Sabtu, 13 November 2010

INISIAL ‘D’
Dalam seri 5 : KENDO DAN ANESTHESIA

                Sari mencari sahabatnya, melalui lorong-lorong ruangan bedah, melewati ruang kebugaran milik Margareta, melewati ruang spa milik Kartika, dibelakang apotik Dunia obat, ruang praktek akupuntur milik Wulan, tidak juga ada Wulan.
                “Wulan berada di seberang kolam renang, ditepi taman, diujung ruang berkaca itu,”Margareta yang sedang bersenam pagi, diatas alat-alat kebugarannya, memperhatikan Sari yang kebingungan dengan ruangan dibelakang kantor-kantor, rumah kaca biru yang berlantai 4 itu.
                Kemudian Sari menuju kesana sesuai petunjuk Margareta,”Terima kasih.
                Dengan susah payah berkeliling seluruh taman, taman bersarang, kolam ikan, taman anggrek, ternyata Wulan berada di sudut ruangan dengan jendela besar berteralis, sibuk dengan tanaman bonsainya, berderet rapi di bawah tanaman kaktus milik Rina. Duduk dibawah jendela dengan meja panjang berisi bonsai, peralatan lukis, dan guci-guci putih.
                “Hai Sari, sulit sekali mengelilingi ruangan disini, untung aku menemukanmu. Kita ber-kendo bersama seperti biasa?”
                “Tunggu aku sedang merawat beberapa bonsaiku, sayang sekali agak tidak segar karena perubahan suhu.Dan melukis bonsaiku diatas guci ini.”
                “Bonsai apa itu?”
                “Ini bunga sakura dan tanaman buah plum, sayangnya disini tidak berbunga atau berbuah, jadi kelihatan sedikit tidak indah.”
                “Tanaman itu cocok didaerah beriklim dingin, bukan daerah tropis seperti di Indonesia.”Wulan mengangguk mengiyakan perkataan Sari.
                Sementara itu Sari mempersiapan peralatan kendo, berupa men (pelindung kepala), do (pelindung badan), kote (pelindung tangan), tare (pelindung kemaluan), semua peralatan itu disebut bogu. Senjata kendo dari bambu yang disebut shinai.
                Kendo olah raga bela diri yang berpasangan, saling seirama melangkah berhadapan dengan lawannya, teknik melangkah dalam kendo yang mereka sering lakukan : Ashi-sabaki (teknik melangkah), Ayumi-ashi (melangkah ke depan dengan menyeretkan kaki secara bergantian), Haraki-ashi (melangkah ke kiri atau ke kanan dengan menyeretkan kaki sebesar 45 derajat), Okuri-ashi (melangkah ke depan dengan menyeretkan kaki; kaki kanan selalu berada di depan kaki kiri. Langkah ini adalah langkah yang paling banyak digunakan dalam latihan kendo.
            Mereka menyerang dengan teknik dan sesuai teori kendo :  Kihon (teknik dasar), Seme (bergerak maju mendekati lawan, mengambil posisi untuk melakukan tebasan kecil), Suburi (latihan tebasan berulang-ulang, seperti joge buri, sho-men, kote, dan do), Joge buri (tebasan besar, dimulai dari punggung sampai ke arah lantai), Sa-yu men  (pukulan yang diarahkan ke kanan dan ke kiri, sasarannya adalah pelipis kepala), Shomen (tebasan kepala), Nikkado men (tebasan kepala dua kali berturut-turut), Haya suburi (tebasan cepat yang dilakukan sambil melompat), Kiri kaeshi (tebasan kepala berulang-ulang ke kanan dan kiri ke arah pelipis lawan, yang dimulai dari gerakan men biasa satu kali, kemudian sa-yu-men ke depan sebanyak empat kali, dilanjutkan sa-yu-men ke belakang sebanyak lima kali, diakhiri dengan men biasa satu kali).
            Walaupun jurus-jurus dalam kendo sedikit menyeramkan tapi Sari dan Wulan bergantian memperaktekkannya dengan gurauan dan senang hati. Mereka berdua merupakan sahabat dari SMA.
            “Haaaahaaaaa,”Sari selalu tertawa bila mengakhiri jurus-jurus dalam kendo,”Kamu bahagia Wulan, apa Duka memperlakukanmu dengan baik, kalau dia mengecewakanmu, panggil aku, sahabatmu, akan kugunakan seluruh jurus kendo untuk membuat Duka kapok.”
            “Duka sangat baik, sopan dan halus perangainya, hingga aku lupa dengan segala jurus kendo, dan ikhlas meninggalkan ibu dan ayahku yang menentang pernikahan ini, tapi Duka juga sopan dengan kedua orang tuaku setiap minggu kami berdua selalu bersilaturahmi walau setiap itu juga selalu diberi penolakkan.”
            “Kamu harus bersabar semua pasti akan berbuah sangat manis.”
            “Iya, buahnya sangat manis, kebahagiaanku ini. Ayo kita buat sushi dan sashimi, Duka dan orang-orang disini kurang menyukai makana laut yang mentah, jadi kita berdua bisa puas menikmati sushi.”
            Sari membantu Wulan memasukkan peralatan kendo kedalam laci-laci di meja panjang dibawah bonsai dan peralatan lukis guci. Mereka berdua menuju dapur yang terletak disamping kamar Duga.
            “Aku lebih suka merendam daging-daging ikan mentah dan gurita ini dalam air cuka beras ditambah gula, perasan jeruk cuih, bubuk cabe, dan merica untuk menghilangkan rasa amis ikan mentah, selagi kita menyiapkan telur dadar, irisan timun, wijen, dan lembaran rumput laut.”Sari menjelaskan sambil melakukan langkah pertama membuat sushi.
            “Okelah sesuai seleramu yang berlidah Indonesia.” Wulan mengikuti langkah-langkah yang diawali oleh Sari.”Kamu menyayat daging sangat hati-hati seperti memegang pisau bedah, apa sama yang kamu lakukan dimeja operasi.”
            “Tidak lah, aku seorang dokter anesthesia, menidurkan dan membangunkan pasien yang akan dioperasi, dan ahli penghilang rasa sakit bila pasien tersebut dalam stadium terakhir di penyakit kanker sebagai memperpanjang usianya.”
            “Kamu tidak merasa seperti tuhan kan?”
            “Awalnya aku sedikit stres bila melihat pasien-pasien ku ada yang meninggal dimeja operasi atau pasien yang mengidap kanker stadium akhir satu-persatu mereka menghadapi kematian, tapi lama-kelamaan kita sadar manusia hanya boleh berusaha tanpa bisa menentukan.”
            “Sushi ala Sari-Wulan.”Wulan menyajikan makanan sushinya dimeja makan.
            “Sepi sekali rumah ini, banyak penghuninya tapi sepi, atau ruangan disini terlalu banyak jadi susah dicarinya.”Sari mengamati seluruh ruangan.
            “Mereka masih sibuk bekerja, walau menjelang maghrib seperti sekarang ini.”
            “Duka?”
            “Duka beristirahat sebentar diruang prakteknya bila ada adzan sholat, tapi prakteknya sampai malam, apalagi kalau ada acara bedah mulut, bisa-bisa sampai tengah malam.”
            “Aku sering membantu Duka bila ada operasi besar pada rahang dan mulut bagian dalam.”
            Sari akhirnya kembali keruang operasi ketika ada panggilan telpon untuk operasi.
            “Sering-sering kemari bila ada waktu senggang kita kendo bersama dan makan sushi.”Wulan berteriak ketika temannya pergi meninggalkannya sendiri diruang makan.
            “Kalau begitu tunggu aku dimeja makan aku akan menemuimu kembali setelah operasiku selesai.”Sari membalas teriakan Wulan sambil terus melangkah.
            Usai sholat Isya’, Wulan menunggu Sari dimeja makan ditemani Margareta yang membuat jus buah setelah melakukan yoga, dan tidak berapa lama Kartika yang mengambil cuti hamil ikut bergabung setelah usai juga mandi spa dikolam plastik spanya.
            “Hai, kalian lagi makan malam?”Sari menghampiri Wulan, Margareta dan Kartika dimeja makan.
            “Kami menunggumu, kami ingin mengajakmu kekantor produksi tempat Fashion DeDe, kami ingin memesan beberapa gaun.”Kartika menjawab sapaan Sari.
            “Okelah, kita kesana.”Wulan segera beranjak dari duduknya dan mengajak berdiri semuanya.
            Sampai ditempat produksi fashion DeDe.
            “Aku tidak pernah melihatmu?”Sari menegur Dear.
            “Dia memang pengotrol diruang produksi DeDe, jadi tidak pernah tampil didepan layar, mungkin yang sering kamu lihat Dean, mereka bersaudara.”Wulan menjelaskan dear hanya tersenyum mendengarnya.
            “Dear ini Sari, ahli Anesthesia, Sari ini Dear, saudara kami semua, hehehe.”Kartika saling mengenalkan Sari dan Dear dengan gaya lucunya.
            “Apa kamu kemana-mana memakai baju bedahmu yang hijau-hijau itu?”Margareta mengomentari cara berbusana Sari.
            “Aku tidak sempat berganti pakaian, dari pembedahan satu ke pembedahan lainnya, dari ruang operasi satu ke ruang operasi dua.”Sari hanya melihat Wulan, Margareta, dan Kartika sibuk mengeluarkan ide gaunnya dan Dear mewujudkannya dengan desainnya diatas kertas gambar.
            “Buatlah beberapa gaun seperti kita.”Wulan memberi saran kepada sahabatnya.
            Akhirnya setelah semua memperoleh rancangan gaun yang diinginkan, Sari paling akhir mengemukakan desain pakaiannya.
            Tapi Dear, memberikan sarannya sendiri, karena menurutnya gaun rancangan Sari yang disampaikan tidak mampu Dear gambarkan dikertas gambarnya.
            “Kalau memang ingin baju yang bermotif polos yang sederhana, untuk pergi kekantor atau tempat kerja, praktis sesuai dengan orang sibuk sepertimu, jangan bergaun rumit, celana panjang lebar tidak ketat berbentuk kulot, dan blues berlengan pop sebatas siku, di bis kecil dipinggiran lengannya, dengan blues tanpa krah berbentuk V, membuka menyilang seperti baju kimono, berbahan katun berwarna krem. Kalau ingin baju bermotif bunga, berbunga besar-besar kontemporer dengan warna lembut merah muda dan kuning, lengannya klok sebatas siku, seperti roknya yang klok sepanjang betis, sedikit diberi kerutan dipinggangnya agar baju yang terusan ini ada sedikit bentuknya, tidak terlalu polos langsung kebawah walau terusan.” Pendapat Dear yang langsung diwujudkan dalam bentuk rancangan dikertas gambar, disetujuan Sari.”Langsung diambil disini, dua minggu lagi.OK.”
            “Kamu menilaiku sebagai orang yang aneh?”
            “Tidak, aku menilaimu dari profesimu sebagai dokter, yang harus berhati-hati dalam mengobati pasiennya yang tengah menghadapi hidup atau mati, dan kamu tidak harus membunuh pasienmu walau detak jantungnya tak teraba, walau napasnya tinggal 123, walau pun hanya ditanganmu seolah-olah tanganmu dipercaya tuhan mencabut nyawanya,tapi tidak kamu lakukan, hanya tuhan pencabut nyawa sesungguhnya.”Sari terdiam, mendengar penjelasan Dear, dari Sari yang telah mendiagnosa Dear, seolah Dear adalah pasiennya yang tengah diuji kebenaran keluhan pasiennya.
            “Dia tersembunyi seperti mencari duri dalam sekam, sepertimu Sari, tersembunyi diantara dokter specialis bedah umum, dan dibalik baju operasimu yang kamu pakai kemana saja.”Wulan menilai Dear dan Sari sambil menuju ruangan keluar mengantarkan Sari ditempat parkir mobilnya untuk pulang kerumahnya.
            Dua minggu kemudian....
            “Baju ini ringan, meresap keringat, dan tidak ribet kalau harus cekatan menangani pasien gawat darurat dengan cedera berat yang perlu segera ditangani rasa sakitnya, aku boleh pesan gaun untuk pesta, gambarkan gaun yang cocok untuk karakterku?”
            “Walau sepertinya hidupmu lurus-lurus saja tanpa gejolak yang berarti, tapi kamu perempuan yang mempunyai pemikiran yang tidak sederhana hingga dalam mengambil keputusan penuh pertimbangan yang sangat matang dan terus-menerus kamu mengujinya, baru keputusan itu kamu ambil, gaun yang cocok untukmu berwarna magenta, perpaduan yarna merah terang dan biru muda, perpaduan warna yang sempurna, akan kuberi batuan permata mirah delima, dengan tumpukan beberapa gaun di roknya yang berimpel padat dan 4 kali klok, lebar, berat, dan detail, tapi berbahan ringan sifon sutra.”Dear memberikan saran gaun special berkarakter.
            “Sepatu dan tas yang digunakan.”
            “Berbahan kulit sapi berwarna ungu muda, sepatu bot panjang tepat dibawah lutut, berhag tidak tinggi dan tidak meruncing, setinggi 5 cm. Tasnya juga kulit, tas genggam dihiasi permata mirah delima, berwarna senada dengan sepatunya, ungu muda.”
            “Aku hampir tidak punya waktu libur untuk pesta, gaun itu akan kugunakan saat menghadiri pernikahan adikku.”
            “Adikmu menikah berarti kamu sudah mempunyai anak?”
            “Aku belum menikah, bagaimana aku punya anak?Dua adikku sudah menikah, aku anak pertama, kami hanya tiga bersaudara. Aku akan mengundangmu, kita akan pergi bersama dipernikahan itu, akan kukenalkan pada semua tamu undangan tentang gaun rancanganmu.”
            “Aku berusa keras untuk itu, dan terima kasih.”
            “Aku yang seharusnya berterima kasih.”Sari sangat tertegun dengan kepribadian Dear yang sopan dan murah hati.
Dear memakai jas berwarna gelap ungu, berjalan berdua menuju acara pernikan, malam itu.
            Ada senyum ikhlas diwajah Sari menyaksikan pernikahan adik perempuannya dan adik perempuannya yang satunya sudah membawa dua anak. Karena bahagia, Dear menggenggam tangan Sari dan Sari tidak menyadarinya. Begitu sabar dan tenang wajah Sari, walau dibalik wajah itu ada kegelisahan, mengapa karier lebih penting dari berkeluarga? Hingga tatapan Dear bukan menghayati acara pernikan tapi menikmati wajah Sari yang anggun, dengan gaun berdetail bertumpuk-tumpuk, berimpel padat menjadi berat dan rumit, walau berbahan sehalus dan selembut sutra.
            Dear mengantarkan Sari kerumah pribadinya yang megah dan mewah, rumah yang mampu dibeli Sari dari uangnya sendiri tanpa serupiah pun bantuan dari orang lain.
            Siapa yang menyangka Sari menangis bersedih karena usianya yang berkepala empat tidak juga hatinya terketuk untuk mencari teman hidup yang akan menemaninya dirumah mewahnya. Tak ada juga gurauan anak-anak yang mengisi kesunyian rumahnya.
            “Berapa usiamu?”Itu yang pernah Sari tanyakan pada Dear, sepintas lalu di tempat kerjanya.
            “25 tahun.” itu jawaban Dear dengan singkat.
            Seminggu setelah acara pernikahan adik Sari, Dear menemui Sari ketika sedang berlatih kendo bersama Wulan, sore itu.
            “Kamu mau mencoba gaun buatanku, selembut satin sutra berwarna kuning pucat, untuk acara pernikahan temanku, acaranya dua hari lagi. Malam hari.”Dear menyapa Sari. Sari menyetujui.
            “Aku akan meminta ijin Duga untuk mengosongkan jadwal operasiku dua hari lagi.”
            Dua hari setelah itu, baju satin bergelombang-gelombang penuh menjuntai, rok yang dipakai Sari, model smoke, dengan atasan penuh asesoris berbunga-bunga mawar senada dengan kain satin sutranya, kuning pucat. Dear menggunakan jas cream pucat senada dengan gaun Sari. Pasangan yang banyak mengundang sorotan mata, pasangan yang serasi dan elegant.
            “Bagaimana pernikahan yang kamu mimpikan?”Dear bertanya pada Sari ketika sampai dipintu gerbang rumah Sari, ketika Sari hendak turun dari mobil.
            “Pernikahan dirumahku ini, dengan sederhana tapi penuh makna.”Sari menjawab sekenanya karena sudah sangat larut dan ingin cepat-cepat masuk kedalam rumahnya.
            Ketika sampai dirumah, Dear memberikan sms kepada Sari,”Terimakasih, dan selamat tidur, mimpi yang indah.”
            Tidak pernah Dear tersenyum lebar sendirian seperti ini, karena tersentuh kepribadian Sari yang tenang dan mandiri.
            Diam-diam ketika rumah telah sepi dan remang, tidak ada seorang pun penghuninya terbangun, terlelap karena malam, dibukanya kamar kerja Sari didalam ruang-ruang bedah, dibelakang tempat kerja Duga. Baju-baju yang dipesan pada Dear tergantung rapi dilemari kaca disebelah tempat tidur berukuran 90 x 200 cm, dindingnya dihiasi samurai berukuran panjang sampai ukuran kecil. Meja kerjanya terdapat alat suntik dan ampul-ampul obat analgetik penghilang rasa sakit dan obat tidur dosis tinggi. Bergegas Dear mengunci kamar itu, karena berbahaya, banyak obat-obatan keras dan berbahaya.
            Sore itu ketika Sari berlatih kendo dengan Wulan dan kemudian belajar melukis di guci, Dear menghampiri.
            “Apa kalian ingin undangan fashion show yang diadakan Dean?”
            “Aku tidak bisa, jadwal operasiku padat.”Sari menolak tawaran Dear tanpa basa-basi.
            “Aku juga selain menjaga apotik juga sibuk menerima pasien yang mau akupuntur.”
            “Kesibukan apa yang kalian inginkan selain kendo, bonsai, melukis guci, danmakan sushi?”
            “Berkencan dengan suami.”Wulan yang menjawab pertanyaan Dear, sedangkan Sari diam saja.
            “Apa kamu ada kencan Sari?”Dear memberanikan diri bertanya, dan Sari dengan malunya hanya menggelengkan kepala,”Kalau kencan denganku, bagaimana?”
            “Kamu siapkan saja pakaian yang cocok untuk Sari, karena Sari hanya membawa baju bedah hijau-hijau, dan juga kapan waktunya, agar Sari membuat jadwal tetap untuk menolak jadwal operasi dihari itu.”Wulan memberikan saran kepada Dear.
            “Baiklah. Bagaimana denganmu Sari?”
            “Perempuan tentu malu menjawab langsung jawaban IYA nya, kamu perlu yang mempersiapkan diri, Sari yang tinggal menyesuaikan.”Wulan memberitahukan ke Dear, Sari tersenyum tersipu.
            “OK.”
            Minggu malam, selesai operasi terakhir Sari, Dear menunggunya di meja makan.
            “Aku tidak biasa mengajak keluar perempuan dimalam hari, lebih baik kamu makan disini, kemudian aku antarkan pulang kerumahmu.”
            Ternyata apa yang dikawatirkan Sari tidak terjadi, Sari juga tidak biasa diajak berkencan keluar rumah lewat tengah malam.
            “Selamat malam.”Itu sms Dear ketika melihat rumah Sari telah dimatikan lampunya, dan Dear baru menyalakan mobil meninggalkan rumah Sari.
            Sari tersenyum menjelang tidurnya.
            Suatu saat Dear bertanya pada Sari,”Apa yang kamu bayangkan tentang pernikahan?”
            “Sekali seumur hidup.”Itu jawaban Sari yang singkat.
            “Apa yang kamu pikirkan tentang perceraian?”Dear bertanya lagi.
            “Segala permasalahan bisa menyebabkan atau pemicu perceraian tapi sebenarnya tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, semua permasalahan sebenarnya bisa dirundingkan dan diselesaikan, tidak ada peraturan yang terlalu kaku selama belum ada pengadilan tuhan semua pasti ada kebijaksanaannya.”Itu jawaban Sari, yang sesuai dengan profesinya, bahwa kita tidak berhak menentukan mati atau hidupnya seseorang hanya tuhan penentu hidup mati manusia.
            “Barang apa yang belum kamu punyai sampai sekarang dan menjadi obsesimu?”
            “Aku kolektor samurai, aku ingin samurai bersarung emas dan berganggang emas, diletakkan diatas dua gading gajah utuh dengan pangkalnya juga dilapisi emas.”
            “Kamu suka bunga?”
            “Aku rasa semua perempuan menyukai bunga?”
            “Bunga apa itu?”
            “Semua jenis lili, lili putih, merah, oranye, kuning, ungu, sampai merah muda.”
            “Kapan kamu libur dipagi hari, kita cari berbagai warna lili untuk ditanam dihalaman rumahmu.”
            “Aku senang sekali, sabtu minggu akan kuminta libur penuh, dan kamu sebagai tukang kebun yang menanam lili-lili itu.”
            Dear tertawa senang sekali, baru kali ini senyumnya sampai membuat lesung pipitnya sangat dalam. Dear bertambah tampan.
            Sabtu pagi itu....
            “Aku rasa lili kalau tidak sedang berbunga seperti rumput liar yang lebar daunnya.”
            “Tanam saja, dari yang warna putih, kemudian mengikuti warna pelangi.”
            “Ok.”Dear mulai dengan membalik tanah dihalaman Sari yang tidak terawat, kemudian mengambili rumputnya yang otomatis tercabut karena dibalik tanahnya, kemudian memberinya tanah kompos, pupuk kandang, dan sekam padi. Dan membuat lubang lubang dengan jarak yang teratur, terakhir barulah lilinya ditanam. Penyiraman dengan meniru hujan gerimis membuat tanaman tidak terlalu tergenangi air dan menjaga kelembaban tanah.
            “Cepat juga kamu berkebunnya.”
            “Kalau kamu malas menyiraminya, cukup kamu nyalakan kran ini, maka akan memancar dari pipa-pipa ini menyerupai hujan, setelah beberapa menit otomatis mati sendiri.”Dear menerangkan cara kerja pipa penyiramannya.
            “Kamu sangat pengertian, aku malas merawat tanaman.”
            “Ini aku tanam pohon buah diujung-ujung rumahmu, mangga, jambu biji, dan jambu air, biar kelihatan dingin.”
            “Jeruknya ditanam dihalaman belakang aja.”Sari menyarankan menanam pohon buah jeruk dan belimbing dihalaman belakang rumah.
            “Dibelakang rumahmu dikasih rumput jepang aja lalu dilepas kelinci dan diujung situ diberikandanya dialasi jerami kering dengan pintu kandang terbuka supaya kelincinya bebas keluar masuk kandang.”
            “Oke, dipupuk dulu tanahnya kemudian tanam rumputnya, diujung sana beri kandang kelinci yang tidak bocor kalau hujan.”Sari memberikan komando, Dear tersenyum senang mengikuti komando itu.”Ternyata capek juga berkebun”
            “Yang hanya melihat saja kok terasa capek.”Sari tertawa mendengar protes Dear.”Ajari aku kendo, kamu punya peralatannya kan?”
            “Nanti kamu takut melihatnya?”
            “Tidak, contohkan dulu gerakannya.”
            “Gerakan kendo yang asli menggunakan samurai, tapi karena sudah menjadi olahraga jadi samurainya diganti senjata bambu, gerakannya maju, perlahan kakinya, dan utamakan pedangnya menebas leher.”
            “Seram sekali caramu mencontohkannya. Oh sampai lupa katakan sama pembantumu kalau memberikan makan kelinci pakai biji-bijian jangan sayuran nanti mencret dan mati. Bagaimana kalau kita rubah cat kamar tidurmu dengan warna siver.”
            “Bilang aja pingin lihat kamarku, warnanya sudah berwarna keperak-perakan, kamu kok bisa menebaknya?”
            “Dari bingkai samuraimu yang tergantung didinding luar kamarmu, bingkainya terbuat dari perak dicampur platinum.”
            “Betul itu kalau ada yang mengerti, itu memang platinum bercampur perak, sangat fantastik.”
            “Maling akan takut masuk rumahmu, karena banyak tergantung senjata-senjata tajam, sekali tebas kepala maling itu pasti menggelinding ketanah.”
            “Kita makan diluar setelah sholat dhuhur.”Sari mengajak makan diluar, karena kebiasaan Sari yang tidak bisa memasak, dan kulkasnya kosong, hanya berisi air mineral dan telur.
            Sari dan Dear mampir kerumah orang tua Sari sambil membawa oleh-oleh buah-buahan dan roti. Antara menyetujui dan tidak, reaksi orang tua Sari mengetahui pekerjaan Dear yang hanya seorang desainer dan penjahit baju, tapi melihat usia Sari, orang tuanya menjadi tidak terlalu banyak memilih. Dear menjadi sangat sensitif dibuatnya.
            “Kamu hanya mampu memasak sushi yang bahan ikanya mentah tidak perlu repot menggoreng atau merebusnya, yang rasanya wueeek, kucuali bagi orang pemalas masakan sushi menjadi sedap.”
            “Aku mengenal sushi dan kendo dari sahabatku Wulan, yang pernah berkuliah di Cina dan Jepang.”
            Sampai dirumah kaca, Kartika yang cuti hamil, sedang Sari yang sedang mengambil libur untuk kencan menikmati siang itu dengan meredam diri dalam kolam spa, mereka berdua menikmati mandi susu hangat beraroma bunga.
            “Apa yang sedang kamu beli diinternet?”Dean melihat Dear sibuk didepan laptop, hal yang jarang terjadi, bisanya Dear sibuk didepan meja desainnya atau diatas mesin jahitnya.
            “Membeli samurai emas dan gading berlapis emas.”
            “Untuk mas kawin ya?”
            “Persiapan aja.”Dear santai saja.
            Dua bulan pesanan Dear datang dan dipamerkan kepada Sari.
            “Asli emasnya?”Sari bertanya pada Dear diantara ketakjubannya melihat eloknya samurai yang tidur diatas gading berbingkai emas.
            “Sudah ku cek keasliannya ditukang emas, 96% emas murni.”Dear meletakkan barang berharga itu dikamarnya.”Kamu ingin dilamar dengan ini?”Dear bertanya pada Sari, karena merasa diikuti Sari dibelakangnya, wajah Sari langsung memerah.
            Rumah Sari sudah penuh dengan bunga disekitar rumah dan dipagar hingga sisi tangganya, bukan parade atau dalam mimpi, iya, sebuah pernikahan bertema istana raja, rumah yang didesain seperti singgasana didalam kerajaan, dan ratu dan rajanya duduk dilantai 2, melihat tamu-tamu dilantai 1, sebagai undangan kerajaan.
            Setelah para tamu pulang, sang raja dan ratu, hanya memutar badan lansung masuk kedalam kamar.
            “Sari aku takut tidur didalam kamarmu yang dindingnya dikepung samurai.”
            “Bukankah sebentar lagi kamu yang akan menghunus samurai untukku.”
            “HH, kamu takut?”
            “Tidak, karena aku dokter yang selalu menemani dokter bedah, membedah tubuh pasiennya.”
            “Tapi ini pembedahan tanpa obat bius.”Dear meletakkan jarinya kemulut Sari agar berhenti bicara, karena lebih nikmat dirasakan perlahan dalam hati saja.
            “Didinding tepat diatas tempat tidur kita ada lukisan diriku memakai baju pengantin silver sambil menaiki tangga menuju tempat duduk pengantin, sepertinya mengerti betul letak dalam rumahku.”
            “Sssstt, itu lukisan Dosi.”Dear berbisik ditelinga Sari.

           

                       

           
           

           
           
           
           
           

           
           

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar