GURU BIOLOGI YANG
CANTIK
Anita, seorang
guru biologi yang cantik, berkulit sawo matang, mata bulat dengan bulu mata
yang lentik, kalau dari samping seperti tokoh perwayangan yang paling cantik,
Srikandi. Bukan pilihan hidupnya menjadi wanita cantik, tinggi semampai dan
murah senyum seakan memamerkan lesung
pipit dipipinya.
Sebenarnya Bu
Anita tidak bagus dalam menerangkan biologi, mungkin dia hanya mempunyai nilai
akademis yang tinggi, tapi jelek dalam bersosialisasi. Seorang guru yang sangat
menjaga imeg, suranya lembut, tegas, dan sulit marah. Cara berjalannya teratur,
dengan rok sebatas mata kaki, selalu memakai jas senada dengan roknya, dan
berkemeja berwarna muda. Asesoris yang di gunakan, sebuah jam tangan mewah
penuh dengan berlian, bergiwang dan berkalung berbentuk bunga teratai, apa yang
digunakannya kelihatan mewah.
Dito, laki-laki
remaja duduk di kelas IPA-3, lelaki yang biasa saja, tampan manis, kulit sawo
matang, mancung, sering nongkrong di kantin, sebagai alasannya kencing keluar
kelas untuk makan di kantin. Orang tua Dito menginginkan Dito menjadi seorang
arsitek, meneruskan perusahaan kontruksi ayahnya.
Sebagai lelaki
puber, Anita sang guru biologi adalah mimpi pertama Dito menjelang dewasa,
hingga dengan tiba-tiba Dito menjadi terobsesi dengan Anita. Dito memandangnya,
mengapa wanita itu tanpa disangkanya masuk dalam mimpi dan seolah mengajaknya
bercinta hingga terjaga dari tidur.
Dito diam-diam
mengamati sang guru dengan seksama, dari mulai masuk pagar sekolah dengan
mengendarai motor matiknya, sampai melenggang masuk ruang guru, sebagai
penguntit Dito sangat berhati-hati. Sampai suatu hari, Dito pura-pura sakit dan
tidur di ruang UKS, untuk melihat Anita yang berada di ruang guru tepat di
depan ruangan UKS.
Dito memaksa orang
tuanya untuk memanggil guru private, supaya Dito bisa masuk ke perguruan tinggi
terbaik se-Indonesia, terutama diterima di jurusan arsitek. Dengan syarat, Dito
yang menentukkan guru privatenya, orang tua Dito setuju dan menghadap
kesekolahan, Anita lah yang terpilih menjadi guru private itu.
Dengan gaji yang
sangat tinggi Anita tidak dapat menolak menjadi guru private Dito. Tidak sampai
disitu acara penguntitan Dito kepada Anita, pulang mengajar private jam sembilan
malam, diam-diam, Dito mengikuti Anita sampai ke rumahnya. Rumah mungil ukuran
54 cm/persegi, disitulah Anita, guru cantik itu tinggal, masuk kedalam kampung
bergang sempit dan padat.
Pagi harinya, Dito
sengaja menjemput Anita, dengan alasan kebetulan lewat dan memang searah dengan
arus ke arah sekolahan. Tapi, awalnya Anita menolak. Tiap hari, semakin
ditolak, semakin Dito tiap pagi, menawarkan jasanya untuk mengantar ke sekolah.
Penolakkan Anita sebenarnya mempunyai alasan, karena Anita harus menggonceng
untuk mengantarkan sekolah ke dua putra-putrinya ke sekolahan SDN terdekat.
Akhirnya dengan ijin orang tuanya, Dito memakai mobil menjemput Anita, hingga
Anita dan ke dua anaknya dapat terangkut sekalian, usaha keras yang membuahkan
hasil.
Kalau sore ada les
private, Dito mengantarkan Anita pulang dan menunggunya di ruang tamu sampai
selasai sholat maghrib di masjid terdekat, Anita bersama Dito ke rumah Dito
untuk mengajar private. Jam sembilan malam Dito mengantarkan Anita pulang,
rumah Anita sudah sepi, mungkin kedua anaknya sudah tidur, tapi, Dito tidak
pernah melihat suami Anita, dimana suaminya ? Pertanyaan dibenak Dito yang sok
tahu dan iseng.
“Siapa yang
melarang, lelaki yang jauh lebih muda jatuh cinta dengan wanita yang lebih tua,
bukankah cinta sejati nabi Muhammad pada Khadijah. Apa yang dapat membatasi
cinta, bila cinta hadir dalam hati disaat manusia sadar dan mampu berfikir dan
memilih.”
Perasaan Dito berkecamuk, cintanya yang
tiba-tiba hadir mengusiknya, bila Anita tidak kelihatan didepan matanya
fokusnya pada pelajaran membuyar dan semangat hidupnya menurun 50%. Dan cinta
bukan kesalahan, dan perasaan juga bukan kesalahan, tapi diri jadi larut
karenanya.
Salah satu solusinya adalah, Dito harus
lulus di Universitas negri ternama di Indonesia, jurusan Arsitek, untuk
meluluhkan hati orang tuanya, dan Anita merupakan spiritnya. Bukan seminggu
tiga kali Anita hadir di rumah Dito, sekarang setiap hari, supaya tiap hari
Dito dapat mengantar jemput Anita, dan setiap hari Dito bisa dekat di dalam
kamar belajarnya.
“Cinta suatu yang gila, iya, meletup-letup,
meledak-ledak. Dan cinta itu seolah nyata didepan mata karena sebuah kesempatan
walau belum dinyatakan didalam lisan dan tulisan. Ini murni cinta, apa yang
dilihat dan dirasakan sama indahnya, tanpa terbungkus materi, penampilan, dan
tak memandang usia, ini murni cinta.”
“Kalau suatu saat ada air mata karena
cinta, diharapkan air mata bahagia, bukan penyesalan, karena cinta mengajarkan
kasih sayang dan semangat hidup, bukan nafsu seksual belaka. Kalau suatu saat
ada air mata, diharapkan air mata haru, karena cinta api pemanas untuk meraih
sebuah cita-cita dan masa depan. Ini bukan cinta buta yang harus dibawa mati,
tapi cinta yang membuat jalan menuju cahaya-NYA.”
Memang Anita pandai membuat Dito
bersemangat untuk belajar dan sekolah, mata pelajaran selama tiga tahun masuk
tak perlu waktu lama, dan nilai UNAS Dito sangat memuaskan, tinggal satu langkah lagi,
SNMPTN.
Tinggal dua langkah lagi untuk mendapatkan
Anita, diterima di Institut terbaik di Indonesia, jurusan Arsitek, dan
menyelesaikan kuliah Arsitek dengan nilai terbaik. Inilah dua cara menaklukkan
hati orang tua Dito untuk mendapatkan Anita.
Waktu cepat berlalu, dan waktu tidak pernah
ingkar dengan janjinya, segala usaha keras pasti akan ada hasil terbaiknya,
Institut terbaik jurusan Arsitek kini milik Dito.
Dito ijin dengan orang tuanya untuk kost
diluar rumahnya, walau institut itu masih satu kota, dan mobil dalah hadiah
belajar giat Dito.
Sebenarnya Dito tidak kost tapi tinggal
didalam mobil yang terparkir dirumah Anita, Anita memang menolak Dito tinggal
didalam rumahnya karena Anita mempunyai anak-anak kecil, Dito bisa mengerti. Tapi
pagi Dito mengantarkan anak-anak Anita
kesekolah. Anita seorang janda yang ditinggal pergi suaminya, itu yang
diketahui Dito selama hampir lima tahun dekat dengannya.
Dito mandi di kampus, mengerjakan tugas di
kampus, di laboratorium ruangan dosennya, karena Dito asisten dosen, Dito
memang mempunyai semangat tinggi untuk mencapai tujuannya.
“Hidup ini suatu perjuangan, sukses itu
sesuatu yang harus diraih dan direncanakan, seperti merancang sebuah bangunan
dan membangunnya, kebaikan itu harus diuasahan dengan sungguh-sungguh, karena
tidak ada yang kebetulan itu.”
“Aku adalah seorang laki-laki, laki-laki
adalah yang pertama ditanya bukan cintanya tapi tanggung jawab terhadap
cintanya.”
“Ayah semua yang dikau inginkan Dito
berikan, masa depan Dito yang cemerlang sudah digenggaman, ijinkan satu saja
keinginan Dito untuk Dito sendiri, Dito ingin menikahi Anita, seorang janda dua
anak yang lebih tua 12 tahun dari Dito.”
“Walau ayah berfikir ribuan kali, Dito
telah melakukan pemikiran itu sejak Dito SMA kelas 1, semenjak Dito pertama
kali menginjak dewasa.”
Ayah Dito memberi satu syarat lagi untuk
pernikahan Dito, Dito harus membuka cabang perusahaan sendiri dan tidak lagi
tergantung dari perusahaan ayahnya sendiri, ini juga untuk hadiah pernikahan
mereka berdua kelak.
“Jangan ditanya cinta seorang laki-laki,
tapi tanyalah tanggung jawab seorang laki-laki terhadap cintanya.”
Ini bukan sebuah mimpi, tapi seperti mimpi
Dito disaat menjelang dewasa, berkeliling Dito di samping tempat tidur Anita,
dan Anita memandangnya dengan senyum termanis sedunia, Dito tidak percaya dan
harus percaya, ini malam pertamanya, malam pengantinnya, tidur berdua dengan
mantan guru SMA nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar