Senin, 15 November 2010

INISIAL 'D' SERI 2 : "PERNIKAHAN DIATAS KAPAL"


INISIAL ‘D’
Dalam seri 2 : “PERNIKAHAN DIATAS KAPAL”

                Margareta adalah seorang gadis nahkoda kapal barang, kalau memakai seragam nahkodanya dan berkacamata modis berganggang tebal coklat bertopi nahkoda dia tampak sebagai seorang yang berwatak keras, namun ketika dia melepas seragam itu, dia seorang perempuan yang pesolek. Postur tubuhnya tinggi besar, wajahnya indo-eropa, di KTP nya Islam, hanya itu.
                Sejak pertunangan beberapa hari yang lalu Margareta pindah ke rumah kaca biru yang berlantai 4 itu, menunggu hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Barang-barang pribadinya bertahap merubah suasana ruang keluarga dirumah itu, 8 unit alat kebugaran, dari alat mengencangkan tangan, alat mengencangkan kaki, alat mengencangkan pinggang, sepeda ditempat, alat berlari ditempat, dan peralatan yoga, bola-bola untuk yoga termasuk lilin-lilin aroma terapi pelengkap yoga. Sisi samping kolam renang menjadi penuh peralatan olahraga itu.
                Meja-meja marmer kecil menghiasi sudut ruangan, pot-pot keramik yang berisi bunga mawar kini diletakkan diatas meja marmer berdampingan dengan miniatur kapal pinisi. Dinding meja makan ada lukisan kapal dan lautan, dibawah lukisan itu ada meja marmer dengan miniatur kapal dari karet yang dipolitur dan kapal dari rangkaian cengkeh. Diujung ruang makan, disisi lainnya ada botol besar yang didalamnya ada kapal kayu berukir, unik.
                Piring-piring dan gelas dari cina berbunga keemasan, disimpan dan dirubah menjadi piring biru dengan gambar kapal. Sesuai dengan selera Margareta. Di tambah satu lemari es lagi didapur berisi buah-buahan dan sayuran, juga aneka jus segar, kebiasaan Margareta meminumnya setelah berolahraga dengan beberapa alat kebugarannya.
                Perubahan yang tidak begitu menyolok karena terlebih dahulu Rina juga membuat perubahan yang sama dengan taman bersarang, dengan angsa dan kandang merpati, ikan koi dan teratainya, didalamnya. Bunga-bunga anggrek, bunga-bunga kaktus, dan bunga-bunga mawar memenuhi ruangan dan taman.
                Pagi itu sarapan pertama Margareta dengan seluruh anggota keluarga.
                “Apa lagi yang ingin kamu rubah Margareta ? hingga kamu nyaman tinggal dirumah ini bersama kami.” Duka menyapa Margareta yang duduk diujung meja makan.
                “Sementara hanya ini yang aku punya, semoga tidak mengganggu dan masih ada tempat untuk menampungnya didalam rumah ini.”
                “Tenang saja kita suka perubahan.” Dosi juga menjawab perkataan Margareta sebagai perkenalan.
                “Apa aku boleh mencicipi jus buahmu ? Rina juga ikut berbicara.
                “Boleh dengan senang hati, ini jus campuran beberapa buah buatanku sendiri.”
                “Menarik sekali warna dan rasanya ?” Dean menilai rasa jus yang disajikan.
                “Itu jus jambu merah dicampur wortel, jeruk, stoberry, dan apel merah.”
                “Banyak juga campurannya, aku kira hanya dua jenis buah.”Dear ikut berkomentar dengan jus Margareta.
                “Kamu suka miniatur kapal?”Dion bertanya.
                “Iya, miniatur kapal pinisi berkayu hitam kudapatkan ketika berlayar ke Makasar, miniatur kapal karet aku dapatkan dari Samarinda, miniatur kapal dari cengkeh aku dapatkan dari Banjarmasin, dan kapal dalam botol aku dapatkan dari Pontianak.” Margareta menjelaskan koleksinya.
                “Kalau lukisannya?” Dosi juga ikutan bertanya.
                “Itu lukisan pertamaku ketika pertama kali berlayar disebuah kapal.” Jawab Margareta.
                “Kamu juga pandai melukis?” Dosi bertanya lagi dan Margareta menjawab dengan anggukan.
                “Lain kali, atau besok pagi kita berbincang-bincang lagi dimeja makan ini.” Duka menutup acara perkenalan dimeja makan itu.
                Dan Margareta mengajak Rina untuk menemaninya berolah raga, tapi Rina menolak karena dia sibuk bekerja dikantor Dion di perusahaan ‘EXPEDISI’ nya.
                Malamnya, setelah Rina menidurkan Duta, Rina mencari kucingnya yang berlari digudang belakang, tempat paling belakang parkirnya truk-truk. Diikutinya lari kucingnya yang masuk gudang.
                Gudang yang berisi barang-barang dalam kotak-kotak dus berwarna coklat, beberapa tumpuk peti kemas, dan satu bus rumah yang menyala, gudang yang tingginya 10 meter itu berlantai dua. Rina naik ke lantai 2, ternyata ada sebuah kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.
                “Dirga, kamu berada diatas gudang?”
                “Kucingmu beranak didapur ruangan ini.” Dirga menunjukkan keranjang yang dilapisi selimut, terdapat induk kucing persia menyusui keempat anaknya.
                “Siapa yang berada dalam bus itu?”
                “Dion membuat bus rumah yang lengkap isinya seperti rumah kecil berkamar satu, dapur, dan kamar mandi, kami berdua sering tinggal dan bermain dalam gudang ini semenjak kecil.”
                “Jadi Margareta tidur sendirian dikamar, dilantai 3.”
                “Pastilah, kita baru merencanakan pernikahan beberapa hari, kita belum boleh sekamar.”
                “Kalau gitu aku titipkan kucingku disini untuk menemanimu tidur digudang, malam ini aku siaran diradio, dengarkan suaraku ya, untuk hiburan sampai tengah malam nanti.”
Pagi itu, Margareta dan Niken mempersiapkan makan pagi, Margareta membuat jus apokat dicampur melon dan buah naga sedikit susu cair manis sebagai pengganti gula.
Sementara menunggu anggota keluarga berkumpul Margareta mengayuh sepedanya di tempat kebugaran, berlarian, dan menarik beban untuk menguatkan otot bisep dan trisepnya. Duduk di bola yoga dan mengatur pernapasan sebagai penutup olahraganya.
“Kalau kamu bosan dirumah lebih baik berjalan-jalan dengan diantar sopirke mall.” Duka memberikan saran kepada Margareta.
“Tidak, banyak yang kulakukan disini, melihat ikan dan kura-kura milik Rina, menyirami bunga-bunga ditaman, itu hal baru untukku dan sangat menarik, membantu Niken memasak, melihat Rina siaran radio, melihat pemotretan yang dilakukan Dean.”
“Kamu bisa juga melihat CCTV, orang yang sedang mengadakan pembedahan mata dan mulut.” Duga juga memberi saran kepada Margareta.
“Tidak itu menakutkan, aku takut darah.”
“Kamu suka laut dan segala petualangannya, tapi kamu takut darah, bukankah itu sesuatu yang sama menantangnya.” Duka juga ikut berbicara sesama seorang dokter.
“Darimana kamu mendapatkan piring yang bergambar lukisan kapal dan laut?”Dosi merubah arah pembicaraan.
“Itu kudapatkan dari berlayar ke Singapura, lukisan yang dicetak diatas keramik, sangat artistik.”Margareta menjawab pertanyaan Dosi.
“Kamu suka olah raga? Duka dan Domi pernah masuk seleksi untuk ikut olimpiade renang, sayangnya ayah melarang kami mendalami kehidupan seorang olahragawan.”Dean mengamati kesukaan Margareta berolah raga.
“Aku bisa berenang tapi bukan untuk berolahraga rutin.”
“Duga juga suka berlarian setiap malam mengelilingi halaman rumah.”Dear juga menambahkan perkataan saudara seibunya itu sambil tersenyum manis.
“Olah raga ringan yang menyenangkan, tidak berat tapi sebagai terapi jiwa juga, seperti yoga itu sebenarnya yang paling kusukai.”
Pembicaraan itu menutup acara makan pagi yang rutin dilakukan.
Dirga mengosongkan kapal penumpangnya yang bernama ‘DEWI’ untuk acara pernikahan nanti diatas kapal. Jadwal kapal Dirga memang 3 bulan penuh untuk kapal barang berlayar, kapal bernama ‘DEWA’, 3 bulan penuh untuk berlayar kapal penumpangnya yang bernama ‘DEWI’. Jadi 3 bulan ini waktunya kapal Dewi beristirahat,sekaligus dimanfaatkan untuk acara pernikahan ditengah Samudra Indonesia.
Rina sudah mempersiapkan baju renang, dan menyiapkan segala sesuatunya dalam koper untuk dibawa diatas kapal sebagai tamu undangan pernikahan Dirga-Margareta.
Niken juga sibuk mempersiapkan apa saja kebutuhan keempat anaknya yang juga akan dibawa diatas kapal menghadiri pernikahan Dirga-Margareta.
Dean dan Dear lebih sibuk lagi membuat dekorasi didalam kapal dan merancang seragam pakaian yang digunakan keluarga, dan termasuk merancang busana pengantin Dirga-Margareta. Berwarna biru laut pucat, akan menyatu dengan suasana pernikahan diatas kapal ditengah samudra.
Sebuah kapal putih dengan kamar kelas satu, yang disetiap kamarnya ada kamar mandi air hangat. Ruangan nahkoda dilengkapi kamar para perwira tinggi kapal, kamar layaknya hotel berbintang lima. Dengan kapal sekoci disisi kapalnya, beranjungan memiliki kolam renang, cafe, dan bar kecil, ruang karaoke.
Margareta asyik melukis laut, langit, dan pantai berpasir putih. Diatas kapal Dewi yang terpaut didermaga, diatas ruang nahkoda tempat dikendalikannya kapal. Lukisan sepanjang 2 meter dan tinggi 1,5 meter itu sebagai latar pernikahannya nanti. Awan yang putih mengumpal-gumpal dilangit biru yang cerah, laut biru yang dalam berombak tenang mengiring buihnya kepasir putih, sepi tak ada nelayan dan seorangpun disana, hanya langit, laut, dan pantai menyatu serasi.
Burung-burungpun tak ingin terbang diatas lautan yang dilukis Margareta. Tak ada juga pohon nyiur yang melambai. Tak ada pulau kecil tuk menepikan perahu.
Dirga mendesain sebuah kristal biru berbentuk kapal,sepanjang 1 meter sebagai mas kawinnya, dan cincin emas putih bermatakan permata kristal blue safire. Cincin itu diletakkan ditengah kapal kristal biru.Ternyata Dirga seorang yang bisa romantis disela garis wajahnya yang tegas keras kaku. Kapal kristal itu diletakkan dipiring kristal putih yang dihiasi kristal berbentuk bunga-bunga teratai ungu dan magenta. Diatas meja marmer hijau berukir, diletakkan maskawin itu.
Pernikahan terjadi pukul delapan pagi, mereka menuju kapal Dewi untuk mengadakan resepsi pernikahan diatas kapal, gaun biru muda yang dikenakan Margareta panjang menjuntai sampai menyapu lantai tangga-tangga yang dia naiki menuju lantai paling atas yang hanya diperuntukkan nahkoda kapal.
Para tamu undangan menyaksikan sepasang pengantin itu dari bawah, tepatnya dianjungan kapal, disekitar kolam renang dan cafe. Resepsi pernikahan berakhir pukul sebelas siang dan pengantin itu melempar bunga kebawah sebagai akhir resepsi, dan mereka memasuki kamar pengantin, kamar paling atas dan paling megah.
Bagi seorang laki-laki ritual itu sudah selesai, tapi bagi seorang gadis ritual itu masih ada satu langkah lagi, yaitu melepaskan dan merobekkan selaput darah yang hanya sekali terjadi.
Mereka berdua duduk ditepi tempat tidur, tanpasehelai benangpun melekat di tubuh mereka berdua. Dirga meletakkan tangan Margareta diatas alat vitalnya yang paling sensitif, dan  Dirga meletakkan tangannya diatas alat vital Maegareta, perlahan kaki Margareta merapat,”Aku masih perawan, jangan merobeknya dengan jari.”
“Tidak kulakukan, sayang sekali kalau jemariku yang menikmatinya, apa kamu sudah siap?”
“Perempuan selalu tidak siap bila pertama kali, tapi aku bisa menahannya karena kedewasaanku.”
Dirga meletakkan Margareta ditempat tidur biru, lampu temaram biru tidak terpengaruh karena cahaya matahari masih bersinar terang.
Margareta meremas punggung Dirga, Dirga sedikit menggelitik pinggangnya agar tidak terlalu tegang dang melemaskan kaki-kaki Margareta yang kaku.
Margareta yang sepanjang acara tersenyum-senyum sambil tertawa kecil, kini meringis menahan nyeri, dan bernapas lega setelah ritual itu selesai. Dirga meletakkan Margareta diatas pelukannya setelah tuntas tugasnya sebagai seorang suami.
“Kita buka hadiah?”Dirga memberi usul ke Margareta, melihat hadiah yang menumpuk dilantai kamar.
“Iya, kita buka yang paling besar, ini seperti lukisan atau foto.”
