INISIAL ‘D’
Dalam seri 4 : “DUNIA
OBAT DUNIA CINTA”
“Lamaran ayah
sepertinya ditolak keluarganya, kamu tidak memberitahukan ke ayah kalau Wulan
bukan orang Indonesia asli, Duka, semuanya berkulit putih dan bermata sipit.”
Itu adalah suara
Danu didalam telepon memberitahukan berita kepada Duka.
“Apa kamu akan
pergi ke Cina, untuk mengambil S2 atau karena keluargamu menolakku?”
“Tidak aku ingin
memperdalam akupuntur dan pengobatan herbal Cina.”
“Aku akan
memanggilmu bekerja kembali disini, setelah kamu meluluskan S2 di Cina, tentu
dengan standart gaji S2.”
“Aku senang
mendengar itu.”
“Kamu berniat
menikah dengan seseorang yang se-etnis denganmu?”
“Saat ini aku
tidak berfikir untuk menikah.”
“Aku menunggumu,
aku harap kamu mau kembali bila aku memintamu kembali.”
Wulan mengangguk
setuju dengan pernyataan Duka.
Beberapa tahun
setelah itu....
“Lamaran ayah
untuk kedua kalinya ditolak, coba tanya pada kekasihmu apa dia berniat hidup
denganmu sebagai suami-istri, dan coba kalian berbicara berdua, solusi yang
terbaik, bila ayah sudah tidak mampu mengatasinya, kalian berdua sudah cukup
dewasa.”
Duka menerima
telpon dari Danu dan memberitahukan hasil lamarannya yang ditolak.
“Coba kalau kamu
mencintaiku, tinggallah sementara dirumah ini dan kita membicarakan berdua
solusi terbaiknya.”Duka menemui Wulan mengenai orang tua Wulan yang tak kunjung
memberi restu.
“Itu tidak baik.”
“Lalu kamu ingin
pergi lagi dariku, dan menghindar seperti beberapa tahun yang lalu, buktinya
masalah itu tidak pernah menjadi selesai, kita menikah secara Islam dan
mengundang orang tuamu, bila mereka tidak hadir dalam pernikahan kita, setelah
menikah, kita berdua datang hanya untuk meminta restu pernikahan kita.”
“Berarti kita
harus menentang orang tuaku?”
“Kita mengambil
keputusan berdua dan kita menanggungnya berdua.”
“Iya.”Akhirnya
Wulan setuju dan meng-iya-kan ajakan Duka.
Dari telpon Danu
memberikan pendapat tentang pernikahan yang akan Duka dan Wulan
langsungkan,”Kamu tanyakan baik-baik pada Wulan, mas kawin apa yang dia minta
dan resepsi pernikahan yang bagaimana yang dia inginkan.”
“Mas kawin apa
yang kamu minta dan pernikahan yang seperti apa yang ingin kamu
langsungkan.”Duka menyampaikan perkataan Danu.
“Aku ingin akad
nikah di masjid Cheng Ho, dan maskawin patung naga dari batu geok berwarna
hijau coklat, patung macan dari batu geok berwarna putih, dua cincin geok
hijau, dan dua gelang geok hijau. Resepsinya dengan adat Cina.”
“Hanya itu?”
“Sambil
berjalannya rencana akan aku fikirkan lagi.”
“Mulai hari ini
akan aku pesankan mas kawinnya, dan akad nikahnya melihat jadwal di masjid
Cheng Ho, kapan waktu luangnya.”Duka menjelaskan dan Wulan mengangguk.
Wulan mulai
memindahkan barang-barang pribadinya terutama peralatan akupuntur, alat-alat
kimia pembuat obat. Peralatan hobby Wulan, guci-guci Cina dan bahan lukis akrilik
untuk melukis di guci.
Kini di dapur bertambah satu kulkas box,
milik Wulan, berisi bahan ikan dan daging sebagai bahan pembuat sussi. Dinding
meja makan berhadapan dengan lukisan Margareta, diletakkan Wulan lemari gantung
kayu berkotak-kotak, dua kotak tegak lurus x enam kotak horisontal, berisi
miniatur kuil Ling Yin, miniatur istana-istana di Cina salah satunya Yi He
Yuan, dan guci-guci Cina bergambar dewa-dewa Cina, Dewa Fuxi dan Dewa Nuwa, Dewa
pembelah bumi Pangu.
Dimeja marmer bertambah lagi pohon
keberuntungan, pohon koin emas dari geok coklat dan hijau, ditengah pot bunga
mawar dan miniatur kapal pinisi.
Sepasang piring dan gelas dari Tiongkok,
dipakai untuk makan berdua dengan Duka dan Wulan.
“Kamu masih membakar lidi seperti adat
istiadat Cina?”Dosi bertanya tentang kebiasaan Wulan yang unik sebelum
makan,berdoa dengan sangat khidmat.
“Tidak saya seorang muslim.”
“Oh.....Apakamu juga suka melukis seperti
Margareta?”Dosi bertanya lagi, dan Wulan hanya mengangguk.
“Melukis di guci.”
“Kalau ada waktu aku ingin belajar melukis
di guci denganmu.”Dosi mengakhiri acara pengenalan keluarga di sarapan pagi
itu.
Di hari minggu, Wulan memesan usus besar
sapi yang sudah dibersihkan kotorannya, direndam cuka, jeruk, dan asam.
Kemudian diisi daging cincang yang sudah dicampur bumbu dan telur. Kemudian
direndam air kapur, terakhir diasapkan menggunakan alat pengasap daging yang
dibawa Wulan. Wulan ahli membuat sossis.
Kalau ada waktu senggang setelah bekerja di
apotik, Wulan mengajari Niken dan Rina membuat kimchi, sayuran yang
difermentasikan, rasanya asam, pedas, dan manis.
Malam hari, Wulan menuju tempat Dean-Dear,
melihat sampai dimana proses pembuatan baju pengantin Cina yang berwarna merah
saga, dan disulam benang emas berbentuk gambar naga.
Mas kawin telah datang diletakkan dikamar
Duka, ukiran patung naga dari batu geok berwarna hijau kecoklatan sepanjang 80
cm, dan ukiran patung macan putih dari batu geok putih sepanjang 80 cm juga, 2
cincin batu geok hijau, dan 2 gelang batu geok hijau.
Kartika mengijinkan Wulan ber-spa dikolam plastiknya,
spa dengan susu hangat beraroma bunga dan buah. Dan beryoga dengan Margareta
setiap menjelang tidur malam, menggunakan aroma terapi, lilin-lilin berparfum,
untuk menenangkan jiwa juga memperlancar aliran darah.
Undanganpun telah dicetak, undangan
berwarna merah saga dengan tulisan bertinta emas.
Masjid Cheng Ho, juga telah menentukan
tanggal akad nikahnya. Tinggal menunggu hari. Tinggal menghitung hari.
Gerimis di bulan Pebruari, tepat ditahun
baru Cina, bukan karena dihotel
berbintang lima dan ada pertunjukkan baronsai, lampion merah, kue bulan dan
manisan, tapi hari itu hari pernikahan Duka dan Wulan.
Hotel berbintang itu telah sepi, mobil
pengantin mengantarkan Duka ke penginapan, rumah panggung kayu yang ada
sungai-sungaian, penginapan berdesain rumah Jepang klasik. Liang-liong,
baronsai telah meninggalkan halaman penginapan, hanya nyala lampion.
“Biasanya seorang pengantin perempuan akan
menangis perlahan di malam pertamanya, menurut adat Cina.”
“Kamu akan menangis seperti itu?”
“Aku belum pernah merasakannya.”
“Rumit sekali melepaskan kancing-kancing
bajumu.”
“Supaya sedikit berfantasi.”
“Rumah kayu ini berdenyit kalau sedikit digoyang.
Wulan jangan tidur, kita belum selesai.”
Seminggu berbulan
madu, dikamar Duka banyak terdapat hadiah pernikahan, salah satunya hadiah
terbesar, dan terlebar, dibuka pertama kali oleh Wulan.
“Ini adalah
lukisan diriku, sedang memakai baju pengantin merah berhias sulam benang emas
bergambar naga, dikelilingi liang-liong, dan macan, baronsai, lampion, didepan
penginapan berdesain Jepang klasik, yang kita pesan untuk berbulan madu.”
“Aku bisa menerka itu lukisan siapa?”Duka
menjawab perkataan Wulan.
“Siapa?”
“Dosi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar