Sabtu, 13 November 2010


INISIAL ‘D’
Dalam seri 4 : “DUNIA OBAT DUNIA CINTA”
                “Lamaran ayah sepertinya ditolak keluarganya, kamu tidak memberitahukan ke ayah kalau Wulan bukan orang Indonesia asli, Duka, semuanya berkulit putih dan bermata sipit.”
                Itu adalah suara Danu didalam telepon memberitahukan berita kepada Duka.
                “Apa kamu akan pergi ke Cina, untuk mengambil S2 atau karena keluargamu menolakku?”
                “Tidak aku ingin memperdalam akupuntur dan pengobatan herbal Cina.”
                “Aku akan memanggilmu bekerja kembali disini, setelah kamu meluluskan S2 di Cina, tentu dengan standart gaji S2.”
                “Aku senang mendengar itu.”
                “Kamu berniat menikah dengan seseorang yang se-etnis denganmu?”
                “Saat ini aku tidak berfikir untuk menikah.”
                “Aku menunggumu, aku harap kamu mau kembali bila aku memintamu kembali.”
                Wulan mengangguk setuju dengan pernyataan Duka.
                Beberapa tahun setelah itu....
                “Lamaran ayah untuk kedua kalinya ditolak, coba tanya pada kekasihmu apa dia berniat hidup denganmu sebagai suami-istri, dan coba kalian berbicara berdua, solusi yang terbaik, bila ayah sudah tidak mampu mengatasinya, kalian berdua sudah cukup dewasa.”
                Duka menerima telpon dari Danu dan memberitahukan hasil lamarannya yang ditolak.
                “Coba kalau kamu mencintaiku, tinggallah sementara dirumah ini dan kita membicarakan berdua solusi terbaiknya.”Duka menemui Wulan mengenai orang tua Wulan yang tak kunjung memberi restu.
                “Itu tidak baik.”
                “Lalu kamu ingin pergi lagi dariku, dan menghindar seperti beberapa tahun yang lalu, buktinya masalah itu tidak pernah menjadi selesai, kita menikah secara Islam dan mengundang orang tuamu, bila mereka tidak hadir dalam pernikahan kita, setelah menikah, kita berdua datang hanya untuk meminta restu pernikahan kita.”
                “Berarti kita harus menentang orang tuaku?”
                “Kita mengambil keputusan berdua dan kita menanggungnya berdua.”
                “Iya.”Akhirnya Wulan setuju dan meng-iya-kan ajakan Duka.
                Dari telpon Danu memberikan pendapat tentang pernikahan yang akan Duka dan Wulan langsungkan,”Kamu tanyakan baik-baik pada Wulan, mas kawin apa yang dia minta dan resepsi pernikahan yang bagaimana yang dia inginkan.”
                “Mas kawin apa yang kamu minta dan pernikahan yang seperti apa yang ingin kamu langsungkan.”Duka menyampaikan perkataan Danu.
                “Aku ingin akad nikah di masjid Cheng Ho, dan maskawin patung naga dari batu geok berwarna hijau coklat, patung macan dari batu geok berwarna putih, dua cincin geok hijau, dan dua gelang geok hijau. Resepsinya dengan adat Cina.”
                “Hanya itu?”
                “Sambil berjalannya rencana akan aku fikirkan lagi.”
                “Mulai hari ini akan aku pesankan mas kawinnya, dan akad nikahnya melihat jadwal di masjid Cheng Ho, kapan waktu luangnya.”Duka menjelaskan dan Wulan mengangguk.
                Wulan mulai memindahkan barang-barang pribadinya terutama peralatan akupuntur, alat-alat kimia pembuat obat. Peralatan hobby Wulan, guci-guci Cina dan bahan lukis akrilik untuk melukis di guci.
Kini di dapur bertambah satu kulkas box, milik Wulan, berisi bahan ikan dan daging sebagai bahan pembuat sussi. Dinding meja makan berhadapan dengan lukisan Margareta, diletakkan Wulan lemari gantung kayu berkotak-kotak, dua kotak tegak lurus x enam kotak horisontal, berisi miniatur kuil Ling Yin, miniatur istana-istana di Cina salah satunya Yi He Yuan, dan guci-guci Cina bergambar dewa-dewa Cina, Dewa Fuxi dan Dewa Nuwa, Dewa pembelah bumi Pangu.
