INISIAL ‘D’
Dalam seri 6 : “DUNIA
HITAM”
Disebuah club
malam....
“Ayo keluar.”Dean
menarik seseorang perempuan berada diruang ganti wanita, karena sedang
berlangsung peragaan busana bikini.
“Aku sedang
bekerja, bicarakan semua dengan managerku.”Perempuan itu melepas pegangan
tangan Dean.
“Aku akan
menuntutnya, karena dia membuatmu menandatangani kontrak di event yang sama
tanpa ada pembatalan dan ganti rugi pada pertandatanganan dikontrak perjanjian
yang lama.”
“Apa perdulimu.”
“Aku hanya perduli
denganmu, karena kamu yang akan dituntut, bukan manager tengikmu itu.”
Dan tidak tangan
Dean menggendongnya keluar club malam itu dan menaikkannya kedalam mobil.
“Pecat saja
managermu itu, nanti kuurus kontrakmu dengan rumah produksi yang sama eventnya
denganku peragaan busana, karena aku yang pertama, soal ganti rugi bisa
diperundingkan.”
“Apa enaknya kamu
mengatur hidupku.”
“Ada enaknya, kamu
model dalam peragaan busanaku, ini adalah hidupmu. Aku akan mengantarkanmu
pulang.”
“Aku sudah tidak
punya rumah lagi.”
“Kemana kamu
selama ini?”
“Itulah yang tidak
pernah kamu ketahui selain aku ini aset uangmu.”
“Dengarkan, aku
mengenalmu dari SMA kelas 1, tapi kamu datang dan pergi dariku sesuka-suka
hatimu, kamu membuatku lelah, tapi lebih lelah lagi kalau seumpamanya aku
memulainya dari 0 dengan orang lain. Belajarlah untuk patuh sedikit denganku
dan setia. Itu saja.”
Esok
pagi...Beberapa lemari pakaian ditata di setiap sisi tangga di setiap
lantainya, berhadapan dengan meja marmer yang berisi pot keramik mawar milik
Rina, pohon emas milik Wulan, miniatur kapal pinisi milik Margareta, dan
berhadapan dengan samurai yang digantung disisi-sisi tangga dari lantai 1
hingga lantai 4. Lemari kayu berada di bawah tangga dari lantai 1 hingga lantai
4, berisikan pakaian Mawar.
“Banyak sekali
pakaianmu hingga dikamar Dean tidak juga mampu menampung pakaianmu?”Rina
memerhatikan Mawar mengatur pakaian didalam lemari naik turun di lantai 1
hingga lantai 4.
“Apa pekerjaanmu,
hingga pakaianmu modelnya dari yang bisa dipakai sehari-hari sampai pakaian
yang hanya untuk dipajang.”Kartika ikut membantu Mawar mengeluarkan pakaian
didalam kotak coklat untuk diatur rapi dilemari kayu berukir Jepara.
“Aku peraga
busana.”Mawar menjawab singkat.
“Kamu peragawati,
badanmu kurus seperti tinggal tulang dan kulit, apa peragawati takut
gemuk?”Kartika bertanya lucu.
“Aku harus mampu
mengenakan pakaian apapun sampai yang paling ketat sekalipun, karena itu lebih
ideal sekurus ini.”
Sampai dilantai 4,
dimana dilantai 4 penuh dengan taman bermain anak-anak Niken, kolam balon,
kolam pasir putih, taman hamster, taman rumah semut, jungkat jungkit, pipa
panjang berisi air yang turun naik, ayunan, dan banyak lagi permainan
tantangan.
“Wah dilantai 4
ada taman bermain milik Niken, ditaruh dimana lemari pakaianmu?”
“Itu dibawah
tangga, berhadapan dengan samurainya Sari.”
“Kita main dulu
ditaman bermain milik Niken. Ada prosotan air, ayunan, kolam bola, ada taman
hamster.”
“Kamu seperti
anak-anak, Kartika, suka main air.”
“Hayolah ini
menyenangkan, siang nanti anak Niken baru pulang sekolah, kita bermain
sebentar.”
“Apa betul ini
semut yang membuat rumah didalam kaca ini?”Mawar mengamati rumah semut yang
besar didalam kaca seperti akuarium.
“Iyalah, masak
manusia seiseng itu menggali lorong-lorong kecil dalam tanah.”
“Aku lebih
tertarik mandi spa dikolam spamu Kartika.”
“Oke, kita mandi
spa sekarang.”
Didapur bertambah
satu lemari kaca berisi koleksi botol beer milik Mawar, dan pagi itu disarapan
pagi, Mawar ikut dalam acara rutin ini.
“Seharusnya kalau
kamu colector botol beer, isinya yang beralkohol itu tidak ikut kamu koleksi
kan?”Duka membuka pembicaraan pagi itu.
“Maksud Duka, kamu
harus membuang minuman memabukkan itu, botolnya boleh kamu koleksi.”Wulan
menerjemahkan meksud perkataan suaminya.
“Kamu juga harus
menghormati makanan didepanmu.”Duka menegur Mawar dua kalinya.
Dean langsung
melepas jas nya dan menutupi badan Mawar yang hanya mengenakan bikini.
Acara makan pagi
berakhir, Mawar kembali ke kamar Dean, diikuti oleh Dean.
“Aku harap kamu
tidak tertekan tinggal disini, dan cepat menyesuaikandiri.”Dean berbicara
berdua dengan mawar ditepi tempat tidur.
“Tidak aku senang,
mereka orang-orang yang baik dan jauh dari kehidupan yang hitam sepertiku.”
“Aku ada show
diluar negri, kalau didalam kota kamu akan selalu aku ajak, setelah show ku
selesai ayahku akan melamarmu kerumah orang tuamu, bersabarlah, dan jadikan
hidupmu lebih baik, dan bahagia.”Dean pamit ke Mawar untuk pergi mengejar
pesawat keluar negri.
Didapur Mawar
membantu Niken membuang isi minuman beralkohol dan meletakkan botolnya kembali
ke dalam lemari milik Mawar, untuk
koleksi.
“Minuman
beralkohol ini membuat hidupmu berantakan dan tidak karuan, ini adalah awal
hidup barumu yang lebih tenang.”Niken memberi nasehat kepada Mawar, dan Mawar
mengangguk senang.
Malam hari,
didepan kamar Dean dan Dear, dilantai yang dilapisi lapin terbuat dari rotan
jari, yang biasanya dibuat Sari berlatih kendo sendirian, Mawar berdisko dengan
musik cha-cha. Musik yang keras itu menarik perhatian Sari sepulang dari
operasinya, sambil mengayunkan samurai dari bambunya tepat disamping leher
Mawar, spontan Mawar menghentikan tariannya.
“Kamu membuatku
takut.”
“Apa tarian
cha-cha mengunakan bikini?”
Akhirnya Mawar
menutupi bikininya dengan rok rumbai,”Ini sekedar melepas jenuh.”
“Aku juga ingin
menari denganmu dengan diiringi musik cha-cha.”Sari meminta rok rumbai pada
Mawar dan memakainya bertumpukkan dengan celana hijau seragam bedah.”Ini sama
mengasyikannya seperti kendo,hhhhh.”
Mereka berdua
menari sampai lelah dan hingga larut malam.
Beberapa bulan
Dean meninggalkan Mawar.....
“Mengapa aku
menemukanmu disini lagi....hh?”Dean mencari Mawar dan menemukan Mawar di cafe,
sedang mabuk.
“Aku merindukanmu
kamu meninggalkanku terlalu lama.”Mawar memeluk leher Dean yang membawanya
pergi dari tempat itu.
“Jangan menyiksaku
seperti ini, aku meninggalkanmu untuk bekerja, kalau kamu bosan dan tertekan
dirumah kamu bisa belanja ke mall-mall, tapi tidak mabuk seperti ini, kamu
melukai hatiku.”
“Aku kesepian, aku
tidak tahan kesepian, bawa aku kemana saja kamu pergi, jangan tinggalkan aku
sendirian lagi, aku tidak mampu sendiri.”Mawar merajuk Dean didalam mobil.
“Aku akan berjanji
itu, insya Allah, beberapa hari lagi orang tuaku mendatangi orang tuamu untuk
menentukkan pernikahan kita.”
Beberapa bulan
kemudian....Disebuah cafe
“Ini cafe untukmu,
sebagai mas kawin untukmu, jangan mabuk lagi didalam cafe.”Dean membisikkan
ditelinga Mawar.
Cafe putih,
berhias mawar putih, tanpa tempat duduk pengantin, berbaur dengan para tamu
undangan, Mawar mengenakan baju putih, dipinggangnya dililit melingkar
rangkaian bunga mawar segar berwarna putih, dengan rambut terangkat keatas
menampilkan leher jenjangnya, rambutnya bak kebun bunga mawar putih terangkai
diseluruh rambutnya.
“Kita akan berbulan
madu keliling Eropa kan Dean.”Mawar tertawa riang didalam mobil pengantinnya.
“Ya besok pagi,
sekarang kita menuju kamarku dulu, kamar pengantin kita.”
Dikamar Dean....
“Oh...lukisan yang
indah diatas tempat tidur kita, lukisan super besar, aku seperti putri mawar
putih.”
“Itu hadiah dari
Dosi.”
“Aku mencintaimu
Dean, dari awal, hingga kucoba menjadikanmu terakhir, dan terus abadi sampai
bertemu di akhirat kelak.”
“Aku mencintaimu
Mawar seperti awal aku melihatmu seperti bunga mawar yang kemilau diterpa sinar
mentari, saat SMA dahulu.”
Beberapa minggu
setelah pulang bulan madu dari Eropa........
“Aku dari dulu
mengharapkanmu jujur, jangan ada yang tersembunyikan, aku bisa menerimamu apa
adanya.”
“Aku ingin katakan
ini tapi aku tidak mempunyai waktu yang tepat, aku takut merusak rencana
pernikahan kita.”
Dari balik kamar
Dean, Dear sebagai saudara bersebelahan kamar, dan saudara terdekat Dean,
menenangkan mereka berdua dari balik pintu yang sengaja tidak tertutup...
“Kami semua
sekeluarga bisa menerima itu semua, hanya kamu, Dean, yang malahan lebih
bereaksi berlebihan. Kami bisa menerima anak dari Mawar, kami menganggapnya
sebuah anggota keluarga baru yang akan membuka pintu-pintu rahmat, karena anak
adalah anugrah.”
“Maafkan aku.”Mawar
jatuh dipelukan Dean.