Dibukanya hadiah dari Dean sebuah foto pra wedding, berukuran 2 x 1,5 meter.
“Ada dua yang seperti itu, kalau ini dari Dosi.” Dirga membuka hadiah ang berbentuk sama dengan yang dibuka Margareta, sebuah lukisan Dosi, lukisan Margareta yang sedang melukis pantai diatas kapal.
“Dosi seorang penguntit, dari mana dia tahu aku sedang melukis dengan warna pakaian yang sama saat aku melukis pantaiku.” Margareta mengomentari hadiah dari Dosi.
“Sekarang kita buka yang paling kecil.” Dirga mengalihkan pembicaraan,”Ini sepasang jam tangan berlian, ini dari Duga.”
“Yang paling kecil lainnya adalah alat GPS yang ada kompas berjarum emas, ini dari Domi.”
“Dear menghadiahkan baju tidur sutra biru untukmu, Margareta. Padahal kita tidak perlu pakai baju tidur bila malam pengantin,hahaha.”
“Duka paling mengerti keinginanku, hadiah sebuah kamera semi manual dengan lensa yang terbaru dan tercanggih optik zoom nya.”
“Terakhir ini pasti hadiah dari Dion.”
“Coba aku lihat, Dion saudaramu itu membuatku penasaran, coba kamu lihat hadiahnya tidak lucu, kotak besar ini berisi lengkap selimut bayi, jaket bayi, baju celana bayi, sampai topi dan sepatu bayi.”
“Dion menginginkan kita cepat mengasilkan anak.”
Margareta mengenakan baju panjang sutera hadiah dari Dear, sambil melihat keluar jendela kaca, dibawah sana, Duka dan Domi sedang berenang. Duga dan Dion dua orang yang tidak suka basah, hanya duduk di cafe, Duga membaca buku, Dion mengetik data transaksi onlinenya di atas laptopnya. Dosi dan Dean sibuk mengambil foto-foto pantai. Dear sibuk memasang pancing.
Rina dan Niken menunggu hasil pancingan dari Dear dan menyiapkan pemanggang ikan.
Rina juga mengadakan pemotretan diujung kapal, beberapa kali Dean mengganti kostum Rina.
“Apa Rina merupakan model produk-produk  fashion DeDe colection?”Margareta juga melihat dari kamarnya kebawah, tempat diadakannya pemotretan diatas kapal.
“Iya, sebentar lagi kita akan turun di pulau Pink dan menginap dengan tenda disana, kamu suka?”Dirga mengingatkan rencana perjalan bulan madu mereka.
“Hm....apa aku juga bisa jadi model untuk produk-produk fashion DeDe?”Margareta hanya mengangguk menjawab perkataan Dirga dan melanjutkan pertanyaannya tentang pemotretan produksi fashion DeDe.
“Modelnya harus mempunyai rambut panjang, lurus dan tebal hitam, rambutmu pendek dan ikal coklat?”
“Kenapa seperti itu?”
“Karena terkadang DeDe colection menampilkan fashion baju-baju daerah Indonesia yang harus disanggul. Kita persiapan turun untuk menurunkan sekoci, karena kapal kita tidak bisa bersandar terlalu dekat dengan pantainya, pantainya terlalu dangkal dan berkarang.”
Mereka berdua, Dirga dan Margareta, turun kebawah tempat dimana keluarga berkumpul, dikolam renang dan di cafe. Dirga mengisyaratkan semua laki-laki untuk membantunya menurunkan sekoci dan sauh, mereka menuju pantai Pink dengan menggunakan sekoci.
Di pulau Pink mereka membuat delapan tenda dan mempersiapkan meja panjang juga alat pemanggang ikan, malam ini mereka tidur di pinggir pantai sambil menikmati ikan bakar dan bulan purnama.
Dean mengambil moment senja di pulau Pink, sebagai dasar pemotretannya, Rina berdiri membelakangi pantai yang sedang senja, dan beberapa fotonya berdiri ditenda-tenda warna-warni yang telah terpasang berderet dipinggiran pantai.
Dosi mengambil pasir di pulau Pink dan kerang-kerang yang berada disana untuk dibuat bahan lukisannya. Dosi juga mengambil beberapa sudut foto pantai Pink, untuk salah satu pameran photography yang akan dibuat Domi untuknya.
Dean membuatkan sepasang pakaian untuk moment Dirga dan Margareta di tepi pantai Pink, berdua mereka di foto saling berhadapan dengan latar belakang, pantai Pink menjelang senja.











               






Tidak ada komentar:

Posting Komentar