Dimeja marmer bertambah lagi pohon keberuntungan, pohon koin emas dari geok coklat dan hijau, ditengah pot bunga mawar dan miniatur kapal pinisi.
Sepasang piring dan gelas dari Tiongkok, dipakai untuk makan berdua dengan Duka dan Wulan.
“Kamu masih membakar lidi seperti adat istiadat Cina?”Dosi bertanya tentang kebiasaan Wulan yang unik sebelum makan,berdoa dengan sangat khidmat.
“Tidak saya seorang muslim.”
“Oh.....Apakamu juga suka melukis seperti Margareta?”Dosi bertanya lagi, dan Wulan hanya mengangguk.
“Melukis di guci.”
“Kalau ada waktu aku ingin belajar melukis di guci denganmu.”Dosi mengakhiri acara pengenalan keluarga di sarapan pagi itu.
Di hari minggu, Wulan memesan usus besar sapi yang sudah dibersihkan kotorannya, direndam cuka, jeruk, dan asam. Kemudian diisi daging cincang yang sudah dicampur bumbu dan telur. Kemudian direndam air kapur, terakhir diasapkan menggunakan alat pengasap daging yang dibawa Wulan. Wulan ahli membuat sossis.
Kalau ada waktu senggang setelah bekerja di apotik, Wulan mengajari Niken dan Rina membuat kimchi, sayuran yang difermentasikan, rasanya asam, pedas, dan manis.
Malam hari, Wulan menuju tempat Dean-Dear, melihat sampai dimana proses pembuatan baju pengantin Cina yang berwarna merah saga, dan disulam benang emas berbentuk gambar naga.
Mas kawin telah datang diletakkan dikamar Duka, ukiran patung naga dari batu geok berwarna hijau kecoklatan sepanjang 80 cm, dan ukiran patung macan putih dari batu geok putih sepanjang 80 cm juga, 2 cincin batu geok hijau, dan 2 gelang batu geok hijau.
Kartika mengijinkan Wulan ber-spa dikolam plastiknya, spa dengan susu hangat beraroma bunga dan buah. Dan beryoga dengan Margareta setiap menjelang tidur malam, menggunakan aroma terapi, lilin-lilin berparfum, untuk menenangkan jiwa juga memperlancar aliran darah.
Undanganpun telah dicetak, undangan berwarna merah saga dengan tulisan bertinta emas.
Masjid Cheng Ho, juga telah menentukan tanggal akad nikahnya. Tinggal menunggu hari. Tinggal menghitung hari.
Gerimis di bulan Pebruari, tepat ditahun baru Cina,  bukan karena dihotel berbintang lima dan ada pertunjukkan baronsai, lampion merah, kue bulan dan manisan, tapi hari itu hari pernikahan Duka dan Wulan.
Hotel berbintang itu telah sepi, mobil pengantin mengantarkan Duka ke penginapan, rumah panggung kayu yang ada sungai-sungaian, penginapan berdesain rumah Jepang klasik. Liang-liong, baronsai telah meninggalkan halaman penginapan, hanya nyala lampion.
“Biasanya seorang pengantin perempuan akan menangis perlahan di malam pertamanya, menurut adat Cina.”
“Kamu akan menangis seperti itu?”
“Aku belum pernah merasakannya.”
“Rumit sekali melepaskan kancing-kancing bajumu.”
“Supaya sedikit berfantasi.”
“Rumah kayu ini berdenyit kalau sedikit digoyang. Wulan jangan tidur, kita belum selesai.”
                Seminggu berbulan madu, dikamar Duka banyak terdapat hadiah pernikahan, salah satunya hadiah terbesar, dan terlebar, dibuka pertama kali oleh Wulan.
                “Ini adalah lukisan diriku, sedang memakai baju pengantin merah berhias sulam benang emas bergambar naga, dikelilingi liang-liong, dan macan, baronsai, lampion, didepan penginapan berdesain Jepang klasik, yang kita pesan untuk berbulan madu.”
“Aku bisa menerka itu lukisan siapa?”Duka menjawab perkataan Wulan.
“Siapa?”
“Dosi.”



               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar