung pembicaraan
Dirga.
“Namaku, Rina, kemarin malam ikut bersama
saudara kalian menuju kemari. Tidak adakah diantara kalian yang perempuan ?
Kelihatannya hanya aku sendirian yang perempuan.”
“Apa hubunganmu dengan Domi ?” Dion jadi
ikutan bertanya.
“Aku biasa singgah dirumahnya, untuk makan
bersama anak-anaknya dan istrinya, tapi semenjak beberapa hari ini rumah itu
kelihatan tak berpenghuni, hingga tiba-tiba datang mobil mewah membawa seorang
pria dari dalam rumah dan aku ikutan menyelinap didalam mobil.”
“Apa hubunganmu dengan Duga ?”Dean juga
bertanya iseng.
“Laki-laki tampan beralis tebal itu, aku
disuruhnya mandi dan memakai baju tidurnya, kemudian aku tidur dikamarnya ?”
Rina melirik kearah Duga.
Dan Duga tanpa banyak bicara menuju ruang
kerjanya.
“Dia agak pendiam dan sensitif diantara
kami berdelapan.” Dear ikut berbicara sebagai tanda ingin berkenalan.”Nanti
malam saja setelah waktu istirahat, dia lebih senang berbicara berdua saja,
sedikit introvet.”
Dan mereka pun bubar menuju pekerjaan
masing-masing, kecuali Duka menjenguk adiknya Domi didalam kamarnya, Domi
sedang terbaring sakit.
“Kamu sudah makan ?” Duka bertanya pada
Domi yang terbaring di tempat tidur.
“Sudah, Duga yang menyuapiku setelah sholat
subuh tadi. “
“Segera jemput anak dan istrimu setelah
sembuh. Dan ajak mereka tinggal didalam rumah ini, jangan biarkan mereka
tinggal di rumah yang ukurannya lebih kecil dari kamarmu ini.”
“iya.”
Duka segera turun dan menuju kamar Duga,
dimana Rina berada didalamnya.
“Dimana kamu tinggal ?”
“Aku tinggal dirumah singgah, tapi kadang
istri saudaramu itu memberiku makan dan bermain dengan anak-anaknya.”
“Dimana orang tuamu ?”
“Entahlah mereka tidak pernah dan tidak
akan mencariku.”
“Belilah pakaian yang pantas, aku lihat
pakaian yang kamu kenakan kemarin malam seperti pakaian anak jalanan, dan
disini kamu harus belajar, walau tidak sekolah, kamu setidaknya kursus bahasa
inggris dan bahasa asing lainnya, dan juga kursus komputer. Jaman sekarang
informasi cepat tersampaikan dengan bahasa dan teknologi. Kamu harus dan wajib
belajar.”
“Iya.”
Duka menuju tempat prakteknya setelah
mencek seisi rumah dan adiknya, menengok sebentar ke ruang praktek kakaknya,
Duga, kemudian memasuki ruangannya sendiri.
Saat istirahat siang, Duka berbisik pada
seorang sopir pribadinya, kemudian membawa Rina keluar rumah, untuk menuju
mall, membeli pakai yang pantas untuk kuliah, dan mendaftarkan di tempat kursus
bahasa dan komputer.
Setiap pagi acara rutin selalu terjadi di
ruangan makan keluarga.
“Kamu sudah mulai kursus ?”
Rina mengetahui kalau pertanyaan Duka
ditujukan padanya,”Iya.”
“Kamu tidak merasakan dipaksakan, memang
apa cita-citamu.”Dosi ikut memberikan pendapat, Dosi berwajah kecil oval,
hidung mancung kecil, tapi berpawakan paling tinggi atletis, 187 cm, cocok
dengan profesinya yang selalu berkecimpung dengan para penyanyi, pemusik, dan
pemain film, dia seorang penulis novel dan pencipta lagu. Seperti dalam cerita
tokoh-tokoh fiktif dia pantas menjadi peran utama.
“Tidak, aku ingin sepertimu, terkenal di
Televisi.”
“Kamu sok tahu, darimana kamu tahu Dosi
hanya bergerak dibelakang layar.”Dirga mericek perkataan Rina, Dirga berwatak
paling tegas dengan wajah kurus segiempat, berkaca mata tebal berbingkai
coklat, tinggi sekitar 178 cm, kulitnya pucat, seorang ahli navigasi kapal
sehingga mampu mengendarai kapal dan sekaligus merancang body kapal.
“Wajahnya seperti seorang playboy.”Rina
melirik Dosi.
“Kalau aku seperti apa ?” Dean menjadi
penasaran. Dean berwajah segitiga dengan garis wajah yang laki-laki feminin, seorang perancang gaun pesta wanita
dan pakaian resmi. Wajahnya sederhana, kurus tingginya rata-rata orang
Indonesia 175 cm.
“Kamu sering berkecimpung dengan
wanita-wanita cantik tapi takut dengan wanita-wanita cantik itu.” Rina berubah
melirik Dean.
“Rupa-rupanya kamu sudah
berkeliling-keliling seluruh ruangan di rumah ini.” Duga yang pendian jadi
terpancing berbicara. Duga mempunyai paras yang tenang, beralis sangat tebal
hingga menyatu diatas hidungnya, kulitnya licin seperti patung lilin, termasuk
tinggi, tingginya 180 cm.
“Iya, sepertimu yang pendiam tapi penuh
curiga. Mengelilingi halaman rumah setiap malam, seperti satpam.” Rina melirik
agak nakal dan bermain mata kearah Duga.
“Kalau dia seperti apa ?” Dosi menunjuk
Dion, Dion jadi tersenyum lebar sambil main mata ke Rina. Dion berkaca mata,
berpenampilan tegas dan tenang, tapi cerdas dan lihai, tingginya 185, bibirnya
tegas tipis simetris.
“Istri pertamanya adalah komputer, sedang
wanitanya hanya menjadi nomor kesekian.”
“Kamu pandai menilai seseorang, bagaimana
kalau kamu menjadi tokoh utama dalam novelku selanjutnya.” Dosi melanjutkan
pembicaraannya.
“Kamu lupa menilaiku ?” Dear ikutan berbicara
karena dia duduk paling ujung dan wajahnya kuyup lelah, paling gelap dari
saudara-saudaranya, kulitnya sawo matang dan berkumis tipis, hitam manis itu
tepatnya, tingginya sama dengan saudara seibunya, Dean, 175 cm.
“Kamu sangat pemalu sibuk dengan desain-desain
sepatu dan tasmu, sibuk membuatnya, jarang ingin tampil di depan layar.”
“Dia seorang perancang dan penjahit handal,
dia yang mengajariku menjahit dan merancang pakaian.” Kata Dean sedikit membela
saudaranya yang memang sangat pemalu.
Akhirnya pembicaraan ditutup karena Duga
beranjak dari tempat duduknya, diikuti anggota lainnya.
“Jangan lupa kamu harus kursus setiap
hari.”Duka sekedar mengingatkan Rina. Dan Rina mengangguk.
Domi pergi dari rumah disaat orang-orang
sibuk bekerja, mungkin menjemput anak-anak tirinya dan istrinya.
Seperti biasa rutinitas pagi, dimeja makan,
makan bersama sekeluarga.
“Ada anggota baru.” Duka sering mengawali
pembicaraan sebagai tokoh pembuka rapat.
“Istri dan ketiga anakku.” Domi
memperkenalkan istri dan ketiga anak tirinya,”Niken, anak pertamanya laki-laki
bernama, Lukas 10 tahun, anak keduanya perempuan, Bunga 8 tahun, dan ketiga
anaknya laki-laki bernama Robby 5 tahun.”
“Aku mengenal Ibu Niken dan sering bermain
dengan anak-anaknya.” Rina ikut berbicara.
“Iya, Rina tinggal di rumah singgah tapi
sering berada dirumah kalau anak-anak pulang sekolah.” Niken membenarkan
pernyataan Rina.
“Kamu masih bermain dengan anak-anak.” Dosi
menggoda Rina sambil senyum tipis.
“Usia Rina tidak terpaut jauh dengan anakku
Lukas, 11 tahun.” Niken menjawab pertanyaan Dosi.
“Dengan postur tubuhmu yang jangkung itu
kamu tidak kelihatan anak-anak lagi.”Dirga menjawab sinis tanpa menoleh samping
depan, dan melirikpun tidak. Tapi semua tahu pembicaraan itu ditujukan untuk
Rina.
“Aku memang ingin jadi model untuk
desain-desain yang dibuat Dean dan Dear, dengan postur tubuhku yang tinggi
ini.” Rina memancing suasana.
“Boleh juga.” Dean menjawab tanda setuju.
“Tapi kamu harus lulus kursus bahasa asing
dan kursus komputer, baru boleh melirik kerja lainnya.” Duka langsung menyela
pembicaraan Rina.
“Oke, aku juga ingin jadi penerjemah dan
penulis bahasa asing apabila Dion menerima fax dari luar negeri, bila ada
kiriman atau menerima kiriman dari luar negeri.”
“Disini kamu bisa banyak keinginan.” Dion menjawab
perkataan Rina.
“Tidak, aku hanya ingin berbalas budi dan
membantu pekerjaan kalian sebisa dan sesuai keahlianku.”
“Itu bagus.” Duka sangat senang Rani
mengerti apa tujuannya menyuruhnya belajar, agar mempunyai arti untuk
sekitarnya.
Dan semua sibuk kembali ke ruang kerjanya,
Rina mendatangi ruang siaran dilantai 4, sebelum pergi kursus.
“Kamu kerja sendiri dengan dua sistenmu,
tidak dibantu Domi.” Rina menegur Dosi.
“Iya, mereka penyiar radio disini. Domi dan
Dirga adalah orang lapangan, tidak ada didalam rumah, mereka ada dirumah hanya
disaat makan pagi. Domi seorang publik relation dan marketing executive, dia
yang memperkenalkan semua bisnis dalam keluarga ini didalam masyarakat luas.
Dirga seorang navigasi kapal, yang memeriksa kapal siap atau tidak untuk
berlayar, cukup atau berlebih muatan kapalnya, dan cuaca yang memungkinkan
untuk melaut.”
“Katanya kamu ingin membuatku menjadi peran
utama dalam novelmu berikutnya.”
“Kamu menagih janji.”
“Aku hanya ingin tahu apakah kamu serius
atau main-main.”
“Seorang penulis tidak pernah memilih obyek
yang hendak dia tulis, sisi mana yang ingin dia pandang sebagai latar
belakangnya, kehidupan ini bisa dirangkumnya dalam sebuah cerita, dalam sebuah
buku cerita.”
Rina hanya tersenyum dan pamit untuk pergi
kursus.
Pagi seperti biasanya, rutinitas, makan
bersama dimeja makan.
Tidak banyak yang dibicarakan, karena sudah
tidak ada hal yang baru dalam keluarga ini, selain Rina, dan istri, ketiga anak
Domi.
Rina mengejar Dirga saat keluar di tempat
parkir keluarga.
“Aku mau ikut denganmu melihat kapal.”
Tidak memakan waktu lama sampai di dermaga
dan berada diatas kapal Dewa, itu nama kapalnya.
“Kalau kamu berada diatas kapal seperti
seorang penakluk.”
“Pembicaraanmu sudah seperti Dosi, seperti
cerita fiksi di novel, dan sinetron di televisi.”
“Bisa kamu mengajakku berlayar.”
“Musim kemarau ini banyak muatan.”
“Kalau musim penghujan saja, sepi muatan.”
“Kalau musim penghujan malah dilarang
melaut, badai tropis ada ditengah lautan.”
“Kamu sengaja mengindariku untuk bepergian
dengan kapal Dewa mu ini.”
“Hahahahahaha.....Duga nanti cemburu
denganku, dia pendiam dan terpendam.”
“Kenapa ? kamu takut dengannya ?”
“Hanya rasa hormatku kepada kakak tertua.
Ayo kuantar kamu kursus, Duka bisa marah denganku mengajakmu berpanas-panas
diatas kapal. Kapten....aku pergi dulu sebentar.” Dirga memanggil kapten
kapalnya dan sekaligus ijin mengantarkan Rina.
Malam itu, Rina sengaja menguntit Duga yang
seperti kebiasaannya berlari-lari kecil mengelilingi halaman sekitar rumah.
“Kamu tidak tidur ?”
“Aku ingin menemanimu berlari-lari malam.”
“Aku tidak membutuhkan teman, kamu tidak
ada pr kursus, dan segera tidur nanti kamu mengantuk. Kalau kamu lagi bosan
didalam rumah, mintalah sopir mengantarkanmu berjalan-jalan dan belanja di
mall.”
Rina lari mendahului Duga, kemudian lari
mundur dihadapan Duga.
“Kamu paling tampan di rumah ini, tapi
pendiam dan misterius.”
Rina pun lari masuk rumah meninggalkan Duga
berlari kecil diluar.
Pagi yang biasanya, seperti absen di pagi
hari, yang tidak sarapan pagi pasti tidak pulang semalaman. Tapi selalu
lengkap.
Dan pagi ini Rina menghampiri Dion yang
kebetulan dilihatnya ditempat parkir truk-truk.
“Sedang mengecek muatan dan mengabsen para
sopir ?”
“Iya dan tidak.”
“Iya nya apa ? tidaknya kenapa ?”
“Iya nya, pernyataanmu betul, tidak nya,
aku juga harus mrengecek truk layak jalan atau tidak, mengecek surat-surat
jalannya, mengecek apakah sama barang dilapangan dengan yang tertulis
dikertas.”
“Boleh aku tanya ? Apa truk-truk dan
bus-bus itu punya nama yang ber inisial ‘D’ ?”
“Iya, yang truk peti kemas bernama : Dik,
Dig, Dit. Yang truk tabung bernama : Dok, Dog, Dot. Yang truk pengangkut barang
: Duk, Dug, Dut. Yang bus bernama : Dan, Dag, Dak, Dat, Dab, Das, Dam. Dan inisial
itu tersembunyi dibody kendaraan itu, sehingga kalau dicuri mudah pencariannya,
dengan menggunakan GPRS dapat dilihat kendaraannya berada dimana saja, kemudian
pengecekan secara langsung dengan
menggunakan laser yang kubuat sendiri.”
“Kamu orang IT, canggih, negara mana saja
yang sering kirim dan terima barang.”
“Korea, Cina, dan Jepang.”
“Berarti aku bisa membantumu suatu saat,
karena aku kursus semua bahasa itu, kamu juga mengerti bahasa asing itu ?”
“Tentu.”
“Lalu aku mengerjakan apa nantinya, supaya
aku bisa menolongmu.”
“Selesaikan dulu pelajaranmu, aku
beritahukan nanti setelah kamu menyelesaikan semua kursus itu. Sopir sudah
menunggumu, pergilah kursus.”
“OK. Besok pagi aku ingin mampir ke ruang
kerjamu dilantai 3!!” Rina berlalu meninggalkan Dion untuk pergi kursus. Dion
hanya menggangguk sambil melambaikan tangannya mengantarkan kepergian Rina
keluar pagar.
Seperti pagi yang kemarin, kami berkumpul
sekeluarga makan pagi, walau saling menyapa secara sepintas lalu asalkan selalu
kelihatan berkumpul sebelum melakukan kegiatan masing-masing. Seperti janji
Rina, Rina mendatangi kantor Dion dilantai 3.
“Program apa yang dipakai ini ?”
“Mungkin kamu baru diajarkan Excel, ini
program Data Base Linux.”
“Kamu juga mengerti ini ?”
“Iya, inilah akuntansi modern, keluar masuk
barang tersimpan rapi di data base, segala macam data masuk secara online
dimana saja seluruh dunia.” Dion membuka segala data keuangan, transaksi keuangan
via internet, pengolahan data via internet, terakses online.”Jadi, belajarlah
sampai tuntas, supaya terbuka jendela informasi dunia didepan mata.”
Rina mengangguk dan bergegas pergi kursus.
Rina terpekur sendiri didalam kamar Duga,
membuka lemari-lemari pakaiannya, hampir seluruhnya berwarna putih dan abu-abu,
dia seorang yang kaku. Dia juga membuka laci-lacinya, jam tangannya hanya 3
biji dan semuanya berkulit hitam. Tidak ada parfum, tidak ada minyak rambut,
mungkin rambut Duga yang tegak berdiri kesegala arah, minyak rambut pun tidak
mampu membuatnya berbelah ataupun tertidur, mungkin ditiup anginpun rambut Duga
tidak mempan berubah. Rambut yang kaku seperti yang punya. Tidak sedikitpun
pura-pura membuka kamarnya, padahal ini adalah kamar Duga, misterius, dimana
sebenarnya Duga tidur, padahal tiap orang memasuki kamarnya masing-masing.
Pagi hari sebelum sarapan pagi, Rina
melihat Duga keluar dari ruangan inap pasien.
Disenggolnya Duga, Rina pura-pura
menghampiri dikursi makan Duga, “Kamu tidak mandi dikamarmu ?”
Dengan berbisik disamping Rina, Duga
menjawab,”Dirumah ini banyak kamar mandi, duduklah dikursimu sendiri.”
Tidak ada yang menyolok di tempat makan
ini, kadang Niken menyuapi anak-anaknya sebelum pergi sekolah ditepi kolam ikan
dan taman.
Kali ini sebelum pergi kursus, Rina
mendatangi kantor Dean dan Dear, dilantai 2.
“Satu yang langsung bisa aku lakukan dan
cepat menghasilkan sesuatu, karena yang lainnya harus menungguku menyelesaikan
kursus-kursusku.”
“Apa itu.” Dean langsung menjawab pernyataan
Rina, karena Dear sedang bekerja dimesin jahit, Dean baru mendesain dikertas
gambar.
“Menjadi model dari barang produksi
kalian.”
“Model apa yang kamu inginkan sebagai
konsultanku.”
“Sepatu bot setinggi betis dari kulit buaya
berwarna merah, dengan tas rumbai lebar bahan dan warna sama dengan sepatunya,
merah merona.”
“OK. Model bajunya.”
“Sutra pink dilapis sifon ringan pink
panjang dibawah lutut, dengan lengan setali sebatas siku tangan.” Kapan bisa
diambil fotonya ?”
“Sesuai keinginan, minggu depan.” Dean
segera mewujudkan keinginan Rina dalam bentuk rancangan diatas kertas
gambarnya. Rina mengangguk-angguk setuju. Dear yang sibuk menjahit hanya
tersenyum.
“Kamu gadis yang cerdas.” Hanya itu yang
dikatakan Dear ketika Rina mau keluar ruangan, sepintas Rina menjawab.
“Terima kasih. Tapi apa kamu tidak pernah
keluar dari ruangan ?”
“Kami menerima pesanan yang dibuat Domi,
dan mengadakan fashion show nasional dan internasional, sesuai yang dijadwalkan
Domi, Domi mengatur model-modelnya untuk pergi ke fashion show tersebut, dan
Dean sebagai perancang tunggal.”
“Dear ?”
“Aku mengawasi pesokan bahan dan produksi.”
“Bye, sampai ketemu pagi lagi.” Rina
berlalu.
Pagi itu, Domi tidak Ada, dia mungkin
mempersiapkan fashion show, diluar kota.
Minggu ini, janji Dean membuatkan baju
pink, sepatu boot merah, tas merah, sudah jadi.
“Aku membuatkanmu juga dari bahan kulit
ular bersisik halus dengan warna aslinya coklat bercampur cream, sepatu berhak
tinggi tidak meruncing depannya, berbentuk oval, karena jari-jari kakimu
pendek, tidak panjang dan ukuran kakimu 37, tas tangan yang elegan pas untuk
digenggam berbahan kulit ular kecoklatan, bajumu ukuran M. Baju panjang
berwarna kuning cerah, berkrah jas dari kulit ular kecoklatan, bahan kain katun
semi sutra, halus ringan, tapi sedikit tebal.”
“OK. Aku siap berpose didepan kamera.”
Ternyata Dean juga pandai merias wajah
perempuan, dengan cepat foto digital dapat dilihat dikomputer, tidak ada yang
perlu diedit, karena pencahayaannya tersistem dan keahlian Dean menggambil sisi
pemotretan dan sisi pencahayaannya sangat jeli dan terlatih.
Foto Rina tercetak di internet, dan di
etalase butik. Rina sangat senang melihatnya.
“Aku harus membayarmu.” Dean memberi
komentar dari hasil yang telah dilihatnya,”Karena aku seorang yang profesional,
jadi aku juga harus melakukanmu secara profesional juga.”
“Tidak, ini pengalaman berharga untukku,
aku seharusnya berterima kasih padamu, bukankah Domi merencanakan untukmu
fashion show minggu depan, diluar kota.”
“Iya, untuk beberapa minggu aku dan Domi
mungkin tidak ikut acara rutin, makan pagi bersama.”
“Apa aku boleh ikut ?”
“Kamu harus fokus kursus dahulu, Duga akan
marah padaku kalau membawamu jauh dari rumah.”
“Kamu takut dengannya.”
“Tidak juga, dia pencemburu dan aku
menghormatinya.”
Rina hanya mencibirkan bibir, kemudian
pergi kursus.
Pagi itu Dean dan Domi tidak hadir dalam
acara sarapan pagi, walau keadaan tidak pernah ramai, tetap saja ada yang
hilang dan terasa sepi.
Pagi ini, Rina mengunjungi kembali Dosi.
“Kapan buku terbarumu terbit ?”
“Setelah Domi membuat acara fashion show
untuk Dean, Domi membuat acara bedah buku untukku, di toko-toko buku terbesar
dikota ini dan seluruh ibu kota propinsi se-Indonesia, kecuali Irian Jaya dan
Kepulauan Maluku, karena kami tidak mempunyai percetakan disana, sambil
diadakan dialog terbuka via internet dan via radio.”
“Kalau aku seumpamanya anak dari istri
pertama ayahmu, nama apa yang pantas untukku.....Du....”
“Du.....kun. Du....ku”
“Hahahaha....kamu pandai bercanda. Aku bisa
menerka nama ayah kalian...pasti namanya berhuruf depan ‘D’.”
“Jangan jadi saudara Duga, jadikan saja
Duga kekasihmu. Danu...nama ayah kami”
“Duga tidak menyukai perempuan kekanakan
sepertiku. Kamu ingin mempunyai istrinlebih dari satu seperti Danu, Ayahmu ?”
“Kamu salah, aku seorang penulis novel yang
harus memberi karakter disetiap tokoh-tokoh dalam novelku, dibalik keras sikap
dan wajahnya, suara Duga yang pelan dan pendiam, Duga seorang yang sangat
sensitif, begitulah cara dia menutupi kelemahan hatinya, kaku dan sinis. Dibanding
dengan Dirga yang supel dengan siapa saja, tenang pembawaannya, Dirga
sebenarnya hidupnya dan kehidupannya dilingkungan yang keras, karena itu dia
berwatak keras. Domi, seorang yang bertiup seperti angin, kemana saja, tapi
disitu juga tempat dia kembali, setia, tapi susah dikejar. Kami semua ingin
istri hanya satu, perempuan ideal hanya satu, paling berarti satu, setia
berarti satu. Apa dan Siapa yang ingin kamu tanyakan ?”
Rina menggeleng sambil berkata,“Duka,
saudara seibu Duga.”
“Pria yang sangat baik hati, penyayang,
penolong, tapi sering menyembunyikan kesedihan dan airmatanya jauh-jauh.”
“Kamu ?”
“Aku bersaudara seibu dengan Domi, hidupku
kadang dalam sandiwara, kadang sandiwara ada diluar hidupku, tidak jauh beda
dengan Domi, tak seindah kata yang kubuat lagu, tak seindah syair yang kubuat
buku, tak semenarik novel bila dfilmkan, seperti pucuk-pucuk pohon yang tak
terukur, terus tumbuh keatas, itulah seni.”
“Aku bisa jadi penyiar di radiomu,
sepertinya kalau sudah lewat jam sembilan malam tidak ada lagi penyiarnya hanya
rekamannya saja.”
“Boleh juga, penyiar harus selalu gembira
cara membawakan acaranya, walaupun hatimu lagi marah atau bersedih, karena
tujuanmu menghibur orang lain, bukan untuk curhat via udara, mengertikah ?
mampukah ?”
“OK. Bukankah pembawaanku adalah ceria.
Mulai kapan ? Malam ini ?”
“Silakan, aku harus menggajimu.”
“Tidak, ini tanda balas budiku, selama
menikmati fasilitas disini secara gratis, aku sangat berterima kasih.”
“Aku harus profesional.”Sebelum Rina
beranjak dari tempat duduknya Dosi membisikkan kata,”Dekati Duga, sepertinya
diam-diam dia mulai tertarik denganmu.”
Rina pergi kursus dan nanti malam dia mulai
siaran di radio setiap malam dari jam sembilan malam sampai jam dua belas
tengah malam.
Tepat tengah malam Rina siaran radio,
jendela kacanya diketuk Duga sambil berisyaratkan untuk keluar, Rina mengisi
radio dengan lagu, dan keluar menemui Duga.
“Siapa yang menyuruhmu kerja sampai larut
malam, kamu tidak punya pr ?”
“Ini kemauanku sendiri.”
“Tahukah kamu, usiamu masih dibawah umur,
masih anak-anak, fotomu terpajang di
etalase butik dan internet.”
“Ini semua keinginanku.”
“Aku mendengarkan radio ini sampai malam,
aku sangat terkejut mendengar suaramu. Aku ingin kamu fokus belajar tanpa
memikirkan bekerja, mumpung masih muda nikmati dengan belajar, ada waktunya,
ada saatnya, jika ilmumu maksimal amalkan sebaik-baiknya, jangan jadi seseorang
yang setengah setengah. Aku ingin lihat nanti nilai kursusmu, kalau memang
istimewa dan memuaskan teruskan aktifitas bekerjamu, tapi kalau nilaimu cukup,
lebih baik berhenti bekerja. OK, mengerti. Istirahatlah, sekarang sudah jam dua
belas malam.”
Rina bersama Duga turun kelantai 1, Rina
masuk ke kamar Duga, sedang Duga entah tidur dikamar yang mana. Tapi sebelum
Duga berlalu didepan kamarnya sendiri, Rina berkata,”Jangan marah pada mereka,
aku yang bersalah.” Duga hanya mengangguk.
Pagi berikut seperti pagi sebelumnya, kini
Domi dan Dosi yang tidak hadir dimeja makan keluarga, dia sedang mengadakan
bedah buku keseluruh penjuru Indonesia dan diluar negara Indonesia.
Rina mencoba memasuki ruang praktek Duga
dan Duka, melewati lorong-lorong ruangan bedah, ternyata disana ada beberapa
dokter Anesthesia yang membantu proses pembiusan bedah dan perawat bedah. Rina
melihat Duga keluar juga dari kamar bedah paling akhir, menatap mata Duga yang
tajam dan teduh membuat Rina putar haluan, melewati ruangan praktek, disamping
ruang tunggu pasien, ada tangga menuju lantai 2. Tujuan Rina adalah lantai 4,
diruangan Dosi.
“Ruangan kedokteran yang bersih tapi
meneganggkan.”
“Kamu mendatangi Duga diruang prakteknya.
Itu bisa mengganggunya.” Asisten Dosi menjawabnya, dia duduk dimeja Dosi. Ada
kru band disana, Dosi tidak ada ditempat yang ada hanya asistennya yang
mengatur rekaman, sedang berlangsung rekaman album musik jazz dan anak band
slow rock, bergantian didalam studio musik yang kedap suara bersampingan dengan
ruang kaca tempat siaran radio berlangsung. “Bantulah penyiarnya, karena salah
satunya penyiarnya sibuk diruang rekaman mengatur sound system.”
“Aku harus pergi kursus, nanti malam aku
siaran lebih awal mulai jam tujuh malam, maju dua jam dari biasanya jam
sembilan malam.”
“OK. Terima kasih bantuannya.”
Rina turun kelantai 1, untuk bergegas pergi
kursus. Sepintas Rina mendengar dibawah tangga lantai 1, disamping tempat
tunggu pasien, ternyata Duga berada dibawah tangganya.
Duga membisikkan pelan ketika melewati
Rina,”Dosi pria yang mengasyikkan diajak berbicara ?” Rina menoleh sejenak
menatap mata Duga yang dekat, tajam yang teduh itu, tidak mampu Rina
berlama-lama menatap dan menjawab, pergi berlalu menuju halaman samping dimana
sopir menunggunya pergi kursus.
Didalam mobil yang melaju, Rina bergumam
lega,”Membuat jantungku berdegup kencang.”
Jam tujuh malam Rina sudah cuap-cuap di
radio. Asisten Dosi mengamati diluar kaca, kemudian Rina keluar karena ada jeda
lagu dan iklan.
“Mau karaoke-an ?” Asisten Dosi menawari
Rina, sekedar mengajak bicara supaya ada pembicaraan.
“Kalau ada Dosi aku mau.”
“Iyalah, sekarang masih sibuk rekaman lagu,
tunggu Dosi pulang, mungkin dua minggu lagi.”
“Jam berapa kira-kira selesai rekamannya ?”
“Sampai selesai beberapa lagu, tidak semua
lagu, asalkan setiap hari ada yang jadi, dua lagu minimal.”
Ternyata mereka cepat selesai pukul sebelas
malam, studio ini sudah sepi, tinggal Rina seorang diri, dan Duga sudah duduk
ditempat duduk Dosi, diluar ruang siaran berkaca.
“Sedang apa disini ?”
“Aku sedang melihat-lihat tulisan Dosi,
membacanya novelnya, bacaan buku untuk seseorang yang tidak punya banyak
pekerjaan.”
“Kamu menghinanya.”
“Tidak, puisi Dosi sangat kusukai, bukan
novel dan lagu slow rocknya yang fullgar.”
“Kamu suka lagu kroncong dan dangdut.” Rina
mencoba menggodanya.
Tapi Duga menjawab tenang,”Aku suka musik
jazz.”
“Musik klasik ?”
“Tidak juga, terdengar biolanya seperti
suara lalat.” Duga sedikit tersenyum geli.
Rina menyelesaikan siarannya hingga pukul
dua belas tengah malam, tapi Duga sudah mendahuluinya turun, mungkin dia
melakukan rutinitas seperti biasanya, berlari-lari kecil mengelilingi seluruh halaman
rumah.
Dua minggu berlalu, anggota rumah ini
lengkap kembali, dan Domi sudah kembali kerumah, Domi selalu memakai jas rapi
dan berdasi, rambutnya berbelah kearah kiri, berminyak licin, seperti tampang
executive muda.
Seusai sarapan pagi semua menuju tempat
kerja masing-masing, anak-anak Niken juga kesekolah, Niken menunggu anak
terkecilnya di sekolahan TK. Domi berenang di kolam renang, Rina memperhatikan
selintas lalu, kemudian pergi lewat pintu samping menuju tempat parkir untuk
pergi kursus.
“Kamu mencari Dosi ? Dia menunggumu, temui
nanti kalau usai pulang kursus.” Domi berteriak di tepi kolam sambil berenang,
ditujukan untuk Rina, yang melambaikan tangan dari belakang punggungnya,
berarti dia mendengarkannya.
Setelah sholat Isya’ dan menyelesaikan pr
dari tempat kursusnya, Rina naik kelantai 4, menemui Dosi ditempat kerjanya.
“Kamu tidak merindukanku, terimakasih sudah
mengisi siaran di radioku ini.”
“Aku tidak merindukanmu, hanya sepi saja
tidak ada yang menemaniku ngobrol.”
“Aku ingin menepati janjiku, membuatkan
cerita untukmu, menurutmu apa temanya ?”
“Pembunuhan berencana...”
“Haaaaaaa...aku tidak pernah membuat cerita
misteri, cerita romantis yang sering aku buat.”
“Karena itu buatkan untukku, menurutmu,
karakter siapa didalam rumah ini yang pantas jadi seorang pembunuh ?”
“Dean yang yang mempunyai banyak teman
kencan dan dibalik sifat femininnya tersembunyi sifat sadis dan pendendam.”
“Bagaimana dengan wajah Dirga yang keras
dan kaku ?”
“Tidak Dirga seorang pekerja keras tidak
sempat memikirkan cinta lainnya dan harta, dia hanya berfikir untuk bekerja.”
“Bagaimana dengan Dion seorang ahli keuangan
dan akuntansi, yang menggelapkan uang perusahaan, untuk menutupi jejaknya dia
membunuh rekan kerjanya. Bagaimana juga dengan Duga, yang menutupi sifat skopat
nya dengan menjadi seorang dokter bedah mayat, yang bebas menyayat-nyayat mayat
yang baru saja mati hingga darahnya berceceran , hingga sifat skopat Duga
tertutupi...?????? Aku juga berencana membuat cerita komedi, bagaimana, kalau
semua saudaramu diberi kumis tipis seperti Dear, hangat dan sederhana, pemalu
tapi humoris, mereka juga mempunyai keahlian magic supranatural dan telepati.”
“Hahahahaha......Ternyata kamu gadis cerdas
dan penuh imajinasi, akan aku buat kedua idemu itu, cerita misteri dan cerita
komedi, aku suka ide barumu, akan kubuat novel itu dan kutulis namamu
dibelakang bukuku nanti, sebagai seseorang pembuat ide cerita dan rasa terima
kasihku. Kita karokean sambil menunggu jam siaranmu tiba.”
Rina berkarokean ria didalam ruang rekaman
yang kedap suara.
Usai siaran sampai tengah malam, Rina
penasaran dengan ruangan kaca disisi kanan dan sisi kiri, kolam dan taman,
disebelah pintu keluar samping, menuju tempat parkir samping. Ada tangga juga
disisi sini. Rina menaikinya, dilantai 2 ditemuinya Dean dan Dear didepan pintu
kamarnya, duduk santai.
“Hai Rina kamu tidak pernah kesini kan,
kemari.” Dean memanggilnya.
“Iya, aku menemuimu selalu ditempat kerja,
bukan didepan kamarmu.”
“Inilah kamar kamar kami berdua.”
“Itu...” Rina menunjuk ruangan disisi kanan
dan sisi kiri ruangan.
“Itu kamar-kamar untuk tamu, didepan kamar
ini, itu ruang kerja yang biasa kamu kunjungi melalui tangga dari depan sana.”
“Berarti kemungkinan Duga tidur di ruangan
kaca disamping taman dan kolam renang itu.”
“Kamu memikirkan Duga.” Dear menangkap
pertanyaan Rina dengan cepat.
“Hmmmm, aku tidak tahu dia tidur dimana,
karena kamarnya aku pakai.”
“Kamu tidak tidur dengannya ?” Dean
menggoda Rina.
“Tidak.” Rina bergegas turun,”Sudah terlalu
larut malam aku mau tidur, bye, sampai esok pagi.”
Bunyi seseorang yang berenang tengah malam,
Duka dan Domi berenang berdua. Didalam kamar, didapatkan Duga menunggu Rina.
“Duduklah sebentar, aku ingin bicara.”
“Iya.”
“Ayah, mengetahui keberadaanmu, entah siapa
yang memberitahu ke Ayah.”
“Kamu ingin mengusirku ?”
“Bukan.”
“Ayahmu yang ingin mengusirku ?”
“Bukan, kita akan dinikahkan.”
“Tidak, aku takut.”
“Aku tahu itu pasti jawaban kekanakanmu.
Jangan pikirkan apapun hanya sebuah akad nikah resmi dan tak menuntut apapun.
Kamu paham.”
“Usiaku ?”
“Semua bisa dibuat oleh Ayahku nanti, kita
hanya menjalaninya.”
Rina akhirnya mengangguk pasrah.
Ketika Duga keluar dari kamar, kedua
saudaranya menyaksikan Duga tengah malam sekamar dengan Rina. Domi dan Duka
hanya memandang kaget, dan Duga mengangkat telapak tangan kanannya dengan
santai, sambil senyum lebar.
“Ada apa ?” Duka segera memakai handuknya
berlari menghampiri Duga.
“Nanti pagi saja, aku mengantuk.”
Pagi itu ,....
“Besok ayah akan berkunjung kesini.” Hanya
itu yang Duga katakan dan membawa Rina pergi berdua.
Didalam mobil yang dikendalikan oleh Duga
sendiri dan Rina disebelahnya,”Kita keliling-keliling dulu menenangkan diri,
karena aku belum terbiasa melakukan sesuatu yang besar dalam hidupku tanpa
perencanaan yang matang dan detail.”
“Apa rencana kita ?”
“Aku belum dapat ide.”
“Ini rencana pribadimu atau rencana ayahmu
?”
“Kita ngobrol di cafa saja, kita tadi makan
belum selesai.” Duga mencari cafe24 jam, duduk diluar sambil menatap kendaraan
yang berlalu-lalang dipagi itu.
“Mas kawin apa yang kamu inginkan.” Duga
membuka pembicaraan sambil memesan susu kedelai coklat rasa cofe mocca, dan
pastel buah stoberry.
“Serahkan desain ruangan dan pakaian pada
Dean dan Dear, aku ingin pesta kebun di hall rumahmu, jadi kita hanya perlu
memesan cicin permata, ditengahnya permata yang besar, dan disekitarnya ada dua
baris permata kecil-kecil menutupi seluruh permukaan cincin.”
“”Hanya itu ?”
“Mobil VW yang imut seperti milik Niken
berwarna kuning.”
“Jangan meniru milik orang lain.”
“Ok. Mobil dengan cap terbuka yang ada
gambar kudanya diatas penutup mesinnya, didepan, berwarna merah merona, warna
favoritku.”
“Kita sepakat.”
“Aku juga ingin perabota kamar yang baru,
dengan warna keperakan dan pink.”
“Habis memesan cincin berlian, kita membeli
isi kamar tempat tidur, menuju dealer mobil memesan mobil untukmu, lalu kamu
mau kemana lagi hari ini ? kita jangan pikirkan kursusmu dan pekerjaanku,
seharian ini kita berkeliling berdua, hari ini milik kita.”
“Ijinkan aku bekerja, kalau pagi sampai
sore menolong dikantor ekspedisi Dion, Dion berjanji mengajariku mengolah data
dan memasukkan data menggunakan Linux, dan malamnya menjadi penyiar dikantor
radio milik Dosi, dan dihari libur menjadi model pemotretan untuk desain-desain
Dean dan Dear.”
Duga meng-iya-kan,”Asalkan jangan lupa
dengan kursus-kursusmu dan belajar.”
Mereka berdua menuju toko bunga,”Bunga apa
yang kamu sukai ?”
“Aku ingin membeli bunga-bunga anggrek yang
masih hidup digantung bersusun di taman juga ditepian kolam ikan, bunga-bunga
kaktus akan aku letakkan memenuhi sisi jendela-jendela, bunga-bunga teratai
pink, putih, ungu, akan aku letakkan diatas kolam ikan.”
“Hanya itu.”
“Aku ingin membeli pot besar diameter 60
cm, terbuat dari keramik, akan kuletakkan diujung-ujung ruangan kutanami bunga-bunga
mawar putih,pink, dan ungu.”
Mereka berdua menuju toko hewan
peliharaan,”Hewan apa kesayanganmu ?”
“Lucu sekali kucing ini, sepasang kucing
persia, dan sepasang kucing siam bermata biru.”
“Boleh, ada lagi.”
“Sepasang angsa, buat sangkar besar diatas kolam
ikan, dan sepasang merpati, buatkan rumah kecil yang tinggi ditengah taman yang
berada dalam sangkar besar itu, untuk sepasang merpati putih.”
“Sudah hanya itu.”
“Aku ingin mengisi kolam ikan dengan ikan
koi juga kura-kura.”
Mereka menuju toko perhiasan memesan cincin
berlian, menuju toko furniture memesan perabotan kamar tidur, menuju showroom
mobil membeli mobil, harus cash karena semuanya untuk mas kawin, kunci
diberikan kepada Rina, dan didalam mobil Duga sudah seperti kebun binatang dan
toko bunga, 2 pasang kucing, sepasang angsa, sepasang merpati, ikan koi dan
kura-kura, bunga-bunga anggrek, bunga-bunga mawar, bunga-bunga kaktus.
“Kita keluarkan isi mobil di rumah, setelah
itu kita sholat dhuhur dahulu, baru kita makan siang diluar, bagaimana ?”
“OK.” Rina menggangguk senang.
“Pernikahan adalah milik perempuan, dimana
perempuan disaat itu harus dimanjakan.”
Sampai di rumah Duga memberikan komando ke
sopir dan tukang kebun untuk mengerjakan kontruksi yang diberikan Rina, membuat
sangkar dari kawat setinggi 5 meter
ditaman, melepas ikan koi dan kura-kura di kolam ikan, membuat rumah kecil yang
tinggi untuk merpati putih dipuncak bukit ditaman, setelah sangkar kawat
selesai dilepaskan sepasang angsanya, ditaruhnya teratai diatas kolam ikan.
Ada tangga-tanggaan kayu 5 susun, sepanjang
5 meter disisi-sisi sangkar kawat, untuk meletakkan bunga-bunga anggrek, dan
disekeliling kolam ikan.
Memindahkan bunga-bunga kaktus ke pot-pot
kecil keramik dan menjajarkannya berbaris dibawah jendela-jendela di ruangan
hall, didalam teralis.
Pot-pot besar ditanam bunga-bunga mawar
aneka warna di letakkan diujung-ujung ruangan, dapur, ruang makan, di 4 sudut
kolam renang, dibawah-bawah tangga. Cepat sekali selasai, para tukang kebun itu
cepat kerjanya.
Adzan dhuhur berkumandang, Rina masuk
kekamar untuk sholat, Rina sangat puas
karena semua sesuai dengan kontruksi. Duga menjadi senang melihat suasana hall
dan taman juga kolam berubah menjadi lebih hidup.
“Kita makan siang ditepi pantai, melihat
laut yang luas pemikiran kita jadi terang dan terlepaskan beban hidup.”
“Kamu suka pantai ?” Rina menatap wajah
Duga dari samping yang menatap lurus kepantai, dimeja makan telah tersedia ikan
bakar gurame dan panggang cumi.
Duga hanya diam.
“Itu kapal Dirga kan, bernama Dewa ?”Rina
menunjuk kapal yang sedang berlabuh dipantai yang sedang beraktifitas bongkar
muat barang.
Duga tetap diam hanya menggangguk kecil.
Mereka pulang selesai sholat Isya’ di
musolah didermaga.
Didalam kamar Duga dimeja riasnya, diletakkan
kotak berisi cincing berlian besar ditengah dan seluruh permukaannya ditutupi
berlian kecil-kecil, kunci dan BPKB mobil mewah atas nama Rina. Tinggal ruangan
kamar ini yang besok akan dipugar total diganti furniturnya, dengan furnitur
dari kayu jati yang dicat warna perak dan dindingnya dicat pink pucat, akan
kelihatan cerah dibandingkan warnanya yang dahulunya abu-abu.
Rina menemui Dean dan Dear untuk merancang
baju pengantin untuk Rina dan Duga.
“Jadi kita berdua dahulu yang mengetahui
rencana pernikahan kalian.”Dean berkata membuat desain pakaian sesuai keinginan
Rina.
Rina menggumam dan menggangguk.
Pagi itu, Duga mengetuk kamarnya dan Rina
menyuruhnya masuk.
“Pakailah baju sedikit mewah makan pagi
ini, Ayah akan datang. Sambil membawa surat-surat yang dibutuhkan untuk
pernikahan nanti.”
Duga ikut memilihkan gaun untuk Rina.
Disaat, Rina dan Duga membuka pintu kamar untuk keluar, didepan pintu....Duga
terkejut....
“Ayah....”
Tamparan pertama diwajah Duga saat itu,
mengejutkan Rina yang menarik tubuhnya berlindung di balik pintu kamar yang
terbuka penuh.
“Ternyata betul kata-kata orang, kalian
sudah tinggal satu kamar.”
Danu tidak ingin mendengar alasan Duga
langsung menuju meja makan.
“Kalian semua mengetahui kalau Ayah datang
kemari pasti ada hal yang sangat penting, kita semua akan membahas pernikahan
Duga dengan teman sekamarnya.” Telunjuk Danu mengisyaratkan bahwa Danu tidak
ingin mendengar alasan Duga sepatah katapun, hanya tinggal mengikuti komando
dari Danu. Titik.
Danu, seorang yang wajahnya mirip sekali
dengan Duga alis matanya tebal landai dan teduh, garis wajahnya tegas dan pucat
seperti wajah Dirga, postur tubuhnya tinggi seperti Dosi, giginya rapi kecil
dan manis seperti senyum Dear. Danu seorang dokter ahli bedah umum.
Tidak banyak bicara, langsung memberi tugas
masing-masing kepada setiap anak-anaknya, Danu pergi meninggalkan rumah itu.
Domi, menyiapkan mobil pengantin, dan
mencat kamar Duga seperti keinginan Rina, siang itu furniturenya sudah
dimasukkan kedalam kamar.
Dosi, menyiapkan meja-meja bulat
mengelilingi kolam renang dan taman bersarang kawat, sound sistemnya dan
pencahayaannya telah siap.
Niken memesan banyak kue, dan buah-buahan.
“Pantas hall ini sudah penuh bunga dan
binatang peliharaan.” Dosi menghias meja-meja dengan taplak meja tenun putih,
sambil berbisik kecil, kearah Domi.
Pakaian pengantin, dan bed cover
pengantinnya yang berlatar belakang pink dan putih telah disiapkan oleh Dean
dan Dear, kerja serba kebut-kebutan tapi tetap rapi. Dean meletakkan tempat
tidur kecil berwarna senada dengan bed cover pengantinnya, untuk 2 pasang
kucing Rina didepan kamar mandi karena kucing tersebut sudah terlatih buang air
di dalam kamar mandi yang terbuka.
“Mereka telah siap menikah. Malam ini pun
serasa sudah siap menikah, karena semua sudah selesai, untung pengawaiku 10
orang itu serentak mengerjakan bed cover dan baju pengantinnya, sehari semalam
tersulap, kling, jadilah.” Dear berputar-putar didalam kamar Duga bersama Dean.
Sedang dekorasi luar ruangan diserahkan Dosi dan Domi.
“Kami berdua sudah boleh tidur disini.”
Duga melihat kamarnya.
“Belum, penghulunya datang baru dua hari
lagi, apa betul kalian sudah sekamar selama ini?” Dean penuh selidik.
“Apa wajahku semesum itu ?”
“Aku tidak tahu, tapi laki-laki dari
golongan apapun, kalau ditempat tidur dengan perempuan tingkah lakunya sama
semuanya.” Dean menjawab pertanyaan Duga, Duga tak banyak menjawab pergi begitu
saja.
Prosesi pernikahan itu pun berjalan lancar,
tak banyak tamu diundang hanya saudara dekat dan teman dekat.
“Kita tidak perlu terburu-buru kan, usiaku
26 tahun, usiamu 11 tahun, masih banyak cita-cita hidup ini yang belum
tercapai. Boleh aku tanya kamu sudah menstruasi ?”
“Apa menstruasi itu ?”
“Setelah malam pengantin ini kamu pasti
menstruasi.” Duga berbisik keteling Rina, mereka berdua sedang duduk ditepi
tempat tidur, kemudian beranjak didepan kamar mandi menghambil handuk kecil,
dilatakkan ditengah-tengah tempat tidur,”Aku susah tidur dengan kamar yang
cerah ceria seperti ini, berarti nanti malan kita lembur hingga pagi.”
“Untuk apa dilapis handuk.”
“Supaya sprei yang semi sutra ini tidak
ternoda darah ?”
“Darah siapa ?”
Duga menidurkan Rina ditengah tempat
tidur,”Darahmu.”Itu yang dibisikkan Duga ditelinga Rina. “Pejamkan mata kalau
kamu takut.”
Rina memejamkan mata, Duga membersihkan
tubuh Rina dan membetulkan posisinya. Kedua kaki Rina dibuka dan dilipat
kepinggang Duga, Kedua tangannya dibuka melilit ke leher Duga. Mereka saling
berciuman dibibir.
“Biarkan aku masuk. Hm.” Duga berbisik.
“Aku takut.”
“Pejamkan mata, peluk yang erat, eratkan
juga lilitan kakimu dipinggang.”
“Iya.....Aduuuuh....Ahk.” Rina merintih dan
menangis.
Tangan kiri Duga mengangkat punggung Rina,
tangan kanannya menekan bagian bawah Rina dengan beralaskan handuk, sambil
membersihkan darah yang menetes kebawah.
Rina terus merintih, menangis, dan
mendesah,”Aduuuh....nyeri didalamnya.”
“Tidak bisa berhenti disini belum tuntas.”
“Pelan-pelan, sakit.”Rina menggeliat
geliat, Duga terus menekan.Lama, baru ditariknya sedikit, kemudian mengulang
ulangnya.
Duga meletakkan Rina diatas
pelukkannya.”Semuanya sudah terjadi. Aku siapkan dulu air hangat di bak, kita
mandi bersama.” Duga kemudian beranjak dari tempat tidur.
“Darah apa ini ?” Rina mengangkat handuk
yang ada dibawah bokongnya, yang tadi digunakan Duga membersihkan bagian
sensitif Rina.”Ini menstruasi?”
“Bukan. Aku hanya menandaimu.” Duga
berbalik badan dan tersenyum.
Keduanya tertidur kelelahan sampai pagi.
Keesokannya, pagi itu wajah Duga sedikit
murung dan bersalah.
Ditempat prakteknya Duka
mendekatinya,”Hidupmu dan ibadahmu sempurna saudaraku, selamat.”
“Seharusnya aku menunggunya dewasa, dia
benar-benar masih anak-anak, aku memaksakan dia dewasa.”
“Aku tahu maksudmu, kita tutup rahasia ini,
ini jalan terbaik, ok.” Duka melangkah kembali ketempat prakteknya sendiri.
Seminggu berlalu....
“Mana novel pembunuhan misteri dan comedi
misteri ?”
“Novel misteri pembunuhan 201 halaman dan
misteri comedi 170 halaman, aku akan memfotomu dengan pose rambut panjangmu
menutup sebagian wajah dan kamu menatap tajam keatas, bisa kan ? kamu kan
setiap sabtu minggu ada pemotretan desain-desain sepatu, tas, baju, merek Dean,
berarti sudah biasa didepan kamera dan mudah menerima instruksi photographi.”
Rina mengangguk-angguk, melihat buku tanpa
cover itu, berjudul ‘Misteri D,D, dan D’
dan ‘Magnet dan Magic’.
“Jangan lupa malam nanti kamu sudah rutin
siaran di radio.” Dosi mengingatkan Rina.”Apa kamu bahagia ?” Tiba-tiba Dosi
menangkap raut wajah Rina yang ingin disembunyikannya,”Ingat, aku sudah
memberitahukan kepadamu, penyiar harus pandai bersandiwara, sedih marah,
seorang penyiar suaranya harus terdengar ceria bahagia.”
Rina mgangguk-angguk, meng-iyakan. Lama,
baru Rina menjawab perkataan Dosi,”Duga hanya semalam saja tidur denganku, saat
ini entah dia tidur dimana.”
Dosi membisikkan sesuatu. Sambil main mata.
Rina mengangguk setuju.
Setelah menemui Dosi dan pemotretan cover
novel, Rina singgah ke lantai 3, tempat Dion bekerja.
“Kapan kamu mengajariku menginstall Linux.”
“Kamu memasukkan data-data kantor dahulu,
mengolah data yang ada, kalau sudah lancar baru aku akan mengajarimu
menginstall Linux.”
“OK. Aku bekerja disini 3 kali seminggu
setiap pagi hingga sore, karena 2 kali seminggu aku harus menyelesaikan kursusku,
aku sudah membeli laptop baru untuk percobaan menginstall nanti.”
Rina singgah lagi di lantai 2, menemui Dean
dan Dear, melihat baju rancangan Dean terbaru, dan ada pemotretan.
Bahan baju dari kulit kambing ringan, tipis
dan tidak kaku, berwarna hijau terang, dikrah dan dipinggiran baju dan
tangannya yang panjang diberi bulu kelinci berwarna abu-abu lembut. Sepasang
dengan rok nya sepanjang setengah betis model A, berwarna hijau terang, tepian
jahitan bawah roknya diberi juga bulu kelinci abu-abu muda yang lembut. Sepatu
abu-abu dari kulit sapi, dihiasi bulu kelinci abu-abu. Sepasang dengan tas
kecil bertali kecil panjang dicangklongkan menyilang dipundak dari bahan
keseluruhan bulu kelinci abu-abu.
Dilantai 1, Rina memberi makan
ikan-ikannya, kura-kuranya, angsanya, dan merpatinya yang berada didalam
sangkar.
Menyemprot sedikit-sedikit
anggrek-anggreknya, kaktus, dan bunga-bunga mawarnya.
“Pus...pus siam, pus...pus persia.” Rina
mencari kucing teman tidurnya.
“Kucing mu berada dikamarku. Sudah kuberi makan.”
Ternyata Duka mengamati kegiatan Rina, karena kebiasaan Rina naik ke kantor
dilantai 2, 3, dan 4, melewati lorong tempat praktek Duka dan Duga, dan naik
melalui tangga didepan, disamping tempat tunggu pasien. Duka membuka pintu
kamarnya, keluarlah kucing-kucing itu dan berlari menghampiri tuannya, Rina.
Minggu pagi, Rina meminta Dirga
mengajarinya mengendarai mobil mewahnya, berkeliling kompleks perumahannya,
sampai hampir siang mendekati dhuhur, sebagai hadiahnya, Rina memasakkan Dirga
makan siang.
“Mana Duga.” Dirga menanyakan Duga kepada
Rina.
“Dokter tidak ada hari libur, orang sakit
dan penyakit tidak melihat tanggalan merah.”
“Haaaaaa...betul. Masakanmu enak juga.”
“Boleh minta makanan sisa kalian, aku juga
lapar.”Dosi menghampiri Dirga dan Rina.
“Kamu selalu tahu dimana aku berada,
silakan saja makan seadanya, masih banyak.” Rina mempersilahkan Dosi duduk
dengan isyarat tangannya.
“Kapan bedah buku terbarumu, aku
penasaran.” Dirga bertanya.
“Minggu depan, Domi sudah mempersiapkan
jadwalnya.”
“Domi juga masih hutang proyek denganku,
katanya dia mencarikan investor untuk desain kapal pesiarku.”
“Domi masih menjadwalkan fesyen show Dean,
dan bedah bukuku.”
“Aku sudah lihat rancangan bulu kelincinya
di internet, hijau daun dan bulu kelinci.”
“Haaaaaaa...itu pasti fotoku.” Rina ikutan
berbicara.
“Iya dan kisah pesulap yang mempunyai
turunan keluarga peka indra keenamnya, yang konyol itu....betul itu abstrak
ceritamu di blog mu.”
“Itu juga ide ceritaku.....haaaaaa.” Rina
ikutan berkomentar.
Dosi membawa makanannya keatas, tanpa
berbicara apapun, sepertinya menuju kamarnya, karena dia naik dari tangga
samping yang berada di parkir di halaman samping.
“Kenapa kamu sinis seperti itu.” Rina
bertanya pada Dirga.
“Aku sebenarnya hanya menggodanya, blog nya
ramai sekali peminatnya, dia banyak yang ingin menjadi pacar atau istrinya,
tapi dia pandai cuap-cuap, hanya membuat GR penggemarnya itu, aku rasa dia
orang yang ketakutan kehilangan penggemar, jadi kritikku tadi sangat
menyentuhnya.”
“Kamu mendesain kapal.”
“Ya, anehnya orang Indonesia, blog ku yang
berisikan ilmu pengetahuan dan bisnis membanggakan, tidak banyak peminatnya,
dibanding blog nya para bintang film yang hanya jual tampang dan kata-kata
indah.”
Dirga pun pergi menuju kapalnya, di
dermaga.
Rina menuju tempat kerja Dosi, sebenarnya
Duga selalu tahu bila Rina melewati tempat prakteknya menuju tangga didepan
rumah.
Di lantai 4, masih banyak kegiatan walau
hari minggu, ruangan siaran dilihatnya ada penyiarnya, diruang rekaman asisten
lagu mengedit rekaman, diruang kerja Dosi, Dosi sedang karokean sendiri. Rina
masuk tanpa mengetuk karena pintunya
juga pintu koboi tanpa kunci dan handel. Diam-diam Duga mengikuti Rina, tanpa
disadari Rina.
“Bagaimana menurutmu seorang dokter itu.”
“Suatu profesi yang sangat lebih eksklusive
dibandingkan seorang pengusaha, seorang pengusaha masih bisa bergaul dan
berbaur dengan seniman selengekan sepertiku, tapi dokter belum tentu mau.”
“Mungkin Duga mendugaku seorang anak
jalanan yang nakal dan liar. Dia sedikit enggan padaku, seperti kata Duka yang
pernah memberitahuku tentang penampilanku layaknya gelandangan pertama kali aku
memasuki rumah ini.”
“entahlah, tapi aku tidak pernah
menganggapmu seperti gelandangan ataupun anak liar. Masalah enggan atau tidak,
kamu sekarang sudah suami istri dengan Duga, tidak bermasalah siapa yang
berhasrat lebih dahulu, istri yang mendahului, atau suami yang mendahului, itu
tidak ada masalah. Seperti yang pernah kubisikkan padamu.”
“Apa dia tidak menolakku dan merasa jijik.”
Dosi memandang sejenak wajah Rina, dan
tersenyum kecil,”Mana mungkin Dean dan Dear memajang foto-fotomu di etalase
butik dan di internet jika kamu tidak mempunyai wajah menarik. Mana mungkin
Duga tidak melawan ketika Ayah memaksanya menikahimu.”
“Kalau kamu yang dipaksa menikah denganku,
apa kamu bereaksi sama dengan Duga.”
Wajah Dosi yang putih bersemu merah,”Aku
tidak berfikir kesana. Lebih baik kita karokean sekarang sambil menghabiskan
waktu senggang.”
Duga perlahan turun kembali ke tempat
prakteknya mendengar percakapan mereka berdua, tidak jadi menggebrak keberadaan
Rina dan Dosi yang hanya berduaan saja diruang kerja.
Diam-diam Duga membuka blog yang dimiliki
adik-adiknya, tentu blog yang pertama dibukanya blog milik Dosi, yang berjudul,”SEBUAH
PERJALANAN”, disitu terakses dua buku terbarunya berjudul,”MISTERI D, D, DAN D”,bercover
wajah seorang wanita tertutup sebagian wajahnya dengan rambut panjangnya,
berlatar belakang merah hati, Duga mengamati itu adalah wajah istrinya. Buku
yang satunya lagi berjudul,”MAGNET DAN MAGIC”,dengan cover buku seorang wanita
berjubah coklat tua memegang peti tembaga berdiri di dermaga menatap pantai dan
sebuah kapal pesiar yang bersandar dipelabuhan. Duga mengamati, itu juga foto
istrinya.
Duga juga membuka blog Dean, butik DeDe
nya, dan produk terbarunya hijau dan bulu kelinci, Duga tersenyum lebar, produk
fesyen itu dikenakan istrinya dalam berbagai pose, Duga mengklik produk
tersebut dan membeli produk itu via internet, dan beberapa produk andalan
dikliknya, gaun pesta biru menjuntai panjang kelantai berhias permata blue
safire didada dan dirok panjangnya, juga dikliknya. Tentu Duga tidak kawatir
dengan ukurannya, karena semua gaun itu diperagakan oleh istrinya sendiri.
Duga membuka blog Dirga, “KAPAL NAGA SURYA”,rancangan
terakhir kapal Dirga, sebuah kapal pesiar tidak terlalu besar berlantai 4,
kelas 3 didalam lambung kapal, sampai kelas 1 nya berada dianjungan kapal, plus
kolam renang di anjungan, lantai 4 merupakan kamar-kamar untuk perwira kapal,”Dia
juga mendesain interior dan instalasi listriknya. Aku tertarik berinvestasi
disini.”
Duga beristirahat dan keluar dari ruang
prakteknya, melihat-lihat mobil yang berlalu lalang, tiba-tiba, BRAK..., Dosi
dari arah belakang menabraknya, ternyata dia buru-buru turun dari tangga,
memancing emosi Duga yang lama terpendam, ditariknya punggung Dosi kemudian
ditampar wajahnya, Dosi merasa tidak bersalah menghantam balik Duga, pertengkaran
yang tidak begitu hebat itu, mengundang Duka melerai mereka, dan menampar
kedua-duanya,”Bagus dua saudara saling beradu otot.”
Duga masuk kembali kedalam tempat
prakteknya, menunggu pasiennya mendaftar dimeja asistennya, dan ini juga baru
pukul 8 pagi, buka prakteknya pukul 10 nanti.
Duga ingin melihat istrinya dilantai atas,
kemudian dia mencek tempat kerja adik-adiknya dilantas atas, kantor Dear dan
Dean sepi, Dean sedang ada peragaan busana diluar pulau, ternyata Rina berada
dilantai 3 bersama Dion.
“Hai Duga, istrimu asistenku
sekarang.....Lihat di komputer didepanmu merupakan buku tamu untuk menanyakan
nama, alamat, jenis barang, berat barang, dari mana dan tujuannya kemana, print
untuk bukti pengiriman. OK. Komputer disisi kirimu, komputer debit kredit, surat-surat
di kananmu merupakan debit berupa surat-surat pengiriman barang, kertas-kertas
dikirimu merupakan maintenant kantor yang merupakan kredit. OK. Kalau kurang
paham tanyakan orang disebelahmu, kita semua rekan kerja.”
“Aku mengganggu.”Duga mengawasi istrinya
dan Dion yang sedang sibuk dengan komputer.
“Tidak juga, aku merupakan tentor istrimu,
dia duduk dimejaku, Rina menjadi asistenku. Angkat telpon langsung katakan “EXPEDISI
NUSANTARA JAYA”.” Dion menjawab perkataan Duga sambil juga menerangkan sistem
kerja kantor kepada Rina.
“Aku turun kalau begitu, mungkin sedikit
mengganggu.”
“Tunggu aku mau kebawah juga untuk mericek
muatan dibawah.”
Duga dan Dion turun bersama.
Rina turun ke lantai 1, tengah malam
setelah siaran di radio, dilihat semua lampu sudah temaram kehijauan kecuali
tempat praktek Duga lampu neon putihnya masih menyala, Duga juga tidak
berlari-lari kecil dihalaman, langkah Rina masuk lorong-lorong kamar bedah
sebenarnya didengan oleh Duga.
Rina tidak mendapati Duga didalam kamar,
semua lampu ruangan dan taman juga sudah temaram kehijauan, kecuali tempat
praktek Duga terang putih. Dibukanya tempat praktek Duga, Duga pura-pura tidur
dikursi prakteknya.
Rina duduk dipangkuan Duga, memeluk
lehernya dan berbisik,”Temani aku tidur dikamar.”
Duga membuka matanya,”Aku mandi dahulu,
serasa kotor usai memeriksa pasien yang sakit.”
Duga berjalan bersama masuk kedalam kamar
berdua.
Duga mengamati cara tidur Rina yang menjelajah
berputar-putar, kadang kakinya menyilang ke badan Duga, kadang kepalanya dikaki
Duga, sambil mengigau,”Ibu.”
Duga mengangkat badan istrinya dan
membetulkan posisi tidurnya, meletakkan dipelukkannya, setiap Rina ingin
merubah posisi tidurnya Duga meng-eratkan dekapannya. Hingga Rina akhirnya
terjaga.”Kalau kamu merasa tidurmu gelisah, tidur saja dipelukkanku.”
Rina menyusupkan kepalanya diketiak Duga,
seperti anak bayi yang menyusupkan kepalanya diketiak ibunya.
Duga
memutar kepala istrinya, dan menciumi bibirnya.”Sakit ?”
Rina menggeleng.”Menyenangkan.”
“Itu yang Dosi ajarkan.”
“Tidak ini lebih menyenangkan.”
“Pegang dan masukkan sendiri kalau kamu
ingin.”Duga berbisik ketelinga Rina, dan meletakkan tangan kanan Rina ke
anggota vitalnya.
Rina meletakkan ujung punya suaminya ke
punyanya.
“Kalau dipegang seperti itu hanya ujungnya
yang masuk.” Duga merubah letak kedua tangan istrinya diatas bokongnya.”Tekan
tangannya.”
“Ahk..”Rina terpekik dan mendesah,
menandakan sudah masuk sampai kepangkalnya.
Kini giliran Duga menekan lebih dalam.
Pagi yang indah, Duka berenang di kolam
renang, Rina sibuk memasak bersama Niken di dapur.
Dimeja makan, Domi, Dean, dan Dosi, tidak
hadir.
“Kemana ketiga orang itu.” Duka seperti
biasanya membuka pembicaraan.
“Mereka tour keseluruh Indonesia dan Asia.”Dirga
menjawab pertanyaan Duka.
“Sebenarnya aku ingin ikut tour mereka,
pasti mengasyikkan.” Rina menanggapi kabar dari Dirga.
“Sehebat itu ?” Duga membuat pertanyaan
untuk pernyataan Dirga,”Sepertinya kamu menyukai masakan istriku ?”
“Kamu cemburu ? Kamu tidak menyadari punya
saudara-saudara yang memang bertalenta tinggi.”Dirga tidak kalah sinis, karena
dia memang sinis.
“Domi harus kerja keras karena istrinya
sedang hamil anak ke 4 nya.” Duka memberitahukan kabar gembira itu kepada semua
adiknya. Kecuali Duga, mengetahui lebih dahulu karena Duga adalah dokter nya.
Cepat sekali sepi setelah acara makan pagi
ini, karena semua mempunyai kesibukan masing-masing.
Hari cepat sekali berganti....
“Aku tidak pernah menstruasi. Siapa tahu
aku hamil, badanku terasa gemuk dan berat, baju rancangan Dean harus dirombak
karena ini.”
“Sebenarnya, teorinya, kamu menstruasi
sekali saja sebagai tanda kehamilan.”
“Siapa yang tahu kalau aku hamil tanpa
menstruasi lebih dahulu, aku mau test kehamilan saja, beli di apotik, siapa
tahu teorimu salah.”
Mereka berdua duduk dalam kamar menunggu
hasil test kehamilan.
“Nah ini tanda setrip dua, berarti
hamilkan.” Rina menunjukkan itu kepada Duga.
Duga tersenyum antara tidak percaya dan
senang, kemudian mencium kening dan pipi istrinya,”Jaga baik-baik dirimu, agar
semuanya juga berjalan baik.
Rina mengangguk.
“Kamu tahu kehamilan merupakan saat
terindah untuk semua perempuan.”Niken berbincang-bincang dengan Rina didapur,
sebagai sesama wanita hamil.
“Bagiku saat yang melelahkan, malas, dan
mudah mengantuk.”Rina mengomentari pendapat Niken.
Dean dan Dear mendesainkan gaun untuk
wanita hamil dan wanita yang mempunyai bobot tubuh yang subur. Terinspirasi
dari Rina yang sedang hamil. Sehingga pemotretan tetap berjalan lancar dan gaun
Dean mencakup berbagai kalangan.
“Apa kamu tidak mempunyai ide tentang
kehamilanku.” Rina juga bertanya pada Dosi.
“Iya, aku ingin menulis tentang keluarga
harmonis, novel keluarga, cocok untuk bacaan anak-anak.”
“Kamu tidak ingin menulis cerita Horor,
setan dan mistik.”
“Aku belum pernah menulis cerita Horor dan
mistik.”
“Dia seorang yang sulit hamil, dan dia
hamil karena mengambil kehamilan orang lain....”Rina memberikan ide kepada
Dosi.
“Ohhhh....betul juga, di Indonesia masih
banyak mistik dan tenung, karena Indonesia berhutan-hutan, bergunung-gunung,
berpulau-pulau.” Dosi mendapatkan ide cerita horor, dan bermain mata dengan
Rina tanda setuju.
Ternyata waktu memang cepat
berjalannya.....
Rina berteriak-teriak seperti anak kecil,
Duga kebingungan mendengar dan menanti kelahiran anaknya.
“Anak laki-laki.”Dokter specialis
anesthesia yang membantu kelahiran Rina memberitahukan kepada Duga,”Selamat,
ya.”
Seminggu setelah kelahiran anak pertama
Duga, hampir bersamaan juga dengan kelahiran anak Domi, akan diadakan acara
akikah.
Malam akikah itu, semua keluarga berkumpul.
Duka membawa pasangannya seorang Apoteker
yang bekerja di apotik bersebelahan dengan tempat prakteknya.
Dirga menggandeng seorang perempuan,
perwira kapal yang membawa seorang teman perempuannya, kedua perwira itu
mempunyai tinggi badan yang diatas rata-rata wanita Indonesia, 175 cm, seorang
perwira memang diukur tinggi badannya, untuk wanitanya minimal setinggi 155 cm.
Ternyata teman perwira yang digandeng Dirga, merupakan kekasih Dion. Mereka berempat
duduk diujung ruangan, sambil bermain laptop, seperti kesenangan Dion.
Diujung lainnya Domi sibuk dengan keempat
buah hatinya, yang bayi digendongnya, Niken sibuk didapur bersama keempat istri
Danu.
Disisi kolam renang duduk berempat, Dosi,
Dean, Dear, dan Rina yang menggendong bayinya.
Disebrang sisi kolam renang, duduk berempat,
Danu, Duga, Duka, dan kekasihnya.
“Tahukah kalian nama anak Domi, yang baru
lahir seorang bayi perempuan bernama Dominka, dan ketiga anak tirinya, ditambah
namanya menjadi douglas Lukas, Dofario Robby, dan Deasy Bunga.” Dosi
membicarakan nama anak Domi.”
“Kamu tidak ingin membicarakan nama anakku
Duta, aku akan menambah namaku juga Duku Rina.”
“Dukun Rina....haaaaaaaa.”Dean tak tahan
mendengar itu semua, dan mereka berempat tak tahan melepas tawa.
Sedang yang disebrang kolam renang, Duga
menahan hati melihat istrinya tertawa gelak bersama Dosi dan kruni nya.
“Aku membaca ceritamu yang misteri comedi,
aku sedikit tersanjung memiliki kumis tipis ini.”Dear ternyata diam-diam
membuka dan membaca internet, dan membuka blog Dosi.
“Haaaaaa...aku tidak bisa membayangkan
kalau di filmkan wajahku ini diberi kumis.” Dean adalah tipe laki-laki yang
tidak kontrol untuk tertawa, sehingga mempengaruhi orang disekitarnya untuk
ikut tertawa.
Duka tidak tahan melihat wajah Duga yang
sendu-sendu cemburu, lalu dia meng-SMS Dean,”Kalian sedang membicarakan apa kok
tertawa-tertawa.”
Dean menjawab SMS Duka,”Kita sedang bermain
kartu tarot.”
Duka membalas SMS lagi,”Apa kata kartu
tarotmu.”
Dean adalah orang yang senang dengan
keisengan,”Aku memegang kartu AS mu.”
Wajah Duka dan Duga, sama memerahnya,
ditelponnya Domi,”Apa kamu kenal wanita-wanita yang dekat dengan Dosi, Dean,
dan Dear ?”
Dari telpon Domi menjawab,”Tenang saja
sebentar lagi mereka bertiga berhenti tertawa.”
Memang betul tidak lama kemudian datang
tiga orang wanita tinggi semampai dan cantik, tinggi rata-rata seorang
peragawati, 178-180 an, ukuran tubuh yang sangat tinggi untuk seorang wanita
Indonesia, ketiga wanita itu pun bukan asli Indonesia, Indo-Eropa, mendadak
tawa Dosi, Dean, Dear terhenti, dan Rina pindah posisi duduknya diseberang
kolam renang, disebelah Duga.
“Coba buat kami berempat tertawa seperti
Dosi, Dean, dan Dear.”Duka mencairkan suasana. Pembicaraan itu ditujukan untuk
Rina.
“Aku ingin mengganti namaku menjadi Duku
Rina, agar sama degan anak dan suamiku, Duga dan Duta.”
“Haaaaaaaaaa.....”Kini Danu yang tertawa
terbahak-bahak, itukah yang membuat kalian tertawa, Danu memang seorang
karismatik dan unik.
“Dan kami saling menunjuk siapa karakter
yang paling tepat jadi seorang pemeran pembunuhan dalam buku novel Dosi, hingga
kami berempat saling menunjuk.”
“Haaaaaaa...itu memang lucu. Apa yang
membuat kalian bersitegang sesama saudara.” Danu berkata bijaksana.
Diseberang kolam, Dosi, Dean, dan Dear
melihat, kini Danu, Duga, Duka, Rina berganti yang tertawa-tawa.
“Anakmu sudah tertidur dipelukkanmu.”Duka
mengingatkan Rina.
“Tidurlah kalian berdua nanti kelelahan.”
Danu menyuruh Duga dan Rina tidur.
Duga memeluk, menuntun Rina yang menggendong
bayinya menuju kamar mereka berdua.
Diseberang kolam Dosi mengikuti langkah
Duga dan Rina dengan menoleh dangkal, seperti cuplikan yang tertulis dalam
salah satu buku novelnya,”MAGNET DAN MAGIC”.”TIDAK ADA SEORANG PUN YANG
MENGETAHUI DALAMNYA CINTA DI HATI, WALAUPUN SESEORANG ITU MEMILIKI KEPEKAAN
INDRA KEENAMNYA.”