JALAN TERPILIH
Wajahnya seperti
lukisan pantai di siang hari, dia tertawa seperti buih yang tertiup angin di
pantai beriringan putih menepi, dingin dan hangatnya menyatu. Kalau ini suatu
kesalahan, maka ini adalah aku, sepenuhnya kesalahanku, dan keyakinanku Allah
SWT selalu memberi pengampunan dan kemurahannya, di balik lemahnya hati
manusia.
Aku mengenalnya
melalui mantan dosenku di sebuah universitas negri ternama di kota besar,
lelaki tampan, muda, berusia 14 tahun, kelas 1 SMAN terbaik di kotaku. Aku
tidak menyangka dia seusia itu karena tinggi badannya sudah 177 cm, tinggi
atletis, berkulit putih bersih, ayahnya indo-cina, ibunya indo-eropa. Kedua
orang tuanya bercerai karena beda keyakinan, mulai kecil tinggal bersama ibunya
di Eropa, setelah menjelang remaja kembali ke Indonesia, Karena dia mengatakan,”Eropa
membuatku berfikir bebas, tapi muslim mengontrol perbuatanku.”
Jadilah aku guru
privatenya. Aku juga sebagai temannya bercerita karena dia orang yang sangat
tertutup, wajahnya pemurung, bibirnya sering tertutup rapat, di balik rawan
sifatnya, alis matanya yang tebal landai melindungi matanya, menunjukkan
ketegasan pilihan dan sikapnya, dia lelaki yang menawan.
Ayahnya menikah
lagi dan meninggalkannya di rumah seorang diri, akulah teman dekatnya,
kakaknya, gurunya, dan sahabatnya.
Aku mengenalkan
padanya Indonesia, pergi memancing di tambak, pergi bersepeda dengan grup
sepeda pixi, dan berlama-lama memandang pantai.
Aku yang
mengenalkanya, matematika dan fisika, aku kenalkan kedua mata pelajaran itu
sebagai permainan detetive yang mengasyikkan.
Dia genggam
tanganku sangat erat dikala dia sakit, dia tidur dipangkuanku ketika dia
kelelahan. Dia menangis sangat dalam....didalam pelukkan.
Dia mengajarkanku
memainkan biola, menemaninya memetik gitar, sebagai obyek didalam setiap
jepretan kameranya.
Aku mencium
keningnya, sebagai tanda sayangku. Tapi dia mencium bibirku, dan aku memberi
jarak yang tegas tapi halus, dia mengerti tanpa perlawanan. Ketika aku bertanya
apa cita-citanya, dia menjawab,”Aku ingin menjadi dokter anak yang baik.” Hanya
itu ucapannya, singkat sederhana, dan hanya itu, tanpa alasan apapun.
Dia sangat cerdas,
mampu berbahasa Indonesia dengan lancar dalam waktu yang singkat, dapat
menyelesaikan soal-soal UNAS dengan tepat dan cepat, dapat menyelesaikan
soal-soal SNMPTN dengan tepat dan cepat, dia memang istimewa. Dengan penuh
keyakinan, dia pasti bisa diterima di fakultas kedokteran negri no.1 di
Indonesia, dengan rata-rata nilai 9,5.
UNAS telah usai, dia
mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya, dan seperti dugaanku, dia pun
keterima di Universitas negri terbaik di Indonesia, fakultas kedokteran.
Janganlah dia mencariku
sebagai guru privatenya, karena tugasku mengantarkannya masuk Universitas negri
ternama telah terpenuhi, aku berpisah dengannya, walau sedikit kawatir,
mampukah dia tegar menghadapi hidup ini sendiri ? Aku yakin pasti mampu,
semampu dia menaklukkan fisika dan matematika.
Dalam beberapa
bulan di kampus kedokteran, dia terus mencariku, dan aku berhasil
menghindarinya, sampai dia lelah dan fokus dengan kuliahnya. Mungkin dia telah
melupakanku bertahun yang berlalu.
Enam tahun itu
bukan waktu yang lama, dia wisuda kedokteran, sebagai hadiah terindah, aku
muncul dihadapannya, dia memelukku, memukulku, dia menangis seperti anak kecil
yang lama ditinggal ibunya. Aku menghapus air matanya, aku mengajaknya
berkeliling kota, setelah acara wisuda selesai.
Wajahnya kelihatan
kurus, dan bertambah tinggi, ku ajak dia masuk kedalam rumahku, yang berada
persis di belakang poli gigi dan bedah gigi, milikku pribadi.
Dia berencana
langsung melanjutkan ke specialis anak. Kami makan di taman pinus dan rumah
joglo di tengah taman.
Dia bertanya
mengapa aku tidak menikah, dan aku jawab, pasti jawabannya sama dengannya.
Dia bertanya
mengapa aku tidak ingin mempunyai anak padahal aku termasuk manusia yang cakep,
kaya, dan pintar, maka jawabanku, pasti sama dengannya.
Kini kami sudah
sama-sama dewasa, orang tua tidak lagi mampu mempengaruhi jalan pilihan kami,
tinggal bersama tanpa pernikahan, tinggal bersama dengan ratusan anak-anak
yatim-piatu, menangis berdua, tertawa berdua, ini adalah pilihan, walau kami
berdua adalah seorang pria tampan yang mempunyai genetik tidak menyimpang. Ini
adalah pilihan, ketika kami tidak harus menyiksa istri-istri kami karena kami
tidak berhasrat dengannya. Ini adalah pilihan ketika saling jabat tangan, saling
berpelukkan, saling berbagi, cukup memenuhi hasrat seksual kami. Kami laki-laki
yang telah memilih hidup seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar