INISIAL ‘D’
Dalam seri 2 : “PERNIKAHAN
DIATAS KAPAL”
Margareta adalah
seorang gadis nahkoda kapal barang, kalau memakai seragam nahkodanya dan
berkacamata modis berganggang tebal coklat bertopi nahkoda dia tampak sebagai
seorang yang berwatak keras, namun ketika dia melepas seragam itu, dia seorang
perempuan yang pesolek. Postur tubuhnya tinggi besar, wajahnya indo-eropa, di
KTP nya Islam, hanya itu.
Sejak pertunangan
beberapa hari yang lalu Margareta pindah ke rumah kaca biru yang berlantai 4
itu, menunggu hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Barang-barang
pribadinya bertahap merubah suasana ruang keluarga dirumah itu, 8 unit alat
kebugaran, dari alat mengencangkan tangan, alat mengencangkan kaki, alat mengencangkan
pinggang, sepeda ditempat, alat berlari ditempat, dan peralatan yoga, bola-bola
untuk yoga termasuk lilin-lilin aroma terapi pelengkap yoga. Sisi samping kolam
renang menjadi penuh peralatan olahraga itu.
Meja-meja marmer
kecil menghiasi sudut ruangan, pot-pot keramik yang berisi bunga mawar kini
diletakkan diatas meja marmer berdampingan dengan miniatur kapal pinisi.
Dinding meja makan ada lukisan kapal dan lautan, dibawah lukisan itu ada meja
marmer dengan miniatur kapal dari karet yang dipolitur dan kapal dari rangkaian
cengkeh. Diujung ruang makan, disisi lainnya ada botol besar yang didalamnya
ada kapal kayu berukir, unik.
Piring-piring dan
gelas dari cina berbunga keemasan, disimpan dan dirubah menjadi piring biru
dengan gambar kapal. Sesuai dengan selera Margareta. Di tambah satu lemari es
lagi didapur berisi buah-buahan dan sayuran, juga aneka jus segar, kebiasaan
Margareta meminumnya setelah berolahraga dengan beberapa alat kebugarannya.
Perubahan
yang tidak begitu menyolok karena terlebih dahulu Rina juga membuat perubahan
yang sama dengan taman bersarang, dengan angsa dan kandang merpati, ikan koi
dan teratainya, didalamnya. Bunga-bunga anggrek, bunga-bunga kaktus, dan
bunga-bunga mawar memenuhi ruangan dan taman.
Pagi itu sarapan
pertama Margareta dengan seluruh anggota keluarga.
“Apa lagi yang
ingin kamu rubah Margareta ? hingga kamu nyaman tinggal dirumah ini bersama
kami.” Duka menyapa Margareta yang duduk diujung meja makan.
“Sementara hanya
ini yang aku punya, semoga tidak mengganggu dan masih ada tempat untuk
menampungnya didalam rumah ini.”
“Tenang saja kita
suka perubahan.” Dosi juga menjawab perkataan Margareta sebagai perkenalan.
“Apa aku boleh
mencicipi jus buahmu ? Rina juga ikut berbicara.
“Boleh dengan
senang hati, ini jus campuran beberapa buah buatanku sendiri.”
“Menarik sekali
warna dan rasanya ?” Dean menilai rasa jus yang disajikan.
“Itu jus jambu
merah dicampur wortel, jeruk, stoberry, dan apel merah.”
“Banyak juga
campurannya, aku kira hanya dua jenis buah.”Dear ikut berkomentar dengan jus
Margareta.
“Kamu suka
miniatur kapal?”Dion bertanya.
“Iya, miniatur
kapal pinisi berkayu hitam kudapatkan ketika berlayar ke Makasar, miniatur
kapal karet aku dapatkan dari Samarinda, miniatur kapal dari cengkeh aku
dapatkan dari Banjarmasin, dan kapal dalam botol aku dapatkan dari Pontianak.”
Margareta menjelaskan koleksinya.
“Kalau
lukisannya?” Dosi juga ikutan bertanya.
“Itu lukisan
pertamaku ketika pertama kali berlayar disebuah kapal.” Jawab Margareta.
“Kamu juga pandai
melukis?” Dosi bertanya lagi dan Margareta menjawab dengan anggukan.
“Lain kali, atau
besok pagi kita berbincang-bincang lagi dimeja makan ini.” Duka menutup acara
perkenalan dimeja makan itu.
Dan Margareta
mengajak Rina untuk menemaninya berolah raga, tapi Rina menolak karena dia
sibuk bekerja dikantor Dion di perusahaan ‘EXPEDISI’ nya.
Malamnya, setelah
Rina menidurkan Duta, Rina mencari kucingnya yang berlari digudang belakang,
tempat paling belakang parkirnya truk-truk. Diikutinya lari kucingnya yang
masuk gudang.
Gudang yang berisi
barang-barang dalam kotak-kotak dus berwarna coklat, beberapa tumpuk peti
kemas, dan satu bus rumah yang menyala, gudang yang tingginya 10 meter itu
berlantai dua. Rina naik ke lantai 2, ternyata ada sebuah kamar tidur, dapur,
dan kamar mandi.
“Dirga, kamu
berada diatas gudang?”
“Kucingmu beranak
didapur ruangan ini.” Dirga menunjukkan keranjang yang dilapisi selimut,
terdapat induk kucing persia menyusui keempat anaknya.
“Siapa yang berada
dalam bus itu?”
“Dion membuat bus
rumah yang lengkap isinya seperti rumah kecil berkamar satu, dapur, dan kamar
mandi, kami berdua sering tinggal dan bermain dalam gudang ini semenjak kecil.”
“Jadi Margareta
tidur sendirian dikamar, dilantai 3.”
“Pastilah, kita
baru merencanakan pernikahan beberapa hari, kita belum boleh sekamar.”
“Kalau gitu aku
titipkan kucingku disini untuk menemanimu tidur digudang, malam ini aku siaran
diradio, dengarkan suaraku ya, untuk hiburan sampai tengah malam nanti.”
Pagi itu, Margareta dan Niken mempersiapkan
makan pagi, Margareta membuat jus apokat dicampur melon dan buah naga sedikit
susu cair manis sebagai pengganti gula.
Sementara menunggu anggota keluarga
berkumpul Margareta mengayuh sepedanya di tempat kebugaran, berlarian, dan
menarik beban untuk menguatkan otot bisep dan trisepnya. Duduk di bola yoga dan
mengatur pernapasan sebagai penutup olahraganya.
“Kalau kamu bosan dirumah lebih baik
berjalan-jalan dengan diantar sopirke mall.” Duka memberikan saran kepada
Margareta.
“Tidak, banyak yang kulakukan disini,
melihat ikan dan kura-kura milik Rina, menyirami bunga-bunga ditaman, itu hal
baru untukku dan sangat menarik, membantu Niken memasak, melihat Rina siaran
radio, melihat pemotretan yang dilakukan Dean.”
“Kamu bisa juga melihat CCTV, orang yang
sedang mengadakan pembedahan mata dan mulut.” Duga juga memberi saran kepada
Margareta.
“Tidak itu menakutkan, aku takut darah.”
“Kamu suka laut dan segala petualangannya,
tapi kamu takut darah, bukankah itu sesuatu yang sama menantangnya.” Duka juga
ikut berbicara sesama seorang dokter.
“Darimana kamu mendapatkan piring yang
bergambar lukisan kapal dan laut?”Dosi merubah arah pembicaraan.
“Itu kudapatkan dari berlayar ke Singapura,
lukisan yang dicetak diatas keramik, sangat artistik.”Margareta menjawab
pertanyaan Dosi.
“Kamu suka olah raga? Duka dan Domi pernah
masuk seleksi untuk ikut olimpiade renang, sayangnya ayah melarang kami
mendalami kehidupan seorang olahragawan.”Dean mengamati kesukaan Margareta
berolah raga.
“Aku bisa berenang tapi bukan untuk
berolahraga rutin.”
“Duga juga suka berlarian setiap malam
mengelilingi halaman rumah.”Dear juga menambahkan perkataan saudara seibunya
itu sambil tersenyum manis.
“Olah raga ringan yang menyenangkan, tidak
berat tapi sebagai terapi jiwa juga, seperti yoga itu sebenarnya yang paling
kusukai.”
Pembicaraan itu menutup acara makan pagi
yang rutin dilakukan.
Dirga mengosongkan kapal penumpangnya yang
bernama ‘DEWI’ untuk acara pernikahan nanti diatas kapal. Jadwal kapal Dirga
memang 3 bulan penuh untuk kapal barang berlayar, kapal bernama ‘DEWA’, 3 bulan
penuh untuk berlayar kapal penumpangnya yang bernama ‘DEWI’. Jadi 3 bulan ini waktunya
kapal Dewi beristirahat,sekaligus dimanfaatkan untuk acara pernikahan ditengah
Samudra Indonesia.
Rina sudah mempersiapkan baju renang, dan
menyiapkan segala sesuatunya dalam koper untuk dibawa diatas kapal sebagai tamu
undangan pernikahan Dirga-Margareta.
Niken juga sibuk mempersiapkan apa saja
kebutuhan keempat anaknya yang juga akan dibawa diatas kapal menghadiri
pernikahan Dirga-Margareta.
Dean dan Dear lebih sibuk lagi membuat
dekorasi didalam kapal dan merancang seragam pakaian yang digunakan keluarga,
dan termasuk merancang busana pengantin Dirga-Margareta. Berwarna biru laut
pucat, akan menyatu dengan suasana pernikahan diatas kapal ditengah samudra.
Sebuah kapal putih dengan kamar kelas satu,
yang disetiap kamarnya ada kamar mandi air hangat. Ruangan nahkoda dilengkapi
kamar para perwira tinggi kapal, kamar layaknya hotel berbintang lima. Dengan
kapal sekoci disisi kapalnya, beranjungan memiliki kolam renang, cafe, dan bar
kecil, ruang karaoke.
Margareta asyik melukis laut, langit, dan
pantai berpasir putih. Diatas kapal Dewi yang terpaut didermaga, diatas ruang
nahkoda tempat dikendalikannya kapal. Lukisan sepanjang 2 meter dan tinggi 1,5
meter itu sebagai latar pernikahannya nanti. Awan yang putih mengumpal-gumpal
dilangit biru yang cerah, laut biru yang dalam berombak tenang mengiring
buihnya kepasir putih, sepi tak ada nelayan dan seorangpun disana, hanya
langit, laut, dan pantai menyatu serasi.
Burung-burungpun tak ingin terbang diatas
lautan yang dilukis Margareta. Tak ada juga pohon nyiur yang melambai. Tak ada
pulau kecil tuk menepikan perahu.
Dirga mendesain sebuah kristal biru
berbentuk kapal,sepanjang 1 meter sebagai mas kawinnya, dan cincin emas putih
bermatakan permata kristal blue safire. Cincin itu diletakkan ditengah kapal
kristal biru.Ternyata Dirga seorang yang bisa romantis disela garis wajahnya
yang tegas keras kaku. Kapal kristal itu diletakkan dipiring kristal putih yang
dihiasi kristal berbentuk bunga-bunga teratai ungu dan magenta. Diatas meja
marmer hijau berukir, diletakkan maskawin itu.
Pernikahan terjadi pukul delapan pagi,
mereka menuju kapal Dewi untuk mengadakan resepsi pernikahan diatas kapal, gaun
biru muda yang dikenakan Margareta panjang menjuntai sampai menyapu lantai
tangga-tangga yang dia naiki menuju lantai paling atas yang hanya diperuntukkan
nahkoda kapal.
Para tamu undangan menyaksikan sepasang
pengantin itu dari bawah, tepatnya dianjungan kapal, disekitar kolam renang dan
cafe. Resepsi pernikahan berakhir pukul sebelas siang dan pengantin itu
melempar bunga kebawah sebagai akhir resepsi, dan mereka memasuki kamar
pengantin, kamar paling atas dan paling megah.
Bagi seorang laki-laki ritual itu sudah
selesai, tapi bagi seorang gadis ritual itu masih ada satu langkah lagi, yaitu
melepaskan dan merobekkan selaput darah yang hanya sekali terjadi.
Mereka berdua duduk ditepi tempat tidur,
tanpasehelai benangpun melekat di tubuh mereka berdua. Dirga meletakkan tangan
Margareta diatas alat vitalnya yang paling sensitif, dan Dirga meletakkan tangannya diatas alat vital
Maegareta, perlahan kaki Margareta merapat,”Aku masih perawan, jangan
merobeknya dengan jari.”
“Tidak kulakukan, sayang sekali kalau
jemariku yang menikmatinya, apa kamu sudah siap?”
“Perempuan selalu tidak siap bila pertama
kali, tapi aku bisa menahannya karena kedewasaanku.”
Dirga meletakkan Margareta ditempat tidur
biru, lampu temaram biru tidak terpengaruh karena cahaya matahari masih
bersinar terang.
Margareta meremas punggung Dirga, Dirga
sedikit menggelitik pinggangnya agar tidak terlalu tegang dang melemaskan
kaki-kaki Margareta yang kaku.
Margareta yang sepanjang acara
tersenyum-senyum sambil tertawa kecil, kini meringis menahan nyeri, dan
bernapas lega setelah ritual itu selesai. Dirga meletakkan Margareta diatas
pelukannya setelah tuntas tugasnya sebagai seorang suami.
“Kita buka hadiah?”Dirga memberi usul ke
Margareta, melihat hadiah yang menumpuk dilantai kamar.
“Iya, kita buka yang paling besar, ini
seperti lukisan atau foto.”
Dibukanya hadiah dari Dean sebuah foto pra
wedding, berukuran 2 x 1,5 meter.
“Ada dua yang seperti itu, kalau ini dari
Dosi.” Dirga membuka hadiah ang berbentuk sama dengan yang dibuka Margareta,
sebuah lukisan Dosi, lukisan Margareta yang sedang melukis pantai diatas kapal.
“Dosi seorang penguntit, dari mana dia tahu
aku sedang melukis dengan warna pakaian yang sama saat aku melukis pantaiku.”
Margareta mengomentari hadiah dari Dosi.
“Sekarang kita buka yang paling kecil.”
Dirga mengalihkan pembicaraan,”Ini sepasang jam tangan berlian, ini dari Duga.”
“Yang paling kecil lainnya adalah alat GPS
yang ada kompas berjarum emas, ini dari Domi.”
“Dear menghadiahkan baju tidur sutra biru
untukmu, Margareta. Padahal kita tidak perlu pakai baju tidur bila malam
pengantin,hahaha.”
“Duka paling mengerti keinginanku, hadiah
sebuah kamera semi manual dengan lensa yang terbaru dan tercanggih optik zoom
nya.”
“Terakhir ini pasti hadiah dari Dion.”
“Coba aku lihat, Dion saudaramu itu
membuatku penasaran, coba kamu lihat hadiahnya tidak lucu, kotak besar ini
berisi lengkap selimut bayi, jaket bayi, baju celana bayi, sampai topi dan
sepatu bayi.”
“Dion menginginkan kita cepat mengasilkan
anak.”
Margareta mengenakan baju panjang sutera
hadiah dari Dear, sambil melihat keluar jendela kaca, dibawah sana, Duka dan
Domi sedang berenang. Duga dan Dion dua orang yang tidak suka basah, hanya
duduk di cafe, Duga membaca buku, Dion mengetik data transaksi onlinenya di atas
laptopnya. Dosi dan Dean sibuk mengambil foto-foto pantai. Dear sibuk memasang
pancing.
Rina dan Niken menunggu hasil pancingan
dari Dear dan menyiapkan pemanggang ikan.
Rina juga mengadakan pemotretan diujung
kapal, beberapa kali Dean mengganti kostum Rina.
“Apa Rina merupakan model produk-produk fashion DeDe colection?”Margareta juga melihat
dari kamarnya kebawah, tempat diadakannya pemotretan diatas kapal.
“Iya, sebentar lagi kita akan turun di pulau
Pink dan menginap dengan tenda disana, kamu suka?”Dirga mengingatkan rencana
perjalan bulan madu mereka.
“Hm....apa aku juga bisa jadi model untuk
produk-produk fashion DeDe?”Margareta hanya mengangguk menjawab perkataan Dirga
dan melanjutkan pertanyaannya tentang pemotretan produksi fashion DeDe.
“Modelnya harus mempunyai rambut panjang,
lurus dan tebal hitam, rambutmu pendek dan ikal coklat?”
“Kenapa seperti itu?”
“Karena terkadang DeDe colection
menampilkan fashion baju-baju daerah Indonesia yang harus disanggul. Kita
persiapan turun untuk menurunkan sekoci, karena kapal kita tidak bisa bersandar
terlalu dekat dengan pantainya, pantainya terlalu dangkal dan berkarang.”
Mereka berdua, Dirga dan Margareta, turun
kebawah tempat dimana keluarga berkumpul, dikolam renang dan di cafe. Dirga
mengisyaratkan semua laki-laki untuk membantunya menurunkan sekoci dan sauh,
mereka menuju pantai Pink dengan menggunakan sekoci.
Di pulau Pink mereka membuat delapan tenda
dan mempersiapkan meja panjang juga alat pemanggang ikan, malam ini mereka
tidur di pinggir pantai sambil menikmati ikan bakar dan bulan purnama.
Dean mengambil moment senja di pulau Pink,
sebagai dasar pemotretannya, Rina berdiri membelakangi pantai yang sedang
senja, dan beberapa fotonya berdiri ditenda-tenda warna-warni yang telah
terpasang berderet dipinggiran pantai.
Dosi mengambil pasir di pulau Pink dan
kerang-kerang yang berada disana untuk dibuat bahan lukisannya. Dosi juga
mengambil beberapa sudut foto pantai Pink, untuk salah satu pameran photography
yang akan dibuat Domi untuknya.
Dean membuatkan sepasang pakaian untuk
moment Dirga dan Margareta di tepi pantai Pink, berdua mereka di foto saling
berhadapan dengan latar belakang, pantai Pink menjelang senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar