Sabtu, 12 Januari 2013


MENATAP MENTARI PAGI
                Bagaimana bila hari-harimu terjebak dalam mimpi-mimpi buruk, mengejarmu setiap saat, selain kamu lari dari segala persoalan atau merubah diri sendiri menjadi orang lain.
                Menyelesaikan masalah dengan mimpi kita bukanlah hal yang mudah, kita mesti melawan diri kita sendiri, terjebak dalam diri yang bertentangan dengan hati.
                Mimpi-mimpi itu datang sendiri seperti hantu, semakin kita lawan dan takut, semakin sering menghampiri.
                Bayangan gelap itu pun juga menghantui, semakin terang tanah kita pijak semakin hitam membayang.
                Dan cermin pun tak bisa dipercaya, seperti bayangan yang berwarna, kadang kelihatan kabur bila cahayanya meredup.
                Dan kau bertanya pada hati yang terlepas dari diri, bisakah membuat mimpi-mimpi indah, yang lebih nyata dari sebuah bayangan hitam atau lebih berwarna dari bayangan dicermin yang memburam tanpa cahaya.
Selama dunia ini ada siang dan malam, tentu tak terlepas dari itu semua, mimpi-mimpi buruk tentang bayangan yang hitam.
Ku terjaga, harus terus terjaga, agar bukan mimpi yang terus menghantui, tapi kerja keras dan kenyataan, bukan bercermin pada kaca yang memburam tapi pada langkah yang terukir di batuan tempat kita berpijak.
Bukan saat itu awalnya, atau bukan juga berakhir dari sana, tapi semua itu pernah aku jalani, mengikuti arah angin, mengejar deburan ombak, dan bermimpi.
Aku kira aku sebebas bentangan lautan walau laut juga punya tepian pantai, aku kira aku seteguh gunung menjulang walau ujung puncaknya terhenti dilembah, bukan juga berkelok-kelok seperti sungai misteri yang juga bermuara dilautan. Aku manusia lebih punya batasan karena perasaan lelah, bosan, dan pemikiran yang sangat logis.
Aku kira aku sang penakluk yang menghentikan waktu dibidikan kameraku, aku kira aku seorang seniman sejati yang melukis kehidupan diujung kuasku, aku kira aku seorang penyair yang  menyimpulkan hidup diatas kertas dalam beberapa baris kata. Aku manusia biasa yang mempunyai kata-kata lembut dan kata-kata kasar, untuk menilai hidup, kehidupan, dan jalan kehidupanku.
Setiap pantai yang kusinggahi, tempat kuberlari tidak pernah sedikitpun menyimpan jejakku, dan hidupku di dunia ini memang semu.
Setiap foto pantai yang kuambil tetap saja membisu tak mampu bercerita apapun, hanya foto air, pasir, langit, kadang sedikit hiasan kapal, burung dan binatang kecil dipantai.
Kalau pun ada gambar anak-anak ditepian pantai itu, anak-anak itu pun membisu. Kalau pun ada nelayan dalam gambar itu, nelayan itu pun tak bergerak. Kalau kita berbicara bisikan gelombang laut dan desiran angin, itu pun hanya kebohongan cerita dalam foto pantaiku. Bisu terdiam tak bergerak.
Kalau pun aku bercerita masa lalu pada puisiku, hanya seperti dongeng ibunya kepada anaknya, tak mampu dituntut untuk hadir dihadapan, ilusi.
Kalau pun aku berencana masa depan, itu pun misteri Tuhan.
Sengaja ruangan galeri ini dikepung kaca bening, bukan cermin, bukan lensa, inilah diriku sendiri tanpa menjadi maya. Selalu berkaca, apa adanya.
Terakhir pameran lukisan dan fotoku yang berjudul BIRUNYA BIRU SAMUDRA, ditutup dengan fota pantai senja yang paling besar, panjangnya dua meter, tingginya dua meter, matahari jingga penuh, tepat menyentuh kaki langit, pantainya menguning, lautnya jingga, diujung foto itu ada setangkai mawar merah yang hampir mekar. Foto ini memang tidak cocok dengan judul pameran yang sedang kugelar, tapi sebenarnya dibalik jingga tersimpan biru.
 Dan...................Senja dan pagi adalah sama, sama jingganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar