Jumat, 11 Januari 2013


GURU BIOLOGI YANG CANTIK
                Anita, seorang guru biologi yang cantik, berkulit sawo matang, mata bulat dengan bulu mata yang lentik, kalau dari samping seperti tokoh perwayangan yang paling cantik, Srikandi. Bukan pilihan hidupnya menjadi wanita cantik, tinggi semampai dan murah senyum seakan memamerkan  lesung pipit dipipinya.
                Sebenarnya Bu Anita tidak bagus dalam menerangkan biologi, mungkin dia hanya mempunyai nilai akademis yang tinggi, tapi jelek dalam bersosialisasi. Seorang guru yang sangat menjaga imeg, suranya lembut, tegas, dan sulit marah. Cara berjalannya teratur, dengan rok sebatas mata kaki, selalu memakai jas senada dengan roknya, dan berkemeja berwarna muda. Asesoris yang di gunakan, sebuah jam tangan mewah penuh dengan berlian, bergiwang dan berkalung berbentuk bunga teratai, apa yang digunakannya kelihatan mewah.
                Dito, laki-laki remaja duduk di kelas IPA-3, lelaki yang biasa saja, tampan manis, kulit sawo matang, mancung, sering nongkrong di kantin, sebagai alasannya kencing keluar kelas untuk makan di kantin. Orang tua Dito menginginkan Dito menjadi seorang arsitek, meneruskan perusahaan kontruksi ayahnya.
                Sebagai lelaki puber, Anita sang guru biologi adalah mimpi pertama Dito menjelang dewasa, hingga dengan tiba-tiba Dito menjadi terobsesi dengan Anita. Dito memandangnya, mengapa wanita itu tanpa disangkanya masuk dalam mimpi dan seolah mengajaknya bercinta hingga terjaga dari tidur.
                Dito diam-diam mengamati sang guru dengan seksama, dari mulai masuk pagar sekolah dengan mengendarai motor matiknya, sampai melenggang masuk ruang guru, sebagai penguntit Dito sangat berhati-hati. Sampai suatu hari, Dito pura-pura sakit dan tidur di ruang UKS, untuk melihat Anita yang berada di ruang guru tepat di depan ruangan UKS.
                Dito memaksa orang tuanya untuk memanggil guru private, supaya Dito bisa masuk ke perguruan tinggi terbaik se-Indonesia, terutama diterima di jurusan arsitek. Dengan syarat, Dito yang menentukkan guru privatenya, orang tua Dito setuju dan menghadap kesekolahan, Anita lah yang terpilih menjadi guru private itu.
                Dengan gaji yang sangat tinggi Anita tidak dapat menolak menjadi guru private Dito. Tidak sampai disitu acara penguntitan Dito kepada Anita, pulang mengajar private jam sembilan malam, diam-diam, Dito mengikuti Anita sampai ke rumahnya. Rumah mungil ukuran 54 cm/persegi, disitulah Anita, guru cantik itu tinggal, masuk kedalam kampung bergang sempit dan padat.
                Pagi harinya, Dito sengaja menjemput Anita, dengan alasan kebetulan lewat dan memang searah dengan arus ke arah sekolahan. Tapi, awalnya Anita menolak. Tiap hari, semakin ditolak, semakin Dito tiap pagi, menawarkan jasanya untuk mengantar ke sekolah. Penolakkan Anita sebenarnya mempunyai alasan, karena Anita harus menggonceng untuk mengantarkan sekolah ke dua putra-putrinya ke sekolahan SDN terdekat. Akhirnya dengan ijin orang tuanya, Dito memakai mobil menjemput Anita, hingga Anita dan ke dua anaknya dapat terangkut sekalian, usaha keras yang membuahkan hasil.
                Kalau sore ada les private, Dito mengantarkan Anita pulang dan menunggunya di ruang tamu sampai selasai sholat maghrib di masjid terdekat, Anita bersama Dito ke rumah Dito untuk mengajar private. Jam sembilan malam Dito mengantarkan Anita pulang, rumah Anita sudah sepi, mungkin kedua anaknya sudah tidur, tapi, Dito tidak pernah melihat suami Anita, dimana suaminya ? Pertanyaan dibenak Dito yang sok tahu dan iseng.
                “Siapa yang melarang, lelaki yang jauh lebih muda jatuh cinta dengan wanita yang lebih tua, bukankah cinta sejati nabi Muhammad pada Khadijah. Apa yang dapat membatasi cinta, bila cinta hadir dalam hati disaat manusia sadar dan mampu berfikir dan memilih.”
Perasaan Dito berkecamuk, cintanya yang tiba-tiba hadir mengusiknya, bila Anita tidak kelihatan didepan matanya fokusnya pada pelajaran membuyar dan semangat hidupnya menurun 50%. Dan cinta bukan kesalahan, dan perasaan juga bukan kesalahan, tapi diri jadi larut karenanya.
Salah satu solusinya adalah, Dito harus lulus di Universitas negri ternama di Indonesia, jurusan Arsitek, untuk meluluhkan hati orang tuanya, dan Anita merupakan spiritnya. Bukan seminggu tiga kali Anita hadir di rumah Dito, sekarang setiap hari, supaya tiap hari Dito dapat mengantar jemput Anita, dan setiap hari Dito bisa dekat di dalam kamar belajarnya.
“Cinta suatu yang gila, iya, meletup-letup, meledak-ledak. Dan cinta itu seolah nyata didepan mata karena sebuah kesempatan walau belum dinyatakan didalam lisan dan tulisan. Ini murni cinta, apa yang dilihat dan dirasakan sama indahnya, tanpa terbungkus materi, penampilan, dan tak memandang usia, ini murni cinta.”
“Kalau suatu saat ada air mata karena cinta, diharapkan air mata bahagia, bukan penyesalan, karena cinta mengajarkan kasih sayang dan semangat hidup, bukan nafsu seksual belaka. Kalau suatu saat ada air mata, diharapkan air mata haru, karena cinta api pemanas untuk meraih sebuah cita-cita dan masa depan. Ini bukan cinta buta yang harus dibawa mati, tapi cinta yang membuat jalan menuju cahaya-NYA.”
Memang Anita pandai membuat Dito bersemangat untuk belajar dan sekolah, mata pelajaran selama tiga tahun masuk tak perlu waktu lama, dan nilai UNAS Dito  sangat memuaskan, tinggal satu langkah lagi, SNMPTN.
Tinggal dua langkah lagi untuk mendapatkan Anita, diterima di Institut terbaik di Indonesia, jurusan Arsitek, dan menyelesaikan kuliah Arsitek dengan nilai terbaik. Inilah dua cara menaklukkan hati orang tua Dito untuk mendapatkan Anita.
Waktu cepat berlalu, dan waktu tidak pernah ingkar dengan janjinya, segala usaha keras pasti akan ada hasil terbaiknya, Institut terbaik jurusan Arsitek kini milik Dito.
Dito ijin dengan orang tuanya untuk kost diluar rumahnya, walau institut itu masih satu kota, dan mobil dalah hadiah belajar giat Dito.
Sebenarnya Dito tidak kost tapi tinggal didalam mobil yang terparkir dirumah Anita, Anita memang menolak Dito tinggal didalam rumahnya karena Anita mempunyai anak-anak kecil, Dito bisa mengerti. Tapi  pagi Dito mengantarkan anak-anak Anita kesekolah. Anita seorang janda yang ditinggal pergi suaminya, itu yang diketahui Dito selama hampir lima tahun dekat dengannya.
Dito mandi di kampus, mengerjakan tugas di kampus, di laboratorium ruangan dosennya, karena Dito asisten dosen, Dito memang mempunyai semangat tinggi untuk mencapai tujuannya.
“Hidup ini suatu perjuangan, sukses itu sesuatu yang harus diraih dan direncanakan, seperti merancang sebuah bangunan dan membangunnya, kebaikan itu harus diuasahan dengan sungguh-sungguh, karena tidak ada yang kebetulan itu.”
“Aku adalah seorang laki-laki, laki-laki adalah yang pertama ditanya bukan cintanya tapi tanggung jawab terhadap cintanya.”
“Ayah semua yang dikau inginkan Dito berikan, masa depan Dito yang cemerlang sudah digenggaman, ijinkan satu saja keinginan Dito untuk Dito sendiri, Dito ingin menikahi Anita, seorang janda dua anak yang lebih tua 12 tahun dari Dito.”
“Walau ayah berfikir ribuan kali, Dito telah melakukan pemikiran itu sejak Dito SMA kelas 1, semenjak Dito pertama kali menginjak dewasa.”
Ayah Dito memberi satu syarat lagi untuk pernikahan Dito, Dito harus membuka cabang perusahaan sendiri dan tidak lagi tergantung dari perusahaan ayahnya sendiri, ini juga untuk hadiah pernikahan mereka berdua kelak.
“Jangan ditanya cinta seorang laki-laki, tapi tanyalah tanggung jawab seorang laki-laki terhadap cintanya.”
Ini bukan sebuah mimpi, tapi seperti mimpi Dito disaat menjelang dewasa, berkeliling Dito di samping tempat tidur Anita, dan Anita memandangnya dengan senyum termanis sedunia, Dito tidak percaya dan harus percaya, ini malam pertamanya, malam pengantinnya, tidur berdua dengan mantan guru SMA nya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar