MENATAP MENTARI PAGI
Bagaimana bila
hari-harimu terjebak dalam mimpi-mimpi buruk, mengejarmu setiap saat, selain
kamu lari dari segala persoalan atau merubah diri sendiri menjadi orang lain.
Menyelesaikan masalah
dengan mimpi kita bukanlah hal yang mudah, kita mesti melawan diri kita
sendiri, terjebak dalam diri yang bertentangan dengan hati.
Mimpi-mimpi itu
datang sendiri seperti hantu, semakin kita lawan dan takut, semakin sering
menghampiri.
Bayangan gelap itu
pun juga menghantui, semakin terang tanah kita pijak semakin hitam membayang.
Dan cermin pun tak
bisa dipercaya, seperti bayangan yang berwarna, kadang kelihatan kabur bila
cahayanya meredup.
Dan kau bertanya
pada hati yang terlepas dari diri, bisakah membuat mimpi-mimpi indah, yang
lebih nyata dari sebuah bayangan hitam atau lebih berwarna dari bayangan
dicermin yang memburam tanpa cahaya.
Selama dunia ini ada siang dan malam, tentu
tak terlepas dari itu semua, mimpi-mimpi buruk tentang bayangan yang hitam.
Ku terjaga, harus terus terjaga, agar bukan
mimpi yang terus menghantui, tapi kerja keras dan kenyataan, bukan bercermin
pada kaca yang memburam tapi pada langkah yang terukir di batuan tempat kita
berpijak.
Bukan saat itu awalnya, atau bukan juga
berakhir dari sana, tapi semua itu pernah aku jalani, mengikuti arah angin,
mengejar deburan ombak, dan bermimpi.
Aku kira aku sebebas bentangan lautan walau
laut juga punya tepian pantai, aku kira aku seteguh gunung menjulang walau
ujung puncaknya terhenti dilembah, bukan juga berkelok-kelok seperti sungai
misteri yang juga bermuara dilautan. Aku manusia lebih punya batasan karena
perasaan lelah, bosan, dan pemikiran yang sangat logis.
Aku kira aku sang penakluk yang
menghentikan waktu dibidikan kameraku, aku kira aku seorang seniman sejati yang
melukis kehidupan diujung kuasku, aku kira aku seorang penyair yang menyimpulkan hidup diatas kertas dalam
beberapa baris kata. Aku manusia biasa yang mempunyai kata-kata lembut dan
kata-kata kasar, untuk menilai hidup, kehidupan, dan jalan kehidupanku.
Setiap pantai yang kusinggahi, tempat
kuberlari tidak pernah sedikitpun menyimpan jejakku, dan hidupku di dunia ini
memang semu.
Setiap foto pantai yang kuambil tetap saja
membisu tak mampu bercerita apapun, hanya foto air, pasir, langit, kadang
sedikit hiasan kapal, burung dan binatang kecil dipantai.
Kalau pun ada gambar anak-anak ditepian
pantai itu, anak-anak itu pun membisu. Kalau pun ada nelayan dalam gambar itu,
nelayan itu pun tak bergerak. Kalau kita berbicara bisikan gelombang laut dan
desiran angin, itu pun hanya kebohongan cerita dalam foto pantaiku. Bisu
terdiam tak bergerak.
Kalau pun aku bercerita masa lalu pada
puisiku, hanya seperti dongeng ibunya kepada anaknya, tak mampu dituntut untuk
hadir dihadapan, ilusi.
Kalau pun aku berencana masa depan, itu pun
misteri Tuhan.
Sengaja ruangan galeri ini dikepung kaca
bening, bukan cermin, bukan lensa, inilah diriku sendiri tanpa menjadi maya.
Selalu berkaca, apa adanya.
Terakhir pameran lukisan dan fotoku yang
berjudul BIRUNYA BIRU SAMUDRA, ditutup dengan fota pantai senja yang paling
besar, panjangnya dua meter, tingginya dua meter, matahari jingga penuh, tepat
menyentuh kaki langit, pantainya menguning, lautnya jingga, diujung foto itu
ada setangkai mawar merah yang hampir mekar. Foto ini memang tidak cocok dengan
judul pameran yang sedang kugelar, tapi sebenarnya dibalik jingga tersimpan
biru.
Dan...................Senja dan pagi adalah sama, sama jingganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar