INISIAL ‘D’
Dalam seri 5 : KENDO
DAN ANESTHESIA
Sari mencari
sahabatnya, melalui lorong-lorong ruangan bedah, melewati ruang kebugaran milik
Margareta, melewati ruang spa milik Kartika, dibelakang apotik Dunia obat,
ruang praktek akupuntur milik Wulan, tidak juga ada Wulan.
“Wulan berada di
seberang kolam renang, ditepi taman, diujung ruang berkaca itu,”Margareta yang
sedang bersenam pagi, diatas alat-alat kebugarannya, memperhatikan Sari yang
kebingungan dengan ruangan dibelakang kantor-kantor, rumah kaca biru yang
berlantai 4 itu.
Kemudian Sari
menuju kesana sesuai petunjuk Margareta,”Terima kasih.
Dengan susah payah
berkeliling seluruh taman, taman bersarang, kolam ikan, taman anggrek, ternyata
Wulan berada di sudut ruangan dengan jendela besar berteralis, sibuk dengan
tanaman bonsainya, berderet rapi di bawah tanaman kaktus milik Rina. Duduk
dibawah jendela dengan meja panjang berisi bonsai, peralatan lukis, dan
guci-guci putih.
“Hai Sari, sulit
sekali mengelilingi ruangan disini, untung aku menemukanmu. Kita ber-kendo
bersama seperti biasa?”
“Tunggu aku sedang
merawat beberapa bonsaiku, sayang sekali agak tidak segar karena perubahan
suhu.Dan melukis bonsaiku diatas guci ini.”
“Bonsai apa itu?”
“Ini bunga sakura
dan tanaman buah plum, sayangnya disini tidak berbunga atau berbuah, jadi
kelihatan sedikit tidak indah.”
“Tanaman itu cocok
didaerah beriklim dingin, bukan daerah tropis seperti di Indonesia.”Wulan
mengangguk mengiyakan perkataan Sari.
Sementara itu Sari
mempersiapan peralatan kendo, berupa men (pelindung kepala), do (pelindung
badan), kote (pelindung tangan), tare (pelindung kemaluan), semua peralatan itu
disebut bogu. Senjata kendo dari bambu yang disebut shinai.
Kendo olah raga
bela diri yang berpasangan, saling seirama melangkah berhadapan dengan
lawannya, teknik melangkah dalam kendo yang mereka sering lakukan : Ashi-sabaki (teknik melangkah), Ayumi-ashi (melangkah ke depan dengan menyeretkan
kaki secara bergantian), Haraki-ashi (melangkah ke kiri atau ke kanan dengan menyeretkan kaki sebesar 45
derajat), Okuri-ashi (melangkah ke depan dengan menyeretkan kaki; kaki kanan selalu berada di
depan kaki kiri. Langkah ini adalah langkah yang paling banyak digunakan dalam
latihan kendo.
Mereka menyerang dengan
teknik dan sesuai teori kendo : Kihon (teknik dasar), Seme (bergerak maju mendekati lawan, mengambil posisi untuk melakukan tebasan
kecil), Suburi (latihan tebasan berulang-ulang, seperti joge buri, sho-men, kote, dan do), Joge buri (tebasan besar, dimulai dari punggung sampai ke arah lantai), Sa-yu men (pukulan yang diarahkan ke kanan dan ke kiri, sasarannya adalah pelipis kepala), Shomen (tebasan kepala), Nikkado men (tebasan kepala dua kali berturut-turut), Haya suburi (tebasan cepat yang dilakukan sambil melompat), Kiri kaeshi (tebasan kepala berulang-ulang ke kanan
dan kiri ke arah pelipis lawan, yang dimulai dari gerakan men biasa satu kali, kemudian sa-yu-men ke depan sebanyak empat kali, dilanjutkan sa-yu-men ke belakang sebanyak lima kali, diakhiri dengan men biasa satu kali).
Walaupun jurus-jurus dalam
kendo sedikit menyeramkan tapi Sari dan Wulan bergantian memperaktekkannya
dengan gurauan dan senang hati. Mereka berdua merupakan sahabat dari SMA.
“Haaaahaaaaa,”Sari selalu
tertawa bila mengakhiri jurus-jurus dalam kendo,”Kamu bahagia Wulan, apa Duka
memperlakukanmu dengan baik, kalau dia mengecewakanmu, panggil aku, sahabatmu,
akan kugunakan seluruh jurus kendo untuk membuat Duka kapok.”
“Duka sangat baik, sopan
dan halus perangainya, hingga aku lupa dengan segala jurus kendo, dan ikhlas
meninggalkan ibu dan ayahku yang menentang pernikahan ini, tapi Duka juga sopan
dengan kedua orang tuaku setiap minggu kami berdua selalu bersilaturahmi walau
setiap itu juga selalu diberi penolakkan.”
“Kamu harus bersabar semua
pasti akan berbuah sangat manis.”
“Iya, buahnya sangat
manis, kebahagiaanku ini. Ayo kita buat sushi dan sashimi, Duka dan orang-orang
disini kurang menyukai makana laut yang mentah, jadi kita berdua bisa puas
menikmati sushi.”
Sari membantu Wulan memasukkan
peralatan kendo kedalam laci-laci di meja panjang dibawah bonsai dan peralatan
lukis guci. Mereka berdua menuju dapur yang terletak disamping kamar Duga.
“Aku lebih suka merendam
daging-daging ikan mentah dan gurita ini dalam air cuka beras ditambah gula,
perasan jeruk cuih, bubuk cabe, dan merica untuk menghilangkan rasa amis ikan
mentah, selagi kita menyiapkan telur dadar, irisan timun, wijen, dan lembaran
rumput laut.”Sari menjelaskan sambil melakukan langkah pertama membuat sushi.
“Okelah sesuai seleramu
yang berlidah Indonesia.” Wulan mengikuti langkah-langkah yang diawali oleh Sari.”Kamu
menyayat daging sangat hati-hati seperti memegang pisau bedah, apa sama yang
kamu lakukan dimeja operasi.”
“Tidak lah, aku seorang
dokter anesthesia, menidurkan dan membangunkan pasien yang akan dioperasi, dan
ahli penghilang rasa sakit bila pasien tersebut dalam stadium terakhir di
penyakit kanker sebagai memperpanjang usianya.”
“Kamu tidak merasa seperti
tuhan kan?”
“Awalnya aku sedikit stres
bila melihat pasien-pasien ku ada yang meninggal dimeja operasi atau pasien
yang mengidap kanker stadium akhir satu-persatu mereka menghadapi kematian,
tapi lama-kelamaan kita sadar manusia hanya boleh berusaha tanpa bisa
menentukan.”
“Sushi ala Sari-Wulan.”Wulan
menyajikan makanan sushinya dimeja makan.
“Sepi sekali rumah ini,
banyak penghuninya tapi sepi, atau ruangan disini terlalu banyak jadi susah
dicarinya.”Sari mengamati seluruh ruangan.
“Mereka masih sibuk
bekerja, walau menjelang maghrib seperti sekarang ini.”
“Duka?”
“Duka beristirahat
sebentar diruang prakteknya bila ada adzan sholat, tapi prakteknya sampai
malam, apalagi kalau ada acara bedah mulut, bisa-bisa sampai tengah malam.”
“Aku sering membantu Duka
bila ada operasi besar pada rahang dan mulut bagian dalam.”
Sari akhirnya kembali
keruang operasi ketika ada panggilan telpon untuk operasi.
“Sering-sering kemari bila
ada waktu senggang kita kendo bersama dan makan sushi.”Wulan berteriak ketika
temannya pergi meninggalkannya sendiri diruang makan.
“Kalau begitu tunggu aku
dimeja makan aku akan menemuimu kembali setelah operasiku selesai.”Sari
membalas teriakan Wulan sambil terus melangkah.
Usai sholat Isya’, Wulan
menunggu Sari dimeja makan ditemani Margareta yang membuat jus buah setelah
melakukan yoga, dan tidak berapa lama Kartika yang mengambil cuti hamil ikut
bergabung setelah usai juga mandi spa dikolam plastik spanya.
“Hai, kalian lagi makan
malam?”Sari menghampiri Wulan, Margareta dan Kartika dimeja makan.
“Kami menunggumu, kami
ingin mengajakmu kekantor produksi tempat Fashion DeDe, kami ingin memesan
beberapa gaun.”Kartika menjawab sapaan Sari.
“Okelah, kita
kesana.”Wulan segera beranjak dari duduknya dan mengajak berdiri semuanya.
Sampai ditempat produksi
fashion DeDe.
“Aku tidak pernah
melihatmu?”Sari menegur Dear.
“Dia memang pengotrol
diruang produksi DeDe, jadi tidak pernah tampil didepan layar, mungkin yang
sering kamu lihat Dean, mereka bersaudara.”Wulan menjelaskan dear hanya
tersenyum mendengarnya.
“Dear ini Sari, ahli
Anesthesia, Sari ini Dear, saudara kami semua, hehehe.”Kartika saling
mengenalkan Sari dan Dear dengan gaya lucunya.
“Apa kamu kemana-mana
memakai baju bedahmu yang hijau-hijau itu?”Margareta mengomentari cara
berbusana Sari.
“Aku tidak sempat berganti
pakaian, dari pembedahan satu ke pembedahan lainnya, dari ruang operasi satu ke
ruang operasi dua.”Sari hanya melihat Wulan, Margareta, dan Kartika sibuk
mengeluarkan ide gaunnya dan Dear mewujudkannya dengan desainnya diatas kertas
gambar.
“Buatlah beberapa gaun
seperti kita.”Wulan memberi saran kepada sahabatnya.
Akhirnya setelah semua
memperoleh rancangan gaun yang diinginkan, Sari paling akhir mengemukakan
desain pakaiannya.
Tapi Dear, memberikan
sarannya sendiri, karena menurutnya gaun rancangan Sari yang disampaikan tidak
mampu Dear gambarkan dikertas gambarnya.
“Kalau memang ingin baju
yang bermotif polos yang sederhana, untuk pergi kekantor atau tempat kerja,
praktis sesuai dengan orang sibuk sepertimu, jangan bergaun rumit, celana
panjang lebar tidak ketat berbentuk kulot, dan blues berlengan pop sebatas
siku, di bis kecil dipinggiran lengannya, dengan blues tanpa krah berbentuk V,
membuka menyilang seperti baju kimono, berbahan katun berwarna krem. Kalau
ingin baju bermotif bunga, berbunga besar-besar kontemporer dengan warna lembut
merah muda dan kuning, lengannya klok sebatas siku, seperti roknya yang klok
sepanjang betis, sedikit diberi kerutan dipinggangnya agar baju yang terusan
ini ada sedikit bentuknya, tidak terlalu polos langsung kebawah walau terusan.”
Pendapat Dear yang langsung diwujudkan dalam bentuk rancangan dikertas gambar,
disetujuan Sari.”Langsung diambil disini, dua minggu lagi.OK.”
“Kamu menilaiku sebagai
orang yang aneh?”
“Tidak, aku menilaimu dari
profesimu sebagai dokter, yang harus berhati-hati dalam mengobati pasiennya
yang tengah menghadapi hidup atau mati, dan kamu tidak harus membunuh pasienmu
walau detak jantungnya tak teraba, walau napasnya tinggal 123, walau pun hanya
ditanganmu seolah-olah tanganmu dipercaya tuhan mencabut nyawanya,tapi tidak
kamu lakukan, hanya tuhan pencabut nyawa sesungguhnya.”Sari terdiam, mendengar
penjelasan Dear, dari Sari yang telah mendiagnosa Dear, seolah Dear adalah
pasiennya yang tengah diuji kebenaran keluhan pasiennya.
“Dia tersembunyi seperti
mencari duri dalam sekam, sepertimu Sari, tersembunyi diantara dokter specialis
bedah umum, dan dibalik baju operasimu yang kamu pakai kemana saja.”Wulan
menilai Dear dan Sari sambil menuju ruangan keluar mengantarkan Sari ditempat
parkir mobilnya untuk pulang kerumahnya.
Dua minggu kemudian....
“Baju ini ringan, meresap
keringat, dan tidak ribet kalau harus cekatan menangani pasien gawat darurat
dengan cedera berat yang perlu segera ditangani rasa sakitnya, aku boleh pesan
gaun untuk pesta, gambarkan gaun yang cocok untuk karakterku?”
“Walau sepertinya hidupmu
lurus-lurus saja tanpa gejolak yang berarti, tapi kamu perempuan yang mempunyai
pemikiran yang tidak sederhana hingga dalam mengambil keputusan penuh
pertimbangan yang sangat matang dan terus-menerus kamu mengujinya, baru
keputusan itu kamu ambil, gaun yang cocok untukmu berwarna magenta, perpaduan
yarna merah terang dan biru muda, perpaduan warna yang sempurna, akan kuberi
batuan permata mirah delima, dengan tumpukan beberapa gaun di roknya yang
berimpel padat dan 4 kali klok, lebar, berat, dan detail, tapi berbahan ringan
sifon sutra.”Dear memberikan saran gaun special berkarakter.
“Sepatu dan tas yang
digunakan.”
“Berbahan kulit sapi
berwarna ungu muda, sepatu bot panjang tepat dibawah lutut, berhag tidak tinggi
dan tidak meruncing, setinggi 5 cm. Tasnya juga kulit, tas genggam dihiasi
permata mirah delima, berwarna senada dengan sepatunya, ungu muda.”
“Aku hampir tidak punya
waktu libur untuk pesta, gaun itu akan kugunakan saat menghadiri pernikahan
adikku.”
“Adikmu menikah berarti
kamu sudah mempunyai anak?”
“Aku belum menikah,
bagaimana aku punya anak?Dua adikku sudah menikah, aku anak pertama, kami hanya
tiga bersaudara. Aku akan mengundangmu, kita akan pergi bersama dipernikahan
itu, akan kukenalkan pada semua tamu undangan tentang gaun rancanganmu.”
“Aku berusa keras untuk
itu, dan terima kasih.”
“Aku yang seharusnya
berterima kasih.”Sari sangat tertegun dengan kepribadian Dear yang sopan dan murah
hati.
Dear memakai jas berwarna gelap ungu, berjalan berdua menuju acara
pernikan, malam itu.
Ada senyum ikhlas diwajah
Sari menyaksikan pernikahan adik perempuannya dan adik perempuannya yang
satunya sudah membawa dua anak. Karena bahagia, Dear menggenggam tangan Sari dan
Sari tidak menyadarinya. Begitu sabar dan tenang wajah Sari, walau dibalik
wajah itu ada kegelisahan, mengapa karier lebih penting dari berkeluarga?
Hingga tatapan Dear bukan menghayati acara pernikan tapi menikmati wajah Sari yang
anggun, dengan gaun berdetail bertumpuk-tumpuk, berimpel padat menjadi berat
dan rumit, walau berbahan sehalus dan selembut sutra.
Dear mengantarkan Sari
kerumah pribadinya yang megah dan mewah, rumah yang mampu dibeli Sari dari
uangnya sendiri tanpa serupiah pun bantuan dari orang lain.
Siapa yang menyangka Sari
menangis bersedih karena usianya yang berkepala empat tidak juga hatinya
terketuk untuk mencari teman hidup yang akan menemaninya dirumah mewahnya. Tak
ada juga gurauan anak-anak yang mengisi kesunyian rumahnya.
“Berapa usiamu?”Itu yang
pernah Sari tanyakan pada Dear, sepintas lalu di tempat kerjanya.
“25 tahun.” itu jawaban
Dear dengan singkat.
Seminggu setelah acara
pernikahan adik Sari, Dear menemui Sari ketika sedang berlatih kendo bersama
Wulan, sore itu.
“Kamu mau mencoba gaun
buatanku, selembut satin sutra berwarna kuning pucat, untuk acara pernikahan
temanku, acaranya dua hari lagi. Malam hari.”Dear menyapa Sari. Sari
menyetujui.
“Aku akan meminta ijin
Duga untuk mengosongkan jadwal operasiku dua hari lagi.”
