Kamis, 10 Januari 2013


JALAN TERPILIH
                Wajahnya seperti lukisan pantai di siang hari, dia tertawa seperti buih yang tertiup angin di pantai beriringan putih menepi, dingin dan hangatnya menyatu. Kalau ini suatu kesalahan, maka ini adalah aku, sepenuhnya kesalahanku, dan keyakinanku Allah SWT selalu memberi pengampunan dan kemurahannya, di balik lemahnya hati manusia.
                Aku mengenalnya melalui mantan dosenku di sebuah universitas negri ternama di kota besar, lelaki tampan, muda, berusia 14 tahun, kelas 1 SMAN terbaik di kotaku. Aku tidak menyangka dia seusia itu karena tinggi badannya sudah 177 cm, tinggi atletis, berkulit putih bersih, ayahnya indo-cina, ibunya indo-eropa. Kedua orang tuanya bercerai karena beda keyakinan, mulai kecil tinggal bersama ibunya di Eropa, setelah menjelang remaja kembali ke Indonesia, Karena dia mengatakan,”Eropa membuatku berfikir bebas, tapi muslim mengontrol perbuatanku.”
                Jadilah aku guru privatenya. Aku juga sebagai temannya bercerita karena dia orang yang sangat tertutup, wajahnya pemurung, bibirnya sering tertutup rapat, di balik rawan sifatnya, alis matanya yang tebal landai melindungi matanya, menunjukkan ketegasan pilihan dan sikapnya, dia lelaki yang menawan.
                Ayahnya menikah lagi dan meninggalkannya di rumah seorang diri, akulah teman dekatnya, kakaknya, gurunya, dan sahabatnya.
                Aku mengenalkan padanya Indonesia, pergi memancing di tambak, pergi bersepeda dengan grup sepeda pixi, dan berlama-lama memandang pantai.
                Aku yang mengenalkanya, matematika dan fisika, aku kenalkan kedua mata pelajaran itu sebagai permainan detetive yang mengasyikkan.
                Dia genggam tanganku sangat erat dikala dia sakit, dia tidur dipangkuanku ketika dia kelelahan. Dia menangis sangat dalam....didalam pelukkan.
                Dia mengajarkanku memainkan biola, menemaninya memetik gitar, sebagai obyek didalam setiap jepretan kameranya.
                Aku mencium keningnya, sebagai tanda sayangku. Tapi dia mencium bibirku, dan aku memberi jarak yang tegas tapi halus, dia mengerti tanpa perlawanan. Ketika aku bertanya apa cita-citanya, dia menjawab,”Aku ingin menjadi dokter anak yang baik.” Hanya itu ucapannya, singkat sederhana, dan hanya itu, tanpa alasan apapun.
                Dia sangat cerdas, mampu berbahasa Indonesia dengan lancar dalam waktu yang singkat, dapat menyelesaikan soal-soal UNAS dengan tepat dan cepat, dapat menyelesaikan soal-soal SNMPTN dengan tepat dan cepat, dia memang istimewa. Dengan penuh keyakinan, dia pasti bisa diterima di fakultas kedokteran negri no.1 di Indonesia, dengan rata-rata nilai 9,5.
                UNAS telah usai, dia mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya, dan seperti dugaanku, dia pun keterima di Universitas negri terbaik di Indonesia, fakultas kedokteran.
                Janganlah dia mencariku sebagai guru privatenya, karena tugasku mengantarkannya masuk Universitas negri ternama telah terpenuhi, aku berpisah dengannya, walau sedikit kawatir, mampukah dia tegar menghadapi hidup ini sendiri ? Aku yakin pasti mampu, semampu dia menaklukkan fisika dan matematika.
                Dalam beberapa bulan di kampus kedokteran, dia terus mencariku, dan aku berhasil menghindarinya, sampai dia lelah dan fokus dengan kuliahnya. Mungkin dia telah melupakanku bertahun yang berlalu.
                Enam tahun itu bukan waktu yang lama, dia wisuda kedokteran, sebagai hadiah terindah, aku muncul dihadapannya, dia memelukku, memukulku, dia menangis seperti anak kecil yang lama ditinggal ibunya. Aku menghapus air matanya, aku mengajaknya berkeliling kota, setelah acara wisuda selesai.
                Wajahnya kelihatan kurus, dan bertambah tinggi, ku ajak dia masuk kedalam rumahku, yang berada persis di belakang poli gigi dan bedah gigi, milikku pribadi.
                Dia berencana langsung melanjutkan ke specialis anak. Kami makan di taman pinus dan rumah joglo di tengah taman.
                Dia bertanya mengapa aku tidak menikah, dan aku jawab, pasti jawabannya sama dengannya.
                Dia bertanya mengapa aku tidak ingin mempunyai anak padahal aku termasuk manusia yang cakep, kaya, dan pintar, maka jawabanku, pasti sama dengannya.
                Kini kami sudah sama-sama dewasa, orang tua tidak lagi mampu mempengaruhi jalan pilihan kami, tinggal bersama tanpa pernikahan, tinggal bersama dengan ratusan anak-anak yatim-piatu, menangis berdua, tertawa berdua, ini adalah pilihan, walau kami berdua adalah seorang pria tampan yang mempunyai genetik tidak menyimpang. Ini adalah pilihan, ketika kami tidak harus menyiksa istri-istri kami karena kami tidak berhasrat dengannya. Ini adalah pilihan ketika saling jabat tangan, saling berpelukkan, saling berbagi, cukup memenuhi hasrat seksual kami. Kami laki-laki yang telah memilih hidup seperti ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar