Jumat, 05 November 2010


INISIAL ‘D’
Dalam seri 7 : “CINTA INI TAK ADA YANG TAHU”
                “Domi, kamu bersembunyi di rumah kecil dipinggir kota, hai, kamu berjanji membuatkanku pameran lukisan dan pameran photography?”
                “Aku istirahat dulu, sehari yang lalu baru keliling Eropa dan Asia pagelaran seni dan budaya Indonesia, menampilkan rancangan terbaik rumah produksi DeDe dan seni kebaya, batik khas disetiap daerahnya.”
                “Apa bukan karena ada masalah atau berlari dari masalah.”
                “Tidak, Niken dan keluargaku cukup sempurna, aku hanya rindu suasana rumah mungilku ini.”
                “Kamu terlalu sendu, cukur itu kumis dan jenggotmu, tidak cocok, seperti rambutan. Aku membawakan lukisan keluargamu, aku pajang diruang tamu, habisnya kamu menikah sangat terpencil didesa, jadi tidak sempat kuberikan lukisan pernikahan.”
                “Terima kasih, lukisan diruang tamu itu sangat mirip dengan fotonya.”
                “Dimana kamu sembunyi aku pasti menemukanmu, ayo pulang sudah beberapa bulan kamu meninggalkan rumah, sekarang malah tidur disini, bukan kamu saja yang bisa rindu, kamu pikir Niken tidak punya rindu?”
                Dosi menunggu Domi mandi, diruang tamu.
                Domi melepaskan dari dinding, lukisan keluarga, hadiah dari Dosi,”Akan ku pasang didalam kamarku, disini hanya aku kunjungi bila anak-anak libur sekolah, ayo pulang, kamu betul, Niken pasti rindu sekali padaku.”
                Malam itu diruang siaran radio Diorama, Dosi diam-diam memperhatikan Rina siaran dibalik ruang berkaca, kemudian masuk pintu yang berada diseberang pintu ruang siaran radio Diorama, ruang kerja Dosi. Dosi mengetik cerita bersambung komedi percintaan, dan komedi horor, sebagai mengisi waktu senggangnya mengumpulkan bahan pameran lukisannya, dan pameran photography nya, Dosi memesan khusus bingkai untuk lukisan dan fotonya dari ukiran Bali, perwayangan Bali, dan ukiran Jepara. Untuk melepas jenuh Dosi memasang sebelah telinganya dengan head set, mendengarkan suara Rina siaran, dan memetik gitar.
                Tapi malam itu saat Dosi ingin keluar dari kantor dan menuju pintu belakang untuk menuju kamar tidurnya, Dosi melihat ruang siaran masih menyala, tepat jam 12 malam seharusnya Rina mematkan lampu dan turun untuk tidur, mengusik Dosi mengintip ruang siaran sekali lagi, dilihatnya Rina tidur diruang siaran.
                “Rina, bangun, jangan tidur disini.”
                “Duga menyuruhku tidur diluar.”
                “Duga hanya bercanda, dia ingin kamu bermanja padanya saat dia cemburu, Duga seorang yang pendiam dan pencemburu, kamu harus pandai merajuknya, ayo cepat temui Duga.”
                Tak berapa lama dari tangga depan ada sebuah langkah menaiki tangga, buru-buru Dosi lari masuk keruang kerjanya, ternyata Duga, Rina yang pura-pura tertidur digendong Duga turun masuk kekamarnya. Dosi bernapas lega, karena tidak kepergok berbicara berduaan saja dengan Rina, melihat karakter Duga yang pendiam dan pencemburu.  
                Besok sorenya, sebelum siaran Rina masuk keruang kerja Dosi yang memang selalu terbuka.
                “Ada apa Rin.”Dosi menyapa Rina yang duduk dihadapannya.
                “Apa penampilanku ini memalukan Duga, untuk diperkenalkan keteman-temannya.”
                “Tidak, menurutku, kamu lebih cantik dan menarik, daripada teman-teman Duga yang wajahnya kutu buku dan kelihatan seperti selalu kelelahan bekerja.”
                “Apa karena latarbelakangku yang sangat memalukan untuk diceritakan Duga pada siapa saja, bila ada yang bertanya tentang diriku.”
                “Jangan terlalu sensitif, tidak ada yang berhak memfonis seseorang, hanya Tuhan yang menentukan derajat manusia dialam ciptaannya ini.”
                “Kamu dulu yang pernah mengatakan, bahwa dokter mempunyai komunitasnya sendiri untuk berkumpul dan berteman.”
                “Tapi hati manusia siapa yang bisa mengetahuinya, selain Tuhan.”Dosi sedikit menekankan suaranya untuk meyakinkan Rina.
                “Apa karena Duga melihatku seperti anak-anak.”
                “Rina, berhentilah merendahkan dirimu sendiri.”Perkataan itu membuat Rina terdiam dan mulai memasuki ruang siaran radio Diorama.
                Beberapa malam berikutnya, tengah malam setelah siaran, Rina menangis sendiri, Dosi menunggu beberapa jam, menunggu apa Duga menemui Rina seperti saat itu, tapi berjam-jam Dosi menunggu Duga, Rina dibiarkan sendiri menangis diruang siaran. Dengan berat, akhirnya Dosi menghampiri.
                “Kenapa?”
                “Aku tidak tahu harus kemana?”
                “Apa maksudmu?”
                “Bila Duga berkali-kali menolakku didalam kamar kemana aku harus kembali, tidak mempunyai keluarga yang menaungiku.”
                “Ada tiga kali batasan untuk seorang muslim, mungkin aku sebagai pihak ketiga untuk menanyakan hal ini ke Duga. Aku tidak mengerti permasalahan kalian, aku ingin mendamaikan bila memang kalian berdua saling mencintai, Tuhan akan memberi solusinya, yang tidak merumitkan dan membebani umatnya.”
                Sore itu Rina meringkas pakaiannya, dan pergi...
                Dosi mengikutinya dari belakang, berhenti disebuah rumah singgah, dan masuk dimushola kecil, Rina tidur disana.
                Ketika malam setelah sholat Isya dimushola yang sama, Dosi menghampiri tempat sholat perempuan, dan membangunkan Rina yang tertidur dimusholah,”Rin, tidur dirumah Domi aja, rumah Domi kan dekat dari sini.”
                “Kamu Dosi.”Tanpa banyak bicara Rina beranjak dan pergi bersama Dosi kerumah Domi yang mungil ditepi kota itu.
                Paginya Dosi mengantarkan Rina pulang.
                “Sampai dirumah, kamu langsung kekantor Dion, kita lewat rumah Duga.”
                “Rumah Duga.”
                “Iya, kamu tidak tahu Duga punya rumah mewah ditengah kota.”
                “Dia sepertinya tertutup sekali padaku.”
                “Tiga tahun lebih dia merahasiakannya.”
                Sampai didepan rumah Duga yang mewah megah dengan halaman luas, rumah putih berdesain Eropa klasik.
                “Duga datang, itu mobilnya.”Dari dalam mobil Rina menunjuk mobil Duga yang masuk halaman rumahnya.
                “Iya sepertinya Duga mencarimu, aku harus cepat mengantarkanmu ke rumah.”
                Sampai dirumah kaca biru, Rina cepat-cepat menuju kantor Dion, karena harus bekerja dikantor Expedisi itu.
                Dosi tidak turun dari mobil tapi memutar mobilnya kembali menuju rumah Duga, kebetulan Duga keluar halaman rumah, kemudian menyisir rumah-rumah singgah, dan mengetuk rumah Domi yang sudah kosong, Dosi mengikutinya sangat hati-hati. Duga akhirnya, kembali ke rumah biru. Saat memakir mobil dihalaman samping rumah biru, bertepatan pula Dosi memarkirkan mobilnya.
                Duga dan Dosi bersamaan keluar mobil dan bersamaan menaiki tangga tanpa menyapa. Duga berhenti dilantai 3, dan Dosi terus kelantai 4.
                “Rina, tidur dimana kamu semalam? Aku mencarimu.”Duga menyapa Rina ditempat kerjanya.
                “Hai Duga.”Kebetulan Dion masuk keruangan.
                Duga akan beranjak keluar kantor Dion, tapi Dion mencegahnya.
                “Aku akan keluar, mengecek muatan, aku hanya mengambil data saja di Rina, teruskan saja bicara.”
                Dion keluar kantor, dan Duga duduk kembali disamping Rina.
                “Maafkan aku.”Duga meminta maaf.
                “Ini sudah ketiga kalinya kamu enggan denganku, dan ini bukan sebuah permainan, selesaikan jalan keluar yang terbaik sesuai ajaran agama kita, agar kita bisa saling bersama.”
                “Akan kucari jalan keluarnya, jangan meninggalkan rumah lagi, tidur saja didalam kamarku, aku saja yang tidur dikamar bedah.”
                Sore hari sebelum siaran di radio Diorama, Rina menemui Dosi.
                “Carikan jalan keluar untukku dan Duga.”
                “Kamu sangat mencintai Duga....”Rina mengangguk menjawab pertanyaan Dosi,”Aku akan menemui Duga malam ini, akan berbicara sesama lelaki dewasa.”
                “Aku menunggu semuanya dari kalian berdua.”
                “Tunggu aja didalam kamarku, ini kuncinya, tidak baik kamu tidur diluar rumah ini.”
                “Aku tetap tidur dikamar Duga, Duga yang tidur dikamar bedah.”
                Malam, ketika Rina masih siaran di radio, Dosi menemui Duga diruang prakteknya.
                “Sudah tidak ada pasien kah, jam 9 ini?”
                “Iya, ada apa?”
                “Rina....”
                “Iya, itu masalah kita, sendiri.”
                “Tidak lagi masalah kalian berdua, bawa aku untuk menyatukan cinta kalan, demi Rina dan anaknya, dan cintanya.”
                “Apa yang harus kuperbuat, aku belum cukup mengerti dengan emosiku ini, cinta ini kadang membuatku membara, membuatku meledak, aku perlu waktu untuk berfikir.”
                “Ini waktunya kamu untuk berfikir dan belajar mengendalikan emosi, menurut keyakinan kita, Rina harus menikah lagi dengan orang lain, baru bisa kembali padamu.”
                “Maksud...maksudmu apa Dosi.”
                “Biarkan aku dan Rina menikah, selama enam bulan, dengan masa idhahnya selama tiga bulan, genap sembilan bulan kamu bisa menikahi Rina kembali.”
                “Aku memang sangat pencemburu, tapi cinta ini menguji kecemburuanku.”
                “Aku hanya menikahi Rina hanya dengan penghulu, hingga enam bulan berikutnya kita bercerai tanpa sidang perceraian, otomatis buku nikahmu yang lama, setelah menikah kembali dengan Rina akan berlaku kembali.”
                “Aku tidak tahu lagi mungkin ini yang terbaik.”
                “Kamu mencintai Rina, Duga, kamu sanggup menantinya?”
                “Aku ingin kembali padanya, ingin kembali menjadi keluarga yang utuh, aku mencintainya.”
                “Itu pernyataan yang harus kupegang dan harus kamu pegang juga, belajarlah untuk bersabar.”
                Dosi menunggu Rina selesai siaran tengah malam itu.
                “Kita harus menikah Rin, sebelum kamu bisa menikah dengan Duga kembali, kita menikah hanya dengan penghulu dan para saksi.”Dosi memberikan hasil pembicaraannya dengan Duga.
                “Duga mengetahui ini.”
                “Ini jalan satu-satunnya.”
                Pernikahan sangat sederhana didalam kamar Dosi, disaksikan seluruh anggota keluarga dan penghulu, ketika pintu kamar Dosi tertutup seperti mimpi, Rina sudah berdua saja dengan Dosi.
                “Dosi, kenapa duduk saja disana, kamu menyiksaku.”
                Dosi pindah duduk disisi Rina diatas tempat tidur.”Aku menganggapmu masih sebagai istri kakakku.”
                “Tidak, kita sekarang suami istri, lakukan tugasmu sebagai suami.”
                Dosi mencumbu Rina.
                “Berapa tinggi badanmu Dosi.”
                “Sebenarnya 190 cm, tapi aku merendahkannya menjadi 187cm.”
                “Kamu tinggi dan besar.”
                Bibir Dosi mencium bibir Rina agar berhenti bicara.
                “Dosi kamu mulai menyakitiku, sudah hampir sejam tidak selesai-selesai.”
                “Maaf Rin, aku tidak fokus.”
                “Berhenti saja, aku menunggumu yang memulainya dan siap.”Dosi menuruti perkataan Rina dan berhenti.”Kita keluar saja dari rumah ini, selama jangka waktu yang telah kamu tentukan, Dos. Agar kita berkeluarga dengan tenang walau waktunya terbatas.”
                “Iya kita pergi ke villa ibuku. Tapi aku ijin Domi dahulu untuk selama setahun ini mengkosongkan jadwal pameranku dan bedah buku. Aku ingin menikmati pernikahan kita walau terbatas oleh waktu.”
                Dosi menelpon Domi, dan Rina menyiapkan pakaian mereka dalam koper.
                Sore itu, mereka pergi ke villa ibu Dosi. Duga menyaksikan kepergian, Dosi dan Rina, kemudian, Duga memberikan SMS nya.”Tepati janjimu, Dosi, bawa Rina kembali padaku, setelah kamu pergi, dan kembalilah.”
                Dosi membalas SMS duga.”OK.”
                Pagi buta mereka sampai didepan villa.
                “Kita sholat subuh dan mencari restoran terdekat, didalam mobil ada alat-alat foto dan alat-alat lukis, karena tidak ada yang memberiku hadiah pernikahan, aku akan membuat hadiah pernikahan untukku sendiri.”
                “Aku ingin belajar melukis denganmu.”
                “Oke, kita mencari tempat-tempat yang indah sebagai obyek melukis.”
                “Dipantai?”
                “Dari pantai kemudian ke pegunungan, kemudian didalam villa, semuanya ingin kujadikan obyek lukisanku, dan kamu, Rina ada disana, dengan segala latar belakangnya, laut, gunung, taman, tempat tidur kita berdua.”
                Setelah sholat subuh dan sarapan pagi direstoran terdekat, mobil Dosi meluncur menuju pantai, memajang dua kanvas besar untuk melukis, satu kanvasnya untuk Rina belajar melukis.
                “Kita siapkan dan merencanakan warna apa saja yang ingin kita pergunakan dan kita siapkan dikaca lebar ini, beberapa kuas datar dan kuas silinder kita siapkan, kuas besar untuk membuat latar belakang, dan kuas kecil untuk detailnya.”
                Rina mengikuti petunjuk Dosi.
                “Langkah pertama kita membuat latar belakang pantai, langitnya, awan, dan biru lautan, pasir, dan buihnya. Setelah latar belakang selesai...”
                “Tunggu Dosi betulkan dulu punyaku, kamu pandai sekali membuat gradasi warna, dan cekatan mencampur beberapa warna yang telah kamu sediakan dikaca lebar ini.”
                Dosi berpindah kelukisan Rina dan memetulkan lukisannya, Rina juga mencoret beberapa garis kelukisan Dosi.
                “Rina, kamu merusak lukisanku.”
                “hhhhhh.....okelah kembalilah kelukisanmu sendiri, apa aliran lukisan kita Dos.”
                “Aliran kontemporer naturalis.”
                “Okelah aku kurang memahaminya.”
                “Setelah latar belakang selesai kita mulai menggambar obyek yang hendak kita lukis. Aku ingin melukis dirimu, Rin.”
                “Silakan, aku menggambar abstrak aja, ga bisa yang natural. Ahhhhkkk...betulkan dulu warna obyekku.”
                Dosi bertukar posisi lagi membetulkan lukisan Rina, dan Rina mencoret kembali warna kedalam lukisan Dosi.
                “Rina itu lukisanku jangan dirusak.”
                Dosi berpindah lagi, kembali ketempat lukisannya.
                Dosi kali ini sangat serius melukis karena dia mulai menggambar obyeknya semirip mungkin aslinya,Rina.
                “Tahap akhir adalah pencahayaan, kita harus detail sehingga lukisan kita tampak hidup dan bergerak, istilahnya 3 dimensi.”
                Lama sekali mereka berdua melukis dari pagi hingga ditengah siang, Dosi dan Rina menghentikan melukis, berlarian dipinggir pantai dan bermain-main seperti anak kecil.
                Mobil Dosi meluncur mencari makan siang, dan menuju perbukitan hijau. Dosi mengeluarkan kanvasnya yang baru, lukisan pantainya yang sudah selesai disimpannya.
                “Ayo kita melukis lagi.”Rina membantu Dosi memasang alat lukis, dua buah kanvas putih, satu untuk Rina belajar melukis,”Sekarang aku belajar melukis perbukitan, dan abstrak.”
                Dosi mengeluarkan beberapa warna diatas kaca valetnya, dan mencampurkan beberapa warna untuk membuat latar belakang perbukitan pinus dan bunga-bunga bougenvile, Rina mengikuti cara Dosi melukis.
                “Aliran apa yang ingin kamu lukis sekarang.”
                “Tetap , kotemporer naturalis.”
                Sore menjelang, lukisan Rina dengan latar belakang perbukitan telah selesai. Mobil Dosi kembali ke villa, senja yang menguning mereka sampai di villa. Usai sholat maghrib, Dosi melukis Rina diberanda, lantai 2 villa, lukisan berlatar belakang langit malam di atas villa.
                “Perjalanan yang melelahkan.”Rina jatuh kedalam pelukan Dosi.
                Dosi terbangun karena kaki Rina mengenai kepalanya.”Masya Allah gaya tidur yang liar dan nakal.”
                Dosi memeluk Rina dari belakang, dan menggelitiknya,”Tidurmu gelisah, berputar-putar, aku tahu tidurmu tidak pernah nyenyak, dipegang begini, pasti akan mudah terbangun.”
                Dosi sudah berada diatas Rina.
                “Kamu besar dan panjang.”Rina berbisik dibawah telinga Dosi.
                “Hmmm, ini pertama kali untukku.”Dosi juga berbisik ditelinga Rina.
                Rina masih tertidur, Dosi melukisnya ditengah kamar yang berlampu kekuningan.
                “Apa yang kamu perbuat pagi ini.”
                Dosi menyodorkan beberapa lembar karikatur, komik, buatannya.
                “Ini gambar komik jorok.”
                “Hanya untuk koleksi pribadi.”
                “Kamu tidak merekamnya dalam handycam kan, hanya dalam gambar komik kan?”
                “Itu perbuatan yang mempermalukan diriku sendiri, ini hanya hasil karya goresan tanganku diatas kertas gambar.”
                Dosi mengajak keliling didalam ruangan villa.
                “Penuh lukisan, lukisan siapa saja?”
                “Sebagian besar lukisan ibuku, sebagian lagi lukisanku.”
                “Kalian sama-sama pandai melukis.”
                Mereka berdua masuk diruang berkaca-kaca, tersekat kaca warna warni, ditempelkan berbagai foto Dosi, Domi, dan ibunya.
                “Ini galeri keluarga, foto-foto kami bertiga, dari masa anak-anak hingga dewasa.”
                Dosi menggendong Rina yang tampak kecil dalam pelukan Dosi, dan mereka bercinta diatas meja kaca yang besar, ditengah galeri yang beruang rumit, bersekat-sekat penuh kaca.
                Beberapa bulan mereka tinggal di villa milik ibu Dosi.
                “Dosi aku mual.”
                “Pastilah kamu mual, dari pertama kali kita masuk villa ini, kamu tidak pernah menstruasi, bukankah kamu sudah berpengalaman.”
                “Kamu sengaja membuatku hamil.”
                “Kita sepasang suami-istri kan, wajar kita melakukannya, Duga harus berbesar hati dan bersabar untuk mendapatkan cintanya kembali, kamu mencintai Duga.”
                “Wajah Duga terlalu tampan untuk dilupakan.”
                “Apa lagi Duga yang pertama kali bercinta denganmu.”Dosi merasa cemburu.”Kalau kamu susah makan, kita beli buah-buahan segar, dan kuberitahukan cara makan yang nikmat.”
                Dosi memotong buah-buahan segar dan banyak mengandung air dan manis.
                “Salah kalau orang hamil suka mangga muda, coba rasakan semangga, apel merah, leci, dan melon merah ini.”Dosi mencontohkan cara makan buah yang nikmat dengan memasukkan aneka macam buah kedalam mulutnya, hingga mulutnya gembung seperti balon dan mengunyahnya perlahan-lahan didalam mulut sampai pipinya kempes.
                Rina mengikutinya,”Iya mualku hilang karena asam dalam mulutku terhapus rasa manis dan buah-buahan yang banyak mengandung air.”
                “Ini berbagai macam kacang-kacangan, dari kacang tanah, almond, kacang koro, kacang mente, dan coklat, menghilangkan jenuh dan strees.”
                Enam bulan tak terasa berlalu cepat....
                “Kita harus kembali ke rumah, tiga bulan kedepan kamu melahirkan dan setelah nifas, kamu menikah kembali dengan Duga, tadi Duga sudah mempertanyakan kesehatanmu dan kandunganmu, dia merindukan dan mengawatirkanmu. Dia berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan untuk anak kita.”
                “Iya, semenjak kemarin malam pakaian kita sudahaku pak dalam koper.”
                Duga sudah menunggu kedatangan Dosi dan Rina, dan Dosi menelponDomi.
                “Aku sudah siap untuk pameran lukisan dan pameran photography.”
                Dari balik telpon Domi menjawab,”Ini belum setahun kan.”
                “Kamu bercanda.”
                “Oke tunggu sebulan dua bulan untuk persiapannya.”
                “Oke kutunggu.”
                Rina tetap bekerja di radio Diorama sore hingga tengah malam. Dosi membawa Rina kedalam ruang kerjanya, ternyata tembok dibelakang ruang kerja Dosi bisa dibuka dan terdapat galerry seni.
                “Aku ingin melukismu diruang rahasiaku ini dalam keadaan hamil anak kita, ruangan ini kamu pertama kali yang melihatnya.”
                “Kamu seorang penguntit, kamu mempunyai foto-foto Domi dalam berbagai bentuk dan diberbagai tempat. Kamu juga mempunyai foto-foto Duga dalam pakaian bedah dalam berbagai tempat dan ekspresi. Dan yang paling banyak fotoku dan foto Dirga.”
                “Duga, Domi, Dirga, dan kamu, mempunyai karakter disetiap jepretan fotoku yang spontan, ekspresi wajahnya sangat berkarakter.”
                Dan usai siaran, Rina kembali masuk kekamar Duga.
                Baru seminggu dalam pameran lukisan di Bali, Dosi ijin ke Domi untuk pulang,”Domi, aku pulang sebentar, Rina melahirkan.”
                Dibalik ruang bersalin dikamar inap, ruang poli anak milik Duga, Dosi dan Duga menunggu Rina melahirkan, Ketika pintu terbuka, Dosi melangkah pergi, dari balik punggungnya Dosi mendengar,”Selamat Duga, anakmu perempuan.”
                Kemudian Dosi memberi SMS ke Duga,”Berikan nama Donita.”
                “Iya.”Duga membalas SMS Dosi.
                Dosi segera kembali ke Bali melanjutkan pameran lukisannya, bergantian pula untuk pameran photographynya.
                Tiga bulan berlalu, dari saat Rina melahirkan, dan sukses pameran lukisan dan photography yang diadakan Dosi dan Domi. Dosi tidak pulang kerumah tapi menuju villa ibunya.
                “Hai Dosi, kamu jangan cengeng dan berhentilah mencintai istri kakakmu sendiri.”
                “Aku manusia.”
                “Kamu yang melarangku menyendiri, tapi kini kamu menyendiri di villa ini, pulanglah, ayah menunggumu dirumah.”
                Sampai di rumah kaca biru, Danu menunggu Dosi, anaknya, didalam kamar Dosi.
                “Cepatlah menikah, jangan menyiksa dirimu, ayah akan carikan, atau kamu mencari sendiri.”
                “Aku bukan Duga, ayah, yang ayah menyuruhnya menikah, lantas dia menikah, aku masih butuh waktu.”
                “Kapan lagi, hanya kamu anak ayah yang belum menikah, ayah ingin melihatmu bahagia.”
                “Aku sudah pernah menikah ayah, dan sudah punya anak, walau semua tidak pernah menganggap itu ada.”
                “Iya, ayah mengerti, tapi itu juga sudah berlalu, kamu perlu menata hati dan dirimu kembali, kamu perlu teman pendamping, supaya tidak menjadi pelarian kemana-mana.”
                “Iya, aku akan mencarinya sendiri.”
                Dosi kembali kekantornya, menemui asistennya.
                “Carikan aku calon isi yang membuat hidupku bergairah.”
                “Bos, Domi banyak berteman dengan manager para artis, Bos bisa minta salah satu artisnya.
                “Aku serahkan semuanya padamu, untuk apa aku minta bantuan kamu kalau aku sendiri yang bilangke Domi.”
                “Beres bos soal itu.”
                “Suruh dia masuk kekamarku.”Dosi melempar kunci kamarnya ke asistennya.
                “Sekarang bos.”
                “Seribu tahun lagi, ya sekarang dong.”
                “Sudah ga tahan bos. Okelah.”
                Sesudah kerja Dosi memasuki kamar tidurnya.
                “Hah....Siapa kamu.”Dosi terkejut dan berkejaran dengan wanita cantik yang memakai baju sangat minim.”Tunggu aku mau keluar, kamu salah sangka, aku tidak ingin melakukan ini sebelum menikah.OK.”Dosi akhirnya menelpon asistennya.”Ito, dimana kamu?”
                “Aku masih diruang rekaman, bos, ada yang perlu diedit.”
                “Aku kesana.”Dosi masuk lagi keruangan kerja dan masuk kesebuah ruangan yang kedap suara.”Wah itu sih bom seks, membuat aku takut.”
                “Itu membuat bos bersemangat dan bergairah.”
                “Bawa dia pulang bersamamu, carikan yang lugu aja, ibaratnya TKW yang ga jadi pergi.”
                “OK. Nanti malam kubawa pulang, dan kucarikan yang lugu bersahaja.”
                Dosi tertidur diruang kerjanya. Pagi harinya, Dosi turun ke ruang makan, sekedar mengambil makanan dan minuman lalu pergi berlalu.
                “Kapan kamu pulang?”Duka menyapanya dari belakang, sambil duduk dikursi makan, melihat Dosi yang akan pergi kekamarnya.
                “Dua hari yang lalu.”Dosi menjawabnya sambil berjalan.
                Dosi makan dikamarnya, dan menelpon bibi yang biasa membersihkan ruangan, untuk membersihkan kamar.
                “Kamu pembantu baru?”
                “Bang Ito yang membawa saya kemari, katanya saya boleh minta gaji bulanan setinggi-tingginya, karena itu saya batalkan kerja ke Arab Saudi.”
                “Pagi mas, mau dibersihkan.”Bibi yang ditelpon Dosi muncul didepan pintu.
                “Biar saya aja bi, yang membersihkan.”Wanita itu mengambil penyedot debu dari tangan bibi yang biasa membersihkan rumah.
                “Hai, jangan kamu bukan dijadikan pembantu dirumah ini, apa Tito tidak memberikan kamu pengertian.”
                “Kalau tidak dijadikan pembantu lalu dijadikan apa?”
                “Terserahlah.”Dosi kemudian keluar kamar menuju kantornya.”Tito kamu dimana, aku mau bicara sebentar.”Dosi menelpon Tito.
                “Ada distudio rekaman bos, ada apa?”
                “Kamu mencarikan calon istri atau calon pembantu untukku, dia menyapu semua ruangan rumah ini, sedang ruangan rumah ini luasnya hampir 1.5 hektar, dan penampilannya kurus tinggal kulit dan tulang.”Dosi berbicara dengan Tito distudio rekaman.
                “Oh, aku sudah menjelaskannya, hanya mungkin dia perlu bos yakinkan.”
                “Siapkan pemberitahuan lamaran kerumah orang tuanya, sebelum orang tuaku datang melamarnya, supaya orang tuanya tidak kaget, bilang padanya tidur dikamarku, biar aku tidur dikantor saja.”
                “Sekarang bos?”
                “Seribu tahun lagi.”
                “HAHAHA.”Tito tertawa mendengar canda an Dosi.
                Sepertinya Dosi malas memikirkan suatu proses cinta, pernikahan mewah terjadi didesa rumah orang tua, Wati, istri Dosi.
                “Berjam-jam kamu berdiri disamping tempat tidur, tidur disebelahku, apa kamu tidak sadar kita sudah suami-istri.”Dosi menegur Wati yang hanya berdiri saja melihat Dosi membaca buku ditempat tidur.
                “Awalnya saya tidak percaya.”
                “Jangan berbicara kaku seperti itu, panggil aku, mas.”
                Wati tidur disebelah Dosi, kemudian Dosi mengecilkan lampu kamar menjadi temaram.
                Dosi menyentuh bahu Wati dan Wati menjadi kaku.
                “Kenapa badanmu jadi kaku dan dingin.”Tangan Wati mendorong badan Dosi.”Hai kenapa kita jadi seperti bermain gulat ditempat tidur, kamu membuatku jadi ga berhasrat.”Dosi akhirnya meninggalkan kamar tidurnya, menuju kantornya, dan tidur disana.
                “Tito aku tidak berhasrat dengannya.”Tengah malam itu Dosi menelpon asistennya.
                “Tenang bos, bos perlu suasana romantis, akan aku uruskan bulan madunya di Bali.”
                “Ya, terserah buatlah sebagus dan serapi mungkin rencananya.”
                Sampai di Bali Dosi memesan kamar terpisah dari Wati, dan merencanakan mengembalikan Wati kedesanya, tempat orang tua Wati tinggal, membayar Idha, walau tidak pernah terjadi hubungan suami-istri.
                “Aku kembalikan Wati kepada kalian, orang tuanya, ini uang idha, untuk membelikan rumah dan tanah, agar Wati tidak kembali bekerja di luar negri lagi. Soal balik nama rumah dan tanah ini beserta surat cerainya, biarkan pengacara saya yang mengurusnya agar bapak ibu tidak ditipu.”
                “Terima kasih anda meminta dan mengembalikan anak saya, Wati, dengan sangat baik.”
                Dosi sampai dirumah kaca malam hari, setelah pulang dari Bali, mengembalikan Wati keorang tuanya, mengurus pembelian tanah dan rumah sebagai uang idha, langsung pulang, begitu melelahkan, pernikahan singkat dan melelahkan hati.
                “Hai bos, kayak apa bulan madunya, kok sendiri saja.”
                “Sudahlah Ito, aku lelah.”Dosi melewati begitu saja ruang kerjanya, menuju kamar tidurnya.
                Diruang kerja Dosi, keesokan paginya, Tito menemui Dosi.
                “Dimana istrimu, Dos?”
                “Kukembalikan ke orang tuanya.”
                “Hamilkah? Usai bulan madu?”
                “Aku menceraikannya.”
                “Semudah itu dapatnya, secepat itu hilangnya.”Tito kembali kestudio rekaman.
                Ternyata Rina menguping pembicaraan Tito dan Dosi, ketika lewat untuk menuju radio Diorama bukan untuk siaran, sekedar menyapa Dosi untuk melihat keadaannya.
                “Aku menjadi sedih melihat keadaanmu.”Rina masuk keruang kerja Dosi.
                “Kerjalah dikantor Dion, jangan sering-sering kekantorku kalau tidak ada jam siaran, Duga bisa-bisa membunuhku.”
                “Aku punya teman dirumah singgah, usianya sama denganku, tapi dia tidak punya akte kelahiran, sama denganku tidak punya orang tua, hanya berdua saja dirumah singga dengan adiknya.”
                “Kalau kamu ingin merencanakan pernikahan untukku aku membuka hati.”
                “OK.  Akan kukenalkan besok pagi, aku tinggal dulu ya.”Rina menuju kantor Dion dan mulai bekerja.
                Besok pagi, seperti janji Rina, Atika temannya datang bersama Rina, kekantor Dosi.
                “Kalian berdua dan ayah buatlah rencana pernikahan untukku.”
                “Asalkan kamu tidak mudah menikah dan mudah pula bercerai. Akan aku katakan pada ayah.”
                “Aku tidak inginkan pacaran, nanti aja pacaran setelah menikah.”
                “OK. Aku bicarakan dulu dengan, Duga, suamiku, kemudian Duga dan Duka akan mengatakan pada ayah.”
                “Bukankah hidup ini tidak rumit, manusia saja yang membuatnya sulit dan rumit.”
                “Ok, Atika dan Aku mau kerja dahulu, Atika bisa membantuku bekerja dikantor Dion.”
                Mudah sekali menikah.....dan acara itu berlangsung lancar.....pernikahan Dosi dan Atika.
                “Ini sesuatu yang gila, aku tidak berhasrat bercinta dengan anak-anak, walau kamu sembunyikan berapa usiamu, perasaanku ini tidak mudah tertipu.”Dosi menatap wajah Atika deka-dekat ditepi tempat tidurnya.”Aku akan membelikan rumah untukmu, dekat dengan rumah Domi dan rumah singgah, kamu bisa kursus menjahit, kursus komputer, dan kursus bahasa, dan uang kehidupanmu untukmu dan adikmu.”
                “Kamu ingin menceraikanku.”
                “Aku menunggumu dewasa.”
                “Kamu mengerti, ini hanya untuk kita berdua saja.”
                Perumahan baru ditepi kota, persis disebelah rumah Domi, Dosi membelikan dua kapling rumah untuk Atika.
                “Kalau kamu memerlukan segala sesuatu tinggal telpon, ini tabungan berdua untuk kalian.”Dosi meninggalkan Atika dan adiknya didalam rumah.
                Dan Atika menelpon Rina. Sampai di rumah kaca biru, Rina menemui Dosi.
                “Kamu berencana meninggalkannya.”Rina bertanya kekantor Dosi, ketika Dosi sampai disana.
                “Tidak.”Dosi menjawab singkat.
                “Atika menelponku, dia mengatakannya,kalau kamu meninggalkannya berdua saja didalam rumah yang kamu belikan, dua rumah.”
                “Tidak.”
                “Lalu...kamu berencana menceraikannya.”
                “Tidak, Rina, aku menunggunya dewasa dan berkembang, aku tidak ingin mengambil saat-saat anak-anaknya, bersenang senang dengan sebayanya, terlalu berat beban dia untuk memikirkan keluarga, suami, atau anak.”
                Tiga tahun, tak terasa....
                “Dos, kamu tidak menjenguk istrimu, lupakah?”Rina menegur Dosi dikantornya.
                “Aku masih menstransfer uang untuknya.”
                “Bukan sekedar uang, dia sakit, dia butuh perhatian.”
                “Ya aku akan datang untuknya.”
                Dosi menjenguk segera istrinya ditepi kota.
                “Sakit apakah? Kita ke dokter, tempat prakteknya Duga.”
                Dosi membawa istrinya di rumah kaca biru, menemui Sari.
                “Kamu bisa memeriksa istriku, Sari.”
                “Sebenarnya aku bukan ahli penyakit dalam, tapi okelah akan kuperiksa. Sepertinya dia sangat kesakitan di ulu hatinya. Kamu perlu memeriksakan laboratoriumnya, perutnya mengeras. Aku akan memberi obat analgetik, untuk mengurangi rasa sakitnya.”
                “Kapan selesai tes laboratoriumnya.”
                “Dia harus menjalani general check up, darah, foto rontgen. Nanti dokter specialisnya yang akan menentukan.”
                “Melalui kamu bisakan?”
                “Akan kuserahkan pada ahlinya, tenang saja temanku sesama dokter.”
                Beberapa hari kemudian, Sari menemui Dosi setelah makan pagi.
                “Sudah aku ulang memeriksa laboratoriumnya, tapi aku harus segera mengatakannya agar segera dilaksanakan pengobatannya sebelum sangat terlambat.”
                “Apa penyakit istriku.”
                “Dokter bukan Tuhan, kamu harus siap dan sabar.”
                “Iya, aku sudah cukup tenang.”
                “Istrimu mengidap cancer hati stadium 3, usia diperkirakan 6 bulan lagi.”
                “Apa yang harus kulakukan.”
                “Kalau sudah stadium lanjut seperti ini, operasi sangat tidak dianjurkan, kemoterapi dan pengobatan herbal mungkin lebih disarankan, dan obat pengurang sakit dosis tinggi untuk mengurangi rasa nyeri dan efek kemotrapinya.”
                “Segera lakukan sebelum sangat terlambat, mungkin ada suatu keajaiban Tuhan.”
                “Reaksi kemotrapi sangat beragam, semoga tubuhnya bisa menerimanya dengan baik, karena sifat kemotrapi bukan saja menyerang sel cancernya tapi juga sedikit mengganggu selnya yang baik juga.”
                Dosi mengangguk.
                “Buat dia merasakan senang dan tentram, itu juga terapi terbaik untuk mengeluarkan hormon positifnya, dan membantu terapinya.”
                Dosi hanya mampu menganggukkan kepala.
                Dosi memeluk istrinya, danmencium keningnya didalam kamar tidurnya.
                “Maafkan aku tidak memperhatikanmu.”
                “Apa penyakitku parah, apa aku masih mampu mempunyai anak.”
                “Minum saja obatnya dan rutin kemotrapi, Tuhan maha pemurah memintalah pada-NYA.”
                “Kamu suami yang sangat sempurna untukku, aku bahagia denganmu, hingga aku malu meminta berlebihan pada Tuhan, selain rasa syukurku.”
                Dosi mempererat pelukannya, dan diam-diam menyimpan tangisnya.
                Usia seseorang tidak ada yang tahu, walau masih sangat muda, 17 tahun, Atika meninggal dalam pelukan Dosi, wajahnya sangat tenang.
                “Aku tidak pernah sesedih ini.”Wajah Dosi sangat kuyup dan lelah, hari-harinya penuh tangisan enam bulan ini.
                “Maafkan aku Dosi.”Rina menghampiri Dosi dipinggir tempat istirahat Atika terakhir, tanahnya masih basah dan penuh bunga mawar merah dan melati.
                “Aku lah yang lebih banyak bersalah pada istriku, ini hukuman Tuhan padaku, mengambil istriku daripada dia lebih menderita hidup denganku yang tidak penuh perhatian, ini kesalahanku.”Dosi meratapi kesedihannya.
                Duka mengangkat bahu Dosi yang tidak mampu berdiri lagi dan membimbingnya masuk mobil.
                Tito menjenguk Dosi didalam kamarnya.
                “Bos, baik-baik saja.”
                “Aku tidak baik-baik aja, aku lelah fisik dan hati, aku duda ketiga kalinya.”
                “HHH.”
                “Ini tidak lucu.”
                Ketika Tito keluar kamar Dosi, Danu datang masuk kedalam kamarnya.
                “Kamu perlu berjalan-jalan liburan keluar kota atau keluar negri.”
                “Aku perlu istirahat dirumah saja, ayah, karena sebentar lagi Dosi keliling Eropa untuk pameran lukisan.”
                ..........................................................................................................................................
                ...........................................................................................................................................
                D isuatu acara wisuda kedokteran, Universitas Indonesia.
                “Aku berterima kasih pada kalian berdua, mendidik, dan membesarkan Donita menjadi seorang dokter.”
                “Donita juga anak kami, Dos.”Duga menjawab perkataan Dosi,”Kita juga menghadiri wisuda anak kami Duta, setelah menyelesaikan Specialis Anaknya.”
                “Coba lihat, mereka berdua datang kemari.”Rina menghampiri kedua anaknya, Duta dan Donita, yang juga melangkah saling mendekati.
                Rina sedikit menjauh dari Dosi dan Duga.
                “Kamu tidak berniat menikah lagi.”Duga berbisik ke Dosi.
                “Jangan tawarkan lagi hal itu, aku cukup bahagia, lagian aku sudah pernah menikah 3 kali.”Dosi akhirnya mengajak Donita berdua saja masuk kedalam mobilnya.
                Sampai ditempat parkir rumah kaca biru, Dosi menghampiri Duga.
                “Aku pinjam anak dan istrimu untuk kuajak jalan-jalan.”
                “Kembalikan mereka berdua jangan lewat tengah malam.”Duga mengijinkan Dosi mengajak Rina dan Donita jalan-jalan dan makan malam, direstoran romantis.
                Malam menjelang, akhir jalan-jalan hari itu, disebuah restoran tengah kota.
                “Maafkan aku Dosi.”Rina meminta maaf segala kesedihan tentang Atika.
                “Itu sudah berlalu, dan kamu sudah meminta maaf berulang kali.”
                “Kamu tidak berniat menikahi adik Atika?”
                “Aku rasa tidak perlu, aku bahagia melihat Donita dan kamu bahagia, satu tugasku sebagai ayah belum tuntas, menikahkan Donita dengan pria idamannya, agar dia bahagia.”
                “Donita masih ingin meneruskan kuliah,mengambil specialis bedah umum seperti kakek.”
                “OK. Kita pulang sekarang, Duga pasti menunggu.”Dosi mengakhiri acara perjalanan malam itu.
                Didepan pintu kamar Duga.
                “Aku mengembalikan anak dan istrimu.”Dosi menghampiri Duga tapi langsung membelakangi untuk pergi kekamarnya sendiri dilantai 4.
                Duga menggumam sendiri,”Ternyata dia benar-benar mencintai istriku.”
               
               
               

               
               
               
               

               
               
               



               

               
               
               
               
                


Tidak ada komentar:

Posting Komentar