Dua hari setelah itu, baju
satin bergelombang-gelombang penuh menjuntai, rok yang dipakai Sari, model
smoke, dengan atasan penuh asesoris berbunga-bunga mawar senada dengan kain
satin sutranya, kuning pucat. Dear menggunakan jas cream pucat senada dengan
gaun Sari. Pasangan yang banyak mengundang sorotan mata, pasangan yang serasi
dan elegant.
“Bagaimana pernikahan yang
kamu mimpikan?”Dear bertanya pada Sari ketika sampai dipintu gerbang rumah Sari,
ketika Sari hendak turun dari mobil.
“Pernikahan dirumahku ini,
dengan sederhana tapi penuh makna.”Sari menjawab sekenanya karena sudah sangat
larut dan ingin cepat-cepat masuk kedalam rumahnya.
Ketika sampai dirumah,
Dear memberikan sms kepada Sari,”Terimakasih, dan selamat tidur, mimpi yang
indah.”
Tidak pernah Dear
tersenyum lebar sendirian seperti ini, karena tersentuh kepribadian Sari yang
tenang dan mandiri.
Diam-diam ketika rumah
telah sepi dan remang, tidak ada seorang pun penghuninya terbangun, terlelap
karena malam, dibukanya kamar kerja Sari didalam ruang-ruang bedah, dibelakang
tempat kerja Duga. Baju-baju yang dipesan pada Dear tergantung rapi dilemari
kaca disebelah tempat tidur berukuran 90 x 200 cm, dindingnya dihiasi samurai berukuran
panjang sampai ukuran kecil. Meja kerjanya terdapat alat suntik dan ampul-ampul
obat analgetik penghilang rasa sakit dan obat tidur dosis tinggi. Bergegas Dear
mengunci kamar itu, karena berbahaya, banyak obat-obatan keras dan berbahaya.
Sore itu ketika Sari
berlatih kendo dengan Wulan dan kemudian belajar melukis di guci, Dear
menghampiri.
“Apa kalian ingin undangan
fashion show yang diadakan Dean?”
“Aku tidak bisa, jadwal
operasiku padat.”Sari menolak tawaran Dear tanpa basa-basi.
“Aku juga selain menjaga
apotik juga sibuk menerima pasien yang mau akupuntur.”
“Kesibukan apa yang kalian
inginkan selain kendo, bonsai, melukis guci, danmakan sushi?”
“Berkencan dengan
suami.”Wulan yang menjawab pertanyaan Dear, sedangkan Sari diam saja.
“Apa kamu ada kencan
Sari?”Dear memberanikan diri bertanya, dan Sari dengan malunya hanya
menggelengkan kepala,”Kalau kencan denganku, bagaimana?”
“Kamu siapkan saja pakaian
yang cocok untuk Sari, karena Sari hanya membawa baju bedah hijau-hijau, dan
juga kapan waktunya, agar Sari membuat jadwal tetap untuk menolak jadwal
operasi dihari itu.”Wulan memberikan saran kepada Dear.
“Baiklah. Bagaimana
denganmu Sari?”
“Perempuan tentu malu
menjawab langsung jawaban IYA nya, kamu perlu yang mempersiapkan diri, Sari yang
tinggal menyesuaikan.”Wulan memberitahukan ke Dear, Sari tersenyum tersipu.
“OK.”
Minggu malam, selesai
operasi terakhir Sari, Dear menunggunya di meja makan.
“Aku tidak biasa mengajak
keluar perempuan dimalam hari, lebih baik kamu makan disini, kemudian aku
antarkan pulang kerumahmu.”
Ternyata apa yang
dikawatirkan Sari tidak terjadi, Sari juga tidak biasa diajak berkencan keluar
rumah lewat tengah malam.
“Selamat malam.”Itu sms
Dear ketika melihat rumah Sari telah dimatikan lampunya, dan Dear baru
menyalakan mobil meninggalkan rumah Sari.
Sari tersenyum menjelang
tidurnya.
Suatu saat Dear bertanya
pada Sari,”Apa yang kamu bayangkan tentang pernikahan?”
“Sekali seumur hidup.”Itu
jawaban Sari yang singkat.
“Apa yang kamu pikirkan
tentang perceraian?”Dear bertanya lagi.
“Segala permasalahan bisa
menyebabkan atau pemicu perceraian tapi sebenarnya tidak ada masalah yang tidak
ada solusinya, semua permasalahan sebenarnya bisa dirundingkan dan
diselesaikan, tidak ada peraturan yang terlalu kaku selama belum ada pengadilan
tuhan semua pasti ada kebijaksanaannya.”Itu jawaban Sari, yang sesuai dengan
profesinya, bahwa kita tidak berhak menentukan mati atau hidupnya seseorang
hanya tuhan penentu hidup mati manusia.
“Barang apa yang belum
kamu punyai sampai sekarang dan menjadi obsesimu?”
“Aku kolektor samurai, aku
ingin samurai bersarung emas dan berganggang emas, diletakkan diatas dua gading
gajah utuh dengan pangkalnya juga dilapisi emas.”
“Kamu suka bunga?”
“Aku rasa semua perempuan
menyukai bunga?”
“Bunga apa itu?”
“Semua jenis lili, lili
putih, merah, oranye, kuning, ungu, sampai merah muda.”
“Kapan kamu libur dipagi
hari, kita cari berbagai warna lili untuk ditanam dihalaman rumahmu.”
“Aku senang sekali, sabtu
minggu akan kuminta libur penuh, dan kamu sebagai tukang kebun yang menanam
lili-lili itu.”
Dear tertawa senang
sekali, baru kali ini senyumnya sampai membuat lesung pipitnya sangat dalam.
Dear bertambah tampan.
Sabtu pagi itu....
“Aku rasa lili kalau tidak
sedang berbunga seperti rumput liar yang lebar daunnya.”
“Tanam saja, dari yang
warna putih, kemudian mengikuti warna pelangi.”
“Ok.”Dear mulai dengan
membalik tanah dihalaman Sari yang tidak terawat, kemudian mengambili rumputnya
yang otomatis tercabut karena dibalik tanahnya, kemudian memberinya tanah
kompos, pupuk kandang, dan sekam padi. Dan membuat lubang lubang dengan jarak
yang teratur, terakhir barulah lilinya ditanam. Penyiraman dengan meniru hujan
gerimis membuat tanaman tidak terlalu tergenangi air dan menjaga kelembaban
tanah.
“Cepat juga kamu
berkebunnya.”
“Kalau kamu malas
menyiraminya, cukup kamu nyalakan kran ini, maka akan memancar dari pipa-pipa
ini menyerupai hujan, setelah beberapa menit otomatis mati sendiri.”Dear
menerangkan cara kerja pipa penyiramannya.
“Kamu sangat pengertian,
aku malas merawat tanaman.”
“Ini aku tanam pohon buah
diujung-ujung rumahmu, mangga, jambu biji, dan jambu air, biar kelihatan
dingin.”
“Jeruknya ditanam
dihalaman belakang aja.”Sari menyarankan menanam pohon buah jeruk dan belimbing
dihalaman belakang rumah.
“Dibelakang rumahmu
dikasih rumput jepang aja lalu dilepas kelinci dan diujung situ diberikandanya
dialasi jerami kering dengan pintu kandang terbuka supaya kelincinya bebas
keluar masuk kandang.”
“Oke, dipupuk dulu tanahnya
kemudian tanam rumputnya, diujung sana beri kandang kelinci yang tidak bocor
kalau hujan.”Sari memberikan komando, Dear tersenyum senang mengikuti komando
itu.”Ternyata capek juga berkebun”
“Yang hanya melihat saja
kok terasa capek.”Sari tertawa mendengar protes Dear.”Ajari aku kendo, kamu
punya peralatannya kan?”
“Nanti kamu takut
melihatnya?”
“Tidak, contohkan dulu
gerakannya.”
“Gerakan kendo yang asli
menggunakan samurai, tapi karena sudah menjadi olahraga jadi samurainya diganti
senjata bambu, gerakannya maju, perlahan kakinya, dan utamakan pedangnya
menebas leher.”
“Seram sekali caramu
mencontohkannya. Oh sampai lupa katakan sama pembantumu kalau memberikan makan
kelinci pakai biji-bijian jangan sayuran nanti mencret dan mati. Bagaimana kalau
kita rubah cat kamar tidurmu dengan warna siver.”
“Bilang aja pingin lihat
kamarku, warnanya sudah berwarna keperak-perakan, kamu kok bisa menebaknya?”
“Dari bingkai samuraimu
yang tergantung didinding luar kamarmu, bingkainya terbuat dari perak dicampur
platinum.”
“Betul itu kalau ada yang
mengerti, itu memang platinum bercampur perak, sangat fantastik.”
“Maling akan takut masuk
rumahmu, karena banyak tergantung senjata-senjata tajam, sekali tebas kepala
maling itu pasti menggelinding ketanah.”
“Kita makan diluar setelah
sholat dhuhur.”Sari mengajak makan diluar, karena kebiasaan Sari yang tidak
bisa memasak, dan kulkasnya kosong, hanya berisi air mineral dan telur.
Sari dan Dear mampir
kerumah orang tua Sari sambil membawa oleh-oleh buah-buahan dan roti. Antara
menyetujui dan tidak, reaksi orang tua Sari mengetahui pekerjaan Dear yang
hanya seorang desainer dan penjahit baju, tapi melihat usia Sari, orang tuanya
menjadi tidak terlalu banyak memilih. Dear menjadi sangat sensitif dibuatnya.
“Kamu hanya mampu memasak
sushi yang bahan ikanya mentah tidak perlu repot menggoreng atau merebusnya,
yang rasanya wueeek, kucuali bagi orang pemalas masakan sushi menjadi sedap.”
“Aku mengenal sushi dan
kendo dari sahabatku Wulan, yang pernah berkuliah di Cina dan Jepang.”
Sampai dirumah kaca,
Kartika yang cuti hamil, sedang Sari yang sedang mengambil libur untuk kencan
menikmati siang itu dengan meredam diri dalam kolam spa, mereka berdua
menikmati mandi susu hangat beraroma bunga.
“Apa yang sedang kamu beli
diinternet?”Dean melihat Dear sibuk didepan laptop, hal yang jarang terjadi,
bisanya Dear sibuk didepan meja desainnya atau diatas mesin jahitnya.
“Membeli samurai emas dan
gading berlapis emas.”
“Untuk mas kawin ya?”
“Persiapan aja.”Dear
santai saja.
Dua bulan pesanan Dear
datang dan dipamerkan kepada Sari.
“Asli emasnya?”Sari
bertanya pada Dear diantara ketakjubannya melihat eloknya samurai yang tidur
diatas gading berbingkai emas.
“Sudah ku cek keasliannya
ditukang emas, 96% emas murni.”Dear meletakkan barang berharga itu dikamarnya.”Kamu
ingin dilamar dengan ini?”Dear bertanya pada Sari, karena merasa diikuti Sari
dibelakangnya, wajah Sari langsung memerah.
Rumah Sari sudah penuh
dengan bunga disekitar rumah dan dipagar hingga sisi tangganya, bukan parade
atau dalam mimpi, iya, sebuah pernikahan bertema istana raja, rumah yang
didesain seperti singgasana didalam kerajaan, dan ratu dan rajanya duduk
dilantai 2, melihat tamu-tamu dilantai 1, sebagai undangan kerajaan.
Setelah para tamu pulang,
sang raja dan ratu, hanya memutar badan lansung masuk kedalam kamar.
“Sari aku takut tidur
didalam kamarmu yang dindingnya dikepung samurai.”
“Bukankah sebentar lagi
kamu yang akan menghunus samurai untukku.”
“HH, kamu takut?”
“Tidak, karena aku dokter
yang selalu menemani dokter bedah, membedah tubuh pasiennya.”
“Tapi ini pembedahan tanpa
obat bius.”Dear meletakkan jarinya kemulut Sari agar berhenti bicara, karena
lebih nikmat dirasakan perlahan dalam hati saja.
“Didinding tepat diatas
tempat tidur kita ada lukisan diriku memakai baju pengantin silver sambil
menaiki tangga menuju tempat duduk pengantin, sepertinya mengerti betul letak
dalam rumahku.”
“Sssstt, itu lukisan Dosi.”Dear
berbisik ditelinga Sari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar