Kamis, 14 Maret 2013


INISIAL ’D’
Dalam serinya : “DANU”
                Diruang kreatif siswa dan kegiatan OSIS, Dina, Dian, dan Diana, duduk dimeja panjang ditengah ruangan.
                “Bunga- bunga kering ini dirangkai disekitar,  dipinggiran kartun tebal ini, berukuran160 x 80 cm, sebelumnya aku memberi beberapa background nya dengan foto-foto bunga dan alam, lalu puisi-puisi aku susun dibawah rangkaian bunga kering, ditengahnya aku susun cerita bergambar dan beberapa cerpen yang masuk ke meja redaksi.”Dian sibuk merangkai majalah dinding siswa, yang akan terbit mingguan ini, dan Dian memigorakan hasil majalah dinding minggu lalu, kumpulan foto-foto, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan cerita bergambar kartoon, sebagai kenang-kenangan selama dia menjabat sebagai editing majalah dinding siswa.
                “Aku juga sibuk mengedit majalah siswa yang terbit mingguan, sekitar 60 halaman, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan cerita bergambar, dan beberapa kegiatan sekolah, dari marching band, karawitan lintas alam, dan kegiatan sosial sekolah, di kumpulkan dalam majalah kreatif siswa, dan senin ini aku akan kepercetakan untuk mencetak bukunya.”Dina mengedit tulisan siswa dan juga menempelkan beberapa foto dalam ukuran folio untuk dicetak menjadi majalah siswa mingguan.
                “Aku juga sibuk menyusun acara open air, ajang panggung terbuka, acara musik, drama, dan seni budaya siswa yang akan digelar dilapangan basket.”Diana juga memamerkan kesibukkannya kepada kedua sahabatnya.
                3D, itu kelompok yang mereka buat, terdiri dari Dian, anak IPS-1, ranking satu di IPS. Dina, FISIKA-1, anak ranking pertama dikelasnya. Dan terakhir, Diana, BIOLOGI-1, anak ranking pertama dikelasnya.
                “Memang anak-anak berinisial-D, seperti kita ini selalu menjadi idola dan pintar.”Itulah perkataan Dina, pada kedua sahabatnya.
                Rapat minggu pagi, sebelum acara open air dimulai dan pembagian majalah siswa disetiap kelas telah dibagikan sesuai absennya, anak-anak band, karawitan, drama, angklung berlatih diruang ekstrakurikuler. Anak-anak OSIS berkumpul di aula, guru BK, memberikan beberapa kata-kata pembuka dan inti rapat hari itu, untuk membuat acara perpisahan untuk kakak kelas, yang duduk dikelas 3 SMA.
                Dian mencabut majalah dinding minggu lalu dan menggantinya dengan yang baru.”Ini akan ku pigorakan sebagai kenangan-kenangan pribadiku, kupajang didinding kamarku, foto-foto anak-anak photografer, kumpulan puisi, dan gambar cartoonnya.”
                Dina juga membukukan semua majalah siswa selama dia menjabat sebagai editingnya.”Aku juga melakukan hal yang sama denganmu, mengumpulkan semua majalah siswa selama aku menjadi editingnya, kubendel jadi satu dan kuarsipkan, sebagai koleksi pribadi, ini yang aslinya sebelum dicetak dipercetakan.”
                “Mungkin aku yang paling tidak menyukai mengumpulkan sampah, dan barang-barang yang mudah dihinggapi debu didalam kamarku.”Diana mengomentari semua perbuatan kedua sahabatnya.
                “Okelah, kamu paling bersihan dari kita, tapi kita akan membuat panitia perpisahan kakak kelas kita, aku akan membuat undangan untuk orang tua tiap kelasnya, desainnya seperti buku agenda kecil dari kertas daur ulang, covernya akan kutempel bunga-bunga kering, dihalaman pertama agenda undangan adalah foto semua guru di SMA ini, halaman kedua adalah foto semua siswa disetiap kelas, dan halaman ketiganya adalah waktu, tempat pelaksanaan perpisahan.”Dian mendesain undangan perpisahan kelas tiga.
                “Aku akan membuat acara perpisahan, seluruh orang tua siswa akan berkumpul di aula beserta anak mereka masing-masing, pengisi acara adalah adik kelas, ditutup gitar klasik perwakilan dari kelas 3, Danu, dia akan berceramah sebagai perwakilan kelas 3, kemudian memainkan gitar klasiknya, dibelakangnya diiringi konser kecil anak-anak musik klasik.”Diana juga merancang kegiatan malam perpisahan.
                “Kenapa kamu yakin, Danu meraih nilai tertinggi dalam ujian akhir ?Bukankah penutup acara adalah peraih nilai akhir terbaik.”Dina menanggapi pendapat Diana.
                “Karena selama tiga tahun ini dia yang terbaik.”Diana menjawab singkat.
                “Apa bukan karena kamu jatuh cinta padanya, Danu itu.”Dian berkata sangat jujur.
                “Apa kalian juga tidak mencintainya, Danu pintar, tinggi, putih, kaya, cakep lagi, apa yang tidak ada padanya.”Diana membela diri.
                Kali ini mereka terdiam, karena memang betul semuanya tentang Danu.
                Dalam acara open air, dilapangan basket sekolah, Diana sibuk merekam video acara tersebut, apalagi Danu walaupun sudah kelas 3 SMA, dia masih aktif dengan beberapa adik kelas dan seangkatannya, dalam musik klasik.
                “Kamu memang tidak mengumpulkan kertas-kertas seperti kita yang dapat dibendel dibukukan, ataupun dipigorakan dengan bingkai kayu dan kaca, tapi kamu menyimpan moment open air dalam micro sd mu.”Dian memberikan komentarnya, tapi Diana tetap sibuk mengambil moment terakhir acara itu, yaitu gitar klasik yang dimainkan, Danu.
                Setelah acara open air selesai, Diana baru berbicara,”Kita harus mencari pengganti kita, adik kelas perlu kita bimbing agar segala kegiatan kita ini lebih berkembang dan tidak terhenti.”
                “Apalagi, tahun ini juga akhir jabatan kita, kita akan naik kekelas 3 SMA, kita diharapkan oleh wali kelas dan orang tua kita untuk fokus ujian masuk perguruan tinggi negeri yang terbaik di Indonesia.”Dina ikut menambahkan komentar Diana.
                “Apa rencana kalian?”Dian ikut berbicara menunggu pendapat kedua sahabatnya dilanjutkan.
                “Kita perlu pengganti kita masing-masing, aku menunjuk satu orang penggantiku, kalianpun masing-masing menunjuk satu orang, kalau ketua OSIS, perlu pemilihan antar kelas dan juga guru-guru.”Diana melanjutkan pembicaraannya.
                “Maksudku, apa rencana kita untuk masuk keperguruan tinggi terbaik di Indonesia.”Dian melanjutkan juga pertanyaannya.
                “Aku ingin masuk fakultas kedokteran, ayahku seorang dokter, specialis bedah syaraf, aku ingin menjadi dokter bedah tulang.”Diana menyampaikan cita-cita didepan sahabatnya.
                “Aku ingin menjadi arsitektur, walau ayahku seorang pelaut, aku ingin menjadi arsitek, bagiku merencanakan bangunan seperti menanam tanaman, biji yang tumbuh, pertama kali adalah akarnya, setelah akarnya tumbuh kuat dan dapat mengambil sari makanan barulah tumbuh daun kemudian batangnya. Begitu juga bangunan gedung pencakar langit, kuat pondasinya. Aku juga ingin merencanakan bangunan kontemporer, selain ada perkantoran tapi bisa untuk rumah tinggal, juga sekaligus rumah yang cocok untuk liburan dan beristirahat.”Dina pun mengungkapkan cita-citanya.
                “Berarti cita-citaku paling sederhana, aku ingin menjadi seorang akunting.”Dian juga menyampai cita-citanya.
                “Apa cita-cita Danu?”Diana tiba-tiba memikirkan Danu.
                “Tentulah dia ingin menjadi dokter, bukankah ayah Danu seorang dokter, kamu ingat reuni akbar tahun lalu, ayah Danu alumni sekolah sini juga, kalau ayahnya dokter pasti ingin juga anaknya menjadi dokter. Bukankah seperti itu Diana.”Dian menjawab penasarannya Diana.
                “Bukankah ayahmu, Diana, alumni sekolahan sini juga, kitakan bersama Danu, tahun kemarin menjadi panitia reuni akbar, tentulah mengetahui data alumni sekolah sini.”Dina juga membetulkan pernyataan Dian.
                “Mau kemana kita sekarang?”Diana mengajak kedua sahabatnya berjalan-jalan di hari Minggu, sore hari yang indah, masa remaja yang indah.
                Mereka bertiga menuju sebuah toko buku, melihat-lihat buku merangkai bunga, dan seni lukis.
                “Kamukan mengikuti ekstrakurikuler merangkai bunga Dian?”Diana mengikuti Dian yang mengambil buku merangkai bunga kering dan bunga segar.
                “Iya, tapi aku juga bersama Dina ikut juga seni lukis, kamu, Diana, kenapa suka karawitan, apa ada alasan yang cukup idealis, melestarikan kebudayaan bangsa?”Dian menjawab pertanyaan Diana.
                “Tidak, dari semua pilihan ekstra kurikuler hanya karawitan yang menurutku tidak terlalu menghabiskan tenagaku.”Diana memberikan alasan.
                “Iya, aku juga malas ikut ektra kurikuler olah raga, band, photografi, dan sebagainya, selain menghabiskan waktu latihan, juga menghabiskan biaya.”Dina membetulkan pendapat Diana.
                “Kita beli souvenir yuuk, untuk kenangan kita bertiga?”Dian mengajak ke tempat pernik-pernik.
                “Kita beli pena tinta yang bisa ditulis inisialnya, akan kutulis inisia ‘D’?Diana menunjuk pena parker yang berlapis perak.
                “Oke, kita juga membeli gelas yang bisa dicetak foto kita bertiga, dan juga kita tulis inisial kita ‘D’?Dian juga memberi usul souvenir selain menerima usul Diana.
                “Oke, sahabatku, aku juga harus punya usul, tentang barang souvenir yang akan kita simpan sebagai kenangan, bagaimana dengan gelang perak berinisial ‘D’?Dina juga ingin usulnya diterima.
                Mereka bertiga membeli pena parker, Diana memilih warna merah berukIr ditutupnya inisial ‘D’. Dina memilih warna biru berukir inisial yang sama. Dian memilih warna hijau berukir inisial yang sama ‘D’.
                Gelas keramik pun juga sama, mencetak foto diatas gelas keramik dan dibawahnya bertuliskan inisial mereka bertiga ‘D’, Diana berwarna gelas merah, Dina berwarna gelas biru, dan Dian gelas berwarna hijau.
                Kecuali gelang perak, warnanya sama juga bentuknya, mempunyai gantungan berbentuk huruf ‘D’.
                “Ayo kita mampir kerumahku melihat video open air tadi?”Diana mengajak kedua sahabatnya menginap dirumahnya.
                Serentak mereka berdua, Dina dan Dian menjawab,”OKE.”
                Sampai dirumah Diana mereka bertiga meletakkan gelas mereka dan menaruh pena didalam gelas, kemudin tidur ditempat tidur sambil mengangkat tangan kiri mereka yang mengenakan gelang yang sama sambil berteriak,”3D.”.
                ........................................................................................................................................
                Hari itu mereka sibuk sekali di aula, tidak terasa waktu berjalan, perpisahan kelas 3 SMA sudah dihadapan, betul dugaan Diana, Danu tetap terbaik dan nilai tertinggi disekolah. Diana mengambil video moment terakhir Danu bermain gitar diiringi konser keci, anak-anakmusik klasik.
                Diakhir perpisahan, ayah Danu memanggil Diana, ternyata ayah Diana teman dekat ayah Danu semenjak SMA.
                “Apa yang ayah Danu bicarakan denganmu tadi.”Dian bertanya pada Diana.
                “Aku hanya berkenalan dengan ayah Danu, karena ayahku hadir juga disebelah ayah Danu.”Diana menjawab dengan tenang pertanyaan Dian.
                Beberapa bulan setelah perpisahan kelas 3 SMA.
                “Terasa sepi tidak ada kelas 3.”Diana menggumam sendiri dikamar tidurnya ditemani kedua sahabatnya sambil belajar.
                “Sepi karena tidak bertemu Danu?”Dian menjawab gumaman Diana.
                “Baguskan kita jadi fokus belajar tidak jadi penguntit rahasia Danu.”Dina juga memberi pendapatnya sambil mengerjakan soal-soal ujian masuk penguruan tinggi negri.
                “Dengar ga, kalau beberapa hari lagi, Danu yang diterima dikedokteran akan masuk dikelas 3 SMA, untuk memberikan semangat adik kelasnya, supaya giat belajar dan sukses masuk perguruan tinggi negri.”Diana berkata penuh semangat.
                “Dia, Danu itu, pasti masuk ke kelasmu, kelas BIOLOGI, ga mungkin masuk kelas IPS, kelasku.”Dian memberikan tanggapannya.
                “Iya, ga mungkin juga masuk kelas FISIKA, kelasku.”Dina juga memberikan tanggapannya.
                “Aku jadi semangat belajar, aku ingin cepat-cepat masuk fakultas kedokteran.”Diana berbicara dengan senyum bahagia, dan berimajinasi.
                “Bilang aja kamu ingin bertemu Danu.”Dian bergumam sendiri.
                Hari senin itu......
                “Banyak yang menahan rasa kagumnya saat Danu masuk kekelas BIOLOGI.”Diana memamerkan rasa senangnya.
                “Aku juga lihat saat Danu pulang, rambut dia sekarang ga cepak lagi, semakin kelihatan cueeek.”Dian menanggapi perasaan Diana.
                “Berarti hanya aku yang tidak melihat Danu, biarlah nanti kalau aku diterima di Institut ternama dan terbaik di Indonesia, alias ITB, aku bertekad bertemu Danu.”Dina berjanji pada kedua temannya.
                “OKE, itu pemicu untuk kita bertiga, berarti tiap minggu kamu mesti bolak-balik Jakarta-Bandung buat pertemuan rutin kita, kalau kita berdua diterima di Universitas Indonesia.”Diana mengobati kekecewaan Dina.
                Itulah janji mereka bertiga, bertemu setiap minggu walau sudah berjauhan, bagi mereka persahabatan adalah hal yang terindah.
........................................................................................................................................................
                “Dia terlalu sombong, seringnya aku bertemu dengannya tapi tidak sedikitpun dia tertarik padaku, padahal aku adalah adik kelasnya semasa SMA.”Diana mengungkapkan kekecewaannya.
                “Aku tahu yang kamu maksudkan...”Dian ingin menebak.
                Spontan Dian dan Dina berkata bersamaan,”DANU.”
                “Kalau kamu memilih fakultas kedokteran, berarti aku dan Dina bakalan lulus terlebih dahulu, bahkan wisuda aku dan Dina lebih dahulu daripada wisudanya si Danu.”
                “Bagaimana keadaan Universitas Indonesia ini.”Dina bertanya kepada kedua sahabatnya, Diana yang kuliah di jurusan kedokteran sedangkan Dian di jurusan akuntansi.
                “Layaknya anak-anak ITB, yang selalu bangga akan dirinya sendiri.”Diana menjawabnya.
                “HAHAHAHAHA.”Mereka bertiga tertawa bangga, sambil mengacungkan tangan kirinya,”3D.”
                Minggu itu dan setiap minggu pagi mereka bertemu di halaman Universitas Indonesia.
                “Disetiap tempat kamu selalu membawa buku-buku tebalmu itu.”Dina mengkritik Diana yang membawa ransel besar berisi buku-buku kedokterannya.
                “Dimana saja kamu selalu membawa gulungan tempat kertas desainmu.”Dian membalas perkataan Dina.
                “Ternyata, dimana tempatnya, anak sosial selalu paling santai.”Diana melengkapi komentar kedua sahabatnya.
                “Kita makan siang dimana nih, sebelum aku kembali ke Bandung sore ini.”Dina menanyakan tempat makan yang dekat dengan kampus.
                “Kita berdua makan diterminal saja, sambil menunggu dan mengantarkanmu kembali ke Bandung.”Diana memberi usul yang bijaksana.
                “Kalian berdua memang sahabat yang terbaik.”
                Beberapa tahun kemudian...............................................................
                “Kamu mengambil wisuda di semester ganjil, berarti kamu mengejar cumlaude, Dian?”Diana melihat hasil yudisium Dian, yang mengatakan lulus dengan hasil nilai istimewa.
                “Iya, kalian berdua aku undang, lebih utama dari kedua orang tuaku, jadi sabtu ini kalian wajib datang jam delapan pagi, menggunakan kebaya, OK.”
                Sabtu itu, Dian, Dina, dan Diana, mereka bertiga memakai kebaya menghadiri wisuda Dian. Dian menggunakan kebaya hijau tua, Diana menggunakan kebaya merah tua, dan Dina menggunakan kebaya biru tua, mereka kelihatan cantik, dan lues. Mereka bertiga memang cantik.
                “Semester depan aku wisuda berarti giliran kalian ke ITB.”Dina mengungkapkan kepada kedua temannya.
                “Berarti genap empat tahun kamu kuliah di ITB, berarti tinggal aku sendirian di Universitas Indonesia, apa kalian tetap mengunjungiku kekampus ini?”Diana memelas karena hanya tinggal dia yang masih kuliah, hingga dua tahun kedepan.
                “Kan masih ada Danu, Danu juga kan wisudanya tahun depan, jadi setahun ini kamu ditemaninya.”Dina menggoda Diana.
                “Kalian tidak setia kawan, kamu tahukan si Danu itu tidak ada perhatian sama sekali denganku, dan dengan Dian.”
                “Tenang sajalah, kita bukan saja setahun, dua tahun, bersahabat, kita akan selalu memberimu semangat, agar kita menjadi yang terbaik disetiap langkah.”Dian merangkul sahabatnya dan pergi menuju tempat duduk para wisudawan.
                Setelah acara wisuda selesai, mereka bertiga berfoto bersama sambil memamerkan tangan kiri mereka, menyilang didada, tergantung gelang perak berinisial ‘D’.
                Mereka melepas sepatu berhak tingginya, menggantinya dengan sepatu sport, walau masih mengenakan kebaya, mereka keliling kota Jakarta dan terakhir pergi ke kepulauan seribu dengan perahu kecil.
                .............................................................................................................................................
                Enam bulan kemudian di hari Sabtu, pagi....
                “Aku kira kalian tidak akan datang ke wisudaku.”Dina menemukan Diana dan Dian di gerbang ITB, sambil mengenakan kebaya biru.
                “Kita berdua mengenakan kebaya dari Jakarta dini hari tadi, naik bis cepat.”Dian segera melangkah menggandeng kedua sahabatnya memasuki ITB.
                “Tapi kalian bawa ganti sepatu sport kan, dan mukena, kita akan ke bumi perkemahan, keliling kebun teh, dan terakhir pemandian air hangat di tangkuban perahu.”Dina menerangkan rencana mereka setelah wisuda nanti.
                “Wah, aku dan Dian sudah merencanakan semuanya didalam ransel ini, lengkap dengan jaket dan makanan kecil, susu dan obat anti nyamuk, kemah kecil dan senter.”
                “Barang-barangku sudah kupaketkan ditempat kost Dian, setelah wisuda ini aku akan tinggal di Jakarta bersama Dian.”
                “Berarti kita bertiga akan setiap hari bertemu?”Diana senang mendengar mereka bertiga berkumpul kembali.
                Serentak Dian dan Dina menjawab.”IYA.”
                Sabtu malam hari diperkemahan....Didalam kemah kecil mereka bertiga tidur bersama dalam satu selimut.
                “Aku tidak bisa tidur, selain dingin banyak sekali suara-suara binatang kecil.”Diana memeluk Dian.
                “Tenang,saja kita bertiga sama-sama takut.”Dian berbicara sambil memeluk Dina.
                Dian tidur ditengah, dalam tenda kecil, didalam kantung selimut menjadi satu.
                “Aku pasang senter disetiap sudutnya, kamu kan takut gelap Diana.”Dina menenangkan Diana yang tak terbiasa gelap dan suara jangkrik.
                “Orang bilang, yang tidur ditengah akan ditakuti setan.”Dian ikut menjadi takut.
                “Aku sudah siram garam disekitar tenda untuk mengusir ular dan setan.”Dina menenangkan teman-temannya.
                “Kalau kamu masih takut, tidur terbalik aja, jadi yang tengah, kakinya dikepala kita berdua.”Diana memberi saran ke Dian, akhirnya Dian memutar letak kepalanya diantara kaki kedua sahabatnya.
                Malam berlalu dengan tenang tanpa gangguan yang berarti, hanya kabut pegunungan yang tebal, bintang dan bulan yang buram, serta suara belalang bersautan.
                Setelah sholat subuh dialam bebas, mereka bertiga makan roti dan susu, kemudian berjalan kaki sambil berlarian kecil menuju kebun teh, yang sedikit terselimuti kabut, dan tetesan embun sesekali jatuh kewajah mereka.
                Diana mengabadikan semua moment kebersamaannya, selama perjalanannya di Bandung, dengan kameranya.
                Terakhir siang itu, mereka mandi air hangat yang didapat dari kawah tangkuban perahu.
                Sore itu, mereka telah sampai di Jakarta kembali.
                “Aku akan pindah kost, agar kita bertiga bisa berkumpul dalam satu ruangan.”Diana mengungkapkan keinginannya.
                “Apa tidak mengganggu belajarmu?”Dian menjawab keinginan Diana.
                “Kalian berdua semangat dalam hidupku.”
                Beberapa hari dalam kamar Dian.
                “Banyak sekali bajumu Dian?”Dina mengatur barang-barangnya dalam kontainernya, dan mengatur buku-buku Diana dalam rak buku.
                “Barang-barangmu seperti alat pertukangan.”Dian mengomentari barang-barang Dina.
                “Ini untuk buat maket, miniatur rumah, kalau rumah dari kayu ya perlu kayu sungguhan, kalau rumah bambu ya perlu bambu, lalu di cat dan di politur kemudian dipernis.”Dina menerangkan.
                “Lego ini untuk apa.”Diana menunjuksatu kontainer besar lego.
                “ Lego itu untuk miniatur rumah tembok. Aku akan membuat beberapa desain rumah kayu panggung khas Indonesia, rumah gadang dari Sumatra Barat yang modern, Rumah panjang dari Kalimantan, Rumah Joglo dari Yogya. Juga rumah bambu khas dari Jawa Barat. Tapi aku juga mendesain rumah kaca modern, dan rumah dari batuan alam karena Indonesia kaya akan batuan bermotif seperti marmer, kecubung, nilam, dan granit. Kemudian desain gambar dan miniatur rumahnya aku foto, kemudian aku cetak menjadi buku. Itu obsesiku.”
                “Bagaimana pembagian tugas untukkita bertiga?”Diana menanyakan peraturan yang akan mereka jalani dalam satu kost.
                “Aku akan mengantarmu ke kampus jam 7 pagi Diana, setelah itu belanja, pukul 9 pagi aku antar Dian kerja di departement store, aku akan memasak dan membersihkan rumah, sambil meneruskan pekerjaanku mendesain, sorenya aku jemput kalian berdua bergantian, dari kampus dan tempat kerja Dian.”
                “Aku akan membayar listrik, air, dan belanja makan sehari-hari, karena aku yang sudah bekerja dari kalian berdua, tapi kontrakkan rumah, kita bagi bertiga. OK.”Dian menjelaskan tentang masalah keuangan mereka.
                Dina menyiapkan susu untuk mereka bertiga sebelum segala aktifitas pagi itu dimulai.
                “Berarti hanya aku yang hanya sibuk belajar.”Diana memahami pembagian tugas itu.
                “Supaya kamu cepat menyelesaikan kuliahmu dan mendapatkan nilai istimewa.”Dian menjawab.
                “Setelah buku desainku diterbit, aku dan Dian akan membuat perusahaan kontruksi sendiri.”
                “Okelah, aku jadi semangat kuliah dan iri pada kalian yang sudah mempunyai rencana masa depan.”
                Minggu pagi adalah acara rutin mereka, yaitu mencuci pakaian bersama-sama dalam satu bak besar, dan menjemurnya di atap rumah, kemudian mereka kekampus dan berlari-lari kecil didalam kampus, duduk dihalaman kampus, sambil minum susu dan makan roti lapis telur dadar keju.
                “Danu masih aktif jadi senat mahasiswa?”Dian bertanya pada Diana.
                “Masih sih, dia itu tidak bisa kalau tidak super power, dia yang no. Satu.”
                “Aku lihat dia aktif juga di photografi Indonesia?”Dina melihat-lihat papan pengumuman di fakultas tadi.
                “Iya.”
                “Kenapa kamu ga ikutan juga?”Dina memberikan usul.
                “Aku bukan manusia jenius seperti Danu, kedokteran ini sangat berat untukku, aku setiap hari harus rajin membaca buku tebal-tebal.”
                “Kami berdua akan membantumu, Dian yang akan mengambil berbagai foto alam dan desain miniaturku, kemudian kita ikutkan lomba atas namamu, Diana.”
                “Perwakilan yang menang pasti akan pergi berdua dengan Danu, sebagai salah satu peserta terbaik, iyakan?”Dian juga setuju dengan usul Dina.
                “Iya kalau aku dan Danu terpilih pertama dan kedua se-Jakarta, kalau tidak?Lagian masih difinalkan lagi seluruh Indonesia berpusat nantinya di Bali.”
                “Kita kan berusaha dahulu menjadi yang terbaik. Ok.”Dina membesarkan hati Diana yang sedikit pesimis.
                “Bukankah kita bertiga selalu menjadi yang terbaik di bidang kita masing-masing.”Dian sangat optimis dan bersemangat.
......................................................................................................................................................
                “Seharusnya Diana senang, karena menjadi juara photography kampus mewakili Jakarta, sayangnya Danu kok ga terpilih ya, kayak ga mungkin deh.”Dian melihat sertifikat juara Diana dan sebuah kartu undangan kontes photography international di Bali.
                “Kita bertiga harus hadir di Bali, dan membawa beberapa hasil photo andalan kita.”Kata Dian.
                “Aku rasanya malas ke Bali, pelajaranku padat dan kuliahku sistem paket, tidak satu persatu mengulang tapi keseluruhan paketnya bisa mengulang kalau satu mata kuliahnya jelek.”Diana membuat alasan.
                “Ayolah ini cara kita berlibur dengan gratis.”Dina menjawab perkataan Diana.
                Sepontan mereka bertiga,”Waow, memang benar, kita berlibur ke Bali dengan gratis.”
.......................................................................................................................................................
                “Kamu tidak melihat itu.”Dina menunjuk sepasang orang diseberang galerry pameran photography, dengan isyarat matanya.
                “Danu mewakili Bandung, sepasang dengan mahasiswa seni rupa, ITB.”Dian mengerti dari isyarat petunjuk Dina dengan pandangan matanya.
                “Makanya, aku tidak percaya kalau Danu tidak menjadi yang pertama, dia ingin selalu super power.”Diana menanggapi keterkejutannya kedua sahabatnya, dengan tenang, dan mendekati photo perwakilan dari Bandung, fakultas seni rupa.
                “Dona, ini namanya?”Dina membaca inisial dalam photo yang terpajang di dinding.
                “Kamu tahu, tak sedikitpun Danu perduli dengan kita bertiga, teman se SMA nya.”Diana tersenyum kecut.
                Pemandangan yang sangat unik ketika Danu peraih juara pertama diapit Dona dari Fakultas seni rupa, ITB, juara keduanya, dan Diana dari Fakultas kedokteran, UI, juara ketiganya. Semuanya seperti di setting seperti itu. Danu dan Diana selalu bersaing dalam akademik dan prestasi, semenjak SMA, selalu seperti itu, untuk mendapatkan perhatian, Danu, Diana selalu berusaha keras.
.......................................................................................................................................................
                Mereka bertiga hadir di wisuda, Diana. Tapi, akhirnya Diana memisahkan diri karena ayah Diana hadir dalam wisuda tersebut, duduk berempat dengan ayah Danu, dan Danu.
                “Kita bertemu lagi ditempat kost.”Itu yang dikatakan Diana ketika memisahkan diri dengan kedua sahabatnya, dan memilih duduk berempat dengan ayahnya, Ayah Danu, dan Danu.
                Malam setelah wisuda Diana selesai, mereka bertiga, Diana, Dian, dan Dina mengepak semua pakaian dan barang-barang mereka.
                “Kami akan mengantarmu di bandara, biar aku dan Dina naik kereta malam ke Surabaya.”
                “Iya, kami berdua sudah mempunyai usaha sendiri, biar usaha kita bisa pindah kembali ke Surabaya.”Dina menyambung perkataan Dian.
                “Terima kasih sahabatku, kalian telah menemaniku selama dua tahun terakhir ini, kita akan mengadakan pertemuan rutin setiap minggu setelah sampai di Surabaya.”Diana menanggapi perkataan kedua sahabatnya.
.........................................................................................................................................................
                Disebuah cafe didepan toko buku, mereka bertiga, Diana, Dian, dan Dina, bertemu setiap minggunya.
                “Kamu tahu apa yang dikatakan Danu ketika acara lamaran dan perjodohan terjadi dirumahku, beberapa hari yang lalu?”Diana curhat kepada ketiga sahabatnya.
                “Apa ?Sebutkan saja, walau itu menyakitkan harus kamu ungkapkan, agar beban berat perasaanmu menjadi ringan.”Dian menenangkan sahabatnya.
                “Danu akan berpoligami apabila perjodohan itu dilanjutkan.”
                “Apa tanggapanmu Diana?”Dina penasaran.
                “Aku menyetujuinya.”
                “Kamu gila Diana, itu menyakitkan dirimu sendiri.”Dian emosi mendengar perkataan Diana yang begitu tenang.
                “Syaratnya, aku yang menentukan siapa istri kedua dan istri ketiganya, dan aku meminta mas kawin yang sama sebuah rumah dan mobil, dan gelang emas berinisial ‘D’.”
                “Apa Danu setuju syaratmu itu?”Dian semakin penasaran.
                “Setuju, aku menunjuk kalian sebagai istri kedua dan ketiganya.”
                “Kami tidak sanggup melukai hatimu, Diana.”Dina menjawab tawaran Dian.
                “Aku hanya ingin berbagi bahagia bersama kalian, kalau kalian tidak mau aku mencari orang lain sebagai istri kedua dan istri ketiganya, apa kalian ingin kebahagiaanku menjadi kesedihan?”
                “Mengapa kamu berbuat begitu dan menanggapi gurauan Danu, yang ga lucu itu.”Dian merasa sedih.
                “Bukankah kalian berdua juga mencintai Danu ? Aku sanggup berbagi cinta dengan kalian, hanya dengan kalian, dan aku mengerti perasaan kalian berdua.”
                Akhirnya mereka bertiga setuju dengan tawaran gila Diana, yang sedikit aneh dan tidak masuk akal, tapi kalau itu sudah menjadi suatu perjanjian pernikahan, maka semua harus dilaksanakan. Janji suci yang juga bertanggung jawab dengan Allah.
                Beberapa hari kemudian, setelah perjanjian pranikah ditetapkan dan ditanda tangani, mereka bertiga, Diana, Dian, dan Dina, mencek alamat rumah yang akan mereka tempati, rumah bertipe 300 m2, mobil imut, rumah Diana berwarna merah muda sewarna dengan mobilnya, rumah Dian berwarna hijau muda sewarna dengan mobilnya, dan rumah Dina berwarna biru muda sewarna dengan mobilnya,....Tapi ada rumah berwarna ungu muda disebelah rumah Dina dan mobil imut berwarna senada,...Tapi mereka bertiga mencoba tidak merasakan curiga....
                “Kita jalan-jalan mencari gaun pengantin, dan gelang emas berinisial ‘D’, kemudian perawatan wajah dan tubuh paket sebagai perawatan pranikah.”Diana mengajak kedua sahabatnya berjalan-jalan.
                “Beberapa hari lagi kita akan melangsungkan akad nikah, jam delapan pagi Diana, jam dua siang Dian, dan aku.......... jam tujuh malam.”Dina menghapalkan acara pernikahan yang sudah diatur oleh EO.
                “Iya, apa kalian tidak gugup.”Dian mengalami trauma pranikah hingga tumbuh jerawat didahinya.
                “Tidak juga, kalau dilewati bersama dengan kalian, hhhh..”Diana tertawa senang.
.......................................................................................................................................................
                Seminggu sudah pernikahan mereka bertiga, tapi Danu malah meninggalkan mereka bertiga seusai acara akad nikah, dimana sebenarnya Danu...
                “Apa betul kita bertiga telah menikah dengan Danu?”Dian bertanya kepada kedua sahabatnya Diana dan Dina.
                “Iya, seperti mimpikan ? proses yang sangat cepat dan lancar, coba lhat tangan kiri kita ada gelang perak berinisial ‘D’, sedang tangan kanan kita ada gelang emas berinisial ‘D’ juga, cincin emas dengan inisial ‘D’ dan ditengah huruf ‘D’ ada berliannya, seperti mimpi, kita juga duduk dibelakang rumah kita bertiga, seperti mimpi.”Dina juga memberi pernyataan yang sama dengan Dian.
                “Kalian bahagia ? Aku juga merasakan bahagia seperti juga kalian, bermimpi indah.”Diana juga berkata seperti kedua sahabatnya, kata-kata perempuan yang sedang bahagia menikmati malam-malam pengantinnya.
                “Aku rasa kita belum melewati malam pertama, apa kamu yang pertama melepas kegadisnmu dengan Danu, nanti setelah Danu datang...?”Dian bertanyapada Diana.
                “Terserah Danu masuk pintu rumah yang mana dahulu, disitu yang akan malam pertama terlebih dahulu.”Diana menjawab dengan tenang.
                Keesokan paginya tepat setelah seminggu berlalu, Danu datang sambil membawa seorang perempuan yang serasa pernah mereka temui....ya....disuatu tempat....di Bali....
                “Dona....”Dona memperkenalkan diri.
                Terlihat ditangan kiri Dona bergantung gelang perak berinisial ‘D’, dan ditangan kanan Dona bergantung gelang emas berinisial ‘D’, beserta cincin kawin emas berinisial ‘D’ dan berlian ditengah huruf tersebut. Mata Diana penuh selidik, Danu mempunyai selera humor yang tidak lucu. Mereka berempat ditinggal bekerja oleh Danu, kemudian Dona mengundang Diana, Dian dan Dina masuk kedalam rumah ungu muda nya, didapur terdapat gelas ungu dengan potret Dona didalamnya, dan dimeja tamunya terpanjang pena perak berwarna ungu dengan inisial ‘D’ ditutupnya, mengapa Danu ingin menyamakan Dona dengan ketiga sahabat 3D itu, lelucon yang benar-banar tidak lucu.
                “Bagaimana pun juga kita berempat adalah istri-istri Danu yang dinikahinya secarah syah, dan kita berempat harus mampu menerima keadaan ini, dan berbagi kebahagiaan.”Itulah perkataan bijak Diana dipagi itu.