INISIAL ‘D’
Dalam seri 7 : “CINTA
INI TAK ADA YANG TAHU”
“Domi, kamu
bersembunyi di rumah kecil dipinggir kota, hai, kamu berjanji membuatkanku
pameran lukisan dan pameran photography?”
“Aku istirahat
dulu, sehari yang lalu baru keliling Eropa dan Asia pagelaran seni dan budaya
Indonesia, menampilkan rancangan terbaik rumah produksi DeDe dan seni kebaya,
batik khas disetiap daerahnya.”
“Apa bukan karena
ada masalah atau berlari dari masalah.”
“Tidak, Niken dan
keluargaku cukup sempurna, aku hanya rindu suasana rumah mungilku ini.”
“Kamu terlalu
sendu, cukur itu kumis dan jenggotmu, tidak cocok, seperti rambutan. Aku
membawakan lukisan keluargamu, aku pajang diruang tamu, habisnya kamu menikah
sangat terpencil didesa, jadi tidak sempat kuberikan lukisan pernikahan.”
“Terima kasih,
lukisan diruang tamu itu sangat mirip dengan fotonya.”
“Dimana kamu
sembunyi aku pasti menemukanmu, ayo pulang sudah beberapa bulan kamu
meninggalkan rumah, sekarang malah tidur disini, bukan kamu saja yang bisa
rindu, kamu pikir Niken tidak punya rindu?”
Dosi menunggu Domi
mandi, diruang tamu.
Domi melepaskan
dari dinding, lukisan keluarga, hadiah dari Dosi,”Akan ku pasang didalam
kamarku, disini hanya aku kunjungi bila anak-anak libur sekolah, ayo pulang,
kamu betul, Niken pasti rindu sekali padaku.”
Malam itu diruang
siaran radio Diorama, Dosi diam-diam memperhatikan Rina siaran dibalik ruang
berkaca, kemudian masuk pintu yang berada diseberang pintu ruang siaran radio
Diorama, ruang kerja Dosi. Dosi mengetik cerita bersambung komedi percintaan,
dan komedi horor, sebagai mengisi waktu senggangnya mengumpulkan bahan pameran
lukisannya, dan pameran photography nya, Dosi memesan khusus bingkai untuk
lukisan dan fotonya dari ukiran Bali, perwayangan Bali, dan ukiran Jepara.
Untuk melepas jenuh Dosi memasang sebelah telinganya dengan head set,
mendengarkan suara Rina siaran, dan memetik gitar.
Tapi malam itu
saat Dosi ingin keluar dari kantor dan menuju pintu belakang untuk menuju kamar
tidurnya, Dosi melihat ruang siaran masih menyala, tepat jam 12 malam
seharusnya Rina mematkan lampu dan turun untuk tidur, mengusik Dosi mengintip
ruang siaran sekali lagi, dilihatnya Rina tidur diruang siaran.
“Rina, bangun,
jangan tidur disini.”
“Duga menyuruhku
tidur diluar.”
“Duga hanya
bercanda, dia ingin kamu bermanja padanya saat dia cemburu, Duga seorang yang
pendiam dan pencemburu, kamu harus pandai merajuknya, ayo cepat temui Duga.”
Tak berapa lama
dari tangga depan ada sebuah langkah menaiki tangga, buru-buru Dosi lari masuk
keruang kerjanya, ternyata Duga, Rina yang pura-pura tertidur digendong Duga
turun masuk kekamarnya. Dosi bernapas lega, karena tidak kepergok berbicara
berduaan saja dengan Rina, melihat karakter Duga yang pendiam dan pencemburu.
Besok sorenya,
sebelum siaran Rina masuk keruang kerja Dosi yang memang selalu terbuka.
“Ada apa Rin.”Dosi
menyapa Rina yang duduk dihadapannya.
“Apa penampilanku
ini memalukan Duga, untuk diperkenalkan keteman-temannya.”
“Tidak, menurutku,
kamu lebih cantik dan menarik, daripada teman-teman Duga yang wajahnya kutu
buku dan kelihatan seperti selalu kelelahan bekerja.”
“Apa karena
latarbelakangku yang sangat memalukan untuk diceritakan Duga pada siapa saja,
bila ada yang bertanya tentang diriku.”
“Jangan terlalu
sensitif, tidak ada yang berhak memfonis seseorang, hanya Tuhan yang menentukan
derajat manusia dialam ciptaannya ini.”
“Kamu dulu yang
pernah mengatakan, bahwa dokter mempunyai komunitasnya sendiri untuk berkumpul
dan berteman.”
“Tapi hati manusia
siapa yang bisa mengetahuinya, selain Tuhan.”Dosi sedikit menekankan suaranya
untuk meyakinkan Rina.
“Apa karena Duga
melihatku seperti anak-anak.”
“Rina, berhentilah
merendahkan dirimu sendiri.”Perkataan itu membuat Rina terdiam dan mulai
memasuki ruang siaran radio Diorama.
Beberapa malam
berikutnya, tengah malam setelah siaran, Rina menangis sendiri, Dosi menunggu
beberapa jam, menunggu apa Duga menemui Rina seperti saat itu, tapi berjam-jam
Dosi menunggu Duga, Rina dibiarkan sendiri menangis diruang siaran. Dengan
berat, akhirnya Dosi menghampiri.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu
harus kemana?”
“Apa maksudmu?”
“Bila Duga
berkali-kali menolakku didalam kamar kemana aku harus kembali, tidak mempunyai
keluarga yang menaungiku.”
“Ada tiga kali
batasan untuk seorang muslim, mungkin aku sebagai pihak ketiga untuk menanyakan
hal ini ke Duga. Aku tidak mengerti permasalahan kalian, aku ingin mendamaikan
bila memang kalian berdua saling mencintai, Tuhan akan memberi solusinya, yang
tidak merumitkan dan membebani umatnya.”
Sore itu Rina
meringkas pakaiannya, dan pergi...
Dosi mengikutinya
dari belakang, berhenti disebuah rumah singgah, dan masuk dimushola kecil, Rina
tidur disana.
Ketika malam
setelah sholat Isya dimushola yang sama, Dosi menghampiri tempat sholat
perempuan, dan membangunkan Rina yang tertidur dimusholah,”Rin, tidur dirumah
Domi aja, rumah Domi kan dekat dari sini.”
“Kamu Dosi.”Tanpa
banyak bicara Rina beranjak dan pergi bersama Dosi kerumah Domi yang mungil
ditepi kota itu.
Paginya Dosi
mengantarkan Rina pulang.
“Sampai dirumah,
kamu langsung kekantor Dion, kita lewat rumah Duga.”
“Rumah Duga.”
“Iya, kamu tidak
tahu Duga punya rumah mewah ditengah kota.”
“Dia sepertinya
tertutup sekali padaku.”
“Tiga tahun lebih
dia merahasiakannya.”
Sampai didepan rumah
Duga yang mewah megah dengan halaman luas, rumah putih berdesain Eropa klasik.
“Duga datang, itu
mobilnya.”Dari dalam mobil Rina menunjuk mobil Duga yang masuk halaman
rumahnya.
“Iya sepertinya
Duga mencarimu, aku harus cepat mengantarkanmu ke rumah.”
Sampai dirumah
kaca biru, Rina cepat-cepat menuju kantor Dion, karena harus bekerja dikantor
Expedisi itu.
Dosi tidak turun
dari mobil tapi memutar mobilnya kembali menuju rumah Duga, kebetulan Duga
keluar halaman rumah, kemudian menyisir rumah-rumah singgah, dan mengetuk rumah
Domi yang sudah kosong, Dosi mengikutinya sangat hati-hati. Duga akhirnya, kembali
ke rumah biru. Saat memakir mobil dihalaman samping rumah biru, bertepatan pula
Dosi memarkirkan mobilnya.
Duga dan Dosi
bersamaan keluar mobil dan bersamaan menaiki tangga tanpa menyapa. Duga
berhenti dilantai 3, dan Dosi terus kelantai 4.
“Rina, tidur
dimana kamu semalam? Aku mencarimu.”Duga menyapa Rina ditempat kerjanya.
“Hai
Duga.”Kebetulan Dion masuk keruangan.
Duga akan beranjak
keluar kantor Dion, tapi Dion mencegahnya.
“Aku akan keluar,
mengecek muatan, aku hanya mengambil data saja di Rina, teruskan saja bicara.”
Dion keluar
kantor, dan Duga duduk kembali disamping Rina.
“Maafkan aku.”Duga
meminta maaf.
“Ini sudah ketiga
kalinya kamu enggan denganku, dan ini bukan sebuah permainan, selesaikan jalan
keluar yang terbaik sesuai ajaran agama kita, agar kita bisa saling bersama.”
“Akan kucari jalan
keluarnya, jangan meninggalkan rumah lagi, tidur saja didalam kamarku, aku saja
yang tidur dikamar bedah.”
Sore hari sebelum
siaran di radio Diorama, Rina menemui Dosi.
“Carikan jalan
keluar untukku dan Duga.”
“Kamu sangat
mencintai Duga....”Rina mengangguk menjawab pertanyaan Dosi,”Aku akan menemui
Duga malam ini, akan berbicara sesama lelaki dewasa.”
“Aku menunggu
semuanya dari kalian berdua.”
“Tunggu aja
didalam kamarku, ini kuncinya, tidak baik kamu tidur diluar rumah ini.”
“Aku tetap tidur
dikamar Duga, Duga yang tidur dikamar bedah.”
Malam, ketika Rina
masih siaran di radio, Dosi menemui Duga diruang prakteknya.
“Sudah tidak ada
pasien kah, jam 9 ini?”
“Iya, ada apa?”
“Rina....”
“Iya, itu masalah
kita, sendiri.”
“Tidak lagi
masalah kalian berdua, bawa aku untuk menyatukan cinta kalan, demi Rina dan
anaknya, dan cintanya.”
“Apa yang harus
kuperbuat, aku belum cukup mengerti dengan emosiku ini, cinta ini kadang
membuatku membara, membuatku meledak, aku perlu waktu untuk berfikir.”
“Ini waktunya kamu
untuk berfikir dan belajar mengendalikan emosi, menurut keyakinan kita, Rina harus
menikah lagi dengan orang lain, baru bisa kembali padamu.”
“Maksud...maksudmu
apa Dosi.”
“Biarkan aku dan
Rina menikah, selama enam bulan, dengan masa idhahnya selama tiga bulan, genap
sembilan bulan kamu bisa menikahi Rina kembali.”
“Aku memang sangat
pencemburu, tapi cinta ini menguji kecemburuanku.”
“Aku hanya menikahi
Rina hanya dengan penghulu, hingga enam bulan berikutnya kita bercerai tanpa
sidang perceraian, otomatis buku nikahmu yang lama, setelah menikah kembali
dengan Rina akan berlaku kembali.”
“Aku tidak tahu
lagi mungkin ini yang terbaik.”
“Kamu mencintai
Rina, Duga, kamu sanggup menantinya?”
“Aku ingin kembali
padanya, ingin kembali menjadi keluarga yang utuh, aku mencintainya.”
“Itu pernyataan
yang harus kupegang dan harus kamu pegang juga, belajarlah untuk bersabar.”
Dosi menunggu Rina
selesai siaran tengah malam itu.
“Kita harus
menikah Rin, sebelum kamu bisa menikah dengan Duga kembali, kita menikah hanya
dengan penghulu dan para saksi.”Dosi memberikan hasil pembicaraannya dengan
Duga.
“Duga mengetahui
ini.”
“Ini jalan
satu-satunnya.”
Pernikahan sangat
sederhana didalam kamar Dosi, disaksikan seluruh anggota keluarga dan penghulu,
ketika pintu kamar Dosi tertutup seperti mimpi, Rina sudah berdua saja dengan
Dosi.
“Dosi, kenapa
duduk saja disana, kamu menyiksaku.”
Dosi pindah duduk
disisi Rina diatas tempat tidur.”Aku menganggapmu masih sebagai istri kakakku.”
“Tidak, kita
sekarang suami istri, lakukan tugasmu sebagai suami.”
Dosi mencumbu
Rina.
“Berapa tinggi
badanmu Dosi.”
“Sebenarnya 190
cm, tapi aku merendahkannya menjadi 187cm.”
“Kamu tinggi dan
besar.”
Bibir Dosi mencium
bibir Rina agar berhenti bicara.
“Dosi kamu mulai
menyakitiku, sudah hampir sejam tidak selesai-selesai.”
“Maaf Rin, aku
tidak fokus.”
“Berhenti saja,
aku menunggumu yang memulainya dan siap.”Dosi menuruti perkataan Rina dan
berhenti.”Kita keluar saja dari rumah ini, selama jangka waktu yang telah kamu
tentukan, Dos. Agar kita berkeluarga dengan tenang walau waktunya terbatas.”
“Iya kita pergi ke
villa ibuku. Tapi aku ijin Domi dahulu untuk selama setahun ini mengkosongkan
jadwal pameranku dan bedah buku. Aku ingin menikmati pernikahan kita walau
terbatas oleh waktu.”
Dosi menelpon
Domi, dan Rina menyiapkan pakaian mereka dalam koper.
Sore itu, mereka
pergi ke villa ibu Dosi. Duga menyaksikan kepergian, Dosi dan Rina, kemudian,
Duga memberikan SMS nya.”Tepati janjimu, Dosi, bawa Rina kembali padaku,
setelah kamu pergi, dan kembalilah.”
Dosi membalas SMS
duga.”OK.”
Pagi buta mereka
sampai didepan villa.
“Kita sholat subuh
dan mencari restoran terdekat, didalam mobil ada alat-alat foto dan alat-alat
lukis, karena tidak ada yang memberiku hadiah pernikahan, aku akan membuat
hadiah pernikahan untukku sendiri.”
“Aku ingin belajar
melukis denganmu.”
“Oke, kita mencari
tempat-tempat yang indah sebagai obyek melukis.”
“Dipantai?”
“Dari pantai
kemudian ke pegunungan, kemudian didalam villa, semuanya ingin kujadikan obyek
lukisanku, dan kamu, Rina ada disana, dengan segala latar belakangnya, laut,
gunung, taman, tempat tidur kita berdua.”
Setelah sholat
subuh dan sarapan pagi direstoran terdekat, mobil Dosi meluncur menuju pantai,
memajang dua kanvas besar untuk melukis, satu kanvasnya untuk Rina belajar
melukis.
“Kita siapkan dan
merencanakan warna apa saja yang ingin kita pergunakan dan kita siapkan dikaca
lebar ini, beberapa kuas datar dan kuas silinder kita siapkan, kuas besar untuk
membuat latar belakang, dan kuas kecil untuk detailnya.”
Rina mengikuti
petunjuk Dosi.
“Langkah pertama
kita membuat latar belakang pantai, langitnya, awan, dan biru lautan, pasir,
dan buihnya. Setelah latar belakang selesai...”
“Tunggu Dosi
betulkan dulu punyaku, kamu pandai sekali membuat gradasi warna, dan cekatan
mencampur beberapa warna yang telah kamu sediakan dikaca lebar ini.”
Dosi berpindah
kelukisan Rina dan memetulkan lukisannya, Rina juga mencoret beberapa garis
kelukisan Dosi.
“Rina, kamu
merusak lukisanku.”
“hhhhhh.....okelah
kembalilah kelukisanmu sendiri, apa aliran lukisan kita Dos.”
“Aliran kontemporer
naturalis.”
“Okelah aku kurang
memahaminya.”
“Setelah latar
belakang selesai kita mulai menggambar obyek yang hendak kita lukis. Aku ingin
melukis dirimu, Rin.”
“Silakan, aku
menggambar abstrak aja, ga bisa yang natural. Ahhhhkkk...betulkan dulu warna
obyekku.”
Dosi bertukar
posisi lagi membetulkan lukisan Rina, dan Rina mencoret kembali warna kedalam
lukisan Dosi.
“Rina itu
lukisanku jangan dirusak.”
Dosi berpindah
lagi, kembali ketempat lukisannya.
Dosi kali ini
sangat serius melukis karena dia mulai menggambar obyeknya semirip mungkin
aslinya,Rina.
“Tahap akhir
adalah pencahayaan, kita harus detail sehingga lukisan kita tampak hidup dan
bergerak, istilahnya 3 dimensi.”
Lama sekali mereka
berdua melukis dari pagi hingga ditengah siang, Dosi dan Rina menghentikan
melukis, berlarian dipinggir pantai dan bermain-main seperti anak kecil.
Mobil Dosi
meluncur mencari makan siang, dan menuju perbukitan hijau. Dosi mengeluarkan
kanvasnya yang baru, lukisan pantainya yang sudah selesai disimpannya.
“Ayo kita melukis
lagi.”Rina membantu Dosi memasang alat lukis, dua buah kanvas putih, satu untuk
Rina belajar melukis,”Sekarang aku belajar melukis perbukitan, dan abstrak.”
Dosi mengeluarkan
beberapa warna diatas kaca valetnya, dan mencampurkan beberapa warna untuk
membuat latar belakang perbukitan pinus dan bunga-bunga bougenvile, Rina
mengikuti cara Dosi melukis.
“Aliran apa yang
ingin kamu lukis sekarang.”
“Tetap ,
kotemporer naturalis.”
Sore menjelang,
lukisan Rina dengan latar belakang perbukitan telah selesai. Mobil Dosi kembali
ke villa, senja yang menguning mereka sampai di villa. Usai sholat maghrib,
Dosi melukis Rina diberanda, lantai 2 villa, lukisan berlatar belakang langit
malam di atas villa.
“Perjalanan yang
melelahkan.”Rina jatuh kedalam pelukan Dosi.
Dosi terbangun
karena kaki Rina mengenai kepalanya.”Masya Allah gaya tidur yang liar dan
nakal.”
Dosi memeluk Rina
dari belakang, dan menggelitiknya,”Tidurmu gelisah, berputar-putar, aku tahu
tidurmu tidak pernah nyenyak, dipegang begini, pasti akan mudah terbangun.”
Dosi sudah berada
diatas Rina.
“Kamu besar dan
panjang.”Rina berbisik dibawah telinga Dosi.
“Hmmm, ini pertama
kali untukku.”Dosi juga berbisik ditelinga Rina.
Rina masih
tertidur, Dosi melukisnya ditengah kamar yang berlampu kekuningan.
“Apa yang kamu
perbuat pagi ini.”
Dosi menyodorkan
beberapa lembar karikatur, komik, buatannya.
“Ini gambar komik
jorok.”
“Hanya untuk
koleksi pribadi.”
“Kamu tidak
merekamnya dalam handycam kan, hanya dalam gambar komik kan?”
“Itu perbuatan
yang mempermalukan diriku sendiri, ini hanya hasil karya goresan tanganku
diatas kertas gambar.”
Dosi mengajak
keliling didalam ruangan villa.
“Penuh lukisan,
lukisan siapa saja?”
“Sebagian besar
lukisan ibuku, sebagian lagi lukisanku.”
“Kalian sama-sama
pandai melukis.”
Mereka berdua
masuk diruang berkaca-kaca, tersekat kaca warna warni, ditempelkan berbagai
foto Dosi, Domi, dan ibunya.
“Ini galeri
keluarga, foto-foto kami bertiga, dari masa anak-anak hingga dewasa.”
Dosi menggendong Rina
yang tampak kecil dalam pelukan Dosi, dan mereka bercinta diatas meja kaca yang
besar, ditengah galeri yang beruang rumit, bersekat-sekat penuh kaca.
Beberapa bulan
mereka tinggal di villa milik ibu Dosi.
“Dosi aku mual.”
“Pastilah kamu
mual, dari pertama kali kita masuk villa ini, kamu tidak pernah menstruasi,
bukankah kamu sudah berpengalaman.”
“Kamu sengaja
membuatku hamil.”
“Kita sepasang
suami-istri kan, wajar kita melakukannya, Duga harus berbesar hati dan bersabar
untuk mendapatkan cintanya kembali, kamu mencintai Duga.”
“Wajah Duga
terlalu tampan untuk dilupakan.”
“Apa lagi Duga
yang pertama kali bercinta denganmu.”Dosi merasa cemburu.”Kalau kamu susah
makan, kita beli buah-buahan segar, dan kuberitahukan cara makan yang nikmat.”
Dosi memotong
buah-buahan segar dan banyak mengandung air dan manis.
“Salah kalau orang
hamil suka mangga muda, coba rasakan semangga, apel merah, leci, dan melon
merah ini.”Dosi mencontohkan cara makan buah yang nikmat dengan memasukkan
aneka macam buah kedalam mulutnya, hingga mulutnya gembung seperti balon dan
mengunyahnya perlahan-lahan didalam mulut sampai pipinya kempes.
Rina
mengikutinya,”Iya mualku hilang karena asam dalam mulutku terhapus rasa manis
dan buah-buahan yang banyak mengandung air.”
“Ini berbagai
macam kacang-kacangan, dari kacang tanah, almond, kacang koro, kacang mente,
dan coklat, menghilangkan jenuh dan strees.”
Enam bulan tak
terasa berlalu cepat....
“Kita harus
kembali ke rumah, tiga bulan kedepan kamu melahirkan dan setelah nifas, kamu
menikah kembali dengan Duga, tadi Duga sudah mempertanyakan kesehatanmu dan
kandunganmu, dia merindukan dan mengawatirkanmu. Dia berjanji akan menjadi suami
dan ayah yang baik untukmu dan untuk anak kita.”
“Iya, semenjak
kemarin malam pakaian kita sudahaku pak dalam koper.”
Duga sudah
menunggu kedatangan Dosi dan Rina, dan Dosi menelponDomi.
“Aku sudah siap
untuk pameran lukisan dan pameran photography.”
Dari balik telpon
Domi menjawab,”Ini belum setahun kan.”
“Kamu bercanda.”
“Oke tunggu
sebulan dua bulan untuk persiapannya.”
“Oke kutunggu.”
Rina tetap bekerja
di radio Diorama sore hingga tengah malam. Dosi membawa Rina kedalam ruang
kerjanya, ternyata tembok dibelakang ruang kerja Dosi bisa dibuka dan terdapat
galerry seni.
“Aku ingin melukismu
diruang rahasiaku ini dalam keadaan hamil anak kita, ruangan ini kamu pertama
kali yang melihatnya.”
“Kamu seorang
penguntit, kamu mempunyai foto-foto Domi dalam berbagai bentuk dan diberbagai
tempat. Kamu juga mempunyai foto-foto Duga dalam pakaian bedah dalam berbagai
tempat dan ekspresi. Dan yang paling banyak fotoku dan foto Dirga.”
“Duga, Domi,
Dirga, dan kamu, mempunyai karakter disetiap jepretan fotoku yang spontan,
ekspresi wajahnya sangat berkarakter.”
Dan usai siaran, Rina
kembali masuk kekamar Duga.
Baru seminggu
dalam pameran lukisan di Bali, Dosi ijin ke Domi untuk pulang,”Domi, aku pulang
sebentar, Rina melahirkan.”
Dibalik ruang
bersalin dikamar inap, ruang poli anak milik Duga, Dosi dan Duga menunggu Rina
melahirkan, Ketika pintu terbuka, Dosi melangkah pergi, dari balik punggungnya
Dosi mendengar,”Selamat Duga, anakmu perempuan.”
Kemudian Dosi
memberi SMS ke Duga,”Berikan nama Donita.”
“Iya.”Duga
membalas SMS Dosi.
Dosi segera
kembali ke Bali melanjutkan pameran lukisannya, bergantian pula untuk pameran
photographynya.
Tiga bulan
berlalu, dari saat Rina melahirkan, dan sukses pameran lukisan dan photography
yang diadakan Dosi dan Domi. Dosi tidak pulang kerumah tapi menuju villa
ibunya.
“Hai Dosi, kamu
jangan cengeng dan berhentilah mencintai istri kakakmu sendiri.”
“Aku manusia.”
“Kamu yang
melarangku menyendiri, tapi kini kamu menyendiri di villa ini, pulanglah, ayah
menunggumu dirumah.”
Sampai di rumah
kaca biru, Danu menunggu Dosi, anaknya, didalam kamar Dosi.
“Cepatlah menikah,
jangan menyiksa dirimu, ayah akan carikan, atau kamu mencari sendiri.”
“Aku bukan Duga,
ayah, yang ayah menyuruhnya menikah, lantas dia menikah, aku masih butuh
waktu.”
“Kapan lagi, hanya
kamu anak ayah yang belum menikah, ayah ingin melihatmu bahagia.”
“Aku sudah pernah
menikah ayah, dan sudah punya anak, walau semua tidak pernah menganggap itu
ada.”
“Iya, ayah
mengerti, tapi itu juga sudah berlalu, kamu perlu menata hati dan dirimu
kembali, kamu perlu teman pendamping, supaya tidak menjadi pelarian
kemana-mana.”
“Iya, aku akan
mencarinya sendiri.”
Dosi kembali
kekantornya, menemui asistennya.
“Carikan aku calon
isi yang membuat hidupku bergairah.”
“Bos, Domi banyak
berteman dengan manager para artis, Bos bisa minta salah satu artisnya.
“Aku serahkan
semuanya padamu, untuk apa aku minta bantuan kamu kalau aku sendiri yang
bilangke Domi.”
“Beres bos soal
itu.”
“Suruh dia masuk
kekamarku.”Dosi melempar kunci kamarnya ke asistennya.
“Sekarang bos.”
“Seribu tahun
lagi, ya sekarang dong.”
“Sudah ga tahan
bos. Okelah.”
Sesudah kerja Dosi
memasuki kamar tidurnya.
“Hah....Siapa
kamu.”Dosi terkejut dan berkejaran dengan wanita cantik yang memakai baju
sangat minim.”Tunggu aku mau keluar, kamu salah sangka, aku tidak ingin
melakukan ini sebelum menikah.OK.”Dosi akhirnya menelpon asistennya.”Ito,
dimana kamu?”
“Aku masih diruang
rekaman, bos, ada yang perlu diedit.”
“Aku kesana.”Dosi
masuk lagi keruangan kerja dan masuk kesebuah ruangan yang kedap suara.”Wah itu
sih bom seks, membuat aku takut.”
“Itu membuat bos
bersemangat dan bergairah.”
“Bawa dia pulang
bersamamu, carikan yang lugu aja, ibaratnya TKW yang ga jadi pergi.”
“OK. Nanti malam
kubawa pulang, dan kucarikan yang lugu bersahaja.”
Dosi tertidur
diruang kerjanya. Pagi harinya, Dosi turun ke ruang makan, sekedar mengambil
makanan dan minuman lalu pergi berlalu.
“Kapan kamu
pulang?”Duka menyapanya dari belakang, sambil duduk dikursi makan, melihat Dosi
yang akan pergi kekamarnya.
“Dua hari yang
lalu.”Dosi menjawabnya sambil berjalan.
Dosi makan
dikamarnya, dan menelpon bibi yang biasa membersihkan ruangan, untuk
membersihkan kamar.
“Kamu pembantu
baru?”
“Bang Ito yang
membawa saya kemari, katanya saya boleh minta gaji bulanan setinggi-tingginya,
karena itu saya batalkan kerja ke Arab Saudi.”
“Pagi mas, mau
dibersihkan.”Bibi yang ditelpon Dosi muncul didepan pintu.
“Biar saya aja bi,
yang membersihkan.”Wanita itu mengambil penyedot debu dari tangan bibi yang
biasa membersihkan rumah.
“Hai, jangan kamu
bukan dijadikan pembantu dirumah ini, apa Tito tidak memberikan kamu
pengertian.”
“Kalau tidak
dijadikan pembantu lalu dijadikan apa?”
“Terserahlah.”Dosi
kemudian keluar kamar menuju kantornya.”Tito kamu dimana, aku mau bicara
sebentar.”Dosi menelpon Tito.
“Ada distudio
rekaman bos, ada apa?”
“Kamu mencarikan
calon istri atau calon pembantu untukku, dia menyapu semua ruangan rumah ini,
sedang ruangan rumah ini luasnya hampir 1.5 hektar, dan penampilannya kurus
tinggal kulit dan tulang.”Dosi berbicara dengan Tito distudio rekaman.
“Oh, aku sudah
menjelaskannya, hanya mungkin dia perlu bos yakinkan.”
“Siapkan pemberitahuan
lamaran kerumah orang tuanya, sebelum orang tuaku datang melamarnya, supaya
orang tuanya tidak kaget, bilang padanya tidur dikamarku, biar aku tidur
dikantor saja.”
“Sekarang bos?”
“Seribu tahun
lagi.”
“HAHAHA.”Tito
tertawa mendengar canda an Dosi.
Sepertinya Dosi
malas memikirkan suatu proses cinta, pernikahan mewah terjadi didesa rumah
orang tua, Wati, istri Dosi.
“Berjam-jam kamu
berdiri disamping tempat tidur, tidur disebelahku, apa kamu tidak sadar kita
sudah suami-istri.”Dosi menegur Wati yang hanya berdiri saja melihat Dosi
membaca buku ditempat tidur.
“Awalnya saya
tidak percaya.”
“Jangan berbicara
kaku seperti itu, panggil aku, mas.”
Wati tidur disebelah
Dosi, kemudian Dosi mengecilkan lampu kamar menjadi temaram.
Dosi menyentuh
bahu Wati dan Wati menjadi kaku.
“Kenapa badanmu
jadi kaku dan dingin.”Tangan Wati mendorong badan Dosi.”Hai kenapa kita jadi
seperti bermain gulat ditempat tidur, kamu membuatku jadi ga berhasrat.”Dosi
akhirnya meninggalkan kamar tidurnya, menuju kantornya, dan tidur disana.
“Tito aku tidak
berhasrat dengannya.”Tengah malam itu Dosi menelpon asistennya.
“Tenang bos, bos
perlu suasana romantis, akan aku uruskan bulan madunya di Bali.”
“Ya, terserah
buatlah sebagus dan serapi mungkin rencananya.”
Sampai di Bali
Dosi memesan kamar terpisah dari Wati, dan merencanakan mengembalikan Wati
kedesanya, tempat orang tua Wati tinggal, membayar Idha, walau tidak pernah
terjadi hubungan suami-istri.
“Aku kembalikan
Wati kepada kalian, orang tuanya, ini uang idha, untuk membelikan rumah dan
tanah, agar Wati tidak kembali bekerja di luar negri lagi. Soal balik nama
rumah dan tanah ini beserta surat cerainya, biarkan pengacara saya yang
mengurusnya agar bapak ibu tidak ditipu.”
“Terima kasih anda
meminta dan mengembalikan anak saya, Wati, dengan sangat baik.”
Dosi sampai
dirumah kaca malam hari, setelah pulang dari Bali, mengembalikan Wati keorang
tuanya, mengurus pembelian tanah dan rumah sebagai uang idha, langsung pulang,
begitu melelahkan, pernikahan singkat dan melelahkan hati.
“Hai bos, kayak
apa bulan madunya, kok sendiri saja.”
“Sudahlah Ito, aku
lelah.”Dosi melewati begitu saja ruang kerjanya, menuju kamar tidurnya.
Diruang kerja
Dosi, keesokan paginya, Tito menemui Dosi.
“Dimana istrimu,
Dos?”
“Kukembalikan ke
orang tuanya.”
“Hamilkah? Usai
bulan madu?”
“Aku
menceraikannya.”
“Semudah itu
dapatnya, secepat itu hilangnya.”Tito kembali kestudio rekaman.
Ternyata Rina menguping
pembicaraan Tito dan Dosi, ketika lewat untuk menuju radio Diorama bukan untuk
siaran, sekedar menyapa Dosi untuk melihat keadaannya.
“Aku menjadi sedih
melihat keadaanmu.”Rina masuk keruang kerja Dosi.
“Kerjalah dikantor
Dion, jangan sering-sering kekantorku kalau tidak ada jam siaran, Duga
bisa-bisa membunuhku.”
“Aku punya teman
dirumah singgah, usianya sama denganku, tapi dia tidak punya akte kelahiran,
sama denganku tidak punya orang tua, hanya berdua saja dirumah singga dengan
adiknya.”
“Kalau kamu ingin
merencanakan pernikahan untukku aku membuka hati.”
“OK. Akan kukenalkan besok pagi, aku tinggal dulu
ya.”Rina menuju kantor Dion dan mulai bekerja.
Besok pagi,
seperti janji Rina, Atika temannya datang bersama Rina, kekantor Dosi.
“Kalian berdua dan
ayah buatlah rencana pernikahan untukku.”
“Asalkan kamu
tidak mudah menikah dan mudah pula bercerai. Akan aku katakan pada ayah.”
“Aku tidak
inginkan pacaran, nanti aja pacaran setelah menikah.”
“OK. Aku bicarakan
dulu dengan, Duga, suamiku, kemudian Duga dan Duka akan mengatakan pada ayah.”
“Bukankah hidup
ini tidak rumit, manusia saja yang membuatnya sulit dan rumit.”
“Ok, Atika dan Aku
mau kerja dahulu, Atika bisa membantuku bekerja dikantor Dion.”
Mudah sekali
menikah.....dan acara itu berlangsung lancar.....pernikahan Dosi dan Atika.
“Ini sesuatu yang
gila, aku tidak berhasrat bercinta dengan anak-anak, walau kamu sembunyikan
berapa usiamu, perasaanku ini tidak mudah tertipu.”Dosi menatap wajah Atika
deka-dekat ditepi tempat tidurnya.”Aku akan membelikan rumah untukmu, dekat
dengan rumah Domi dan rumah singgah, kamu bisa kursus menjahit, kursus
komputer, dan kursus bahasa, dan uang kehidupanmu untukmu dan adikmu.”
“Kamu ingin
menceraikanku.”
“Aku menunggumu
dewasa.”
“Kamu mengerti,
ini hanya untuk kita berdua saja.”
Perumahan baru
ditepi kota, persis disebelah rumah Domi, Dosi membelikan dua kapling rumah
untuk Atika.
“Kalau kamu
memerlukan segala sesuatu tinggal telpon, ini tabungan berdua untuk
kalian.”Dosi meninggalkan Atika dan adiknya didalam rumah.
Dan Atika menelpon
Rina. Sampai di rumah kaca biru, Rina menemui Dosi.
“Kamu berencana
meninggalkannya.”Rina bertanya kekantor Dosi, ketika Dosi sampai disana.
“Tidak.”Dosi
menjawab singkat.
“Atika menelponku,
dia mengatakannya,kalau kamu meninggalkannya berdua saja didalam rumah yang
kamu belikan, dua rumah.”
“Tidak.”
“Lalu...kamu
berencana menceraikannya.”
“Tidak, Rina, aku
menunggunya dewasa dan berkembang, aku tidak ingin mengambil saat-saat
anak-anaknya, bersenang senang dengan sebayanya, terlalu berat beban dia untuk
memikirkan keluarga, suami, atau anak.”
Tiga tahun, tak
terasa....
“Dos, kamu tidak
menjenguk istrimu, lupakah?”Rina menegur Dosi dikantornya.
“Aku masih
menstransfer uang untuknya.”
“Bukan sekedar
uang, dia sakit, dia butuh perhatian.”
“Ya aku akan
datang untuknya.”
Dosi menjenguk
segera istrinya ditepi kota.
“Sakit apakah?
Kita ke dokter, tempat prakteknya Duga.”
Dosi membawa
istrinya di rumah kaca biru, menemui Sari.
“Kamu bisa
memeriksa istriku, Sari.”
“Sebenarnya aku
bukan ahli penyakit dalam, tapi okelah akan kuperiksa. Sepertinya dia sangat
kesakitan di ulu hatinya. Kamu perlu memeriksakan laboratoriumnya, perutnya
mengeras. Aku akan memberi obat analgetik, untuk mengurangi rasa sakitnya.”
“Kapan selesai tes
laboratoriumnya.”
“Dia harus
menjalani general check up, darah, foto rontgen. Nanti dokter specialisnya yang
akan menentukan.”
“Melalui kamu
bisakan?”
“Akan kuserahkan
pada ahlinya, tenang saja temanku sesama dokter.”
Beberapa hari
kemudian, Sari menemui Dosi setelah makan pagi.
“Sudah aku ulang
memeriksa laboratoriumnya, tapi aku harus segera mengatakannya agar segera
dilaksanakan pengobatannya sebelum sangat terlambat.”
“Apa penyakit
istriku.”
“Dokter bukan
Tuhan, kamu harus siap dan sabar.”
“Iya, aku sudah
cukup tenang.”
“Istrimu mengidap
cancer hati stadium 3, usia diperkirakan 6 bulan lagi.”
“Apa yang harus
kulakukan.”
“Kalau sudah
stadium lanjut seperti ini, operasi sangat tidak dianjurkan, kemoterapi dan
pengobatan herbal mungkin lebih disarankan, dan obat pengurang sakit dosis
tinggi untuk mengurangi rasa nyeri dan efek kemotrapinya.”
“Segera lakukan
sebelum sangat terlambat, mungkin ada suatu keajaiban Tuhan.”
“Reaksi kemotrapi
sangat beragam, semoga tubuhnya bisa menerimanya dengan baik, karena sifat
kemotrapi bukan saja menyerang sel cancernya tapi juga sedikit mengganggu
selnya yang baik juga.”
Dosi mengangguk.
“Buat dia
merasakan senang dan tentram, itu juga terapi terbaik untuk mengeluarkan hormon
positifnya, dan membantu terapinya.”
Dosi hanya mampu
menganggukkan kepala.
Dosi memeluk
istrinya, danmencium keningnya didalam kamar tidurnya.
“Maafkan aku tidak
memperhatikanmu.”
“Apa penyakitku
parah, apa aku masih mampu mempunyai anak.”
“Minum saja obatnya
dan rutin kemotrapi, Tuhan maha pemurah memintalah pada-NYA.”
“Kamu suami yang
sangat sempurna untukku, aku bahagia denganmu, hingga aku malu meminta
berlebihan pada Tuhan, selain rasa syukurku.”
Dosi mempererat
pelukannya, dan diam-diam menyimpan tangisnya.
Usia seseorang
tidak ada yang tahu, walau masih sangat muda, 17 tahun, Atika meninggal dalam
pelukan Dosi, wajahnya sangat tenang.
“Aku tidak pernah
sesedih ini.”Wajah Dosi sangat kuyup dan lelah, hari-harinya penuh tangisan
enam bulan ini.
“Maafkan aku Dosi.”Rina
menghampiri Dosi dipinggir tempat istirahat Atika terakhir, tanahnya masih
basah dan penuh bunga mawar merah dan melati.
“Aku lah yang
lebih banyak bersalah pada istriku, ini hukuman Tuhan padaku, mengambil istriku
daripada dia lebih menderita hidup denganku yang tidak penuh perhatian, ini
kesalahanku.”Dosi meratapi kesedihannya.
Duka mengangkat
bahu Dosi yang tidak mampu berdiri lagi dan membimbingnya masuk mobil.
Tito menjenguk
Dosi didalam kamarnya.
“Bos, baik-baik
saja.”
“Aku tidak
baik-baik aja, aku lelah fisik dan hati, aku duda ketiga kalinya.”
“HHH.”
“Ini tidak lucu.”
Ketika Tito keluar
kamar Dosi, Danu datang masuk kedalam kamarnya.
“Kamu perlu
berjalan-jalan liburan keluar kota atau keluar negri.”
“Aku perlu
istirahat dirumah saja, ayah, karena sebentar lagi Dosi keliling Eropa untuk
pameran lukisan.”
..........................................................................................................................................
...........................................................................................................................................
D isuatu acara
wisuda kedokteran, Universitas Indonesia.
“Aku berterima
kasih pada kalian berdua, mendidik, dan membesarkan Donita menjadi seorang
dokter.”
“Donita juga anak
kami, Dos.”Duga menjawab perkataan Dosi,”Kita juga menghadiri wisuda anak kami
Duta, setelah menyelesaikan Specialis Anaknya.”
“Coba lihat,
mereka berdua datang kemari.”Rina menghampiri kedua anaknya, Duta dan Donita,
yang juga melangkah saling mendekati.
Rina sedikit
menjauh dari Dosi dan Duga.
“Kamu tidak
berniat menikah lagi.”Duga berbisik ke Dosi.
“Jangan tawarkan
lagi hal itu, aku cukup bahagia, lagian aku sudah pernah menikah 3 kali.”Dosi
akhirnya mengajak Donita berdua saja masuk kedalam mobilnya.
Sampai ditempat
parkir rumah kaca biru, Dosi menghampiri Duga.
“Aku pinjam anak
dan istrimu untuk kuajak jalan-jalan.”
“Kembalikan mereka
berdua jangan lewat tengah malam.”Duga mengijinkan Dosi mengajak Rina dan
Donita jalan-jalan dan makan malam, direstoran romantis.
Malam menjelang,
akhir jalan-jalan hari itu, disebuah restoran tengah kota.
“Maafkan aku Dosi.”Rina
meminta maaf segala kesedihan tentang Atika.
“Itu sudah
berlalu, dan kamu sudah meminta maaf berulang kali.”
“Kamu tidak
berniat menikahi adik Atika?”
“Aku rasa tidak
perlu, aku bahagia melihat Donita dan kamu bahagia, satu tugasku sebagai ayah
belum tuntas, menikahkan Donita dengan pria idamannya, agar dia bahagia.”
“Donita masih
ingin meneruskan kuliah,mengambil specialis bedah umum seperti kakek.”
“OK. Kita pulang
sekarang, Duga pasti menunggu.”Dosi mengakhiri acara perjalanan malam itu.
Didepan pintu
kamar Duga.
“Aku mengembalikan
anak dan istrimu.”Dosi menghampiri Duga tapi langsung membelakangi untuk pergi
kekamarnya sendiri dilantai 4.
Duga menggumam
sendiri,”Ternyata dia benar-benar mencintai istriku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar