Selasa, 05 Februari 2013


INISIAL ‘D’
Dalam seri 6 : “DUNIA HITAM”

                Disebuah club malam....
                “Ayo keluar.”Dean menarik seseorang perempuan berada diruang ganti wanita, karena sedang berlangsung peragaan busana bikini.
                “Aku sedang bekerja, bicarakan semua dengan managerku.”Perempuan itu melepas pegangan tangan Dean.
                “Aku akan menuntutnya, karena dia membuatmu menandatangani kontrak di event yang sama tanpa ada pembatalan dan ganti rugi pada pertandatanganan dikontrak perjanjian yang lama.”
                “Apa perdulimu.”
                “Aku hanya perduli denganmu, karena kamu yang akan dituntut, bukan manager tengikmu itu.”
                Dan tidak tangan Dean menggendongnya keluar club malam itu dan menaikkannya kedalam mobil.
                “Pecat saja managermu itu, nanti kuurus kontrakmu dengan rumah produksi yang sama eventnya denganku peragaan busana, karena aku yang pertama, soal ganti rugi bisa diperundingkan.”
                “Apa enaknya kamu mengatur hidupku.”
                “Ada enaknya, kamu model dalam peragaan busanaku, ini adalah hidupmu. Aku akan mengantarkanmu pulang.”
                “Aku sudah tidak punya rumah lagi.”
                “Kemana kamu selama ini?”
                “Itulah yang tidak pernah kamu ketahui selain aku ini aset uangmu.”
                “Dengarkan, aku mengenalmu dari SMA kelas 1, tapi kamu datang dan pergi dariku sesuka-suka hatimu, kamu membuatku lelah, tapi lebih lelah lagi kalau seumpamanya aku memulainya dari 0 dengan orang lain. Belajarlah untuk patuh sedikit denganku dan setia. Itu saja.”
                Esok pagi...Beberapa lemari pakaian ditata di setiap sisi tangga di setiap lantainya, berhadapan dengan meja marmer yang berisi pot keramik mawar milik Rina, pohon emas milik Wulan, miniatur kapal pinisi milik Margareta, dan berhadapan dengan samurai yang digantung disisi-sisi tangga dari lantai 1 hingga lantai 4. Lemari kayu berada di bawah tangga dari lantai 1 hingga lantai 4, berisikan pakaian Mawar.
                “Banyak sekali pakaianmu hingga dikamar Dean tidak juga mampu menampung pakaianmu?”Rina memerhatikan Mawar mengatur pakaian didalam lemari naik turun di lantai 1 hingga lantai 4.
                “Apa pekerjaanmu, hingga pakaianmu modelnya dari yang bisa dipakai sehari-hari sampai pakaian yang hanya untuk dipajang.”Kartika ikut membantu Mawar mengeluarkan pakaian didalam kotak coklat untuk diatur rapi dilemari kayu berukir Jepara.
                “Aku peraga busana.”Mawar menjawab singkat.
                “Kamu peragawati, badanmu kurus seperti tinggal tulang dan kulit, apa peragawati takut gemuk?”Kartika bertanya lucu.
                “Aku harus mampu mengenakan pakaian apapun sampai yang paling ketat sekalipun, karena itu lebih ideal sekurus ini.”
                Sampai dilantai 4, dimana dilantai 4 penuh dengan taman bermain anak-anak Niken, kolam balon, kolam pasir putih, taman hamster, taman rumah semut, jungkat jungkit, pipa panjang berisi air yang turun naik, ayunan, dan banyak lagi permainan tantangan.
                “Wah dilantai 4 ada taman bermain milik Niken, ditaruh dimana lemari pakaianmu?”
                “Itu dibawah tangga, berhadapan dengan samurainya Sari.”
                “Kita main dulu ditaman bermain milik Niken. Ada prosotan air, ayunan, kolam bola, ada taman hamster.”
                “Kamu seperti anak-anak, Kartika, suka main air.”
                “Hayolah ini menyenangkan, siang nanti anak Niken baru pulang sekolah, kita bermain sebentar.”
                “Apa betul ini semut yang membuat rumah didalam kaca ini?”Mawar mengamati rumah semut yang besar didalam kaca seperti akuarium.
                “Iyalah, masak manusia seiseng itu menggali lorong-lorong kecil dalam tanah.”
                “Aku lebih tertarik mandi spa dikolam spamu Kartika.”
                “Oke, kita mandi spa sekarang.”
                Didapur bertambah satu lemari kaca berisi koleksi botol beer milik Mawar, dan pagi itu disarapan pagi, Mawar ikut dalam acara rutin ini.
                “Seharusnya kalau kamu colector botol beer, isinya yang beralkohol itu tidak ikut kamu koleksi kan?”Duka membuka pembicaraan pagi itu.
                “Maksud Duka, kamu harus membuang minuman memabukkan itu, botolnya boleh kamu koleksi.”Wulan menerjemahkan meksud perkataan suaminya.
                “Kamu juga harus menghormati makanan didepanmu.”Duka menegur Mawar dua kalinya.
                Dean langsung melepas jas nya dan menutupi badan Mawar yang hanya mengenakan bikini.
                Acara makan pagi berakhir, Mawar kembali ke kamar Dean, diikuti oleh Dean.
                “Aku harap kamu tidak tertekan tinggal disini, dan cepat menyesuaikandiri.”Dean berbicara berdua dengan mawar ditepi tempat tidur.
                “Tidak aku senang, mereka orang-orang yang baik dan jauh dari kehidupan yang hitam sepertiku.”
                “Aku ada show diluar negri, kalau didalam kota kamu akan selalu aku ajak, setelah show ku selesai ayahku akan melamarmu kerumah orang tuamu, bersabarlah, dan jadikan hidupmu lebih baik, dan bahagia.”Dean pamit ke Mawar untuk pergi mengejar pesawat keluar negri.
                Didapur Mawar membantu Niken membuang isi minuman beralkohol dan meletakkan botolnya kembali ke dalam lemari milik  Mawar, untuk koleksi.
                “Minuman beralkohol ini membuat hidupmu berantakan dan tidak karuan, ini adalah awal hidup barumu yang lebih tenang.”Niken memberi nasehat kepada Mawar, dan Mawar mengangguk senang.
                Malam hari, didepan kamar Dean dan Dear, dilantai yang dilapisi lapin terbuat dari rotan jari, yang biasanya dibuat Sari berlatih kendo sendirian, Mawar berdisko dengan musik cha-cha. Musik yang keras itu menarik perhatian Sari sepulang dari operasinya, sambil mengayunkan samurai dari bambunya tepat disamping leher Mawar, spontan Mawar menghentikan tariannya.
                “Kamu membuatku takut.”
                “Apa tarian cha-cha mengunakan bikini?”
                Akhirnya Mawar menutupi bikininya dengan rok rumbai,”Ini sekedar melepas jenuh.”
                “Aku juga ingin menari denganmu dengan diiringi musik cha-cha.”Sari meminta rok rumbai pada Mawar dan memakainya bertumpukkan dengan celana hijau seragam bedah.”Ini sama mengasyikannya seperti kendo,hhhhh.”
                Mereka berdua menari sampai lelah dan hingga larut malam.
                Beberapa bulan Dean meninggalkan Mawar.....
                “Mengapa aku menemukanmu disini lagi....hh?”Dean mencari Mawar dan menemukan Mawar di cafe, sedang mabuk.
                “Aku merindukanmu kamu meninggalkanku terlalu lama.”Mawar memeluk leher Dean yang membawanya pergi dari tempat itu.
                “Jangan menyiksaku seperti ini, aku meninggalkanmu untuk bekerja, kalau kamu bosan dan tertekan dirumah kamu bisa belanja ke mall-mall, tapi tidak mabuk seperti ini, kamu melukai hatiku.”
                “Aku kesepian, aku tidak tahan kesepian, bawa aku kemana saja kamu pergi, jangan tinggalkan aku sendirian lagi, aku tidak mampu sendiri.”Mawar merajuk Dean didalam mobil.
                “Aku akan berjanji itu, insya Allah, beberapa hari lagi orang tuaku mendatangi orang tuamu untuk menentukkan pernikahan kita.”
                Beberapa bulan kemudian....Disebuah cafe
                “Ini cafe untukmu, sebagai mas kawin untukmu, jangan mabuk lagi didalam cafe.”Dean membisikkan ditelinga Mawar.
                Cafe putih, berhias mawar putih, tanpa tempat duduk pengantin, berbaur dengan para tamu undangan, Mawar mengenakan baju putih, dipinggangnya dililit melingkar rangkaian bunga mawar segar berwarna putih, dengan rambut terangkat keatas menampilkan leher jenjangnya, rambutnya bak kebun bunga mawar putih terangkai diseluruh rambutnya.
                “Kita akan berbulan madu keliling Eropa kan Dean.”Mawar tertawa riang didalam mobil pengantinnya.
                “Ya besok pagi, sekarang kita menuju kamarku dulu, kamar pengantin kita.”
                Dikamar Dean....
                “Oh...lukisan yang indah diatas tempat tidur kita, lukisan super besar, aku seperti putri mawar putih.”
                “Itu hadiah dari Dosi.”
                “Aku mencintaimu Dean, dari awal, hingga kucoba menjadikanmu terakhir, dan terus abadi sampai bertemu di akhirat kelak.”
                “Aku mencintaimu Mawar seperti awal aku melihatmu seperti bunga mawar yang kemilau diterpa sinar mentari, saat SMA dahulu.”
                Beberapa minggu setelah pulang bulan madu dari Eropa........
                “Aku dari dulu mengharapkanmu jujur, jangan ada yang tersembunyikan, aku bisa menerimamu apa adanya.”
                “Aku ingin katakan ini tapi aku tidak mempunyai waktu yang tepat, aku takut merusak rencana pernikahan kita.”
                Dari balik kamar Dean, Dear sebagai saudara bersebelahan kamar, dan saudara terdekat Dean, menenangkan mereka berdua dari balik pintu yang sengaja tidak tertutup...
                “Kami semua sekeluarga bisa menerima itu semua, hanya kamu, Dean, yang malahan lebih bereaksi berlebihan. Kami bisa menerima anak dari Mawar, kami menganggapnya sebuah anggota keluarga baru yang akan membuka pintu-pintu rahmat, karena anak adalah anugrah.”
                “Maafkan aku.”Mawar jatuh dipelukan Dean.